Thursday, April 18, 2019

Pengalaman Ikut Popup Market Pasar Santai Yogya

Thursday, April 18, 2019 0 Comments
Beberapa waktu lalu @beyouprojects ikut popup market Pasar Santai Yogya. Saya ingin menceritakan pengalaman tersebut untuk teman-teman di Jogja dan berharap juga bermanfaat untuk teman-teman di luar Jogja.

pasar santai yogya


Pop up market atau pasar kaget seperti Pasar Santai Yogya ini sudah ada sejak dulu. Saya sendiri sudah 4 kali mengikutinya, yaitu 3 kali di Pekanbaru dan sekali di Jogja. Durasinya cukup pendek tapi tak sependek Car Free Day atau CFD. Kira-kira 4-6 jam.

Cara-cara mendaftar dan mengikuti pop up market sudah pernah saya tulis sebelumnya menggunakan bahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya nggak susah kok, pakai vocabulary yang umum saja karena kosa kata saya juga masih terbatas.

Baca: How To Join Small Craft Fair

MENDAFTAR PASAR SANTAI YOGYA


Seperti artikel saya sebelumnya tentang cara mengikuti pameran kecil, saya menggunakan hashtas #popupmarketjogja di instagram, lalu ketemulah akun @pasarsantaiyogya. Kebetulan mereka upload banner bahwa akan menyelenggarakan pameran ke-4. Saya langsung mengisi formulir yang ada di banner tersebut. Setelah itu, saya harus menunggu karena ada proses seleksi agar sejalan dengan tema Pasar Santai Yogya.

Kegiatan utama Pasar Santai Yogya adalah aktivitas anak-anak, antara lain face painting, egrang, story telling dan sebagainya. Tenant seperti @beyouprojects adalah pelengkap untuk memenuhi kebutuhan para orang tua pengantar.

art kid class jogja


Tak lama kemudian, panitia menghubungi saya melalui whatsapp (WA) dan mengatakan bahwa @beyouprojects dianggap sesuai dengan tema kegiatan Pasar Santai Jogja. Dalam WA tersebut dijelaskan bahwa tenant harus membayar Rp 50.000,- ditambah 2 buku anak-anak. Tenant harus membawa kursi dan meja sendiri. Saat itu juga saya transfer biaya sewa stan sampai mbaknya kaget karena secepat itu saya transfer. Bukan karena uang saya lagi banyak tapi daripada lupa. Lagipula cuma Rp 50.000,-. Fasilitas yang akan kami dapatkan adalah pameran dari jam 08.00-12.00 dan stan berukuran kecil dibawah tenda. Kami harus membawa meja dan kursi sendiri.

Setelah itu, kami (para tenant) dikumpulkan dalam satu whatsapp group (WAG) agar lebih mudah dikoordinasikan. Sempat bingung sedikit ketika diminta materi promosi karena @beyouprojects belum punya logo. Untungnya jadi blogger adalah bisa bikin logo sendiri dalam waktu singkat menggunakan canva. Meski secara estetika dan filosofi tidak ada artinya. Heheheee.

@beyouprojects

PERSIAPAN MENGIKUTI PASAR SANTAI YOGYA


Persiapan mengikuti pasar santai ini tidak banyak. Meski punya waktu sekitar 2 minggu sejak mendaftar, saya tidak menambah stok. Karena ini adalah pertama kali saya ikut pameran di Jogja, saya harus tahu medan dulu sebelum menumpuk stok. Jadi, stok yang bawa adalah yang sudah saya pajang di instagram @beyouprojects dan @beyourselfwoman.

Persiapan yang paling banyak memakan waktu adalah pernak pernik stan, antara lain:

1. Hangtag

Saya menggunakan hangtag karena kehabisan kartu nama. Jadi daripada saya membuat kartu nama dan stiker harga sendiri-sendiri, lebih baik saya jadikan satu. Didalamnya saya tambahkan sedikit deskripsi tentang @beyouprojects. Lagi-lagi saya diuntungkan karena sebagai blogger saya bisa membuat hangtag sendiri menggunakan canva.

2. Bunting

Bunting adalah hiasan untuk memeriahkan suasana. Saya membuat 3 buah bunting dari perca tak terpakai. Tapi akhirnya bunting tersebut tidak jadi saya pasang dan malah saya berikan kepada salah satu pembeli untuk dipasang di kelasnya. Beliau sedang merintis sekolah anak-anak internasional.

