Marketplace Makin Mahal? Kenapa Banyak Brand Mulai Fokus ke Website Sendiri

Ilustrasi brand mulai beralih dari marketplace ke website resmi
Ilustrasi brand mulai beralih dari marketplace ke website resmi.

Beberapa tahun terakhir, marketplace menjadi “rumah utama” bagi banyak brand untuk berjualan online. Trafiknya besar, konsumennya sudah terbiasa belanja lewat aplikasi, dan proses transaksi terasa praktis.

Namun belakangan, mulai terlihat perubahan strategi dari banyak brand. Tidak sedikit yang kini lebih aktif mengarahkan pembeli ke website resmi mereka sendiri dibanding hanya mengandalkan marketplace.

Dilihat dari sisi konsumen, website brand vs marketplace tersebut sudah pernah saya tulis. 

Kali ini saya ingin melihatnya dari sisi brand karena saya pernah berjualan di kedua platform sebelum vakum. Harapan saya, kita bisa sama-sama memanfaatkan jawaban dari pertanyaan tentang mengapa banyak brand mulai serius membangun website sendiri? 

Marketplace Tetap Penting, Tapi Biayanya Makin Besar

Marketplace memang membantu brand menjangkau pasar lebih luas. Masalahnya, semakin besar bisnis berkembang, semakin terasa juga biaya yang harus dikeluarkan.

Biaya-biaya tersebut meliputi:

  • biaya admin,
  • komisi penjualan,
  • biaya iklan,
  • program promo wajib,
  • hingga perang harga yang terus berlangsung.

Pada akhirnya, marjin keuntungan brand bisa semakin tipis. Bahkan untuk beberapa brand, mereka merasa harus terus ikut promo agar tetap terlihat di marketplace.

Marketplace memanfaatkan ketergantungan konsumen yang makin besar pada belanja online dengan menaikkan berbagai biaya layanan. Sebenarnya kejadian ini sama dengan ketika pedagang menyewa toko offline. Ketika dagangan laris, pemilik toko terus menaikkan harga sewa, bahkan ikut berjualan juga.

Website Sendiri Memberi Kontrol Lebih Besar

Inilah alasan utama kenapa banyak brand mulai membangun website mereka sendiri dengan lebih serius.

Lewat website resmi, brand memiliki kontrol lebih besar terhadap:

  • tampilan toko online,
  • pengalaman pelanggan,
  • strategi promo,
  • hingga data pembeli.

Brand juga tidak perlu “berebut etalase” dengan kompetitor seperti di marketplace. Kalau di marketplace konsumen bisa langsung membandingkan puluhan produk serupa dalam hitungan detik, di website resmi perhatian pembeli bisa lebih fokus pada identitas brand itu sendiri.

Brand Ingin Membangun Hubungan Langsung dengan Konsumen

Marketplace sering membuat hubungan antara brand dan pelanggan terasa “dipinjam”. Data pelanggan, perilaku belanja, hingga komunikasi sebagian besar dikendalikan platform. Brand juga kesulitan menjaga hubungan baik karena tidak bisa memberikan respon cepat terhadap pertanyaan, konfirmasi atau keluhan konsumen.

Karena itu, banyak brand ingin mulai menjalin hubungan yang lebih langsung dengan konsumennya sendiri.

Contohnya dengan memberikan:

  • membership,
  • loyalty program,
  • newsletter,
  • promo khusus pelanggan lama,
  • hingga personalisasi pengalaman belanja.

Bagi brand, ini penting untuk mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang, bukan hanya mengejar transaksi sesaat.

Persaingan Harga di Marketplace Semakin Berat

Salah satu tantangan terbesar di marketplace adalah perang harga. Kadang brand bukan hanya bersaing soal kualitas produk, tapi juga siapa yang bisa memberi harga paling murah. Apalagi masih banyak konsumen yang tergiur dengan harga murah sehingga kurang teliti terhadap hal-hal lain.

Masalahnya, kondisi ini tidak selalu sehat untuk bisnis dalam jangka panjang. Karena itu, beberapa brand akhirnya mulai memilih fokus pada:

  • kualitas layanan,
  • pengalaman pelanggan,
  • positioning brand.

Mereka tidak ingin terjebak dalam persaingan diskon tanpa akhir sehingga melupakan kualitas produk produk itu sendiri.

Tapi Website Sendiri Juga Bukan Jalan Instan

Meski terlihat menarik, membangun website sendiri juga punya tantangan besar.

Berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus dilakukan brand jika ingin memiliki website sendiri, yaitu:

  • membangun traffic sendiri,
  • meningkatkan kepercayaan konsumen,
  • memastikan website nyaman digunakan,
  • mengelola pengiriman dan layanan pelanggan dengan baik.

Tidak semua brand siap melakukan itu. Jika bermodal besar, brand bisa membayar website developer atau bahkan menggaji staf IT. Jika modal terbatas, brand harus belajar sendiri seperti yang saya lakukan di blog Beyourselfwoman.

Karena itulah, saat ini banyak brand yang sebenarnya belum benar-benar meninggalkan marketplace. Mereka lebih memilih strategi kombinasi antara marketplace untuk menjangkau pasar luas dan website resmi untuk membangun loyalitas pelanggan.

Jadi, Apakah Marketplace Akan Ditinggalkan?

Kemungkinan besar tidak. Marketplace masih akan menjadi tempat belanja favorit banyak orang karena praktis dan penuh promo.

Namun yang mulai berubah adalah strategi brand. Kalau dulu marketplace menjadi pusat utama penjualan, sekarang banyak brand mulai melihat website resmi sebagai aset jangka panjang yang lebih stabil dan lebih menguntungkan untuk membangun bisnis mereka sendiri.

Penutup

Perubahan ini menunjukkan bahwa dunia belanja online terus berkembang. Bukan hanya konsumen yang semakin pintar memilih tempat belanja, tetapi brand juga semakin berhitung dalam menentukan tempat terbaik untuk membangun bisnis mereka.

Ke depan, kemungkinan kita akan semakin sering melihat brand yang aktif di dua sisi sekaligus: tetap hadir di marketplace, tetapi juga serius membangun website resmi mereka sendiri.

FAQ

Kenapa banyak brand mulai keluar dari marketplace?

Salah satu alasannya adalah biaya potongan dan persaingan harga di marketplace yang semakin besar.

Apakah website brand lebih menguntungkan bagi penjual?

Dalam beberapa kondisi, website resmi memberi kontrol lebih besar terhadap harga, pelanggan, dan pengalaman belanja.

Apakah marketplace masih penting untuk brand?

Ya, marketplace masih membantu brand menjangkau konsumen lebih luas dan meningkatkan visibilitas produk.

Post a Comment for "Marketplace Makin Mahal? Kenapa Banyak Brand Mulai Fokus ke Website Sendiri"