7.5.14

Indonesia Move On Bersama Para Ibu

Notes: pemenang hiburan.

Dompet Dhuafa mempelopori gerakan menuju keadaan yang lebih baik bagi Indonesia dengan mengkampanyekan Indonesia Move On selama tahun 2014 ini. Berapa orang yang diperlukan untuk mendukung perubahan tersebut? Semua orang, seluruh warga negara Indonesia. Sekelompok orang yang tidak peduli sudah cukup membuat langkah satu bangsa ini berat dan lambat. Sayangnya, kesulitan hidup masing-masing membuat kita kadang mementingkan diri sendiri. Tak sedikit pula yang tidak tahu bagaimana harus berperan.

Ibu kelompok kesenian agamis. Dokumentasi pribadi.
Menemukan peran bagi diri sendiri untuk mendukung tujuan mulia itu bisa dimulai dari diri sendiri. Sebagai seorang ibu, kita bisa menggali peran kita mulai dari posisi tersebut. Apalagi belakangan banyak kasus kekerasan anak yang bermunculan, membuat peran ibu menjadi sangat kritis.
Mau tidak mau, tiap ada kekerasaan anak, peran ibulah yang dipertanyakan. Apa saja kerja ibunya? Tidak bisakah mengawasi anaknya? Mengapa anaknya nakal sekali? Mengapa membiarkan anaknya diasuh orang baru? Dan berbagai pertanyaan menyudutkan lainnya.

Ibu dan Keluarga
Tiap keluarga punya pertimbangan dan pilihan tersendiri dalam membesarkan dan mendidik anaknya. Rumah tangga adalah wilayah yang tak boleh disentuh orang luar. Tapi justru karenanya, ibu memiliki otoritas yang harus digunakan untuk menanamkan nilai-nilai terbaik pada anak-anaknya. Awal kehidupan dalam lingkup terkecil ini akan memberi sumbang sih yang sangat menentukan bagi masa depan bangsa lewat anak-anak mereka.
Anak-anak yang kreatif dan mengerti semua konsekuensi tindakannya akan memberikan harapan besar pada kemajuan bangsa dengan berkurangnya, bahkan kalau bisa menghilangkan sama sekali kenakalan anak-anak dan remaja. Sikap permisif, misalnya mengijinkan mengendarai motor sebelum waktunya atau membuatkan akun media sosial dengan tanggal lahir yang dituakan hanya supaya gaul dengan sebayanya, akan membuat si anak selalu berusaha mencari celah disetiap peraturan yang ada.
Ibu yang mengerti bakat dan kemampuan anaknya, tidak akan memaksa si anak untuk mengejar prestasi hanya demi prestise, melainkan memberikan fasilitas sesuai dengan bakatnya itu agar si anak berkembang. Anak-anak yang menekuni bidang yang mereka sukai akan berprestasi tanpa batas dan menjadi contoh bagi teman-temannya untuk berprestasi di bidang masing-masing.
Anak-anak yang harus kita jaga bersama. Dokumentasi pribadi.

Ibu dan Lingkungan Rumah
Secara tradisional, seorang ayah mempunyai tanggung jawab mencari nafkah dan seorang ibu bertugas mengasuh anak-anak. Tapi pada perkembangannya, banyak ibu yang juga cemerlang dalam pekerjaan, banyak ibu yang terpaksa bekerja sebagai pencari nafkah juga, beberapa ibu memiliki halangan fisik atau sakit dan sebagainya. Tugas-tugas mengasuh anak harus dibagi dengan asisten rumah tangga, baby sitter, keluarga, bahkan tetangga.
Idealnya, dalam masyarakat itu bisa saling mengawasi dan saling menjaga sehingga kekurangan tiap-tiap keluarga bisa ditutup dengan lingkungan yang baik. Misalnya, dalam pengawasan terhadap anak-anak yang ibunya sibuk dengan pekerjaan rumah tangga, tetangga bisa mengambil alih peran tersebut tanpa perlu diminta. Warga di lingkungan yang baik akan mengenal wajah dan nama anak-anak tetangganya. Jika si anak tetangga tersebut main terlalu jauh dan kebetulan dilihatnya, ia bisa mengajak anak itu kembali ke lingkungan dekat rumah, lalu melaporkannya pada si ibu agar berhati-hati.
Namun, beratnya beban dan tuntutan hidup masyarakat sekarang ini membuat rumah hanya sebagai tempat untuk istirahat tanpa gangguan. Acara-acara warga sering dilewati agar bisa tidur lebih lama. Jangankan mengenali wajah dan nama anak-anak tetangga, jangan-jangan tidak tahu pula siapa nama tetangga sebenarnya, hanya tahu nama panggilannya saja. Tak jarang pula warga tidak punya nomor telepon tetangga sendiri, tapi punya daftar lengkap akun teman di media sosial yang tinggalnya jauh diluar negeri. Kalau ada keadaan darurat dirumah, siapa yang paling penting untuk ditelepon?
Ibu-ibu berkegiatan sosial. Dokumentasi pribadi.