Cara membuat bunting sudah saya upload di channel youtube beyourselfwoman dibawah ini:


3. Packing List

Packing list adalah daftar barang-barang yang kita bawa. Daripada menyiapkan kwitansi dan menulis barang yang laku, mendingan saya coret saja barang sudah dibeli. Model pameran seperti ini nyaris tidak pernah ada yang minta kwitansi.

stan pameran @beyouprojects

4. Rak

Peralatan pameran saya cukup lengkap, tadinya.... Saya dulu pernah punya outlet tetap di mall, jadi punya rak dari yang kecil sampai besar. Bahkan rel dan gantungan baju punya banyak. Begitu pula dengan manekin, trolley dan sebagainya. Sebagian saya gunakan untuk rumah mungil saya karena ketika pindah ke Jawa, saya tidak punya perabotan apapun. Sebagian saya simpan di rumah kosong orangtua. Sepertinya sebagian malah hilang deh. Untuk kali ini, saya cuma menggunakan rak kecil yang sehari-hari saya gunakan untuk tempat meletakkan alat sholat dan Al Quran. Tinggal saya bersihkan sebentar menggunakan vacuum cleaner.

5. Kursi

Kebetulan saya punya kursi kecil-kecil dirumah jadi itu saja yang saya angkut. Sejak pindah, saya memang hanya membeli kursi yang kecil-kecil biar nggak ribet. Kursi kami yang besar-besar adalah pemberian orangtua.

Persiapan yang terlewat adalah kipas dan topi. Sudah tahu sih outdoor pasti panas meski ada tenda, dekat sawah dan banyak pohon. Kebetulan lupa saja. Padahal saya sudah punya rencana menjahit topi, sekalian untuk tes produk. Tapi yaaah, itulah! Namanya juga orang lupa, apalagi saya tidak rajin bikin to do list.

PELAKSANAAN PASAR SANTAI YOGYA


Saya mengajak salah satu anak saya untuk menjaga stan. Sebenarnya saya ingin menyerahkan semuanya ke anak saya. Tapi yang lain tidak bisa ikut karena ada kegiatan yang lebih penting. Mengajak anak pameran sudah saya lakukan sejak mereka kecil. Bahkan waktu mereka masih kecil dulu terpaksa tidur dibawah meja ditutup taplak karena tidak diijinkan oleh pihak mall dengan alasan mengganggu pemandangan. Kami nggak sedih atau kesal kok. Kami menganggapnya sebagai perjuangan yang wajar, yang dilakukan juga oleh banyak keluarga lain. Sekarang ketika mereka besar, sudah saatnya mengambil tanggung jawab, bukan hanya ikut-ikutan karena dirumah tidak ada yang jaga.

Tujuan lain mengajak anak-anak adalah untuk mengasah kepekaan entrepreneurship mereka. Ini langsung terbukti loh karena selama pameran, kami malah sibuk membahas ide usaha kuliner yang akan segera diwujudkan oleh salah satu anak kami.

dolanan anak jogja


Kami datang sekitar jam 07.30 karena rumah kami cukup dekat dengan lokasi Pasar Santai Yogya. Posisi stan kami pas di pintu masuk, yang merupakan hasil pengundian. Kami disambut oleh panitia dengan ramah. Mereka langsung paham kalau kami sudah biasa pameran dari perlengkapan yang kami bawa meski itu adalah pertama kalinya ikut Pasar Santai Yogya.

story telling jogja


Peserta lain yang sudah saya kenal adalah Liya dari Sanggar Lukis Hamam dan Kiki dari Gelang Kopi. Lain waktu akan saya ceritakan tentang usaha mereka. Menarik banget, loh!

Peserta aktivitas utama, yaitu kegiatan anak-anak baru berdatangan agak banyak sekitar jam 09.00, lalu makin siang makin banyak. Menurut tenant yang sudah pernah ikut di edisi sebelumnya, pengunjung yang datang kali ini lebih sedikit. Mungkin akibat ditutupnya Jl. Gito Gati karena pembangunan jembatan. Pengunjung yang belum mengenal daerah ini pasti ragu mengambil jalan lain karena lokasinya berada di tengah sawah dan jalan lainnya cukup kecil.

face painting jogja


Namun demikian, bagi @beyouprojects sendiri tidak masalah karena hasilnya baik bagi masukan kami. Untuk stok sendiri, terjual separuh dari yang kami bawa. Selain itu, kami jadi paham segmen kami dimana. Kalau kami menjual home decor, maka segmen seperti itu yang akan membeli. Jika kami membuat pernik-pernik, maka yang segmen seperti ini yang akan membeli.

