5 Aktivitas Produktif Stay At Home Mom Saat Anak Sudah Besar

aktivitas produktif stay at home mom
Aktivitas produktif stay at home mom.

Ketika anak-anak sudah besar dan mulai mandiri, banyak Stay At Home Mom (SAHM) mengalami fase yang tidak mudah. Rumah terasa lebih sepi, rutinitas berkurang, dan muncul pertanyaan, “Sekarang saya harus apa?”

Fase ini sering disebut sebagai empty nest phase, dan jika tidak disikapi dengan baik, bisa membuat ibu merasa kehilangan peran. Padahal, justru di sinilah kesempatan baru terbuka lebar.

Menjadi produktif, berkarya, bahkan memulai sesuatu yang benar-benar untuk diri sendiri masih sangat mungkin, bahkan di usia 40 atau 50 tahun ke atas.

Tantangan SAHM Saat Anak Sudah Besar

Ketika anak-anak melangkah keluar pintu rumah untuk beberapa bulan, setahun atau beberapa tahun, ada perasaan aneh yang menyelinap. Si kesayangan tidak akan kembali setelah jam sekolah atau kuliah berakhir. Dia tidak akan duduk di kursi makan dan tidur di kamarnya selama beberapa waktu. Tempat-tempat itu akan kosong, begitu pula hati para ibu.

Beberapa tantangan para ibu yang anak-anaknya sudah mandiri, antara lain:

  • merasa kehilangan peran.
  • kesepian dan kekosongan hati.
  • rumah sepi.
  • bingung memulai hal baru.

Kenapa Ini Justru Fase Terbaik untuk Berkembang?

Membangun pemikiran positif sangat penting pada fase ini karena justru merupakan fase terbaik untuk berkembang. 

Berikut ini adalah alasan mengapa fase ini justru merupakan fase terbaik untuk berkembang:

  • waktu lebih fleksibel.
  • pengalaman hidup sudah matang.
  • tekanan lebih kecil dibanding usia muda.
  • tuntutan ekonomi tidak sebesar ketika anak-anak sedang tumbuh.
  • tidak mudah terpengaruh dengan tren atau FOMO (Fear of Missing Out)

5 Aktivitas Produktif Stay At Home Mom Ketika Anak Sudah Besar

1. Memulai Usaha dari Skill yang Sudah Dimiliki

Tidak ada kata terlambat untuk ini sampai kapanpun. Pengalaman bu Mooryati bisa menjadi inspirasi untuk tidak ragu menetapkan target setinggi langit di usia berapapun mengawalinya. Namun perlu dipertimbangkan, bahwa di usia yang sudah tidak muda lagi tersebut, lebih baik mengasah apa yang sudah dimiliki saja. 

Misalnya ibu bisanya masak, itu saja dikembangkan dalam bentuk catering atau restoran. Atau ibu suka setrika, maka bisa buka laundry. Contoh usaha rumahan ibu rumah tangga lainnya yang dilakukan oleh teman saya bahkan cukup mendasar, yaitu jasa merapikan isi lemari pakaian, buku dan peralatan rumah tangga.

Belajar lagi tentu wajib, tapi dalam rangka memajukan bakat yang sudah ada. Jadi, tak perlu mencari-cari diluar diri sendiri hanya karena ingin sesuatu yang langsung hebat. Di era digital, memulai usaha bahkan bisa dilakukan dari rumah dengan modal minim, misalnya melalui marketplace atau media sosial.

Harus diingat, di usia tersebut sudah bukan saatnya untuk terlalu besar bertaruh karena risikonya bisa menghabiskan tabungan yang sejak muda susah payah dikumpulkan. Memang, di usia itupun tetap ada proses merintis. Dengan mengandalkan kemampuan yang sudah ada, proses tersebut akan lebih ringan, baik di pikiran, tenaga maupun modal.

