Sunday, June 02, 2013

Komitmen


Sebenarnya saya paling jengah bicara tentang komitmen. Bagi saya komitmen adalah masalah berat sekaligus ringan. Berat untuk dibicarakan karena kita harus menyesuaikan dengan ayat-ayat Allah, hukum, kelayakan sosial dan kejujuran pada diri sendiri. Ringan karena komitmen adalah alasan kita untuk terus hidup, bahan bakar kita untuk berlari menyelesaikan kewajiban. Berat karena jika saya mampu berteori tentangnya maka saya adalah manusia paling sok suci di dunia ini. Ringan karena jika saya sudah memegangnya saya sanggup melakukan apapun yang tadinya saya anggap terlalu berat. Tapi saya harus menulisnya sekarang, demi pemberontakan batin saya beberapa hari lalu, demi rasa haru saya hari ini dan terutama demi para pemegang komitmen.

Saya marah bukan main ketika Mira Sahid, founder Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB), mengatakan agar saya jangan terlalu keras memegang komitmen ketika saya ngotot supaya Emak of the Month harus tetap diadakan dibulan Juni 2013. Kami sudah berkomitmen akan diadakan Emak of the Month selama setahun penuh di 2013. Berargumen sudah biasa buat saya. Jika masih masuk akal, saya layani. Jika sudah emosional, saya tinggal pergi. Tapi kata-kata itu membuat mulut saya terkunci. Komitmen! Saya terus bergumam dalam hati, please don't do it Mira, not to my commitment.

Saya tumbuh dengan penekanan kata-kata trust and commitment dari orangtua saya. Dalam keluarga yang sangat sederhana, meskipun kami bisa hidup berkelebihan, trust and commitment adalah harta kami. Setiap kata yang kami ucapkan harus benar-benar seperti apa yang kami maksudkan, bahkan sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, misalnya kami tidak pernah terlambat ke sekolah atau undangan manapun. Menunggu acara dimulai sampai satu jam itu sudah biasa buat kami. Tapi karena itu adalah harta kami, maka kami menjaganya baik-baik.

Namun adalah hal yang tidak diajarkan orangtua kami, bahwa tidak semua orang mempercayai hal yang sama, bahkan banyak pula yang tidak menggubrisnya. Hidup jadi serba salah. Orang-orang tidak mengangguk dengan tulus pada saya seperti jaman orang-orang pada orangtua saya. Trust and commitment ketika saya dewasa terkait dengan ego, kepentingan bahkan kelicikan. Tidak ada penyerahan diri total terhadap apapun yang mereka ucapkan. Penipuan, pemutarbalikan kata-kata, bahkan tuduhan-tuduhan tak masuk akal membuat hati ini merasa kecil dan mempertanyakan kebenaran diri sendiri. Apakah alam sedang mempermainkan saya atau Allah ingin melihat batas kekuatan saya?

Benar Mira, saya patah hati dengan kata-katamu itu. Sama seperti patahnya hati seorang kekasih. Termenung. Marah. Nelangsa. Perasaan yang bercampur baur. Mengapa ketika saya mulai berkomitmen dengan orang-orang baru, saya disuruh melepas komitmen itu dengan entengnya? Mungkin orang lain akan berkata, ah ini hanya komunitas, cuma kerjabakti, tak usah terlalu serius. Santai, seperti di pantai, kata Carra. Tapi bagiku yang sudah melihat metamorfosa komitmen, itu bukan main-main. Tabungan yang saya dapat dari komitmen sejak kecil pernah dirampok orang. Saya harus mengumpulkan lagi pundi-pundinya untuk bekal kembali pada sang maha pencipta.

Saya memang sekeras itu memegang komitmen, meskipun yang saya kerjakan belum tentu berhasil atau membuahkan prestasi. Tapi bukan kekalahan yang akan membuat saya nelangsa, melainkan ketiadaan trust and commitment. Itu adalah semiskin-miskinnya saya. Sekalah-kalahnya saya. Dan jika itu terjadi saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, pun orang-orang lalu, cukup selesaikan dan pergi. Jika saya punya retensi yang tinggi untuk mencoba memperbaiki keadaan, itu karena saya percaya bahwa dihati tiap orang pastilah ada kebaikan dan saya juga punya kekurangan, meskipun karena itu pula saya pernah ditipu berkali-kali. Maka saya berpikir, jika semua setuju dan saya tidak, mungkin saya memandang dari sudut yang salah. Mungkin Mira, Sary dan mbak Indah kelelahan dengan serangkaian kegiatan dahsyat dua bulan ini. Itu sebabnya di malam terakhir saya mengalah dan meminta tim untuk berkomitmen menanggung pertanyaan member di hari pengumuman. Jika itu tidak ada sambutan, bagi saya sudah jelas, selesaikan dan pergi. Alhamdulillah jawaban Mira membuat saya optimis dengan keadaan.