Ibu dan Perkembangan Dunia
Menjadi ibu masakini harus bisa menyelaraskan diri dengan perkembangan jaman dan arus informasi yang ada. Menambah wawasan dan menyadari potensi diri akan sangat membuat seorang ibu turut berkembang bersama dengan lingkungannya, baik didalam rumah, di lingkungan sekitar rumah, maupun lingkungan yang lebih luas.
Suatu ketika saya sedih melihat teman saya, sesama ibu-ibu, bertanya apa itu pedofil. Sedih karena teman saya itu tidaklah berpendidikan rendah, tidak tinggal didesa, punya gadget yang lebih canggih dari saya dan dia bukanlah orang yang tidak mau bergaul. Sayangnya, pergaulannya tidak membuka wawasannya. Seharusnya, pergaulan yang didukung fasilitas lengkap mampu membuat seorang ibu mengetahui isu-isu penting. Padahal masalah itu disebut hampir tiap menit di televisi, koran dan semua kanal media sosial. Isu tersebut sangat penting karena sudah menjadi masalah darurat nasional sehingga semua ibu wajib mengevaluasi pengamanan bagi anak-anaknya dan memicu kepedulian terhadap anak-anak lain yang dijumpainya.
Ibu-ibu menggunakan perannya untuk memajukan bangsa dengan berbagi semangat dan inspirasi melalui blog. Dokumentasi pribadi.
Keleluasaan akses yang dimiliki ibu-ibu sekarang juga bisa digunakan untuk meluaskan perannya diluar rumah tangga dan lingkungannya. Misalnya dengan bergabung dengan berbagai komunitas sesuai dengan minatnya. Saya sendiri karena tidak leluasa bepergian, memilih untuk bergabung dengan komunitas online yaitu Kumpulan Emak Blogger. Di komunitas tersebut, kami berbagi pengetahuan dan pengalaman di banyak bidang, misalnya tentang masalah kesehatan, pendidikan dan sosial. Melalui blog, kami mampu menyebarkan konten positif tanpa batas ruang dan waktu. Kami berharap konten positif tersebut dapat menggugah semangat bangsa Indonesia untuk terus bersatu meningkatkan kesejahteraan bersama.
Para ibu bisa berperan membuat Indonesia Move On lebih cepat. Masalah terbesar bangsa Indonesia bukanlah mengalahkan bangsa lain, melainkan mensejahterakan dirinya sendiri. Masalah kita ada didalam diri kita sendiri. Para ibu pasti bisa menemukan perannya untuk membantu bangsa ini berubah ke arah yang lebih baik.

9 comments:

  1. Hebat mak, keren dan top abis. Komplit dan lengkap, semoga peran ibu semakin nyata dan ibu akan semakin sadar dan mengerti posisinya hingga ia bisa membuat Indonesia benar-benar move on. Semoga menang lombanya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ampun sampai belum reply hihiii... Iya mak, kita hebat :))

      Delete
  2. like this mak "Masalah terbesar bangsa Indonesia bukanlah mengalahkan bangsa lain, melainkan mensejahterakan dirinya sendiri. Masalah kita ada didalam diri kita sendiri."

    ReplyDelete
  3. betul mak... sebetulnya pondasi utama masa depan negara ada di tangan seorang ibu. Menjadi seorang ibu harus memiliki wawasan/ilmu pengetahuan yang luas, walaupun ibu tsb berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tapi ada juga lho... ibu2 yg bekerja tapi wawasan kalah luasnya dgn ibu rumah tangga. Jadi disini tak perduli apapun profesi seorang ibu, ketika ibu mendidik anaknya, ibu itu sendiri pun sebenarnya sedang mendidik dirinya sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, status pendidikan ataupun status sosial sering tidak berbanding lurus dengan wawasan. Yuk kita perluas.

      Delete
  4. Selamat tulisannya menang mak Lusi...aku juga seneng bisa ikut mejeng hehehe... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, berkat mak Arin nih jadi menang hihihiii

      Delete
  5. Perempuan selalu membawa inspirasi tersendiri bagi saya, terima kasih sudah berbagi kisah ini :)

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.