Friday, March 22, 2019

Wisata Kerajinan Jogja Sekitar Terminal Giwangan

Friday, March 22, 2019 2 Comments
Jogja kaya dengan obyek wisata. Banyak pilihan yang bisa dikunjungi. Banyak pula yang belum dieksplor, antara lain kawasan wisata dan daerah kerajinan yang dekat dengan terminal Giwangan.

Kerajinan Bantul. Foto pribadi.

Dahulu, bus adalah alat transportasi yang paling tidak disiplin. Kondisi bus tidak terawat, tiket tidak sesuai, berangkat sesukanya, ngetem seenaknya dan ugal-ugalan di jalan. Masa-masa seperti itu lambat laun memudar. Memang, masih banyak sekali bus yang membuat ciut nyali penumpangnya atau sebaliknya membuat penumpang emosi. Tapi bangkitnya manajemen transportasi massa lain terutama kereta api dan membaiknya ekonomi masyarakat, membuat perusahaan bus mau tak mau harus berbenah atau ditinggalkan.

BUS DAN WISATA JOGJA


Salah satu cara orang Jogja bepergian menggunakan bus dahulu adalah dengan mencari seadanya di Terminal Giwangan, yang merupakan terminal utama Jogja. Mengapa tidak memesan saja? Perlu diketahui, letak terminal Giwangan itu di ujung selatan kota Jogja, berbatasan dengan kabupaten Bantul. Cukup jauh untuk bolak-balik kesana. Beberapa agen bus tidak mau menerima pemesanan melalui telepon karena takut calon penumpang tidak datang di hari keberangkatan dan seat tak terjual. Herannya, sampai sekarang masih ada beberapa agen bus besar yang tidak mau menerima transfer uang pula. Seolah tak ada solusi agar tidak ada yang merugi. Sungguh merepotkan calon penumpang.

terminal giwangan jogja
Terminal Giwangan. Foto pribadi.

Belakangan saya terbiasa melihat bus yang besar-besar dan baru. Eksterior yang menarik seperti group band Bonjovi atau yang lucu seperti Hello Kitty mengurangi citra garang bus-bus tersebut. Perusahaan otobus berlomba-lomba tampil beda dan paling keren. Jika tidak, ancamannya jelas yaitu konsumen tidak akan mau memilih mereka. Konsumen sekarang sangat pemilih dan rajin mencari rekomendasi. Gairah untuk naik bus kembali lagi. Bahkan ada beberapa channel youtube yang khusus membahas bus-bus yang makin bersolek ini.

Namun demikian, faktanya masih lebih banyak wisatawan yang memilih kereta api jika berwisata ke Jogja karena bisa turun dekat dengan Malioboro. Selain karena kerepotan ketika akan membeli tiket bus, Malioboro memang sangat menarik. Tapi jika teman-teman ingin sesuatu yang berbeda, bisa dicoba berwisata di daerah selatan Jogja. Apalagi sekarang tiket bus sudah bisa dibeli secara online.

Salah satu platform e-commerce yang menjual tiket bus dan sudah pernah kami coba adalah Traveloka. Sedangkan salah satu perusahaan otobus yang sudah bergabung dengan Traveloka adalah PO Eka-Mira. Pelintas batas Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur pasti sudah pernah mendengar nama bus Eka dan bus Mira. Sekarang keduanya berada dibawah satu perusahaan.  Saya sudah pernah menaiki kedua bus tersebut ketika masih belum sama-sama dibawah PT Eka Mira Prima Sentosa atau PO Eka-Mira. Kebetulan kandang bus Mira dekat dengan rumah saya waktu itu. Ketika itu bus Mira termasuk bagus dibandingkan bus-bus Jawa Timur lainnya. Tapi tentu saja persaingan dan perkembangan jaman membuat bus Eka dan bus Mira mengalami kemunduran.

tiket bus eka mira online
Bus Eka. Foto Traveloka.

Dua tahun setelah penggabungan, barulah bus Eka Mira kembali merebut pasar dengan pengadaan bus-bus baru dan perbaikan pelayanan. Salah satu terobosan besar dalam pelayanannya adalah Tiket Bus Eka Mira bisa dipesan secara online melalui Traveloka.

Entah mengapa pemesanan tiket online bus itu lama sekali baru bisa e-commerce setelah pesawat dan kereta api. Mungkin karena sulitnya menjamin waktu tempuh bus kepada konsumen. Halangan di jalan bermacam-macam, dari macet, banjir dan sebagainya. Meski ini masih menjadi faktor yang sulit dikendalikan oleh platform penjual tiket bus online, tapi konsumen punya hak untuk melayangkan komplain.

