17.3.17

ngeVlog Dengan Ketidaksempurnaan Fisik

Mari saya kenalkan dengan Nancy.



Nancy adalah salah satu guru virtual saya setelah saya membeli mesin jahit "beneran". Nancy memiliki channel bernama Sewing With Nancy dengan 458 subcribers. Lalu ada channel yang dikelola lebih profesional didedikasikan untuk Nancy tapi pemerannya tidak hanya Nancy melainkan para crafter yang terinspirasi oleh tutorial Nancy. Channel tersebut bernama Nancy's Notions dengan 56.980 subscribers dan 9.275.432 views. 
Selain tutorial gratisan yang bisa kita serap di youtube, Nancy juga menjual berbagai DVD dan peralatan menjahit yang semuanya ditampung di nancysnotions.com.

Mengapa saya tampilkan Nancy kali ini?

Ketika saya membaca artikel Hands In Frame di blog www.innnayah.com, saya langsung teringat Nancy. Nancy sangat menginspirasi saya untuk ngevlog meski memiliki ketidaksempurnaan fisik. Pertama melihat videonya, saya bahkan tidak memperhatikan apa yang sedang dipraktikkannya. Sama seperti orang kebanyakan, saya terdistraksi oleh ketidaksempurnaannya. Saya justru fokus dengan ketidaksempurnaannya tersebut. Dengan bibir seperti itu (maaf), tak mungkin saya tak memperhatikan. Entah apa yang terjadi, mungkin akibat stroke. Yang jelas, respon saya sama seperti respon kebanyakan orang, yaitu mudah terdistraksi dengan ketidaksempurnaan.
Namun demikian, namanya manusia berilmu itu pasti bisa mengatasi segala ketidaksempurnaan. Saya balik dan balik lagi ke akun youtube-nya. Apa boleh buat, Nancy punya semua tutorial yang saya butuhkan. Saya lalu belajar mengesampingkan ketidaksempurnaannya tersebut dan mulai fokus dengan ilmu yang dibaginya secara gratis ini. Sekarang saya bisa menyimak semua kata-katanya tanpa peduli dengan (maaf) bibirnya.

Berkat Nancy pulalah saya berani ngevlog dengan tidaksempurnaan saya.

Hampir semua vlog saya fokus ke tangan karena yang saya persembahkan ke pemirsa adalah seputar DIY (Do It Yourself), craft, memasak dan ketrampilan rumah tangga lainnya. Itu sebuah tantangan yang berat bagi saya. Tidak seperti tangan teman-teman yang mulus karena terawat di salon, tangan saya coklat gelap. Ada bekas terkena minyak panas disana sini dan tentu saja bekas parut putih-putih karena cairan kimia. Kata ibu saya, tangan ibu rumah tangga banget. Dalam hati, saya nggak peduli tangan ibu rumah tangga atau seleb, saya ingin tangan yang mulus sehingga pemirsa lebih nyaman menonton vlog saya.
Mungkin sekitar 7 tahun saya tidak ke salon untuk apapun, termasuk gunting rambut. Tapi bukan berarti saya tidak pernah ke salon atau spa. Saya datang juga ke salon-salon terkenal disini tapi untuk mengantar anak. Ada sebab khusus mengapa saya menggunakan jasa salon selama itu. Alhamdulillah Allah menganugerahi saya wajah yang tidak pernah jerawatan selama hidup saya padahal perawatannya hanya pakai sabun muka biasa yang murah meriah. Saya hanya pernah komedoan sewaktu kuliah karena kebanyakan keluyuran ke gunung dan pantai naik sepeda motor sehingga muka saya kotor. 
Tapi tangan ini, modal ini, justru yang mendapatkan banyak cobaan sehingga tak bisa saya pulihkan dengan macam-macam pelembab kulit. Saya masih berusaha menggunakan filter video untuk menyamarkan warna gelap, parut dan bekas-bekas luka tapi tak semua aplikasi bisa mendukung gadget saya yang ganti-ganti melulu. 

Sampai kemudian saya ketemu channel Nancy.


Saya pikir, ya ampun, nggak ada apa-apanya banget kekurangan saya ini. Cemenlah. Cuma gitu doang paling-paling orang ngebatin aja, hih tangannya nggak mulus. Mana berani orang-orang ngomong langsung sama saya? Bisa saya cegat di pengkolan dong wkwkwkw.... Karena itulah akhir-akhir ini saya jadi lebih produktif membuat vlog karena sedikit demi sedikit mulai percaya diri.
Tapi tentu saja tantangannya jauh lebih besar daripada mereka yang mulus dari atas ke bawah. Kalau mereka jepret-jepret ootd tiap hari saja sudah cukup untuk mengumpulkan massa, saya tidak bisa begitu. Saya harus membuat orang memerlukan apa yang saya bisa. Meski jadi lebih berat mikirnya tapi saya bersyukur karena toh saya memang tidak mau menaburkan foto saya di media sosial. Mungkin ini cara yang tepat bagi saya untuk berekspresi asal saya bisa mengatasi rasa malu.
Kata orang bijak sih, membagi ketrampilan itu lebih long lasting, tetap dibutuhkan meski kita bertambah renta. (((renta))). Jadi teman-teman yang memiliki ketrampilan, jangan ragu untuk berbagi. Misalnya punya wajah kusam tapi pandai make up. Ya nggak apa-apa to orang melihat proses sebelum dan sesudahnya, awalnya kita kusam lalu jadi cerah? Tak perlu malu orang melihat wajah kusam kita, yang penting hasil akhirnya bisa membantu teman-teman lain tampil lebih bersinar.
Udah ngomong sepanjang ini, intinya saya cuma mau bilang bahwa vlog itu bukan semata-mata gambaran kesempurnaan. Memang ada segmen yang serba sempurna, serba bening. Namun banyak juga segmen yang tidak mempedulikan itu semua asal kita punya  yang dibutuhkan pemirsa. Jangan lupa, kesempurnaanpun bisa saja hasil polesan yang sudah trampil menggunakan aplikasi vlog terkini. Lakukan saja apa yang ingin dilakukan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