Contoh riilnya, pernik perca yang murah meriah tidak laku dijual online karena orang akan berpikir buat apa membeli barang yang lebih murah dari ongkirnya. Tapi di pameran offline, produk-produk seperti itulah yang laku duluan dan mereka suka melihat-lihat yang murah meriah, lucu-lucu, unik-unik dan jarang ada di toko seperti itu.

Secara keseluruhan, kami puas dengan pelaksanaan Pasar Santai Yogya. Jam 12.30 kami pamit pulang kepada panitia. Dalam perjalanan ke rumah, kami mampir dulu beli nasi padang bungkus dan es teh di RM Chaniago. Insya Allah, kami akan memperbaiki diri supaya bisa ikut pameran yang lebih besar. Aamiin.

Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.

Friday, April 05, 2019

How To Join A Small Craft Fair

Friday, April 05, 2019 2 Comments
In the near future, @beyouprojects will join the Pasar Santai, a very interesting local exhibition. I want to share how to join a small craft fair like this.

how to join a small craft fair


During my exploration in the craft world, I have participated in three mini craft fairs.

This mini term of a small craft fair refers to the size of the booth which only consists of one shelf or one table and the duration is only half a day. 

First, I took part in an exhibition at the Pekanbaru Soeman HS library. The second, I took part in an exhibition at a famous Islamic School in Pekanbaru. The third, will be in the near future, the Pasar Santai.

Pantai Santai is a pop up market that is held in a certain period of time. It seems like once a month, I'm not sure. The location is in Gondang Legi, Jogja, which was once a restaurant surrounded by paddy fields. I once met the restaurant owner, a beautiful lady who is interested in traditional clothing. However, I only knows her at a glance. So I don't know much about this place either.

The concept of the Pasar Santai is family activity. The main program is children's activities. While homemade or handmade booths are an addition to the parents who accompany their children.

How do we join a small craft fair like Pasar Santai?


1. LOOKING FOR EXHIBITION INFO


In the past, when social media didn't help much, I got info from exhibition banners on the road. They usually included the contact number on the banner. Then I called the contact person to ask if they rented the booth. Is the stand still available? How much do I have to pay for the booth?

Nowadays, the exhibition information is very easy to find on social media. This information is not only about the exhibition but also about registration for participants. We just have to look for exhibition info regularly once a week if we want to join. Currently, Instagram is the platform that provides the most exhibition info. Maybe in the future it can change according to the times. But for now, you have to look for it on Instagram.

Use the right hashtag to find info. For example, I found info about the Pasar Santai through the hashtag #popupmarketjogja. I used the hashtag because I was looking for a half-day exhibition. This is because my product stock is not much and I'm starting to take part in the exhibition again after a long hiatus.

2. CHOOSING THE RIGHT ENVIRONMENT


For newcomers, choosing an environment is very important for building networking. In the past, I was quite successful in building networking with fellow small-scale exhibitors. We exchanged information about the location and organizers of the upcoming exhibitions. We also collaborated to rent a large booth jointly.

After moving to this town, I have not found such networking. Maybe this is the right time to take part in an exhibition again to find such networking. Small scale exhibitions will familiarize fellow participants. Indeed, the character of the local community is also influential but at least we have to try it. I will not choose to take part in an exhibition with a wholesaler. My merchandise will be invisible.

3. PLANNING REALISTIC TARGETS


For participants who have just taken part in the exhibition for the first time, with not too much online turnover, the target of a turnover of tens of millions of rupiah is not reliable. Moreover, the Pasar Santai location is far from the city and we only have 5 hours to sell.

When I first joined a small exhibition like this, my target was just to practice courage. Alhamdulillah, the event was covered by a local newspaper and my profile was written in the newspaper. The turnover itself was very sad. Only one item sold. But thanks to the participation, my friends from fellow sellers became numerous. They kept informing about other exhibitions. Over time I was able to rent a permanent outlet in a large mall there and joined the big bazaars at the mall atrium.

Besides networking, the target at Pasar Santai will also be to bring up courage again. I would also like to hear comments directly from visitors about my product. I realized that there was still a lot of work to be done from my new business.

4. ADJUSTING THE BUDGET


I do not dare to owe, but that does not mean I have never been in debt. There are times when we humans are forced to do it. Therefore, I am always careful in calculating the budget. For the beginning of the business, I use a little shopping money, no debt. That is why, I always use small steps first.