Tanggal 1 Juni 2013 pagi, menjelang pengumuman Emak of the Month, meski saya tahu isinya adalah tentang peniadaan, tapi saya merasa ringan dan siap menjawab pertanyaan-pertanyaan member bersama-sama dengan seluruh boards dan makmins. Saya pun ngoceh di twitter sepagian dengan teman-teman yang berangkat ke Writing Clinic Femina dan Fab Pregnancy Contest. Saya senang memantau kegiatan-kegiatan teman-teman, jadi sejenak melupakan terbatasnya kegiatan di luar Jawa. Sampai tiba-tiba datang mention bertubi-tubi. Kemudian saya baca di akun @Emak2Blogger bahwa saya terpilih sebagai Emak of the Month untuk bulan Juni 2013. Baru kemudian saya mengecek pengumuman Mira di group facebook.

Bukannya senang, saya malah panik. Bukankah saya makmin? Selama ini saya tidak boleh mengikuti lomba-lomba KEB dan harus ikhlas melihat berbagai gadget melewati mata saya karena saya adalah makmin. Bagaimana jika ada member yang beranggapan itu tidak adil? Saya bahkan takut-takut bereuforia dan membalas ucapan selamat sepantasnya saja. Dari pengalaman lomba-lomba lalu, meski sudah berusaha bersikap adil, tapi tetap tidak bisa memuaskan semua pihak. Setelah sehari mengendapkan rasa dan membaca ucapan teman-teman, saya yakin sekarang bahwa saya berhak dan pantas menjadi Emak of the Month. Saya tidak boleh mengecewakan board yang menantang bahaya kritik dengan berkerdil hati.

Semoga rasa syukur saya tidak seperti euforia yang berlebihan. Saya berterima kasih karena boards menganggap saya pantas menyandangnya. Saya berterima kasih pada makmins karena memberikan kesempatan pada saya. Saya berterima kasih pada teman-teman atas ucapan tulusnya pada saya.

Mira, saya tidak bisa meminta maaf atas kemarahan saya yang lalu, karena waktu itu kamu memang pantas dimarahi, meskipun tujuannya untuk memberi surprise manis pada saya. Saya memang over reacting jika sudah tentang komitmen, but I just can't help it. I'll do it again in the future, exactly the same thing.

Saya tidak punya kata-kata bijak malam ini. Saya cuma ingin menikmati banner buatan Carra itu bersama-sama Mira, Sary, mbak Indah, Irma, Vema danmbak Elisa. Mari keluar sebentar dari tugas sukarela kita di KEB dan hanya bersenang-senang di blog saya ini. Karena jika saya menulisnya di website KEB, saya langsung berubah menjadi makmin yang mondar mandir mulu, ngeselin dan ngebosenin heheheee.... *Peluuuk

4 comments:

  1. euforia berebihan? aiih angsung ketonjok :) harus belajar lagi nih pengendaian rasa. Nice article mba, like it!

    ReplyDelete
  2. Hihihi.... Ternyata dikerjain. :D Selamat, Mbak Lusi. Gapapa dikerjain sekali-sekali biar keliatan aslinya. Kalo di anak pecinta alam yang biasa naik gunung, ada ungkapan bahwa di atas gununglah orang itu baru keliatan aslinya. Di sepanjang perjalanan juga. Kalo dasar anaknya cengeng dan lemah, di sepanjang jalan pun bakalan keliatan begitu. Jadi, ini ceritanya Mbak Lusi keliatan aslinya. *dilempar lemper*

    (Duh, ngapa nulis lemper sik? Tiba-tiba jadi beneran kepengen.... )

    ReplyDelete
  3. Mbak Lusi bisa marah juga ya :) Sudah terlihat kok kalau mbak Lusi orangnya penuh komitmen dan penuh disiplin kalau tidak mana mungkin usahanya laris manis ya. Selamat ya mbak sudah terpilih menjadi emak of the month. Selamat juga Mbak Lusi sebagai salah satu Makmin yang sering mampir ketempatku hehehe

    ReplyDelete
  4. Aku baru liat postingan yang ini :lol: *dan kembali ngakak*

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.