Sunday, March 20, 2016

Urun Rembug Nasional Untuk Strategi Kebudayaan

Tulisan tentang Urun Rembug (sumbang pendapat) Nasional Untuk Strategi Kebudayaan ini akan saya bagi dua, yaitu tentang keseluruhan acara dan tentang diskusi bidang kepemimpinan yang berbudaya.



Sebutan lokakarya untuk acara tersebut terkesan berat dan akademis ya? Memang penyelenggara dan narasumbernya dari kalangan akademisi dengan gelar yang melangit, tapi dibutuhkan dalam acara itu adalah sumbangan pemikiran orang-orang yang berpikiran maju, terbuka dan berani. Itu sebabnya Jogja Creative Society (JCS) mengundang banyak kalangan untuk bersama-sama melihat Jogja dari berbagai sisi dan kemudian mengambil kesimpulan bersama dalam bentuk strategi kebudayaan yang akan diusulkan ke pemerintah.
JCS sudah pernah mengajak saya untuk datang ke acara mereka, tapi sayang waktunya tidak pas terus. Kali inipun sebenarnya sudah ada acara bulanan Arisan Ilmu Kumpulan Emak Blogger (KEB), tapi saya permisi untuk datang ke acara ini. Melihat tema dan narasumber, sepertinya pembahasan akan berat dan penuh pemikiran. Nyatanya, memang iya. Tapi dalam artian, ini adalah untuk kepentingan kita semua, jadi harus ada yang mau duduk bersama untuk membahasnya. 
Namun jika dikatakan bahwa di acara ini akan bertaburan bahasa langit, maka itu salah besar. Di acara ini kita hanya perlu membuka mata, telinga, hati dan pikiran. Benarkah kita sudah bersama-sama menjalani hidup yang berbudaya demi kenyamanan bersama pula?
Saya tahu acara ini dari teman saya, Andri, yang aktif di JCS. Undangan saya ambil sendiri sekalian silaturahim karena lama tak bertemu. Tepatnya sejak lulus SMA. Wkwkwkkk. Sekretariatnya ada di N-Workshop, Suryodiningratan. Kapan-kapan saya akan membuat postingan khusus tentang N-Workshop karena terlalu menarik untuk hanya disebutkan sambil lalu.
Acara besar yang diselenggarakan di gedung baru Sahid Hotel ini tidak memungut biaya, alias gratis. Sayang banget yang sudah melewatkannya, ya. Panitia membuktikan bahwa dengan tujuan yang jelas dan semangat untuk perbaikan, pihak manapun pasti mau membantu. 
Yang istimewa dari acara ini adalah tampilnya Sri Sultan Hamengku Buwono X dan KGPAA Pakualam X dalam satu panggung. Sri Sultan memberikan pendapat beliau tentang strategi kebudayaan nasional dan membuka acara secara resmi, sedangkan Pakualam memberikan pengantar tentang kepimpinan yang berkebudayaan Indonesia dalam pleno.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur DIY, Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Dengan pembawaan beliau yang khas raja Jawa, yaitu halus tapi sangat dalam bertutur kata, Sri Sultan menjabarkan tentang bagaimana kepemimpinan yang berbudaya itu. Pemimpin yang baik itu yang berkomitmen pada janji-janjinya sendiri. Janji tersebut tidak diterjemahkan sesuka hati sesuai dengan keadaan kemudian, namun harus benar-benar dilaksanakan seperti yang sudah diniatkan. 
Sebuah pemerintahan itu menurut beliau harus mitayani, migunani lan mrantasi (Untuk tahu artinya, silakan membeli Kamus Bahasa Jawa-Indonesia, disusun oleh Sutrisno Sastroutomo, terbitan Kanisius. Iklan). Strateginya adalah membuka ruang bagi kreativitas tanpa kehilangan filosofinya. Yogyakarta memiliki cita-cita menjadi zona creative dunia. Untuk menjadi pusat industri kreatif, harus diciptakan lingkungan yang heterogen dimana toleransi, teknologi dan talenta bisa saling mendukung. Dengan kultur keunggulan diharapkan lahirlah renaissance Yogyakarta.

Budaya adalah strategi untuk bertahan hidup dan menang.

Sayang detilnya tidak saya rekam atau catat. Padahal saya membawa laptop. Bahkan mungkin karena kebiasaan blogger, jadinya saya sendiri yang tampak heboh nenteng tas laptop selain handbag. Dosen-dosen aja santai, nggak ada yang seheboh saya. Tapi begitulah aura seorang raja. Begitu datang dan bersabda, jadi terpana, lupa bahwa kedatangan saya disana akan lebih bermanfaat jika banyak yang bisa bagi pada teman-teman.

Acara berikutnya adalah pengantar materi yang diisi oleh Prof. Dr, Sri Edi Swasono dari bidang pendidikan, KGPAA Pakualam X dari bidang pemerintahan dan Ir. Cahyo Alkantara M.Sc., Ph.D, dari bidang kepariwisataan dengan moderator Dr (Ing) Greg Wuryanto, M.Arch. Mas Greg ini adalah arsitek lulusan Jerman yang memprakarsai JCS. Wah, nggak nyalonin di pilkada sekalian sih mas, kayak Ridwan Kamil yang arsitek juga.

