5 Tips Agar Pesta Potluck Berhasil



Potluck pada dasarnya adalah setiap peserta membawa makanan atau minuman untuk dinikmati bersama dalam sebuah acara.

Di bulan Ramadhan ini, asik sekali kalau bisa berbuka bersama dengan teman-teman. Bukber di restoran atau hotel memang memberikan banyak kemudahan. Tapi jika ingin suasana yang lebih kekeluargaan, tak ada salahnya berkumpul di tempat yang lebih privat, misalnya di rumah atau di taman. Agar tuan rumah tidak kerepotan, konsumsi bisa diusahakan dengan cara potluck

Arisan, halal bihalal dan reuni juga bisa dimeriahkan dengan potluck. Garing dong ya kalau nggak ada cemilannya. Sedangkan jika diserahkan pada tuan rumah, mungkin akan memberatkannya. Kalau baca di wikipedia, potluck pertama kali muncul di abad ke-16 atas ide Thomas Nashe. Tidak ada aturan khusus untuk ini. Satu-satunya aturan umum adalah porsi masing-masing harus cukup besar untuk sebagian besar (tidak perlu semua) peserta.

Meski dimaksudkan agar tidak ribet, santai aja gitu, tapi nyatanya potluck membuat sebagian peserta berpikir keras. Takut makanannya kurang istimewa. Takut nggak cukup untuk semua orang. Takut ada yang nyamain, dan sebagainya. Belum lagi karena orang Indonesia ngarepnya kenyang makan nasi, maka jadinya bukan potluck, melainkan catering yang dipecah-pecah saja pembagian menunya. Pengaturannya jadi ribet. Misalnya yang kebagian bawa ayam, maka ayamnya harus cukup untuk semua peserta, termasuk tamu tak terduga misalnya bawa pacar (sengaja nggak nyebutin bawa anak biar nggak anak aja yang disalahin heheee). Nah, ngitung jumlah kepala banget kan akhirnya? Paling susah tentu saja menghitung porsi nasinya.

Saya sarankan ibu-ibu memperhatikan golden rules bahwa menu potluck itu haruslah tidak nyusahin yang bawa, tidak nyusahin tuan rumah dan tidak nyusahin yang mau makan.

Jadi, yang diharapkan adalah begitu ada pengumuman konsumsinya potluck, peserta akan lega dan gembira, bukan malah nggak tidur memikirkan mau membawa apa. Karena itu, minimalkan pengaturan menu karena yang penting adalah kerelaan dan keringanan langkah. Jangan sampai akibat ribet pembagian menu, acara jadi nggak fun lagi. Sebenarnya, potluck yang sukses itu yang penuh kejutan menyenangkan.


1. Apakah Jenis Menu Ditentukan?
Saya sih lebih senang menu bebas demi keberagaman. Misalnya ada yang tidak suka gorengan bisa makan buah-buahan. Tapi jika tema ditentukan seperti arisan kampung saya, seru juga. Contohnya tema jajanan pasar, maka peserta tinggal membawa jajanan pasar yang mudah didapatnya. Jika jenis makanan yang dibawa sama bagaimana? Misalnya sama-sama bawa singkong? Ya nggak apa-apa, pasti beda rasanya jika tidak berasal dari satu panci. Peserta tinggal pilih mau singkong yang tawar atau yang legit.
Hindari tema full set seperti catering diatas dimana harus ada nasi, lauk, sayur, kerupuk dan sejenisnya. Resikonya selain koordinasi jadi rumit, menunya bisa tidak harmonis. Misalnya sayur asem yang beda-beda rasa karena yang memasak 3 orang atau ayam yang beda-beda cara masaknya.
Bawalah menu yang bisa bikin heboh acara tersebut. Misalnya sedang ngehits seblak atau sate taichan, bawa saja menu tersebut. Pasti akan mendapat sambutan yang meriah dan acara jadi semarak.
Menu-menu andalan yang biasanya disambut meriah oleh ibu-ibu antara lain rujak, seblak, lasagna, klappertart, salad, es buah, risoles, asinan, pempek, siomay dan sebagainya.

