Perlukah Menyiapkan Pewaris Passwords Akun-akun Online?

Picture by pexels.com

Ngeblog untuk keabadian? Kalau kita sudah mati dan tak seorangpun tahu kapan domain harus dibayar, login blognya bagaimana dan password email apa, maka hilanglah semua.

Jika ngeblog di platform blogger / blogspot, berarti bisa menggunakan satu password untuk email, blog dan semua fasilitas google. Bahkan sekarang email tersebut bisa digunakan untuk hampir semua aplikasi pihak ketiga, media sosial, beraneka login media online dan afiliasi. Karena banyaknya cyber crime, timbul kesadaran bahwa itu tidak aman sehingga rata-rata mereka yang akrab dengan internet akan login dengan cara berbeda-beda di setiap akunnya. Akibatnya, tak sadar kita sudah memiliki berderet passwords. Terkadang kita tidak ingat cara kita login karena sudah lama tidak login di aplikasi tersebut. Sebaliknya, kadang kita malah tidak pernah logout dari akun media sosial favorit kita.

Sudah lama kita ketahui bahwa sosial media, yang meski paling akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat modern, justru yang paling tidak aman. Entah sudah berapa akun dihack tapi kita tidak kapok juga. Sayangnya, kita malah didoktrin untuk tidak percaya pada keluarga sendiri. Bank misalnya, selalu mengarahkan kita untuk mencurigai keluarga dulu jika ada masalah. Memang, orang terdekat adalah yang paling berpeluang untuk mengakses password kita. 
Tapi jika kita tak percaya siapapun juga, kita juga akan meninggalkan masalah bagi orang-orang tercinta. Misalnya, jika kita meninggal, keluarga tidak bisa mengakses data apapun termasuk pin ATM tanpa menyertakan berbagai berkas ke pihak bank. Saking berlapisnya security bank, seringkali bank seperti mempersulit sehingga beberapa teman yang sudah kehilangan kesabaran memilih tidak mengurus peninggalan orangtuanya di tabungan.

Kapan sih password kita harus diketahui keluarga? Tentu saja kalau kita mati dan tidak ingin merepotkan keluarga. Meski serumah, belum tentu orang terdekat kita tahu semua yang kita kerjakan. Okey, mereka tahu kalau kita blogger, tapi kegiatan online itu tidak hanya ngeblog. Kebanyakan netizen juga punya akun hampir di semua platform media sosial. Mereka juga mendaftar ke berbagai aplikasi online pendukung seperti hootsuite, canva, buzz sumo, shutterstock dan sebagainya. Meski gratis, beberapa aplikasi meminta pengguna untuk tetap mendaftar. Untuk hal-hal tersebut, jangankan keluarga, kita sendiri kadang lupa pernah mendaftar disana.

Facebook sudah lebih maju dibandingkan dengan platform lain berkat adanya fasilitas mewariskan akun. Sedangkan untuk twitter dan instagram, kita bisa mengajukan penghapusan akun milik orang yang sudah meninggal. Namun tentu saja itu butuh effort dari orang-orang yang kita sayangi. Belum lagi facebook yang rentan banget pembajakan. Apalagi jika orang-orang terdekat kita tidak memiliki kegiatan intensif di media sosial bahkan tidak punya akun di platform tersebut. Contohnya anak-anak saya yang tidak memiliki akun facebook. Meski di jaman sekarang ini langka orang yang tidak punya akun facebook tapi kenyataannya ada dan mereka baik-baik saja. Heheee....

Kita memang tak tahu sampai kapan jatah hidup kita habis. Tapi justru itu kita harus selalu siap, termasuk mengantisipasi passwords akun-akun dan membership online kita. 

Apa yang disimpan via internet?

Ada yang menggunakan internet sebagai alat komunikasi saja dan ada yang menggunakan internet sebagai alat penyimpanan. 

Penyimpanan data di internet atau cloud computing dianggap sebagai terobosan yang menghemat penyimpanan data dalam jumlah besar dan aman dari kebakaran atau bencana alam. Namun, orang masih berhati-hati dalam mentransfer data penting untuk disimpan secara online, misalnya di dropbox atau google drive karena belum percaya sepenuhnya bahwa itu aman dari hacker. 
Data offline saja bisa di lock dengan virus, apalagi yang bisa diutak atik secara online. Meski akun facebook termasuk yang paling rawan dibajak tapi tak sedikit yang membuat album foto pribadi untuk disimpan disana. Sudah tak terhitung pula akun instagram yang dibajak tapi makin banyak pula yang dengan naif menjadikannya tempat menyimpan foto bayi dengan harapan bisa diteruskan hingga anak-anak itu besar untuk melihat pertumbuhannya.

Tapi keputusan akan menyimpan apa di internet itu terpulang pada keyakinan masing-masing karena toh offline dan online sama-sama miliki celah tak aman. 

Jika sudah diputuskan untuk menyimpan data penting di internet atau cloud, maka semakin penting pula password tersebut diwariskan karena berarti data tersebut harus diklaim dan diselamatkan, tidak boleh dibiarkan terbengkalai jika pemiliknya meninggal.