Contohnya, beberapa bulan lalu keluarga kami menggunakan bus dari Jakarta menuju Solo yang tiketnya dibeli melalui Traveloka. Bus tersebut mengalami keterlambatan yang cukup lama tapi masih bisa dimaklumi karena kondisi jalan tol di Jawa Barat yang macet panjang. Yang kemudian tidak bisa diterima adalah 45 menit sebelum tiba di tujuan, si sopir malah berhenti untuk sarapan, sendiri, meninggalkan penumpang di atas bus. Padahal sebelumnya sudah berhenti untuk sholat subuh. Mengapa tidak sekalian makan? Lagipula penumpang juga lapar dan jarak tempuh tinggal sedikit lagi. Seketika dikirimkanlah protes ke customer service Traveloka yang stand by 24 jam. Komplain dicatat dengan rinci untuk menegur perusahaan yang bersangkutan.

Jadi, perusahaan otobus tidak bisa seenaknya. Rekam jejak mereka tercatat dan saingan mereka banyak, tidak seperti kereta api yang hanya ada dibawah PT KAI.

WISATA JOGJA SEPUTAR TERMINAL GIWANGAN


Meski terminal Giwangan berada di luar kota Jogja, tapi sebenarnya itu merupakan daerah yang strategis untuk berwisata.

Dari terminal Giwangan, teman-teman bisa ke utara sedikit naik ojek atau taksi online untuk menjelajah kawasan wisata Kotagede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Disini juga terdapat kerajinan batik halus. Selain itu, masih ada bonus melihat pabrik coklat Monggo, melihat peninggalan kerajaan Mataram Islam, berfoto diantara bangunan kuno dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, jika pergi dari Terminal Giwangan agak jauh ke selatan, teman-teman bisa khasanah kuliner Jogja yang sudah sangat terkenal yaitu sate klathak. Tapi ini masih bisa ditempuh dengan ojek online. Lebih jauh ke selatan lagi, jalur ini juga akan membawa teman-teman ke makam kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dan kawasan wisata yang sedang hits, yaitu kebun buah Mangunan, hutan pinus Asri, Songgo Langit dan sebagainya.

sate klathak
Sate klathak dan kerajinan Bantul. Foto pribadi.

Yang belum banyak diketahui orang adalah bahwa tak jauh dari terminal Giwangan itu, kearah selatan dan barat, adalah kawasan perusahaan kerajinan ekspor. Meski kerajinan yang diproduksi disana ditujukan untuk ekspor, tapi banyak yang juga melayani pembeli domestik. Karena langsung di pabriknya, harganya pun lebih murah daripada ketika mereka pameran di acara eksebisi atau mall.

Baca juga: Workshop 9 Sentra Kerajinan Jogja Yang Ingin Saya Kunjungi

Jenis kerajinan yang mereka buat beragam dari tas, sepatu, dekorasi rumah hingga mebel. Biasanya mereka tak menunjukkan etalase ala toko tapi hanya memasang plang perusahaan. Mereka memajang produk-produk tersebut di showroom yang berada di dalam.

Untuk bisa melihat koleksi mereka, teman-teman tak bisa langsung datang karena tak semua perusahaan menyediakan penjaga showroom. Sebaiknya teman-teman browsing dulu untuk mencari nomor kontak perusahaan kerajinan sepanjang daerah tersebut. Lihat dulu foto-foto produk mereka. Tak perlu gentar jika semua keterangan foto menggunakan bahasa Inggris.

Jika jenis produknya teman-teman sukai, hubungi dan bertanyalah apakah mereka punya showroom yang bisa didatangi. Lebih baik lagi jika teman-teman bersama rombongan karena mereka akan menyiapkan semua koleksi yang dimiliki agar lebih mudah dilihat. Kadang mereka juga mengajak tamu untuk berkeliling ruang produksi.

Tuh kan, banyak alternatif wisata di Jogja. Kapan ke Jogja?

Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.

Tuesday, March 19, 2019

How To Store Fabric Scraps

Tuesday, March 19, 2019 0 Comments
Do you want to have fabric scraps that are neatly arranged and can be showed off like on Pinterest?

organizing fabric scarps

There is a difference between the pure crafter and crafters who are also active in social media. The crafters who are active in social media record the process and the result. They have to manage to produce the best result of their creations, as well as the best photos and videos. Tidying up the sewing corner becomes very important. A lot of them also add some decorations to make it more beautiful.

