Thursday, November 03, 2016

I'm Not Gonna Fight You

Ini edisi cerita ngalor ngidul. Tak ada manfaat apapun yang akan teman-teman dapat. Maaf jika sudah telanjur klik. I just want to say something.

Source: http://www.fashionweekly.com.au/images/March_2015/Trends/insurgent-trailer.jpg


Hari ini adalah hari spesial buat saya. Apa spesialnya? Kalau penasaran, baca sampai akhir. Kalau enggak, yah tutup page ini saja. Seperti hari lain, saya membuka media sosial. Semua lini sangat intens berhadap-hadapan. Tidak hanya soal politik, tapi juga agama dan rejeki. Tiba-tiba saya merasa seperti seorang penonton didepan sebuah layar kehidupan. Saya merasa sendiri, sunyi, melihat kalian saling merasa benar.

Tak lama, perhatian saya terdistraksi oleh film Insurgent. Ini adalah kelanjutan Divergent. Saya tidak terlalu suka film ini, jadi nggak pernah nonton tuntas. Gemes melihat Tris yang selalu menempatkan dirinya dalam bahaya, bukannya segera lari menyelamatkan diri. Dan seperti film-film Hollywood lainnya, kalau jagoannya ngeyel begini, yang jadi korban (baca: mati) adalah orang-orang di sekitarnya. Tapi pagi ini kebetulan saja pas nengok, pas adegan terakhir.

Di adegan akhir ini, Four (kekasihnya) sudah berhasil membebaskan Tris. Tapi lagi-lagi ada saja yang membuat Tris tidak segera lari. Sampai akhirnya Tris malah kembali ke alat-alat yang ada imajinasinya itu (alat apa, emboh). Gemes banget, kan? Tris yakin, masalah utamanya ada disitu. Kalau dia lari, tak akan pernah selesai. Agar Tris segera mendapatkan jawaban yang dicarinya, dia mengatakan tidak akan melawan Janine, si antagonis. Lalu Janine dengan dingin mengatakan, "Of course you're not. You're gonna fight her. The one you really hate."

Ternyata orang itu adalah Tris sendiri. Tris akan bertempur melawan dirinya sendiri. Tris sangat membenci dirinya sendiri, melebihi rasa bencinya terhadap Janine, si tokoh jahat. Tris tidak dapat memaafkan dirinya yang sering membuat keputusan yang salah, bahkan hingga mengorbankan orang tuanya. Tris sulit mendapatkan maaf karena tindakan-tindakan yang diyakininya tapi bertentangan dengan orang lain. Tris menutupinya dengan sikap yang terus melawan, termasuk terhadap dirinya sendiri.

Tris berpikir, untuk mengakhiri segalanya, dia harus berhenti melawan. Ketika dirinya memaksanya untuk bertarung, Tris berulang kali berkata, "I'm not gonna fight you."

Jadi dari pagi saya terbawa situasi "I'm not gonna fight you" ini. Saya berefleksi kebelakang, bahwa banyak sekali kekecewaan yang saya alami. Saya selalu berusaha total dalam hal apa saja, tapi tentu tak semua orang sepakat. Respon saya lebih sering melawan, tidak mau tunduk dengan orang lain. Akibatnya, saya memang tak punya banyak sahabat dan saya tak peduli. Saya hanya menyesali waktu dan energi yang sia-sia.

Tapi hari ini.... hari ini saya tidak ingin melawan. Selama di jalanan, saya biarkan saja mobil dan motor menyalip dengan ugal-ugalan, tidak saya balas dengan klakson panjang seperti biasanya. Bahkan ketika kepala voorijder moge zigzag dari arah berlawananpun tidak saya balas dengan lampu dim yang menyilaukan. Saya memilih memelankan kendaraan. Begitu pula ketika tetangga rumah parkir diseberang garasi saya, saya memilih pelan-pelan bermanuver agar bisa masuk daripada memintanya untuk bergeser.

