Menyambut Hajat Dalem Tingalan Jumenengan

Monday, March 19, 2018

netizenmenyangkraton

Tanggal 17 Maret 2018 kemarin, saya mendapat undangan dari Komunitas Malam Museum untuk datang ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Acara dengan hashtag #NetizenMenyangKraton ini bertujuan mendengarkan dan membantu menyebarkan informasi tentang hajad dalem Tingalan Jumenengan yang akan dilaksanakan pada bulan April 2018. Nah, buat teman-teman yang menyukai peristiwa budaya, jangan sampai ketinggalan hajad dalem yang tahun ini lebih besar dari tahun sebelumnya karena merupakan pengikat tiap 8 tahun atau sewindu.

Rombongan yang terdiri dari blogger, vlogger, influencer dan admin portal online Jogja dipandu oleh mas Erwin, founder Malam Museum yang kemarin kebetulan juga memperingati ulang tahunnya yang ke-6. Selamat ya, semoga makin bermanfaat untuk masyarakat.

Rombongan diterima oleh GKR Hayu, putri ke 4 Sultan Hamengkubuwono X, yang memimpin divisi terbaru kraton bernama Tepas Tanda Yekti. GKR Hayu ini adalah sosok yang cerdas, dinamis dan cekatan. Beliau tak kenal lelah mendobrak segala kebuntuan atau birokrasi kraton tapi juga berkeras mempertahankan budaya yang menjadi keistimewaan Yogyakarta. Boleh dibilang, beliau adalah jembatan informasi antara kraton dan masyarakat Jogja. Di akun twitter beliau yang sangat aktif, teman-teman bisa berinteraksi langsung. Salah satu tugas Tepas Tanda Yekti adalah mendokumentasikan semua kegiatan kraton yang sudah diijinkan (ada beberapa ritual yang belum boleh diliput) untuk dibagikan ke masyarakat, termasuk dalam bentuk digital modern, seperti instagram dan video youtube. Karena itu beliau dekat dengan para netizen.

Bangsal Kasatriyan

Pertemuan kemarin diadakan di Bangsal Kasatriyan. Jika teman-teman berwisata ke kraton, kemungkinan akan melewati bangsal ini juga. Bangsal Kastriyan dulunya adalah tempat para putera raja yang sudah akil baliq. Dahulu, antara putra dan putri yang sudah akil baliq tinggal terpisah. Sekarang, meski putri dan cucu Sultan HBX juga banyak, tapi Sultan memutuskan untuk hidup satu atap seperti keluarga pada umumnya di Kraton Kilen. Saya sudah pernah kesana, dan beneran memang seperti keluarga pada umumnya, hanya saja harus lapor di pos penjagaan.

Jadi, hajat dalem itu artinya adalah perayaan atau upacara yang diselenggarakan oleh kraton. Jaman dahulu, banyak sekali hajat dalem. Sekarang, hajat dalem dibagi menjadi 3 kategori:
  1. Ulang Tahun Kenaikan Tahta
  2. Hari Besar Islam
  3. Siklus Hidup, misalnya pernikahan putra putri raja.
Sedangkan Tingalan Jumenengan itu maksudnya adalah peringatan kenaikan tahta raja. Peringatan tahta Sultan dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dilakukan setahun sekali menggunakan kalender Jawa. Selisih antara kalender Jawa dan nasional itu sekitar 9-11 hari. Ada 2 macam labuhan hajat dalem yaitu alit untuk peringatan tiap tahun dan ageng untuk peringatan tiap 8 tahun atau sewindu. Karena tahun ini adalah tahun dal (penanda 8 tahun atau sewindu), maka nantinya termasuk labuhan ageng yang pasti lebih besar dari tahun lalu.

Secara garis besar hajat dalem dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu persiapan dan pelaksanaan. Semua persiapan selalu dilakukan didalam tembok kraton karena menyangkut banyak sekali detil ritual yang hanya diketahui dan boleh dilaksanakan oleh keluarga kraton dan abdi dalem. Sedangkan untuk pelaksanaannya ada yang dilakukan didalam tembok kraton, ada yang diluar.

netizenmenyangkraton
GKR Hayu, Tepas Tanda Yekti dan netizen.