2. Mengembangkan Hobi Menjadi Sesuatu yang Bernilai Ekonomi

Menurut KBBI, hobi kegemaran atau kesenangan istimewa yang dilakukan pada waktu senggang, bukan merupakan pekerjaan utama. Jadi, hobi memang tidak ditujukan untuk mendapatkan penghasilan, melainkan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Namun tak ada salahnya jika mengembangkan hobi menjadi sumber penghasilan. Hobi yang selama ini hanya menjadi pelarian dari rutinitas, kini bisa ditingkatkan menjadi sesuatu yang lebih serius, baik sebagai karya maupun personal branding. Contohnya:

  • Jika tadinya suka menjahit untuk keperluan sendiri, mungkin sekarang bisa membuat blog khusus atau produk digital lainnya dengan tema jahit-menjahit. Bahkan bisa pula mulai menerima pesanan. 
  • Misalnya selama ini senang mengunggah foto kegiatan keluarga dan teman-teman di media sosial, coba konten-konten  tersebut dianalisis untuk menemukan tipe konten yang paling disukai followers. Dari situ, ibu bisa mulai membuat konten serupa dan belajar untuk menaikkan kualitas foto atau video. Akun tersebut dapat digunakan untuk mendaftar afiliasi di marketplace atau brand.
  • Beberapa wanita cerdas membuat toko roti di jendela rumahnya dan mengunggah kesehariannya tersebut di media sosial sehingga mendapat double income dari penjualan roti dan payout media sosial.

3. Aktif di Komunitas atau Lingkungan Sosial

Jika dulunya hanya datang ketika arisan, sekarang ibu bisa ikut kegiatan tambahan lainnya. Seperti yang dilakukan ibu saya ketika saya sudah tidak serumah lagi, yaitu aktif di dawis (dasa wisma). 

Dari dawis tersebut ibu saya dikirim untuk belajar kerajinan di kelurahan dengan bimbingan disperindag. Ketika warga lereng gunung Merapi mengungsi untuk menghindari letusannya, ibu saya diminta untuk mengajarkan kerajinan tersebut kepada para pengungsi perempuan agar mereka tidak bosan selama berada di pengungsian.

Aktif di komunitas tidak hanya membuat hidup lebih bermakna, tetapi juga menjaga kesehatan mental dan memperluas jaringan pertemanan. Kegiatan ibu rumah tangga di lingkungan sekitar membuat para ibu tidak perlu jauh-jauh bepergian. Jika senang bergaul, ibu dapat pula bergabung dengan berbagai komunitas perempuan.

4. Travelling dengan Cara yang Lebih Fleksibel

Travelling ketika masih ada anak-anak bukannya tidak dilakukan, malah seru piknik bareng keluarga. Bahkan ada yang membuat blog dengan niche / tema travelling ibu rumah tangga. Tapi ketika anak-anak sudah besar dan lebih suka pergi dengan teman sebayanya, apa yang akan ibu lakukan? Menunggu sarang? 

Bagi yang suka travelling, mengapa tidak diteruskan hobi tersebut? Travelling di fase ini justru terasa lebih bebas karena tidak lagi terikat jadwal anak. Beberapa teman saya melakukan itu, bahkan ada yang berbagi tips solo travel wanita aman. Ini penting karena perempuan, apalagi yang sudah tidak muda lagi, merupakan sasaran empuk kejahatan. 

Bagi yang baru mulai traveling tanpa keluarga, mereka menyarankan untuk ikut rombongan wisata yang banyak ditawarkan agen perjalanan. Selain itu, kita dapat bergabung dengan komunitas traveling dengan tema khusus, misalnya wisata sejarah, komunitas walking, penyuka diving dan sebagainya.

5. Terus Belajar untuk Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik

Iya, belajar. Belajar itu untuk menjaga semangat hidup, mempertahankan intensitas pikiran dan membuat kita tetap bergerak. Tubuh dan pikiran yang biasa sibuk lalu tiba-tiba santai seringkali menimbulkan banyak masalah, antara lain kesehatan sering terganggu atau kondisi emosional yang labil. Belajar di usia 40+ terbukti membantu menjaga fungsi kognitif dan mencegah penurunan daya ingat.

