Perlu Nggak Sih Punya Geng Ibu-ibu Atau Mom Tribe?

Picture by pexels.com

Geng ibu-ibu, atau kalau di situs-situs bule disebut sebagai mom tribe, sebenarnya untuk apa? 

Manusia punya kebutuhan untuk sharing dengan latar belakang yang berbeda-beda, ada yang karena sesama blogger, sesama penulis, orangtua murid, teman akrab sejak sekolah dan sebagainya. Kemudian mereka membentuk geng. Geng disini tidak selalu berkonotasi negatif, namun semata-mata untuk menunjukkan kekompakan suatu kelompok.

Di kampung saya saja ada geng motor ibu-ibu loh. Heheheee.... Tentu saja kami tidak pernah tawuran meski sering ngomelin anak orang lain yang ugal-ugalan di jalan kampung kami. Hahahaaa.... 
Ibu-ibu geng motor di kampung saya suka bepergian bersama ketika arisan atau menjenguk orang sakit. Lingkungan RT kampung kami memang cukup besar, jadi kadang perlu naik motor untuk pergi ke rumah pemenang arisan. Dan seperti umumnya orang yang hidup di kampung, kalau ada yang sakit sedikit saja sudah ramai-ramai motoran menjenguk meski bukan warga melainkan orangtua warga yang tinggal di daerah lain. Nggak seperti di kota ya, ada yang meninggal saja terlalu sibuk untuk datang berbela sungkawa.

Geng ibu-ibu seharusnya berbeda dengan geng remaja yang posesif dan banyak drama. Para ibu yang sudah sibuk mengurus keluarga dan pekerjaan tak punya banyak waktu untuk menterjemahkan sikap-sikap teman geng yang diluar kebiasaan. Selo banget ya kalau masih sempat. Heheee.... Tapi nyatanya, tetap saja ada drama sampai berseri-seri. Hari ini ngegeng sama si A, minggu depan sudah ganti geng dengan di B dan seterusnya. Sebaliknya, ada juga yang dengan smart bisa masuk ke beberapa geng berdasarkan kebutuhan yang berbeda-beda.

Lalu teman-teman yang tidak punya geng bagaimana? Iri? Merasa tidak spesial? Merasa tidak disukai? Merasa sendiri? Well, itu tergantung dengan apa yang teman-teman inginkan dalam hidup.

1. Butuh Geng "Me Time"?
Ibu rumah tangga ataupun ibu pekerja punya saat-saat dimana suasana terasa sangat penat. Bersantai dengan teman-teman mungkin akan membuat diri fresh kembali. Di jaman medsos ini, kita bisa melihat foto-foto bahagia geng-geng "me time". Tak jarang mereka membuat tema khusus jika akan kopdar, dari mulai dress code, ngumpul di kantin sekolah anak sampai jalan-jalan ke luar negeri. Me time saja kok butuh geng sih? 
Menurut saudara saya yang baru pulang dari jalan-jalan ke Turki bersama gengnya, pergi dengan teman-teman geng itu asik banget karena tidak perlu basa-basi selama perjalanan. Ngapain sih sampai ke Turki segala? Pertama-tama tentu saja karena uangnya ada. Selain itu, suami dan anak-anaknya yang sudah besar-besar sibuk bekerja, jadi bengong begitulah melihat empty nest. Geng mereka sampai ke Turki bareng biro perjalanan sih karena belum pernah pergi tanpa keluarga. Jadi semacam petualangan geng calon nenek. Hehehee....
Kalau saya ber"me time" bareng geng karena sebab yang sederhana, biar nggak ribet saja kalau harus patungan. Hahahaa... Lantaran sudah nyaman, jadi santai saja waktu hitung-hitungan di kasir.
Jika tak punya geng hore-hore seperti itu haruskah rendah diri? Jangan-jangan karena kitanya yang nggak asik? Well, tidak selalu begitu, karena ada yang memang merasa tidak butuh geng. Sayapun punya masa-masa tidak butuh geng "me time" seperti itu, yaitu masa-masa sedang bokek. Heheee....
Kenyataannya, banyak yang tidak punya geng "me time" dan baik-baik saja. Tapi mencari contohnya bukan di dunia maya ya, karena "me time" itu dipopulerkan di medsos. Di dunia nyata banyak orang yang bisa bersenang-senang, melepas penat dari rutinitas, tanpa secara khusus menyebutnya sebagai "me time". Sebaliknya, ada pula yang menganggap "me time" dengan geng sebagai kegiatan yang buang-buang waktu dan uang saja. 
Jadi jika kita tak punya geng semacam ini, belum tentu kitanya yang bermasalah, tapi bisa karena memang tak butuh. Jika tak punya foto-foto geng di medsos, bukan berarti hidup kita tak bahagia. Medsos hanya sebagian kecil dari episode kehidupan. Bagian besarnya ada di luar sana, berinteraksi langsung dengan orang-orang.