2. Porsi Tak Perlu Dihitung Per Kepala
Inilah yang menyenangkan dari potluck karena kita tidak perlu takut porsinya tidak cukup untuk semua peserta. Misal ada 15 orang yang semuanya membawa menu yang berbeda berarti kita tidak akan maruk memakan 15 jenis menu kan? Pasti kita ambil yang suka saja. Jadi kita juga tidak perlu membawa menu untuk 15 orang, cukup 10 saja misalnya. Tapi kalau mau membawa lebih juga tidak apa-apa sih, kan bisa tukeran untuk dibawa pulang. Yang jelas tidak bikin pusing diawal saja karena takut tidak cukup. Supaya aman, sebaiknya disepakati minimal untuk berapa orang.
Karena itu pula sebaiknya hindari menu full set agar tidak perlu menghitung terlalu detil yang berujung pada sajian yang tidak harmonis. Contohnya ayam diatas, kalau ukuran ayamnya beda-beda pasti yang membawa dalam ukuran terkecil nggak enak hati kan? Terus, yang mendapatkan ayam paling kecil karena antrian makan terakhir juga akan nggerundel dalam hati. Sedangkan jika mau nambah ayam supaya kecil tambah kecil sama dengan besar juga nggak enak karena jumlahnya sudah dipas.

3. Pertimbangkan Peralatan Makan
Ada 2 macam cara makan potluck, makan bersama dan prasmanan. Makan bersama itu seperti dinner mungkin ya kalau di negerinya orang bule. Jadi peserta makan bersama di satu meja besar gitu. Tuan rumah sudah menyiapkan meja, kursi dan alat makan untuk sejumlah peserta. Makanan dan minuman dari peserta. Biasanya jumlah peserta memang tidak banyak, cuma kenalan dekat. Karenanya tuan rumah tidak terlalu repot menyiapkan alat makan. Tapi ini jarang dilakukan karena rumah-rumah Indonesia modern jarang yang punya meja makan besar karena rumahnya juga tidak luas.
Untuk model seperti itu, tak masalah menggunakan piring, sendok dan gelas betulan. Lebih bagus lagi kalau tuan rumah punya peralatan makan khusus jamuan. Kan nggak ganti-ganti peralatan makan? Misalnya disana sudah ada piring, mangkok, gelas dan sendok, ya bakalan itu saja yang dipakai per orang, tidak takut tertukar. Malah jika menggunakan peralatan plastik, suasana makan menjadi kurang istimewa.
Tapi jika modelnya prasmanan, sebaiknya menyediakan alat makan sekali pakai dan buang. Lebih baik lagi jika menu yang dibawa tidak memerlukan peralatan makan tambahan, misalnya kue kering, cupcakes, puding dalam cup, lemper dan sebagainya. Jika harus ada alat makan tambahan, mintalah si pembawa menu tersebut menyediakannya sekalian sejumlah porsi menu yang dibawanya. 
Jika yang menyediakan piring dan sendok plastik adalah tuan rumah, seringkali tidak cukup karena tuan rumah akan menyediakan sejumlah peserta, sedangkan menu yang perlu alat makan tambahan bisa saja lebih dari 2. Sementara pesertanya tidak mau tahu, sehabis makan salad, piring dan sendok diletakkan sembarangan, lalu ambil piring dan sendok baru untuk makan rujak. Kurang kan jadinya? Lalu peserta lain akan sibuk bertanya apakah ada piring dan sendok bersih yang membuat tuan rumah pusing.

4. Penyajian
Ingat golden rules tidak boleh bikin repot ya, maka si pembawa menu wajib memikirkan penyajiannya juga. Misal bawa gorengan, jangan cuma ditenteng dengan kresek tapi tempatkan di wadah yang bisa sekalian untuk wadah penyajian. Memang, potluck itu idenya simple, tapi ya nggak sampai terlalu santai begitu ya. Jangan lupa membawa penyiduk, misal sendok besar atau irus, kalau menunya sayur atau minuman. Jangan sampai bawa es cendol berplastik-plastik lalu ribut minta mangkok besar ke tuan rumah. Ya kalau tuan rumah punya, kalau tidak punya karena sering pindah rumah seperti saya bagaimana? Jadi sibuk nyari pinjaman mangkok, kan?
Hindari penyajian yang membutuhkan bantuan, misalnya pempek, timun dan kuahnya harus diracik. Iris-iris dan tata semuanya sebelum dibawa ke acara agar peserta bisa mengambil sendiri. Begitu pula jika membawa mangga atau apel, jangan sampai heboh mau pinjam pisau ke tuan rumah. Untuk buah-buahan bersemut seperti rambutan, jangan lupa mencuci dulu dirumah agar semutnya hilang. Buatlah agar sampai di tempat peserta bisa langsung hap.
Yang sering banget lupa adalah para pembawa cakes dan bolu loyangan. Mereka sering membawa kue tersebut dalam bentuk utuh. Jangan lupa diiris dulu dirumah ya, supaya tidak membuat tuan rumah grasak grusuk didapur mencari pisau. Kalau beli bolu loyangan di toko roti, mbak pelayannya mau kok diminta mengiris.