For the Pasar Santai, I use online product stock only. I might add a little more. I am not sure about offline tastes here. Maybe if there is a second exhibition, third and so on later, then I can ascertain which product to bring.

The cost to be borne is only a contribution of Rp 50,000. I asked my own children to look after the booth so that I could meet other participants. It's time to invite my children to try some bussiness together. I also drive myself to the location. Rent a booth in a mall for 1.5 million rupiah a day is certainly not realistically for me right now.

For packaging, I will use a used newspaper that is formed into a bag. You don't read it wrong, I will use used newspapers!

5. EXCELLENT PREPARATION


Although the target is not heavy and the costs incurred are not many, but we must maximize the results. Here are some preparations to do:

  • Notify our products enthusiasts on social media.
  • Conduct product inventory.
  • Add some products if necessary.
  • Prepare packaging.
  • Make a business card.
  • Planning the appearance of the booth.
  • If it's outdoor, make a backup plan in anticipation of rain.
  • Never forget the documentation. The documentation is not only in the form of photos, but also videos if possible.

If you speak Indonesian, you may watch my video about joining a small craft fair below.



All this time we have learned together making various craft. Now, let's level up by learning to sell it. Please give your best prayers for me!

Thank you for visiting the beyourselfwoman blog.

Friday, March 29, 2019

How To Fold Socks And Hijab Inner Cap

Friday, March 29, 2019 1 Comments
Hijabs and socks are part of fashion that often doesn't get much attention. It's time for me to fold and store it neatly.


This is not the Konmari method because I don't use drawers or plastic containers as Marie Kondo always does. She also doesn't wear a hijab or headscarf, so she doesn't pay much attention to these particular objects that often disappear and then appear on their own.

I use a pouch that I made myself. This pouch is big because it was meant for men's shoes. But the material motif was too cute for men. So now I use it to store socks, hijab inner cap and hand sleeves. This pouch is suitable for my small closet because it can be easily tucked between my clothes.


This is also not a new method. It may have been passed down from generation to generation. In the past I rolled and tucked the socks. Unfortunately, this method makes the cuff loosen easily because we use the it to insert the roll.

Now I use a box-shaped fold as above. Indeed, we still use some parts to tighten the roll but they do not cause damage. Socks and hijab inner cap are safe, not stretched frequently.

The main step is very easy: fold - roll - fold.

HOW TO FOLD SOCKS



Actually I don't like wearing socks because my feet will sweat and become slippery. Moreover, I drive myself and my car uses 3 pedals. So I really need both of my legs. Nevertheless, I don't mind wearing socks for certain occasions.


I do not roll and tuck the socks into its cuff. This method makes the cuff stretch dan damage quickly. Now I follow the method above. Here are the steps.

  1. Place the socks in a cross position. The position of the cross is a bit down.
  2. Fold the bottom of the socks so that they cover the cross section.
  3. Fold the right and left socks to the center. If the socks are long, you can fold twice on each side.
  4. Fold the top to the bottom so that the cuff goes into the bottom fold formed from the cross. For long socks, you can fold them twice.
  5. Finished.


HOW TO FOLD SHORT HIJAB INNER CAP




Some people do not take care of the hijab inner cap seriously. But that's not me because I like the smell of my scented ironing water when wearing it. So, I am among those who always iron my hijab inner caps and spray fragrances to them. Even so, I sometimes skip folding and storing them neatly. I Often throw them to my clothes pile which makes them hard to find without messing up my closet.

The way to fold the shorter hijab inner cap or ciput is different from the socks above. Because it only consists of one part, not two parts like socks, folding it becomes easier.

  1. Fold the cuff to the seam limit.
  2. Turn the entire hijab inner cap so that the fold is in the below.
  3. Fold the right and left of the hijab inner cap to the middle.
  4. Fold and insert the cone section into the pleat hole formed by the folds.
  5. Finished.

HOW TO FOLD LONG HIJAB INNER CAP



I also don't like wearing this anti-chubby hijab inner cap because it makes me sweat and have breathing difficulty. I prefer wearing instant hijab or triangular hijab that simply use a short hijab inner cap. Nevertheless, I have some of it because sometimes I wear a hijab that needs neck covering. 


Although the shape is long and looks random, the method of folding is almost the same as the short hijab inner cap.

  1. Fold the bottom entrance of the hijab inner cap as wide as desired.
  2. Turn the entire hijab inner cap so that the fold is in the below.
  3. Fold the right and left of the hijab inner cap to the middle until it's neat.
  4. Fold the top of the hijab inner cap to the pleat. Do not exceed the pleat.
  5. Fold it again to the end of the pleat and insert the rest into the hole formed by the previous folds.
  6. Finished.