Belajar tak harus di dalam kelas, tapi bisa juga melalui kursus offline dan kelas online, membaca buku, mengasah keterampilan hingga latihan fisik. Misalnya belajar skill digital, bahasa, renang, tari dan sebagainya. Bahkan beberapa kali viral wanita lansia baru mendapatkan gelar sarjana. Belajar di usia tersebut akan menyenangkan karena tidak ada ambisi untuk mengalahkan siapapun, beda dengan belajarnya anak-anak muda.

Nah, banyak kan kegiatan yang bisa dilakukan SAHM ketika anak-anak sudah besar? 

Jika sewaktu memulai SAHM tidak memiliki rencana khusus, masih banyak kesempatan terbuka untuk memulai aktivitas produktif stay at home mom saat anak sudah besar dan tugas menjadi ibu rumah tangga berkurang.


10 comments for " 5 Aktivitas Produktif Stay At Home Mom Saat Anak Sudah Besar"

Innnayah November 2, 2016 at 10:40 AM Delete Comment
Kalau lihat simbahku ya begitu...kayak yang ada di point2 mba Lusi. Terutama komunitas dan belajar (pengajian) hwhehe
Ratna November 2, 2016 at 11:26 AM Delete Comment
Artikel ini gw banget! Anak-anak beranjak besar artinya ngga cuma mempersiapkan mereka terbang landas tapi juga siapkan mental sbg ortu yang bakalan "ditingggal" sama mereka. Kalo disikapinya bener, me time kita malah jadi lebih banyak lhooo.
Thank you tulisannya mak Lusi. Apa kabarnya btw.
Tetty Hermawati November 2, 2016 at 11:52 AM Delete Comment
Aku pasti bakal mengalaminya nih mbak, sekarang alhamdulillah masih repot banget sama krucils
Tetty Hermawati November 2, 2016 at 11:52 AM Delete Comment
Aku pasti bakal mengalaminya nih mbak, sekarang alhamdulillah masih repot banget sama krucils
Molly November 2, 2016 at 12:11 PM Delete Comment
Kalo anak-anak udah pada gede bakal ngerasa sepi juga ya, mba Lusi. Mereka pasti lebih sering menghabiskan waktu sama temen-temennya. Mungkin bisa ambil waktu buat 'pacaran'lagi bedua suami sambil traveling n menikmati hidup. Pasti semua lelah terbayarkan :D.
April Hamsa November 2, 2016 at 3:25 PM Delete Comment
Aku pengen travelling keliling dunia saat anak2 besar nanti #impian aamiin :D
Handdriati November 3, 2016 at 10:30 AM Delete Comment
Aq msh belajar, pas awal nikah blajar jd istri stelah hamil dan punya anak blajar jd ibu, dan seterusnya masih akan terus belajar gak rampung-rampung hihihi
Indah Nuria Savitri November 3, 2016 at 4:51 PM Delete Comment
Aaah.. Aku merindukan saat-saat bisa peacefully stay at home mba.. Banyak ide yang semoga nanti bisa tercapai :)
Astin Astanti November 5, 2016 at 2:31 PM Delete Comment
Menunggu waktu itu tiba Mbak, sekarang main dan duduk bareng sama anak-anak, ikut ajakan mereka tidur, meski terbayang pengin inilah itulah...hehee. makasih sharenya Mbak Lusi
lianny hendrawati November 18, 2016 at 8:37 PM Delete Comment
Iya, anak-anak udah pada gede sekarang, sudah mulai banyak waktu luang untuk diri sendiri. Biasanya ya aku gunakan untuk ngeblog, setelah beres2 rumah sebelum anak-anak pulang sekolah.