The main cause of messy sewing corner is fabric scraps from sewing activity leftovers. A lot of busy crafters just wrap the fabric scraps in some bags, waiting for anyone to take it. They don't have time to tidy up the sewing corner. It seems impossible to see neat boxes like photo backgrounds on Pinterest and Instagram, let alone the same size fabric scraps stacked neatly in the boxes.

However, if you have time, neatly arrange the layout will help bring up the ideas of the next project. Especially for a new crafter like me, who hasn't received many orders. I still have time to explore the characteristics of my work. Although using the same sewing pattern, each person has a different preference so that his trademark appears. Therefore, when I tried a new model, I only adopted the basic pattern. If I copy all the details, I will feel strange with my own work.

Baca juga: Cara Menyambung Kain Perca Memanjang

Arranging fabric scraps in a certain size also requires many containers and a large shelf. Therefore, I simplify the size in just a few containers. This idea was helped by a beautiful Malaysian blogger at The Little Mushroom Cap. She arranged the fabric scraps very neatly by dividing them into size categories. Since my container is not much, I simplify the category.

fabric scraps organizing
Fabric scraps organizing by thelittlemushroomcap.com

So, I only divide the fabric scraps category into sizes:  <2 .5="">2.5"; >5"; felt; special shapes (circles and triangles).

The use of inch size is not solely because of following the blog, but due to the fact that there are still many sewing craft patterns in English use inches in size. Actually, there are also many patterns in Indonesian and using centimeters, it's just not easy to find on internet searches. If you want to get these patterns, you have to enter groups and communities on social media. This is what I sometimes didn't have time to. 

The use of inches is not a hassle at all even though my @beyouprojects products are sold in centimeters. This is because Indonesian people like size with even numbers, except 1 and 5 cm. So if it is converted in centimeters there will be odd leftover. But that doesn't need to be thought about because it can be used as the width of the hem. Actually I have never converted the unit of measurement with a calculator. I only looked at the position of inches and centimeters across the ruler or tape measure. From there we can immediately aim at the centimeter that is parallel to the size of the inch. Easy!

Baca juga: DIY Membuat Coaster Dari Perca

Cutting with a rotary cutter and cutting mat will make the fabric scraps neat and has a precision size. Using scissors makes the edges of the fabric inconsistent. But I only have the cutting mat, I don't have a rotary cutter yet. So I use scissors. Luckily I don't have a plan to learn quilting in the near future that requires precise fabric size. Later, if I think about learning quilting, then I will just buy a rotary cutter.

fabric scraps


Step 1: Prepare a measuring instrument


Cut thick paper with a width of 2.5 "and 5". Free length. This size is to accelerate patchwork grouping so you don't need to measure it one by one with a ruler or meter.

Step 2: Grouping Fabric Scraps


Group 1, felt. Felt is not grouped by width because even very small felt is still useful. Because we don't need to measure it, we take the felt first from the fabric scraps stack.

Group 2, round and triangle. Round fabric scraps can occur if they are measured incorrectly. Whereas a triangle shaped can often occur when making a bag or pouch with the boxy bottom end.

Group 3, width smaller than 2.5" with free length. Now, we use the measuring instrument so that the work is quickly completed. No need to pay attention to the neat edges.

Group 4, whose width is between 2.5 "to 5" with free length.

Group 5, whose width exceeds 5 "with free length.

Step 3: Tidy up


Basically, I just straightened the edges of the patchwork grouped. I did not cut to a certain size because I did not have the idea to make anything with the cloth. It's a shame if it's already been cut, it turns out I need another size. However, the remaining deposits of the fabric are not immovable. For example for sizes above 5 ", I can still use it to make pouches or coin purses. Whereas small sizes can be used to hang bag rings or to end zippers.

Step 4: Storing Fabric Scraps


I use transparent containers that can be bought at supermarkets at low prices. I bought this one with a price of around Rp 50,000,-, a pack containing 12 pcs. You can also use used cookie jars, used salad containers and other used take-away food containers. The important thing is transparent and can be stacked to save space. I don't like drawers because it is troublesome if you want to dismantle the contents. Don't forget to put a label that is easily visible for easy pick up.

Now our sewing corner can be neater, wider and smoothen our work. Have a good time!

Thank you for visiting the beyourselfwoman blog.