29 comments:

  1. Bagus mbak, yang penting ilmunya. Btw 7 tahun gak ke salon trs ? Hehe. Aku juga ding mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke salon mbak, ngantar anak, tapi nggak nyalon heheeee

      Delete
  2. Vlogku juga penuh dengan ketidaksempurnaan kok, Mbak. Yang paling jelas karena aku cadel jadi kedengeran banget baik pas berkata ataupun isi suara. Dan sampai saat ini belum menemukan aplikasi buat memperbaiki atau menyamarkan si cadel itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang banyak penyiara cadel loh. Tapi kalau blm percaya diri, diganti caption saja trus diisi musik :))

      Delete
  3. waah..baru tahu saya, Mak Lus. hihi kudet banget saya yak. Pingin nonton juga vlognya Nancy. btw, tentang ketidaksempurnaan, setuju banget. Justru jiwa kreatif dan inovatif banyak muncul dari orang yang mempunyai keterbatasan fisik. Salut!

    ReplyDelete
  4. Tanda2 di tangan itu jadi bukti kalo Mba Lusi rajin masak hihihi. Keren laah bisa bikin video DIY. Aku mah videonya remeh temeh itupun banyakan memberdayakan anak >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bwahaahaaa memberdayakan anak ya?

      Delete
  5. Baca ini kok jadi terinspirasi ya Mbak Lus. Aku beberapa kali ngevlog tapi masih merasa kuraaaaang aja dan mengesampingkan apa yang mau disampaikan. Huhuhu

    Kayak menekankan artifisial :(
    Thank you udah mengenalkan nancy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Artificial it's okey tapi jadinya malah kerja kerasloh biar terlihat natural.

      Delete
  6. Huhuuu aku malah belum pernah nge vlog. Bawaannya pengen ketawa melulu kalau ngevlog :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbak ngeblog suasana stasiun :)

      Delete
  7. Bener kata mak lus, lakukan saja. Yang penting ilmu tersampaikan. saya sendiri lebih suka lihat tutorial pakai video ketimbang kata-kata. Wong kadang udah lihat videonya bolak-balik aja masih gagal.

    Tapi sejujurnya, kalau mau ngevlog sebaiknya mandi dulu hahaha

    ReplyDelete
  8. Tertampar aku mampir di sini, aku gak pernah ngunggah ke Vlog karena suara medokku, hihiii.

    Lah kondisi tangan mba Lusi bukti kreatifitas yang tak pernah lelah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mbak, dirimu kan senang jalan2 pasti banyak ceritanya.

      Delete
  9. Belum pernah ngevlog dan belum ngeh apa itu vlog. Oke habis ini googling : vlog itu apa?

    Intinya, berlatih membuat sempurna asal konsisten dan percaya diri. Salah satu inspirasi untuk percaya diri adalah ibu Nancy. Terima kasih sudah memperkenalkan ibu Nancy yang keren ini, mbak Lusi :)

    ReplyDelete
  10. akupun malu kalau ngevlog, ngga bisa luwes seperti yang lain, udah gitu medok dan terbata-bata...gitu deh,,,hihihi

    ReplyDelete
  11. Saya salah satu yg gak pede ngevlog kakak, tapi baca postinganmu ini jd pengen nyoba, thx yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah dirimu pasti kecelah kalau ngevlog :)

      Delete
  12. akun youtube ku isinya nggak ada mukaku, Mbak. Isinya cuma berapa biji aja. Tapi kalau ntar sudah PD bikin vlog bakalan nggak tahu malu deh, Mbak. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaaaa, aku belum pede kalau pake mukak hahaaa

      Delete
  13. ah, aku jd pengen liat vlog2 mu mbak ;).. bener juga yaa, kita ga ush down ama ketidaksempurnaan yg kita punya... justru krn kebanyakan mikir jeleknya gitu, malah ga jadi2 mau bikin vlog yg niatnya utk berbagi... aku sama kok mba, selama ini ga PD bikin vlog ya krn mikirnya macem2... takut jelek di kamera, takut ini , takut itu, takut dapat unlike lebih banyak ;p..

    ReplyDelete
  14. Nah apalagi buat Vlog, gaptek banget deh. Penginnya bisa buat vlog pas masak tapi mesti nunggu anak pulang buat pegang hp nya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halah sama aja mbak, aku juga belajar dari anak.

      Delete
  15. Wah sangat menginspirasi sekali mbak

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.