Friday, June 06, 2014

Belajar Dari Warga Pantai Air Manis

Kami datang terlalu pagi di pantai Air Manis, Padang, Sumatra Barat, bertahun-tahun yang lalu. Sebetulnya tidak terlalu pagi bagi kami, tapi mungkin memang bagi mereka biasa buka agak siang. Loh, kok belibet? Intinya, kami jadi bisa menyaksikan kegiatan warga sebelum para wisatawan datang.


Akses ke pantai Air Manis yang terkenal dengan legenda Malin Kundang ini berupa jalan sempit naik turun dan berkelok tajam. Tapi tetap saja banyak wisatawan kesana sampai beberapa bus. Pintu masuknya sendiri berada ditengah perkampungan. Mau tidak mau, warga akan terimbas dengan kegiatan wisata karena jalan-jalan kampung jadi penuh kendaraan. Saya tidak tahu, mana yang lebih dulu, pantai Air Manis sebagai tujuan wisata atau terbentuknya kampung tersebut. Yang terpenting adalah yang terlihat saat itu, dimana warga terlibat dalam pengelolaannya.


Tiket masuk dikelola warga itu sudah sering saya lihat. Yang jarang terlihat adalah soal kebersihan. Pagi itu beberapa warga yang bertugas (sepertinya ada gilirannya), menyapu pantai. Yap, pantai disapu tiap pagi heheheee.... Sering kita melihat taman bermain yang kotor penuh bungkus makanan anak-anak dan dibiarkan begitu terus tiap hari. Padahal berapa sih luas taman bermain itu? Nah, ini pantai lo. Pantai!


Yang ingin saya sampaikan disini adalah, pentingnya keterlibatan warga dalam menjaga aset wisata, apapun bentuk aset tersebut. Terpeliharanya aset tersebut secara langsung toh akan menguntungkan warga juga. Semoga hingga sekarang kepedulian warga tersebut tidak berubah.


Minggu lalu saya datang ke candi Muara Takus, Kampar, Riau. Peninggalan Budha ini adalah satu-satunya candi di Riau. Letaknya jauh di pedalaman dan mirip dengan arsitektur candi-candi Budha lain di Asia Tenggara dan Selatan, membuat kami heran, bagaimana dahulu orang bisa sampai kesana dan membangun candi.


Candi Muara Takus masih terlihat utuh meski pengunjungnya tak seramai candi-candi di Jawa. Namun demikian, masih tersimpan banyak potensi untuk dikembangkan. Yang utama, akses jalan masuk dari jalur Riau-Sumbar ke arah candi mutlak harus diperlebar dan diperbaiki. Jalan tersebut terlalu sempit, rusak dan terputus di beberapa titik karena gerusan air. Mendekati candi, jalan malah lebih baik. Gardu pandang sungai Kampar yang terbengkalai juga  bisa diperbaiki. Sedangkan sungai yang sekarang digunakan untuk orang memancing, mungkin bisa dimaksimalkan untuk wisata sungai.


Menjelang pulang, tiba-tiba warga mendekati dan berteriak ke arah sekelompok pemuda, kelihatannya seumuran mahasiswa. Pemuda-pemuda itu naik hingga puncak candi untuk foto-foto! Kelihatannya mereka memang sudah merencanakannya karena ketika kami lewat, mereka terlihat mencurigakan, menunggu pengunjung sepi. Seperti diketahui, tangga candi sudah dipasangi pagar dan ditulisi papan larangan naik.


OLYMPUS DIGITAL CAMERA


Lebih terkejut lagi ketika ngobrol dengan teman-teman yang peduli dengan cagar budaya, bahwa larangan itu sebenarnya sudah sejak dulu ada tapi tidak diindahkan. Bersyukur waktu itu warga tergerak untuk ikut menjaga. Mungkin dulu mereka tidak peduli, semoga sekarang sudah timbul kepedulian itu. Sekali lagi kelestarian peninggalan bersejarah itu sangat menguntungkan warga setempat karena wilayahnya menjadi tujuan wisata. Tak perlu menunggu campur tangan pemerintah daerah.


Namun, pemerintah daerah juga jangan lantas merasa enggak ada kerjaan. Menjaga kelestarian aset wisata itu tidak hanya mengusahakan dana pemugaran, tapi juga mengedukasi warga sekitar tentang peran mereka. Justru peran warga sekitarlah yang utama. Tanpa kesadaran warga, apapun rencana pemerintah akan buang-buang uang saja.


Selisih beberapa hari sebelumnya, saya mengunjungi danau Buatan, Pekanbaru, yang terletak didaerah saya. Memang, saya datang sudah sore, mungkin pegawai pemkot yang menarik karcis sudah pulang. Tapi bukan berarti masuk kesitu gratis, karena digantikan dua orang bapak-bapak tanpa identitas. Mereka meminta Rp 30.000,- tanpa karcis. Bandingkan dengan masuk candi Muara Takus yang Rp 20.000 dengan karcis. Itupun kami cuma berputar sekitar 3 menit lalu balik pulang karena terlanjur kecewa, dan kemudian miris melihat bapak tadi lagi yang sedang menikmati rujak buah sambil tertawa.


Promosi buruk itu mudah saja kok, yang dilakukan bapak-bapak tadi dijamin akan membuat orang kapok kesana. Mereka untung saat itu, tapi seluruh warga sekitar akan rugi berkepanjangan. Maka tak heran, sulit sekali mengembangkan daerah tersebut, bahkan setelah dibantu sebagai venue PON.


Berapapun dana pemerintah daerah yang digelontorkan untuk mengembangkan suatu tujuan wisata, tak akan jadi apa-apa tanpa partisipasi warga. Mungkin setahun setelah revitalisasi masih terasa hebat, tapi setelah itu akan turun drastis pamornya. Dalam industri wisata, yang paling menentukan adalah kenyamanan pengunjung. Jika tak bisa membuat pengunjung nyaman berinteraksi dengan para pelaku pariwisata atau tak mampu mambuat pengunjung terkesima melihat obyeknya, yaaah.... kita sudah tahu jawabannya. Kita sudah sering bukan melihat obyek wisata yang mlangkrak?

3 comments:

  1. miris ya mak... yang merusak justru kita sendiri... lalu apa yang hendak diwariskan buat anak cucu kita nanti???

    ReplyDelete
  2. iya memang miris, ataukah jika memang pemerintah sudah tidak sanggup lagi untuk mengurusnya, diberikan kepada swasta saja??

    ReplyDelete
  3. kadang yang ikut melestarikan budaya negeri sendiri malah NGO-NGO asing. too bad to say our peoples ga menjaga budaya sendiri

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.