With the above method, socks and hijab inner cap will not easily damaged. Put them in a container or pouch so they're not easily lost.

Good luck!

Thank you for visiting the beyourselfwoman blog.

Friday, March 22, 2019

Wisata Kerajinan Jogja Sekitar Terminal Giwangan

Friday, March 22, 2019 14 Comments
Jogja kaya dengan obyek wisata. Banyak pilihan yang bisa dikunjungi. Banyak pula yang belum dieksplor, antara lain kawasan wisata dan daerah kerajinan yang dekat dengan terminal Giwangan.

Kerajinan Bantul. Foto pribadi.

Dahulu, bus adalah alat transportasi yang paling tidak disiplin. Kondisi bus tidak terawat, tiket tidak sesuai, berangkat sesukanya, ngetem seenaknya dan ugal-ugalan di jalan. Masa-masa seperti itu lambat laun memudar. Memang, masih banyak sekali bus yang membuat ciut nyali penumpangnya atau sebaliknya membuat penumpang emosi. Tapi bangkitnya manajemen transportasi massa lain terutama kereta api dan membaiknya ekonomi masyarakat, membuat perusahaan bus mau tak mau harus berbenah atau ditinggalkan.

BUS DAN WISATA JOGJA


Salah satu cara orang Jogja bepergian menggunakan bus dahulu adalah dengan mencari seadanya di Terminal Giwangan, yang merupakan terminal utama Jogja. Mengapa tidak memesan saja? Perlu diketahui, letak terminal Giwangan itu di ujung selatan kota Jogja, berbatasan dengan kabupaten Bantul. Cukup jauh untuk bolak-balik kesana. Beberapa agen bus tidak mau menerima pemesanan melalui telepon karena takut calon penumpang tidak datang di hari keberangkatan dan seat tak terjual. Herannya, sampai sekarang masih ada beberapa agen bus besar yang tidak mau menerima transfer uang pula. Seolah tak ada solusi agar tidak ada yang merugi. Sungguh merepotkan calon penumpang.

terminal giwangan jogja
Terminal Giwangan. Foto pribadi.

Belakangan saya terbiasa melihat bus yang besar-besar dan baru. Eksterior yang menarik seperti group band Bonjovi atau yang lucu seperti Hello Kitty mengurangi citra garang bus-bus tersebut. Perusahaan otobus berlomba-lomba tampil beda dan paling keren. Jika tidak, ancamannya jelas yaitu konsumen tidak akan mau memilih mereka. Konsumen sekarang sangat pemilih dan rajin mencari rekomendasi. Gairah untuk naik bus kembali lagi. Bahkan ada beberapa channel youtube yang khusus membahas bus-bus yang makin bersolek ini.

Namun demikian, faktanya masih lebih banyak wisatawan yang memilih kereta api jika berwisata ke Jogja karena bisa turun dekat dengan Malioboro. Selain karena kerepotan ketika akan membeli tiket bus, Malioboro memang sangat menarik. Tapi jika teman-teman ingin sesuatu yang berbeda, bisa dicoba berwisata di daerah selatan Jogja. Apalagi sekarang tiket bus sudah bisa dibeli secara online.

Salah satu platform e-commerce yang menjual tiket bus dan sudah pernah kami coba adalah Traveloka. Sedangkan salah satu perusahaan otobus yang sudah bergabung dengan Traveloka adalah PO Eka-Mira. Pelintas batas Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur pasti sudah pernah mendengar nama bus Eka dan bus Mira. Sekarang keduanya berada dibawah satu perusahaan.  Saya sudah pernah menaiki kedua bus tersebut ketika masih belum sama-sama dibawah PT Eka Mira Prima Sentosa atau PO Eka-Mira. Kebetulan kandang bus Mira dekat dengan rumah saya waktu itu. Ketika itu bus Mira termasuk bagus dibandingkan bus-bus Jawa Timur lainnya. Tapi tentu saja persaingan dan perkembangan jaman membuat bus Eka dan bus Mira mengalami kemunduran.

tiket bus eka mira online
Bus Eka. Foto Traveloka.

Dua tahun setelah penggabungan, barulah bus Eka Mira kembali merebut pasar dengan pengadaan bus-bus baru dan perbaikan pelayanan. Salah satu terobosan besar dalam pelayanannya adalah Tiket Bus Eka Mira bisa dipesan secara online melalui Traveloka.