Demikian pula dalam hubungan pertemanan. Kebetulan hari ini ada 2x ketemuan dengan teman-teman blogger. Saya lebih banyak manut. Meski sempat dibikin nyasar (Hayo siapa ini?) saya ikuti saja, Begitu pula ketika ada appointment malamnya dan jalanan membuat saya terlambat, saya tetap berusaha mengalir mengikuti arus lalu lintas, tidak lincah kesana kemari menyibak antrian karena sebelumnya saya selalu tetap waktu. Saya berusaha untuk se-flat mungkin hari ini, tidak terlalu berapi-api.

Pada akhirnya, saya mengerti dimana beda tidak melawan dan pecundang. Tidak melawan bukan berarti tidak berani. Tidak melawan justru karena sudah tahu bahwa kita tidak akan jatuh oleh hal-hal sepele. Justru karena kita kuat.

Sampai dirumah, cita-cita saya adalah melihat rekaman serial Cold Case. Tapi baru duduk, datanglah berita duka, suami Lia, seorang teman blogger yang saya kenal sejak lama dulu di Riau saat mereka belum menikah, meninggal dunia karena kecelakaan di Jakarta. Airmata saya bercucuran. Mereka adalah pasangan muda yang belum lama menikah, sangat baik, high school sweethearts dan relawan pendidikan. Hati saya ikut hancur.

Tidak ada gunanya melawan karena pada akhirnya Allah juga yang menentukan. Sungguh menyentuh adegan demi adegan yang Allah tunjukkan pada saya hari ini, di hari ulang tahun saya. Meski ucapan selamat kepada saya tak lebih dari 10 orang karena sudah lama saya mematikan notifikasi ulang tahun di akun media sosial saya, saya tidak sedih sama sekali. Pun ketika teman-teman blogger yang ketemuan dengan saya sampai 2 sessi tidak ada yang tahu kalau hari ini spesial bagi saya. Saya justru merasa tenang. Terlebih diakhiri dengan berita duka seperti itu, anak muda yang 2 hari lagi juga akan berulang tahun, menjadikan selebrasi sama sekali tidak penting. Saya hanya ingin hidup yang lebih mendalam dan penuh makna. I'm not gonna fight you.


8 comments:

  1. Mm..nggak untuk ngucapin met ultah mb..cuma mendoakan..semoga panjang umur. Senantiasa dlm lindungan Nya.. Boleh kan mbak Lus?☺☺

    ReplyDelete
  2. Sesekali membiarkan apapun yang terjadi di sekeliling berjalan melewati kita memang dibutuhkan, agar tidak merasa 'ngoyo'. Meski terkesan 'flat' ... tapi tidak ada salahnya kok, kurasa. Dinikmati saja. Mungkin esok hal itu tak terjadi lagi.

    Salam :)

    ReplyDelete
  3. Mak Lus Tris memang bikin gemes..lol lol...renungan yang bagus, walaupun nonton nggak berpikir kesana. Memang sesekali kita perlu lebih rileks jalanini hidup...nikmatin aja.makasih sudah mengingatkan.

    ReplyDelete
  4. mbaaak, Lia ini Lianda Marta?

    Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun....

    ReplyDelete
  5. Dari judulnya aja langsung keinget Insurgent.. Soalnya itu dialog paling menonjol di trailer. Ternyata setelah menonton film sampai tamat, saya menyimpulkan bahwa memaafkan diri sendiri itu penting bagi Tris untuk menyelesaikan simulasi terakhir yaitu klan Amity yang merupakan golongan orang-orang rendah hati dan pemaaf.

    ReplyDelete
  6. You might not win the fight but you will win the war, Mba ;)

    ReplyDelete
  7. Wah ternyata tuaan saya mbak. Btw gimana sih caranya mematikan notif ultah di medsos. Kemarin sy melakukan hal konyol waktu tgl ultah. Saya mengganti tgl di pengaturan hanya krn ga mau diucapin selamat. Tapi kata google saya hanya boleh mengganti sekali saja jadi langsung saya ganti lagi stlh berlalu beberapa hari :)

    Ikut berduka atas kematian teman mbak Lusi, rencana Allah memang tidak ada yang bisa mengira..

    ReplyDelete
  8. Samaa kaya scene nya di "the Loser" hehehe :D

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.