Website Brand vs Marketplace: Mana Yang Lebih Menguntungkan Konsumen?
![]() |
| Perbandingan belanja di website brand dan marketplace untuk konsumen |
Beberapa waktu terakhir, mulai terasa ada perubahan dalam cara brand berjualan. Tidak sedikit brand yang sebelumnya aktif di marketplace, kini mulai mengarahkan pelanggannya untuk belanja online langsung melalui website resmi mereka.
Alasannya utamanya cukup jelas, yaitu karena biaya potongan dari marketplace semakin besar. Selain itu, brand ingin memiliki kontrol penuh terhadap harga, promo, dan pengalaman belanja pelanggan.
Tapi sebagai konsumen, muncul satu pertanyaan penting, yaitu apakah belanja di website brand benar-benar lebih menguntungkan, atau justru lebih ribet dibanding marketplace?
Kenapa Brand Mulai Beralih ke Website Sendiri?
Meskipun saya ingin melihatnya dari sisi konsumen, tapi tidak ada salahnya memahami sedikit alasan di balik keputusan beberapa brand ini. Apalagi saya punya pengalaman berjualan di marketplace dan memiliki fitur etalase jualan (Produk) di blog ini.
Dengan memiliki website sendiri, berikut ini yang bisa dilakukan brand:
- Mengurangi bahkan menghilangkan biaya komisi marketplace.
- Mendapatkan keuntungan bersih yang lebih besar.
- Memberikan promo yang lebih fleksibel.
- Mengatur pengalaman belanja secara lebih personal.
- Lebih cepat dalam penanganan keluhan.
Sekilas, ini terdengar seperti kabar baik untuk konsumen. Tapi apakah benar demikian?
Perbandingan Belanja di Website Brand vs Marketplace
Dari pengalaman sebagai konsumen di website brand maupun marketplace, serta pernah berjualan pula di kedua platform, ada beberapa kelebihan dan kekurangan yang akan ditemui konsumen, antara lain:
1. Harga
Website brand: Dengan meminimalkan potongan, beberapa brand berani menawarkan harga yang lebih kompetitif. Bahkan, tidak jarang ada diskon khusus yang hanya berlaku di website resmi.
Marketplace: Ketika mengadakan promosi besar-besaran, penjual juga harus menanggung sebagian atau seluruh biayanya. Hal ini membuat harga di marketplace lebih tinggi. Jadi secara tidak langsung, konsumen ikut menanggungnya.
2. Ongkos Kirim
Website brand: Biaya kirim terasa besar di website brand karena ongkir yang dibayar murni merupakan tarif kurir, kecuali pada masa promosi.
Marketplace: Pembeli memiliki beberapa pilihan ongkir, dari pengiriman cepat hingga 0 rupiah. Diskon ongkir dimungkinkan karena marketplace punya kesepakatan dengan kurir yang tidak bisa dilakukan oleh brand sendirian. Selain itu, seringkali ongkir 0 rupiah dibebankan pada penjual atau secara tidak langsung kepada pembeli karena penjual menaikkan harga.
3. Kelengkapan Produk
Website brand: Biasanya peluncuran produk baru dilakukan di website atau akun media sosial resmi sehingga website memiliki koleksi yang lebih lengkap. Brand juga memajang produk lama yang masih ada stok dengan harga sale sepanjang waktu.
Marketplace: Biasanya fokus pada produk-produk yang paling laris untuk menaikkan posisi di pencarian marketplace. Produk lama akan mendapat perhatian lagi ketika ada sale besar-besaran yang diadakan oleh marketplace.
4. Metode Pembayaran
Website brand: Biasanya brand menyediakan satu atau beberapa rekening bank dan aplikasi sehingga pembeli yang menggunakan bank berbeda akan terkena biaya administrasi tiap transfer.
Marketplace: Menyediakan satu dompet untuk membayar ke seluruh brand atau akun. Mungkin biaya administrasi tetap ada tapi hanya sekali saja sewaktu mengisi dompet digital di marketplace.
5. Gratis Ongkir, Promo Eksklusif dan Loyalty Program
Website brand: Beberapa brand mulai serius membangun hubungan langsung dengan konsumen lewat program member, poin reward, atau bundling yang tidak tersedia di marketplace. Brand akan jauh lebih royal pada pelanggannya.
Marketplace: Jika membuat promo sendiri maka brand harus mengurangi target keuntungan akibat besarnya fee yang diambil marketplace. Karena itu, brand lebih sering menunggu program marketplace seperti flash sale, cashback, hingga gratis ongkir, yang dapat mendatangkan konsumen secara massif dibandingkan jika membuat program sendiri.