Prof. Dr. Sri Edi Swasono, Ekonom Kerakyatan, Akademisi
Prof Edi ini kalau bicara berapi-api tapi membukakan mata kita, bagaimana sebuah bangsa harus punya kebanggaan pada diri sendiri. Proklamasi Kemerdekaan adalah proklamasi budaya. Namun sayang kita gagal mengubah mind set (unlearning afleren) sebagai bangsa yang terjajah. Kita tidak mendidik diri menjadi bangsa yang mandiri dan berdaya. Tuntutan sebagai bangsa yang merdeka tidak tergarap dengan baik.


Dalam legislasi juga banyak Undang-undang yang berusaha dihambat karena bertentangan dengan UUD 1945 dan kepentingan rakyat. Meski sudah berusaha diperjuangkan di DPR, namun banyak yang lolos dalam bentuk PP. Pemimpin yang tidak memiliki strategi budaya akan membahayakan negara.
Banyak universitas yang memiliki pusat-pusat studi asing tapi tidak memiliki pusat studi nusantara. Untuk mematikan suatu bangsa cukup menutup mata mereka dari sejarah. Harus dicarikan satu sistem untuk menyatukan budaya suku-suku yang berbeda, sehingga menjadi Bhinneka Tunggal Ika. Budaya “mengorangkan” suku-suku yang berbeda agar kesatuan bangsa terjaga.
Sri Edi Swasono mengidamkan Indonesia mendirikan world class universities, dimana bukan anak-anak kita yang belajar keluar negeri, tapi orang asing yang belajar di Indonesia tentang kekhasan Indonesia, misalnya tentang volcanology.

KGPAA Pakualam X, Pemuka Kadipaten Pakualaman, 
Senang sekali mendapat copy lengkap makalah beliau karena ajaran kepemimpinan Asthabrata dari Kadipaten Pakualam ini adalah warisan budaya yang harus dibaca lengkap. Karena itu jika teman-teman menghendaki, silakan hubungi saya, nanti saya email dalam bentuk scan. Namun demikian, teman-teman harus menunjukkan minat terhadap ajaran ini dulu, baru saya balas, supaya email saya tidak mubazir.
Perasaan inferior karena pernah terjajah sekian lama membuat kita gumunan, mudah terkagum pada budaya luar, padahal belum tentu bagus. Penjajahan juga menimbulkan distorsi selama 350 tahun, menjadikan jiwa bangsa ini kerdil, merasa tak mampu. Contoh: bagaimana bangsa maritim bisa beralih menjadi bangsa agraris, bahkan takut dengan laut.
Bagi yang serius mengetahui tentang kepemimpinan, beliau menyilakan peserta untuk datang ke Pura Pakualaman. Disana terdapat 268 kitab. Sedangkan koleksi buku-buku lainnya dihibahkan ke Tamansiswa agar bisa dibaca dan dipelajari khalayak.
Bagi beliau, kepemimpinan itu akarnya keteladanan.




Ir. Cahyo Alkantara M.Sc., Ph.D, Pengusaha Ekowisata, Dokumentator Alam Liar
Mas Cahyo ini berperan mengembangkan gua Jomblang, Kalisuci dan Pindul yang sekarang bak kolam cendol di musim liburan. Ini memang perubahan yang sangat signifikan bagi masyarakat pedesaan. Tak sedikit yang berubah jadi money oriented. Kenyataan ini membuat beliau risau dan mengajak peserta untuk turut memikirkan jalan keluarnya.
Beliau tak banyak bicara dan langsung menayangkan video program pengembangan selanjutnya yang jauh lebih besar, yaitu Geopark Nasional Gunung Sewu.

Geopark Gunung Sewu ini sangat besar hingga meliputi tiga kabupaten dan tiga propinsi, yaitu kabupaten Gunung Kidul (DIY), kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah) dan kabupaten Pacitan (Jawa Timur).

Video tersebut membuat saya benar-benar terpana. Alam liarnya sangat bagus, cocok buat yang suka berpetualang. Meski host-nya Rangga, eh Nicholas Saputra, tapi alam tetap menjadi bintangnya.

Setelah pleno, kami menuju ruangan masing-masing untuk pembahasan lebih intensif. Saya masuk ke ruang diskusi tentang pemerintahan. Cerita selanjutnya menyusul, ya.

5 comments:

  1. hihihi alam tetap bintang utamanya, Nicholas jadi figurannya ya :D

    ReplyDelete
  2. Overwhelm aku bacanya mba...heheh..pada intinya..Jogja kurasa yg pertama ya yang ngadain beginian. Perlu dicontoh daerah lain

    ReplyDelete
  3. Pembicaranya oke bangeet mba. Dan memang benar, dunia pun akui cultural rights lho

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.