2. Geng Curhatan, Penyelamat Atau Penjerumus?
Nasehat yang sering kita dengar untuk para ibu adalah, "Jangan ragu untuk minta bantuan jika sedang menghadapi masalah besar."
Para ibu cenderung membiarkan masalah menumpuk di hati karena sudah sibuk mengurus keluarga dan pekerjaan. Mereka bisa saja cerewet kemana-mana, tapi tak sedikitpun membahas permasalahan yang dihadapinya. Tak terasa masalah tersebut membesar lalu meledak. Itu sebabnya geng curhatan penting bagi perempuan. 
Sayangnya, menemukan orang yang tepat untuk diajak ngegeng persoalan pribadi itu tak mudah. Ketulusan seseorang itu hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa mengira-ngira apakah dia orang yang bisa dipercaya atau tidak dari tampak luarnya saja. 
Geng curhatan adalah tempat kita menelanjangi diri sendiri. Kalau sial, kalau salah memilih anggota geng, akibatnya akan sangat menyakitkan. Bikin patah hati. Ibaratnya kita sudah memberikan pisau pada orang lain, lalu orang tersebut menggunakannya untuk menikam kita dari belakang. Sayangnya, media sosial itu lebih bocor daripada gosip ibu-ibu di tukang sayur. Jadi, pasti ada saja yang sampai ke telinga. Dramapun dimulai. Jeng jeeeeng.....
Dinamika geng curhatan itu sudah hampir bisa dipastikan penuh drama jika anggotanya tidak saling memberikan empati. Tak jarang, ada saja anggota yang merasa masalahnyalah yang paling penting untuk dibahas. Belum lagi jika yang punya masalah tersebut sudah punya bayangan apa yang kira-kira akan dilakukannya. Dia hanya mau mendengar saran yang mendukung perkiraannya tersebut. Jika ada yang tidak mendukung solusinya, dia malah ngambek. Jadi untuk apa minta saran atas masalahnya tersebut, ya?
Saya paling tidak nyaman diajak curhatan langsung di tempat publik. Entahlah, gesture ibu-ibu itu kentara banget kalau sedang menyebut pihak-pihak yang tidak disukai. Mimik wajahnya selalu begitu. Hhahahaa.... Sulit saya menjelaskannya, tapi mungkin teman-teman mengerti yang saya maksud. Nggak enak kan dilihat orang banyak? Kelihatan banget sedang ngomongin orang lain.
Geng curhat memang perlu. Tapi harus pandai-pandai memilih teman geng. Hati-hati juga jika bergabung ketika hati sedang gundah karena penilaian kita terhadap seseorang jadi tidak obyektif. Sebaiknya sih geng curhatan dijadikan pilihan terakhir setelah masalah kita tidak mendapat respon dari orang-orang terdekat. 
Yang lebih penting dari semua suka duka geng curhatan itu adalah jika sedang ada masalah, carilah bantuan, jangan memendamnya seorang diri. Jika tak punya geng, carilah orang terpercaya lainnya. Reach out, ya bu.