Siapa yang di internet?

Intensitas seseorang didunia maya itu tidak selalu berbanding lurus dengan anggota keluarganya. Banyak teman-teman, bahkan saya sendiri, yang cerewet di media sosial ternyata memiliki anggota keluarga yang tidak tertarik sama sekali dengan hingar bingarnya. Akibatnya, sebagian aktivitas dunia maya kita tidak dipahami keluarga, meski mereka tahu.
Kemelekan internet keluarga akan mempengaruhi cara kita mewariskan passwords. Jika dia adalah pengguna aktif internet, meskipun tidak bermedia sosial, maka lebih mudah bagi kita untuk meninggalkan catatan di platform atau aplikasi mana saja kita mendaftarkan diri. Tapi jika keluarga bukan pengguna internet aktif, meskipun paham, berarti kita harus memberikan detil agak banyak tentang platform atau aplikasi tersebut.

Pesan berupa instruksi.

Ini adalah bagian terpentingnya yaitu apa yang sebenarnya kita inginkan setelah mati. Mewariskan passwords merupakan kesempatan terakhir kita didunia maya.

  • Online shop banyak dimiliki oleh penggiat internet, baik untuk selingan maupun bisnis serius. Karena fleksibel, banyak olshop yang dikelola sendiri. Karenanya passwords akun-akun olshop sangat penting untuk diwariskan sehingga bisa dilakukan pengecekan apakah ada kewajiban-kewajibab yang masih menggantung dan harus diselesaikan.
  • Blog-blog bertema travelling atau memasak masih layak dipertahankan meski misalnya sebuah destinasi telah berubah menjadi bangunan modern. Foto-foto dan kisah lamanya masih akan dicari orang sebagai bagian dari sejarah tempat itu. Sementara yang isinya iklan semua akan basi karena sebuah produk itu berevolusi dan akhirnya akan ketinggalan jaman, kecuali si pewaris mau meneruskan menulis tentang review produk terkini pada saat itu. Jadi yang mengatakan ngeblog untuk keabadian, cek dulu kontennya bisa basi apa enggak? Sayang to kalau meminta cucu memperpanjang domain tapi isinya sudah basi? Nyusahin yang masih hidup saja. Dalam detil warisan bisa kita cantumkan bagaimana cara login, password dan kemana membayar biaya tahunan domainnya, serta tentu saja apakah ingin domain tersebut dipertahankan atau tidak. Saya sendiri berencana menyerahkan keputusan pada anak-anak karena tidak mau membebani mereka.
  • Akun-akun media sosial lebih penting diklaim dibandingkan blog karena fungsinya yang merupakan alat komunikasi. Jangan sampai tak terurus dan dijadikan corong orang tak bertanggung jawab. Lagipula aneh, orangnya sudah meninggal kok akunnya "ngomong" terus? Namun, bukan berarti akun-akun tersebut lebih baik langsung dihapus saja. Bagi yang followersnya banyak, bisa mendonasikan akun tersebut untuk kepentingan sosial dengan mengganti namanya. Jangan lupa untuk meminta pewaris password membuat pengumuman buat followers bahwa akun tersebut akan dialihkan kepemilikannya.
  • Untuk membership dengan pihak ketiga, platform media, aplikasi atau afiliasi, sebaiknya minta untuk dihapus saja. Apalagi membership afiliasi itu seringkali cukup lengkap menyimpan data online kita. Itu berarti data kita tak akan berguna bagi afiliasi tersebut jika kita sudah meninggal, lebih baik dihapus, untuk menghindari penyalahgunaan data.

Disimpan dimanapun tak aman.
Petugas bank selalu menekankan agar kita tidak memberitahu siapapun tentang PIN. Ternyata berdasarkan teman-teman yang ortunya meninggal, ini merepotkan karena bank sama sekali tidak memberikan simpati. Bagi petugas bank, harus ada surat-surat yang mereka minta. Titik! Itupun belum menjamin urusan lancar.
Lalu bagaimana dengan urusan online diluar perbankan seperti pekerjaan netizen? Karena ada beberapa akun, aplikasi dan plaform yang saya miliki, mau tak mau saya harus membuat daftarnya karena saya sering melupakan passwords akun-akun yang jarang saya buka. Dimana menyimpannya itu yang menjadi masalah. Karena dirumah saya tidak ada orang lain selain kami, maka aman-aman saja, kecuali kalau ada maling masuk rumah seperti dulu dan mengambil laptop saya.
Bagi yang rumahnya ada orang lain, misalnya ada saudara jauh, sering menerima tamu menginap atau bahkan jadi rumah kos, tentu harus punya tempat penyimpanan daftar passwords yang hanya diketahui oleh pemilik passwords dan calon pewaris passwords.
Dulu saya pernah menyimpan daftar passwords di notes ponsel, tapi tiba-tiba ponsel saya mati dan tidak bisa diperbaiki. Saya harus menelusuri dan mencatat lagi akun-akun milik saya, tapi tidak lagi saya simpan di ponsel. Saya pikir bahaya juga jika ponsel dicuri orang atau saya lalai ponsel tersebut jatuh dan ditemukan orang lain yang tidak mau mengembalikannya.
Namun sebenarnya tidak ada tempat di bumi ini yang benar-benar aman, semuanya ada resikonya. Selalu ada kemungkinan akun kita dibobol, baik dengan menemukan passwords kita, maupun dengan cara paksa, yaitu dibajak. Yang penting sudah berusaha menyimpannya dengan baik, mengganti passwords secara berkala dan menginformasikannya pada orang kepercayaan kita.