Wednesday, March 13, 2019

5 Event Waste Management Suggestions

Wednesday, March 13, 2019 2 Comments
event waste management


For bloggers, coming or being invited to an event or workshop is a usual activity. But have you ever noticed there is so much waste that can actually be avoided?

Unfortunately, EOs often act according to the general standards that have existed since long ago. Sometimes the EO just follows the packages offered by the hotel as the owner of the venue. Those who work in this field are so busy that they don't have time to think about further details and change the old practices.

For the past two months, I have written 8 articles on www.emak2blogger.com related to event waste. During the making of the article, I read a lot and found out about the waste produced by an event. I think it will be useful if I write the summary here.

Concern about the waste generated from an event, only became a discussion among event participants. EO itself has not taken any concrete action. However, bloggers who discuss it are still very little and all foreign bloggers.

Why aren't there Indonesian bloggers writing about event waste huh?

Maybe someone has written about it, it's just that it doesn't appear on Google searches.

But never mind, that's not the main problem. The main problem is the event waste.

1. ID CARDS

ID cards are important for certain events because they make EO, ​​participants and speakers easy to communicate. However, ID cards that use plastic holder with pin or lanyard will end up as waste. Indeed, there are people who collect IDs for keepsakes, but how many? The rest ends up piled in a drawer.

My suggestion is to use ID cards from a stickers that can be discarded immediately after the event is finished. If you continue to use ID card from plastic with pin or lanyard, ask the participants to return them after the event is completed. EO need to set up a place for the returning ID card holders. EO can use them again in the next event.

For participants, the id card holders can be used for other purposes. Please find the tutorial on the KEB website.

2. STATIONARY KIT


Stationary kits are events properties that are always given to participants. The funny thing is that the property is always a block note and pencil. I can understand the block note. But pencil? Why are old people given pencils? Indonesians don't usually write in pencil. Moreover, the majority of HB pencils that are barely visible for writing.

My suggestion is that you don't need to prepare paper and pencils at all. People who come to the event must have prepared themselves and some have used cellphones to take notes. Even the participants preferred to take photos of the material displayed on the screen rather than taking notes. EO only needs to provide a pen to fill in the attendance list. And even then it is not necessary if the attendance list in on a laptop.

3. MATERIAL AND PRESS RELEASE


Photocopy of press release is the event waste that I cannot understand the most. I call it waste because it is only used for a while before bloggers or reporters make it an article. Even then it is not necessarily because often the press release has been sent via email along with the invitation. They have read it. Carrying papers make them inconvenience.

The material already on the slide also does not need to be photocopied. Several times I have come to events that always end with requests for material in digital form, either by copying it on a flash disk or asking to be sent via email.

So, today's events should be paperless.

4. SOUVENIR


Souvenir is the most awaited thing from an event. Actually this is not a waste because participants expect it. But it will be a waste if the participants often come to events that give the same souvenirs, such as t-shirts and of course goodie bags.

In order not to become a waste, I have written articles on the use of t-shirts and goodie bags from events on the KEB website. Please visit.

5. FOOD AND DRINK


Coming to an event organized by a professional EO means satiety. But often hotel services where the event is held are too excessive. Many bottles of mineral water are distributed and not all are drunk. In fact they request certain mineral water brands to maintain prestige. Even though bottled mineral water is the source of apprehensive plastic waste, which is now a concern of all parties.

My suggestion is not to provide mineral water in a bottle at all. The hotel provides empty glasses, doesn't it? It would be better to assign the waiter to pour mineral water from a pitcher.

I understand, event's SOP has been like that since a long time ago and EO did not dare to make changes. Changes will be regarded as shortcomings for those who do not understand. Good communication skills are needed to make participants understand that what they are doing is for the sake of caring for the environment.

Wednesday, March 06, 2019

5 Ketakutan Utama Ketika Belajar Menjahit Tas

Wednesday, March 06, 2019 3 Comments
Entahlah apakah semua orang punya ketakutan. Bagi saya, belajar menjahit tas menimbulkan sejumlah ketakutan.

belajar menjahit tas

Pada dasarnya, saya suka semua craft. Tapi yang sampai ke taraf pembuatan adalah menjahit kerajinan atau craft. Lainnya cuma menjual saja.

Awalnya saya hanya ingin bisa menjahit, menjahit apa saja. Karena membuat tempat tissue dan tatakan gelas adalah yang paling mudah, ya itulah yang saya pelajari dan kerjakan beberapa kali. Proses ini memakan waktu yang sangat lama karena saya belum berani beranjak ke bentuk yang lebih sulit. Selalu muncul keraguan tiap akan menggunting. Kalau salah kan jadi buang-buang bahan.