5. After Party
Potluck itu identik dengan kebersamaan, sama-sama bawa makanan, jadi ya harus sama-sama membersihkannya. Jangan pulang dulu sebelum tempat itu bersih kembali, meskipun ada panitianya. Agar cepat selesai, bereskan barang-barang milik masing-masing. Biasanya yang bergerak cepat adalah yang membawa wadah sendiri karena takut ketinggalan. Sebaiknya yang membawa kue dalam packaging box dari toko kue, tak boleh cuek. Pastikan sisa kuenya ada yang membawa sekalian packagingnya. Jika bersisa dan ingin memberikannya pada tuan rumah, tetap harus ditutup yang rapi sebelum ditinggal pulang.
Apakah boleh membawa sisa makanan dan minuman pulang? Boleh dong, kan milik bersama. Biasanya tuan rumah menyediakan plastik. Tapi jika tidak ada perjanjian, sebaiknya persiapkan wadah atau gunakan wadah bekas tadi, agar tidak membuat tuan rumah merasa bersalah jika tidak menyediakan plastik. Bawalah sisa makanan atau minuman yang dibawa teman, jangan bawa pulang milik sendiri meskipun makanan kita lebih enak, agar teman tersebut senang karena sudah diapresiasi. Harus tahu diri juga ya bu, jangan kuras habis. Misalnya ada sisa lemper 5, ambil 2 saja agar teman lain kebagian.

Potluck itu juga menguji kebesaran hati kita lo. Apapun yang terhidang, jangan sekali-sekali mengatakan hal-hal yang kurang tentang makanan dan minuman tersebut. Misal ada makanan yang keasinan, ya dimaklumi saja karena selera orang berbeda-beda. Mungkin yang bersangkutan memang suka asin. Apalagi sampai mengatakan, "Yaaah, aku nggak suka lemper."

Pada akhirnya, yang utama sebenarnya bukan potluck tersebut, melainkan keriaan ketika semua peserta bisa berpartisipasi dan semua saling menghargai. Kebersamaan itu lebih istimewa dibandingkan hidangan yang tinggal bayar dan tahu beres.



18 comments:

  1. Minggu depan nih aku mau potluck an ama temen2 suami :D. Dan prinsip kita dr dulu jg, bawa yg gampang aja.. Jgn yg nyusahin :D. Lah wong yg terpenting kumpul2nya ya mba :) .. Rencana aku mau bawa dimsum, jd gampang tinggal di hap doang, tp tetep ngenyangin. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya yang penting kumpul2nya, nggak mikir makanan melulu :)

      Delete
  2. Kalau potluck gini, aku biasanya bawa plastiknya aja mak Lus.. pasti laris pas bubaran pada mintak plastiku

    ReplyDelete
  3. Bahahaaa ngakak pas bagian bawa anak digsnti pacar (bisr nda disalahin hihi)
    O sku baru tau loh terus terang potluck ini, maksudnya urun urunan menu
    Kaysknya sih enak gitu, makanan jadi banyak, variasi, palagi klo bentuknya jajan passr. Beeegh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa anak terus yang disalahin ya heheee

      Delete
  4. Ternyata aku sering pesta potluck. Tapi akhir-akhir ini baru tahu istilah ini. Kalau aku biasanya bagian bawa jajan aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di kampung memang sudah sering ya, cuma nggak pakai istilah aja :)

      Delete
  5. Saya lebih suka bawa buah seperti jeruk karena tidak membutuhkan tempat. Tinggal taro aja ma plastiknya. Biasanya udah diserbu :D

    ReplyDelete
  6. Asyik juga ya pesta potluck gini, hidangan jadi beraneka ragam. Tapi memang fokusnya adalah kebersamaannya, bisa kumpul rame2 aja udah senang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. TUjuan potluck emang biar nggak repot ya mbak, yg pentin ngumpul :)

      Delete
  7. Keseruan potluck itu pas saling comot sana comot sini buat incip-incip banyaak makanan lainnya. Tapi memang snack /makanan bijian lebih gampang buat dibagi ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, paling seru itu pas nyomot2nya, icip2 punya teman :)

      Delete
  8. aku pling sukaaa kalau potluck. Soalnya penuh kejutan dan beraneka rasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serunya pas lihat teman2 bawa apa gitu :))

      Delete
  9. Kalo potluck bareng komunitas emak-emak, mesti lancar. Tapi kalo sama temen-temen sekolahku sendiri, duh gatau kenapa mbulet ae 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emak2 memang lebih sat set kalau urusan makanan dibandingkan teman2 sekolah :))

      Delete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.