Entah mengapa pemesanan tiket online bus itu lama sekali baru bisa e-commerce setelah pesawat dan kereta api. Mungkin karena sulitnya menjamin waktu tempuh bus kepada konsumen. Halangan di jalan bermacam-macam, dari macet, banjir dan sebagainya. Meski ini masih menjadi faktor yang sulit dikendalikan oleh platform penjual tiket bus online, tapi konsumen punya hak untuk melayangkan komplain.

Contohnya, beberapa bulan lalu keluarga kami menggunakan bus dari Jakarta menuju Solo yang tiketnya dibeli melalui Traveloka. Bus tersebut mengalami keterlambatan yang cukup lama tapi masih bisa dimaklumi karena kondisi jalan tol di Jawa Barat yang macet panjang. Yang kemudian tidak bisa diterima adalah 45 menit sebelum tiba di tujuan, si sopir malah berhenti untuk sarapan, sendiri, meninggalkan penumpang di atas bus. Padahal sebelumnya sudah berhenti untuk sholat subuh. Mengapa tidak sekalian makan? Lagipula penumpang juga lapar dan jarak tempuh tinggal sedikit lagi. Seketika dikirimkanlah protes ke customer service Traveloka yang stand by 24 jam. Komplain dicatat dengan rinci untuk menegur perusahaan yang bersangkutan.

Jadi, perusahaan otobus tidak bisa seenaknya. Rekam jejak mereka tercatat dan saingan mereka banyak, tidak seperti kereta api yang hanya ada dibawah PT KAI.

WISATA JOGJA SEPUTAR TERMINAL GIWANGAN


Meski terminal Giwangan berada di luar kota Jogja, tapi sebenarnya itu merupakan daerah yang strategis untuk berwisata.

Dari terminal Giwangan, teman-teman bisa ke utara sedikit naik ojek atau taksi online untuk menjelajah kawasan wisata Kotagede yang terkenal dengan kerajinan peraknya. Disini juga terdapat kerajinan batik halus. Selain itu, masih ada bonus melihat pabrik coklat Monggo, melihat peninggalan kerajaan Mataram Islam, berfoto diantara bangunan kuno dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, jika pergi dari Terminal Giwangan agak jauh ke selatan, teman-teman bisa khasanah kuliner Jogja yang sudah sangat terkenal yaitu sate klathak. Tapi ini masih bisa ditempuh dengan ojek online. Lebih jauh ke selatan lagi, jalur ini juga akan membawa teman-teman ke makam kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dan kawasan wisata yang sedang hits, yaitu kebun buah Mangunan, hutan pinus Asri, Songgo Langit dan sebagainya.

sate klathak
Sate klathak dan kerajinan Bantul. Foto pribadi.

Yang belum banyak diketahui orang adalah bahwa tak jauh dari terminal Giwangan itu, kearah selatan dan barat, adalah kawasan perusahaan kerajinan ekspor. Meski kerajinan yang diproduksi disana ditujukan untuk ekspor, tapi banyak yang juga melayani pembeli domestik. Karena langsung di pabriknya, harganya pun lebih murah daripada ketika mereka pameran di acara eksebisi atau mall.

Baca juga: Workshop 9 Sentra Kerajinan Jogja Yang Ingin Saya Kunjungi

Jenis kerajinan yang mereka buat beragam dari tas, sepatu, dekorasi rumah hingga mebel. Biasanya mereka tak menunjukkan etalase ala toko tapi hanya memasang plang perusahaan. Mereka memajang produk-produk tersebut di showroom yang berada di dalam.

Untuk bisa melihat koleksi mereka, teman-teman tak bisa langsung datang karena tak semua perusahaan menyediakan penjaga showroom. Sebaiknya teman-teman browsing dulu untuk mencari nomor kontak perusahaan kerajinan sepanjang daerah tersebut. Lihat dulu foto-foto produk mereka. Tak perlu gentar jika semua keterangan foto menggunakan bahasa Inggris.

Jika jenis produknya teman-teman sukai, hubungi dan bertanyalah apakah mereka punya showroom yang bisa didatangi. Lebih baik lagi jika teman-teman bersama rombongan karena mereka akan menyiapkan semua koleksi yang dimiliki agar lebih mudah dilihat. Kadang mereka juga mengajak tamu untuk berkeliling ruang produksi.

Tuh kan, banyak alternatif wisata di Jogja. Kapan ke Jogja?

Semoga bermanfaat. Terima kasih sudah berkunjung di blog beyourselfwoman.