3. Geng Demi Karya
Kadang kita perlu orang-orang yang punya hobi, kerjaan atau tujuan yang sama untuk meningkatkan potensi diri. Geng yang memiliki tujuan jelas seperti ini seharusnya memiliki kesadaran take and give yang lebih dari geng-geng jenis lain. Karena itu, selain kenyamanan, penting sekali untuk melihat track of record yang bersangkutan.
Sayangnya, kalau sudah nyaman ngegeng dengan yang bersangkutan, kita lupa keuntungan bagi diri sendiri. Jika geng "me time" dan curhatan harus kita jalani dengan ikhlas, maka dengan geng ini seharusnya agak melakukan perhitungan karena tujuannya adalah keuntungan, baik keuntungan berupa mengalirnya karya maupun uang.
Saya sendiri beberapa kali mengalami bias dengan geng-geng seperti ini. Pernah suatu kali saya tergabung dengan geng pameran. Geng ini dibuat untuk saling bantu karena umumnya kami mengurus semua sendiri dari ijin sampai angkut-angkut barang. Lalu ada anggota geng yang berganti produk menjadi sama dengan punya saya. Tidak hanya produk yang disamai tapi juga display yang saya pakai. Sebenarnya keluarga saya sudah memperingatkan tapi saya kok ya terus saja mendukungnya. Habis, orangnya baik sama saya. Pelajaran yang saya ambil sih, tidak boleh terbuai dengan kebaikan orang lain lalu melupakan tujuan diri sendiri.
Geng seperti ini juga tidak boleh membatasi langkah kita, karena itu kan non-official, tanpa perjanjian atau kontrak. Jadi, kalau kita melihat lalu mengambil peluang di tempat lain, ya nggak apa-apa dong. Kebutuhan hidup kita kan tidak dipenuhi oleh geng tersebut, tetap saja jadi tanggung jawab masing-masing. Jangan pula kita tergulung oleh persaingan atau permusuhan salah satu anggota geng kita dengan anggota geng lain. Kita yang tidak tahu apa-apa jadi ikut tertutup pintu rejekinya.
Itu adalah salah satu resep sukses yang dibagikan teman saya, yang meskipun tidak punya showroom dan pekerja tetap tapi bisa ikut berbagai pameran dari instansi secara gratis. Teman saya itu bilang, boleh saja menjadi anggota suatu group atau asosiasi tapi jangan terlibat dengan intrik atau politik para pengurusnya. Yang penting setor wajah dan baik pada semua orang, termasuk pengurus asosiasi lain. Jangan membatasi peluang diri sendiri demi hal-hal yang tidak kita mengerti.

4. Baik Buruk Geng Penggembira
Geng penggembira ini makin hari makin banyak dan agak ngeri juga karena kadang mereka bersikap bak segerombolan pembully. Entah kapan geng pembully ini mulai banyak, yang jelas adanya di media sosial. Di kehidupan nyata juga ada sih tapi biasanya berkaitan dengan politik, tidak seperti di medsos yang melibatkan hal-hal remeh-temeh juga.
Dahulu, orang nyetatus atau ngetwit karena ada yang ingin disampaikan. Sekarang orang nyetatus juga karena ingin mendapat dukungan. Ada pula yang mengharapkan tepukan dan sorak sorai layaknya diatas panggung.
Seringkali geng penggembira terjadi secara tak sengaja. Kita merasa cocok dengan pendapat seseorang secara terus-menerus, lama-lama kita seperti fanbase-nya. Tiap dia mengatakan sesuatu, kita selalu berada paling depan untuk like, share, setuju atau malah membumbui. Karena sering sepemikiran, kita pun menyukai apa yang disukainya dan membenci apa yang dibencinya. Sampai suatu saat kita tidak mau berpikir sendiri atau mencari tahu kebenaran sendiri terhadap semua isu. Apa yang dikatakannya sudah pasti benar. Kalau ternyata dia salah, kita dengan mudah pula melupakannya.
Sisi baiknya, kita punya pasukan yang selalu menyambut ocehan kita di medsos. Itu lebih menyenangkan daripada monolog di twitter atau nge-like status sendiri di facebook.
Sisi buruknya, logika kita mati.
Parahnya, tanpa mengucapkan sesuatu, orang lain di luar geng sudah langsung beranggapan kita pasti setuju dengan semua twit atau status teman geng, bahkan sebelum kita membaca apa yang diposting teman geng kita tersebut.
Sebaliknya, jika kita tak setuju dengan pendapat teman geng, kita akan dianggap memberontak atau menyeberang ke geng lawan.
Tiap orang punya sifat buruk yang mati-matian dikendalikan. Tak terkecuali saya. Sifat buruk itu akan muncul jika lingkungan mendukung. Sayang, bukan? Apalagi kadang yang dibicarakan no mention tersebut bukan perkara penting semisal soal bela negara, melainkan cuma tingkah laku seseorang yang wagu saja. Tapi akibatnya secara bersama-sama kita sudah membully seseorang yang nggak ada urusannya dengan kita dan bahkan mungkin tidak kita kenal. Ketika kita sadar, seringkali sudah terlambat, sudah ada yang tersakiti.