Rangkaian hajat dalem Tingalan Jumenengan ini akan diawali dengan acara ngebluk. Hasil akhir ngebluk ini adalah apem, masakan khas. Ngebluk artinya bukan tidur seharian ya, melainkan suara "bluk" yang ditimbulkan ketika membuat adonan. Acara itu seharian juga yang dilakukan oleh sentana dalem keputren dibantu keparak. Bagi masyarakat Jogja, ngapem itu tidak sesederhana membuat adonan lalu dimasak. Ada ritualnya. 

Yang tiap tahun dilakukan keluarga saya sebagai masyarakat umum adalah tiap ruwahan. Ngapem ini harus ada pemimpinnya, yaitu sang ibu. Berhubung ibu mertua sudah meninggal, maka digantikan oleh kakak ipar perempuan tertua. Beliau mengawali dengan puasa. Adonan disiapkan oleh rewang, lalu beliau akan menuangkan adonan untuk pertama kalinya. Dibagian dasar cetakan diletakkan daun sirih. Setelah itu, baru boleh diteruskan oleh orang lain. Yang belum menikah atau sedang haid tidak boleh ikut-ikutan. 

Ngebluk yang diadakan kraton memiliki lebih banyak ritual yang dilakukan, lebih banyak adonan yang dibuat dan lebih banyak energi yang dibutuhkan. Orang awam mungkin akan kelelahan, nggak sanggup. Adonan disiapkan oleh abdi dalem sehari sebelum ngapem karena ada proses peragian agar mengembang. Adonan disimpan di Gedhong Prabayeksa. Keesokan harinya dilaksanakan acara ngapem atau memasak adonan menjadi apem dipimpin oleh permaisuri atau istri Sultan. Apem yang dibuat oleh keluarga saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan buatan kraton yang besarnya bisa 10x lipat. Bahkan untuk yang sudah menopause, diameternya apemnya sampai 30 cm. Itupun masih dengan catatan tidak boleh retak, harus mulus bentuknya. Kalau retak harus ditambal atau tuang adonan lagi. Saya belum pernah melihat apem kraton sih ya, jadi belum bisa membandingkan. Semoga di Tingalan Jumenengan bulan April 2018 nanti, saya diundang lagi.

Sementara itu di Widyabudaya, abdi dalem laki-laki mempersiapkan ubo rampe (perlengkapan) untuk labuhan. Labuhan dilakukan di petilasan yang dianggap sangat penting bagi kraton. Labuhan sendiri dimaksudkan untuk membuang atau menghanyut sifat dan sikap buruk.

Semua persiapan dikumpulkan untuk acara sugengan atau selamatan yang dipimpin para ulama. Sugengan merupakan inti hajat dalem yang berisi doa untuk keselamatan sultan, keluarga sultan dan masyarakat Jogja.

Hajat dalem Tingalan Jumenengan akan diakhiri dengan labuhan. Berhubung kali ini adalah tahun dal (kelipatan 8 tahun atau sewindu), maka labuhan akan dilaksanakan disemua petilasan, yaitu:
  1. Labuhan Parangkusumo. Letak Parangkusumo itu sebelum parangtritis jika dari kota Jogja, yaitu setelah gumuk pasir. Disana ada tempat yang bernama Cepuri, lokasi Panembahan Senopati, cikal bakal kraton Yogyakarta bertapa.
  2. Labuhan Merapi. Labuhan Merapi ini bukan di kawah ya, tapi di suatu tempat yang masih ada vegetasinya. Juru kunci kraton yang legendaris bernama mbah Maridjan yang tewas oleh letusan Merapi. Sekarang juru kunci dipegang oleh putra mbah Maridjan. Merapi dipilih letusannya pernah menyelematkan Mataram dari rencana serangan kerajaan Pajang.
  3. Labuhan Lawu. Labuhan di gunung Lawu merupakan labuhan dengan medan paling berbahaya. Karena itu belum ada dokumentasi yang bagus. Tempat ini dipilih karena dipercaya sebagai tempat raja Brawijaya terakhir moksa, bernama Hargo Dalem. Juru kuncinya berada di Tawangmangu.
  4. Labuhan Dlepih Khayangan. Letaknya di Wonogiri. Tempat ini dipilih karena merupakan tempat betapa Panembahan Senopati dan raja-raja setelahnya. Labuhan disini hanya dilaksanakan pada labuhan ageng seperti tahun ini atau setiap 8 tahun sekali saja.