Baca juga: Mengatasi Jahitan Benang Bawah Kendor

Akhirnya saya berani meningkatkan kemampuan dengan menjahit pouch. Hasilnya lumayan, nggak buruk. Lalu saya ikut workshop membuat tas dan baju. Disitulah saya temukan bahwa menjahit craft sangatlah menarik. Sementara menjahit baju sama sekali tidak bisa saya kuasai. Fokus saya seperti nyangkut entah dimana sehingga tidak bisa memahami penjelasan pelatih. Sepertinya di tempat workshop sudah paham tapi sampai rumah blank lagi. Apalagi jika cuma mengikuti tutorial di youtube! Wah, blas nggak mudeng.

Membuat tas itu membawa keasikan tersendiri. Kalau bolak balik mendedel memang capek dan gemas, tapi ada rasa penasaran untuk melihat hasil akhirnya. Puas banget melihat anak-anak berebut tas buatan saya meski belum rapi benar. Apalagi sekarang sudah mulai ada yang memesan dan membelinya melalui akun instagram @beyouprojects.

Meski sudah mulai menjual tas buatan saya, tapi proses belajar saya belum berakhir. Karya saya masih jauh dari sempurna. Saya selalu berterus terang melalui hashtag #belajarjahit di instagram dan selalu menjelaskan apa yang bisa dan tak bisa saya lakukan kepada pemesan. Semoga mereka tidak kecewa.

Di artikel ini saya ingin berbagi dengan teman-teman, apa sih ketakutan utama saya ketika belajar menjahit tas? 


Karena untuk menghasilkan sebuah tas itu butuh keberanian untuk meruntuhkan ketakutan-ketakutan tersebut.

1. WHAT YOU SEE IS NOT WHAT YOU GET

Masalahnya, kita harus bekerja terbalik dari yang hasil akhir. Sebenarnya, menjahit apapun memang dari sisi dalam atau sisi buruk kain. Tapi khusus untuk tas, ditambah dengan wajib menyembunyikan semua sambungan jahitan. Memang ada sih tas yang tidak pakai kain pelapis dalam atau inner, tapi kebanyakan harus tertutup semua bagian dalamnya dengan kain inner.

Jadi semacam cilukba gitu deh, heheheee.... Ya memang ada istilah teknik lahiran dan segala macam itu. Tapi pada dasarnya jahit sana, jahit sini, jahit situ di bagian kain yang buruk, lalu dibalik, eh tahu-tahu jadi. Itu membutuhkan imajinasi tinggi untuk mengikuti tutorial. Sering saya perlu waktu yang sangat lama untuk membayangkan bagaimana posisi membaliknya nanti.

Setelah beberapa kali mencoba membuat tas, baru saya sadari bahwa sebenarnya tekniknya hampir sama. Untuk model-model tas mahal saja yang butuh beberapa twist. Hanya saja untuk menghapal bahwa menjahit disebelah sini kalau dibalik bakalan begini atau menjahit di sebelah sana kalau dibalik bakalan begitu, butuh pembiasaan. Kalau terlalu lama jeda, akan lupa lagi dan seperti meraba lagi langkahnya dari awal.

Saya rasa 2 minggu sekali bikin tas cukup untuk membuat kita tidak salah membalik jahitan. Syukur kalau sudah menerima pesanan lebih banyak, bisa sering-sering membuat tas. Kalau sudah sering membuat tas, tanpa tutorial pun sudah bisa membayangkan langkahnya hanya dengan melihat foto tas yang sudah jadi. Kalau saya baru sampai level 2 minggu sekali biki, jadi masih lirik-lirik tutorial.

2. BAHAN YANG MENANTANG


Kecuali tote bag, umumnya sebuah tas membutuhkan 3 macam jenis bahan untuk ditumpuk dan dijahit bersama, yaitu outer, inner dan pelapis. Kadang tumpukan ini begitu tebal sehingga mesin jahit tidak bisa berjalan dengan lancar. Kadang bahannya sendiri sulit dijahit karena terlalu tebal atau terlalu licin sehingga butuh bantuan bahan lain seperti minyak, selotip, bahkan kertas koran.

Bahan sangat terkait dengan kondisi mesin jahit. Jadi mau tak mau selain berlajar pola, kita juga belajar pemeliharaan dan karakter mesin jahit tersebut. Ini beneran loh, mesin jahit seperti mesin-mesin lainnya seperti mobil, punya karakter yang bisa dikuasai. Karena jika tidak dikuasai, pakai bahan yang beda sedikit saja benangnya sudah loncat-loncat, tidak mau menggigit dengan rapi.