Untuk teman-teman saya yang sudah meninggal, saya membiarkan mereka tetap disana, di daftar following saya, karena bukan kehendak mereka sehingga tidak bisa lagi berkomunikasi dengan saya. Kecuali jika pewaris passwords mereka menghapus akun-akun dan blog mereka.

Note: artikel ini merupakan perbaikan dari artikel yang telah dipublish tanggal 26-12-2010.


28 comments:

  1. bermanfaat sekali mbak Lusi tulisannya, iya nih belum kepikiran mewariskan password ke keluarga. padahal penting banget ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jika bermanfaat :))

      Delete
  2. Iya aku sekarang bikin buku password medsosku saking bnyak dan sering ganti pasword jd lupa sendiri, belum ig anak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu problem bgt buatku mbak, sering lupa :(

      Delete
  3. Aku mencatat semua pass di note kalo dl suka naro di lass pass. Dan kalo untuk pewaris sih belon ada, tapi ada juga 1 orang yang aku percaya tak titipin semua pass akun2ku

    ReplyDelete
  4. Aku pernah juga mb..nulis di notes hape..hapenya juga berakhir rusak. Akun fb pertama aku..mpe sekarang tak tinggal mb...lupa pasword, lupa pasword log in..lupa pasword e-mail yang dipake pas ndaftar. Dulu klo bikin pasword sekenanya..jadinya malah gampang lupa☺☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu aku jg gitu krn mikirnya medsos buat main2 aja

      Delete
  5. Saya pun pakai fasilitas pewaris password, Mba. Sejak banyaknya teman2 blogger yang wafat, saya jadi kepikiran. Kalau daftar akun dan password sudah punya sejak lama. Pas awalnya IG sering reset password otomatis alhasil saya bikin semua akun yg aktif, yg gak kadang malah saya lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman2 blogger yg wafat itu jadi pikiranku banget :(

      Delete
  6. Iya ya, kudu mikirin ini juga. Jd enaknya ditulis dan disimpan dimana ya? hehe

    ReplyDelete
  7. waktu mau ganti domain berbayar, saya pernah berpikiran seperti itu. seandainya saya meninggal, siapa yang mau perpanjang domain? Agak lebay memang, wong blognya aja nggak jelas isinya:D. kebetulan orang rumah nggak ada yg kenal blog juga. Sampai sekarang blm sempat ngasih tau gimana caranya memperlakukan blog kalau saya udah gak bisa ngeblog lagi.

    ReplyDelete
  8. iya, mas Dani pernah bilang kalau salah stau hal yang diwariskan itu blog. kurasa kalau sekarang ya termasuk socmed. kok jadi takut ya mikirin ini heuheu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau nggak dipikirin gimana ya, udah pasti akan terjadi.

      Delete
  9. Kalau saya memang sudah lama mewariskan akun facebook ke anak yang paling besar. Tapi untuk urusan password, berhubung emaknya juga sangat pelupa, semua anak2 memang tahu password saya hihi

    ReplyDelete
  10. I haven't really thought about it, Mba...ada baiknya jika semua ini bisa diwariskan ya :)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. At least somebody has to wrap it for us.

      Delete
  11. makasih sharingnya , mantap belum tentu semua kepikiran spt ini ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Krn melihat teman2 yg meninggal mbak :(

      Delete
  12. Aku kepikiran lho pas almarhum CumiLebay meninggal, perlahan tulisaannya di blog bakal hilang kalau domainnya ga diperpanjang. Cara gampang dan murah mungkin dengan melepas doamin TLDnya ke akun gratisan. Tapi entah bakal ada konsekuensi apa selain brokenlink karena almarhum dikenal rajin bw ya.
    Terus ada juga nih akun fb temen yang sudah meninggal ternyata dilanjutkan oleh istrinya, tetap pake foto lama. Ada yang memahami ada yang mungkin bingung apalagi kalau ga baca status klarifikasi dari istrinya soal melanjutkan akun itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu, apa yg terjadi dg Cumi aku pikirin banget :(

      Delete
  13. Mbaaaak...luar biasa. Dirimu mesti berpikirnya di luar dugaan gini. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaaa entahlah, kebanyakan kemenyan kalik :))

      Delete
  14. Aduh nyerah deh klo soal password, sering lupaaaa. Akhirnya aku tulis di sebuah buku, kalo lupa tinggal buka buku aja. Ya semoga bukunya nggak ketlisut haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kitaaa kan seangkatan. Eeeh :))

      Delete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.

Like us