Apem Jogja ala keluarga kami, lengkap dengan kolak ketan. Apem kraton mirip seperti ini tapi ukurannya jauh lebih besar.

Untuk hajat dalem Tingalan Jumenengan tahun ini akan dilaksanakan pada bulan April 2018, catat jadwal berikut, ya:
Jumat, 13 April 2018 atau 27 Rejeb. Ngebluk di keputren dan dilaksanakan secara tertutup didalam tembok kraton oleh keparak atau para abdi dalem perempuan.
Sabtu, 14 April 2018 atau 28 Rejeb. Ngapem yang dipimpin oleh permaisuri, dalam hal ini Ratu Hemas. Selain apem biasa, juga dibuat apem Mustaka yang akan ditumpuk setinggi badan ngarso dalem atau sultan. Bersamaan dengan ngapem, dipersiapkan pula uborampe untuk labuhan berupa busana yang pernah dikenakan sultan, busana laki-laki dan perempuan, kuku dan rambut sultan serta layon sekar atau bunga sesaji yang telah layu.
Minggu, 15 April 2018 atau 29 Rejeb. Sugengan yang dipimpin oleh para ulama di lingkungan kraton di Bangsal Kencana. Apem dibagikan di acara ini.
Senin, 16 April 2018 atau 30 Rejeb. Ubo rampe labuhan berangkat dari Bangsal Srimanganti ke semua petilasan. Untuk petilasan di pantai Parangkusumo langsung dilakukan labuhan, sedangkan untuk petilasan lain diinapkan terlebih dahulu. Selama menginap tersebut, warga Kinahrejo di petilasan gunung Merapi mengadakan pesta rakyat.
Selasa, 17 April 2018. Labuhan di Merapi, Lawu dan Wonogiri. Labuhan yang paling mendapat banyak perhatian adalah labuhan merapi karena tidak jauh dari kota Yogyakarta, ditambah kisah legendaris mbah Maridjan serta foto-foto dramatis yang berlimpah. Para abdi dalem yang mengenakan busana peranakan melakukan pendakian tanpa alas kaki.

Saya sempat bertanya kepada GKR Hayu, mana saja yang bisa disaksikan secara langsung oleh msyarakat umum? Beliau menjawab, pada dasarnya semua prosesi yang ada video streaming-nya terbuka untuk umum. Hanya saja karena keterbatasan tempat di beberapa lokasi, jangan kecewa jika tetap dilarang mendekat. Yang masih suka nakal itu pilot drone yang selalu coba-coba mengintip meski ritual tersebut tidak untuk umum.

Di akhir pertemuan, diperlihatkan video Tingalan Jumenengan yang pernah dilaksanakan. Salah satu program Tepas Tanda Yekti adalah memperbanyak dokumentasi dalam bentuk video yang bisa teman-teman saksikan di youtube.

Jika teman-teman berencana untuk hunting acara budaya di Yogyakarta, jangan lupa untuk memasukkan acara penting ini dalam agenda teman-teman. Jika tidak sempat, siapkan gadget untuk melihatnya melalui video streaming. 

Sumber tambahan:
www.kratonjogja.id

You Might Also Like

5 comments

  1. Mbak..spechless saya dengan ritual ngapemnya.
    Kalau di Kediri, kampung halaman saya, biasa Ibu membuat apem..ya bikin saja, enggak ada ritualnya. Hebat jika tradisi dengan nilai historis ini terus dijaga agar tetap lestari.
    Bangga juga Keraton Jogja sudah membuka diri dan mengikuti arus modernisasi terutama dalam penyebaran informasi ke masyarakat. Tentu akan memudahkan kita orang awam untuk mengenal dekat ritual dan tradisi yang ada meski hanya lewat tontonan streaming saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Padahal sudah banyak yg disederhanakan. Syukurlah sekarang bisa streaming. Berkali-kali pengin lihat tapi selalu penuh sesak.

      Delete
  2. Aku baru tau kalau prosesi ini banyak dan tidak sembarangan ya mba. Bahkan buat apem pun ada ritualnya. Luar biasaaa

    ReplyDelete
  3. Apem ini salah satu kue tradisional kesukaanku. kalo dipencet Agak membel empuk. Apalagi kalo nggak terlalu manis. Makannya ditemani teh tawar anget, syedapnya reeekk!
    Pertanyaanku cuma satu; kenapa kue apem yang dipilih, apakah mewakili suatu simbol?

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.