Geng seharusnya minimal membuat kita happy. Syukur jika membuat kita lebih maju. Para ibu memang butuh group hug untuk melepaskan lelah, mencari masukan, brain storming, bahkan juga untuk mendapatkan solusi. Make sure untuk mendapatkan geng yang membuat kita nyaman, tidak mendorong sifat buruk kita dan tidak mematikan individualitas kita.


16 comments:

  1. Yang paling terakhir tu penting banget buatku, ga mau yg namanya terlalu mendewa2kan manusia...ambil contoh penulis atau blogger hingga sampai jadi semacam kayak fanbase dan mengaminkan setiap apa yg dia opinikan..hehe. karena setiap yg dinamakan opini sifatnya sangat subjektif, blum tentu bener ato salah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seminggu ini bener, bisa saja minggu depan salah. Manusia nggak sempurna.

      Delete
  2. punya genk itu kaya gak sadar sih mbak kalo menurut aq, gak bener-bener direncanain malah jadi genk. tapi emang paling enak sih kalo punya genk apalagi buat ibu2, lebih seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, kebanyakan tak bisa direncanain. Klik gitu aja.

      Delete
  3. wkwkwkwk pas bangeddd aku juga lagi bikin Tribe woman hahahhaha.. keren keren postingan ini mbak :D

    ReplyDelete
  4. Untuk gank yang dolan2 bareng gitu..nggak punya aku mba. Klo di rumah.. Gangnya paling ampir2an njagong manten/layat... Rata2 masih punya anak kecil soalnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, disini yg punya anak suka bergiliran nitip anak :)

      Delete
  5. saya lebih suka me timenya sendiri mba, klopun terpaksa ngegeng biasanya karena terbawa arus perasaan senasib. Dan kdg dgn sodara sendiripun susah dipercaya kalo mo curhat2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga sering me time sendiri krn sama geng harus janjian.

      Delete
  6. Sejak resign, saya malah gak nge-genk. Bahkan di sekolah anak-anak pun tidak. Nge-genk memang asik. Tapi memang butuh klik dengan sesama teman se-genk supaya genknya makin asik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, klik itu yg susah. Kalau nggak klik nggak enjoy.

      Delete
  7. Mamak mut ada 2 gengnya
    Geng belajar bahasa Arab
    Geng ngerujak

    #maklum,suka nganterin klo mau kumpul2 ahahah

    ReplyDelete
  8. Dulu waktu si bungsu baru masuk play group, aku nungguin di sekolah bareng mama2 lainnya. Cuma ngobrol2 di sekolah aja sih, cuma sekitar 3 bulanan, setelah anak bisa ditinggal ya nggak pernah nongkrong di sekolah lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngobrolnya di kanting nggak? Menggendut kayak saya hahaaa

      Delete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.