Adapula yang bahannya tidak baik untuk kesehatan orang yang punya paru-paru lemah seperti saya. Itu sebabnya saya tidak mau menjahit dengan bahan goni atau burlap. Dari jauh saja sudah tercium aroma panas dan berdebu sehingga membuat saya tidak nyaman. Apalagi jika harus sedekat orang menjahit.

Baca juga: Tips Menjahit Kain Parasut Tipis

3. SUDUT MENGGEMASKAN



Kata senior saya di jahit menjahit tas, kalau sudah menguasai tikungan berarti sudah bisa bikin tas. Seperti Schumacher aja ya? Ngomong-ngomong bagaimana kabar Schumacher sejak koma dulu ya?

Sudut tas harus dijahit dengan berbagai cara tergantung bentuk tasnya. Ada yang menikung tajam, ada yang oval, ada yang lancip ada yang kotak dan sebagainya. Semua ada tekniknya dan sulit kalau belum banyak latihan. Apalagi sudut tas kan tidak cuma satu dan semua harus presisi. Susahnya lagi untuk bahan kulit sintetis tidak bisa begitu saja didedel kalau jahitan kurang bagus karena akan meninggalkan lubang yang terlihat jelas.

Jalan keluarnya ya belajar teknik membentuk sudut yang dibutuhkan. Sejauh ini semua ada di youtube. Cari yang khusus membahas cara menjahit sudut tersebut. Selain itu, sementara jangan pedulikan ukuran hasil akhir tas harus sama seperti tutorialnya. Utamakan semua sisi presisi meski itu berarti harus menggunting sana-sini yang berakibat ukuran tas lebih kecil dari ukuran hasil akhir tutorialnya.

4. BENTUK TAK LURUS


Bentuk tas yang lurus itu cuma tote bag. Alhamdulillah lainnya beraneka rupa. Ada yang kotak boxy, ada yang oval, ada yang tumpuk-tumpuk banyak pocket seperti ransel dan sebagainya. Memang sih, begitu bisa jahit penginnya bikin tas yang bagus-bagus seperti akun-akun jahit di instragram dan facebook. Tapi menurut saya sih, jangan dipaksakan.

Buat dulu tas yang sesuai dengan kemampuan menjahit kita. Contohnya saya membuat pouch dan tote bag sampai berpuluh-puluh kali sebelum berani membuat tas dengan bentuk lain. Membuat tas itu sudah butuh kesabaran sejak membuat polanya karena item pola yang harus digaris dan digunting cukup banyak. Belum lagi menggunting dan menjahit. Durasi pembuatan yang panjang itu akan membuat kita cepat menyerah jika belum terbiasa. Dengan menjahit yang mudah-mudah dulu sesuai kemampuan, berarti juga meningkatkan daya tahan kita berproses untuk menyelesaikan sebuah tas yang lebih kompleks.


5. ALAT JAHIT AJAIB


Banyak alat jahit yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Sekarang sudah saya beli beberapa, ada yang salah beli dan ada pula yang belum ingin saya beli. Seringkali saya menemukan tas-tas keren tapi membutuhkan alat tambahan, misalnya pelubang dan pemukul kancing paku, walking foot, rotary cutter dan sebagainya. 

Saya masih mencoba bertahan dengan peralatan yang saya punyai sekarang sampai saya merasa benar-benar harus naik level lagi. Ini karena saya pernah salah beli beberapa alat yang ternyata tidak pernah saya pakai karena tidak dibutuhkan oleh jenis tas yang saya buat. 

Jika sudah saatnya beli, belilah di kenalan yang punya olshop alat jahit. Inilah pentingnya gabung dengan komunitas. Kita jadi tahu siapa yang membuka kelas belajar menjahit online serta siapa yang menjual alat dan bahan jahit.  Mungkin lebih mahal, tapi kita bisa menjaprinya untuk meminta saran alat yang sesuai dengan kebutuhan kita dan cara memakainya.

Nah, seperti itulah ketakutan yang terjadi pada saya. Alhamdulillah sampai sekarang masih maju terus belajar. Masih banyak yang belum saya tahu atau kuasai. Yang sudah saya buat pun masih jauh dari rapi. Semoga menjadi penyemangat buat teman-teman yang pengin bikin tas. Kalau males, ya beli saja di @beyouprojects. Heheee....

Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.