6. Jaminan Keaslian Produk
Website brand: Belanja langsung dari website resmi merupakan jaminan keaslian produk karena tidak ada pihak ketiga. Jika ada keluhan terhadap kualitas produk atau terjadi kerusakan karena pengiriman, konsumen akan lebih mudah melakukan pengaduan.
Marketplace: Sudah beberapa kali terjadi penipuan karena akun tak resmi bebas membuka toko di marketplace. Penipuan tersebut tak hanya berupa produk palsu, tapi juga penggantian dengan barang lain yang tidak berharga. Biasanya ada iming-iming harga murah atau harga miring sehingga konsumen tergoda.
7. Membandingkan Produk atau Brand
Website brand: Jika ingin mempertimbangkan produk-produk yang sejenis, konsumen harus membuka website brand lain atau marketplace untuk melakukan perbandingan. Ini sangat merepotkan.
Marketplace: Konsumen tinggal scroll untuk membandingkan produk-produk sejenis dengan kata kunci yang diinginkan, misalnya “busana Muslim”. Bahkan marketplace memiliki fasilitas live agar calon pembeli dapat melihat detail produk lebih jelas.
8. Review dan Rating dari Pembeli
Website brand: Fitur review dan rating ini belum tentu ada atau belum terlalu aktif. Kalau pun ada, mungkin brand akan melakukan moderasi untuk melindungi reputasinya.
Marketplace: review dan rating merupakan salah satu keunggulan marketplace. Sebenarnya pembeli tidak melulu mencari kekurangan brand tapi sebagian untuk membantu calon pembeli memilih produk yang cocok. Misalnya, ukuran baju untuk berat atau tinggi tertentu, jenis bahan untuk aktivitas tertentu, efek warna baju terhadap warna kulit dan sebagainya.
9. Kenyamanan
Website brand: Pengalaman menggunakan aplikasi belanja di marketplace masih sulit ditandingi. Apalagi jika konsumen harus sign in (mendaftar) di semua website yang diminati. Selama ini hanya brand besar yang website-nya sudah akrab dengan pelanggan, misalnya Uniqlo, berkat adanya tim IT profesional.
Brand yang baru mulai membangun website atau brand kecil perlu waktu untuk memiliki sistem operasional yang lancar sehingga kemungkinan akan dibantu dengan komunikasi langsung, misalnya melalui Whatsapp. Memang sudah ada brand yang menjanjikan transaksi yang seamless tanpa harus sign in (mendaftar). Tinggal ditunggu saja praktiknya.
Marketplace: Dengan sekali mendaftar, konsumen dapat bertransaksi di semua brand yang terdaftar. Konsumen yang tidak suka berkomunikasi langsung, tidak akan terganggu.
10. Perlindungan Konsumen
Website brand: Sistem komplain, refund, retur dan garansi langsung dari brand memberikan rasa aman tambahan. Bentuk dari perlindungan yang paling dibutuhkan konsumen adalah penyelesaian keluhan yang cepat.
Marketplace: Keluhan lebih lama diselesaikan karena ada pihak ketiga (marketplace), bahkan pihak keempat (kurir). Kadang hal ini menimbulkan masalah baru. Contohnya, belakangan terkuak ada kurir yang menjual barang-barang retur dari pelanggan, yang seharusnya diteruskan ke penjual.
Jadi, Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Konsumen?
Jawabannya tidak sederhana karena website brand vs marketplace ini merupakan perkembangan baru. Banyak pembeli yang masih wait and see, sementara keluhan penjual terhadap ketentuan marketplace sudah memuncak.
Untuk sementara waktu, jika teman-teman mencari harga termurah, kemudahan, dan banyak promo, marketplace masih menjadi pilihan yang kuat.
Namun, jika kamu mengutamakan keaslian produk, koleksi lengkap, dan pengalaman langsung dari brand, website resmi bisa menjadi alternatif yang menarik.
Perkiraan saya, brand tidak akan langsung meninggalkan marketplace sepenuhnya. Kemungkinan brand akan menggunakan keduanya sesuai dengan kebutuhan.
Penutup
Perubahan cara brand berjualan ini sebenarnya membuka peluang baru bagi konsumen. Konsumen jadi punya lebih banyak pilihan sehingga tidak lagi bergantung pada satu platform saja.
Kunci belanja di website brand vs marketpace bukan soal ikut tren belanja di mana, tapi bagaimana kita bisa menjadi konsumen yang lebih cerdas, teliti, dan tahu kapan harus memanfaatkan marketplace, dan kapan sebaiknya langsung ke website resmi brand.
FAQ
Apakah belanja di website brand lebih murah?
Tidak selalu, tetapi beberapa brand memberikan promo khusus yang tidak tersedia di marketplace.
Apakah website brand lebih aman?
Jika website tersebut resmi dan terpercaya maka produk lebih terjamin keasliannya.
Apakah belanja di marketplace masih menguntungkan?
Untuk sementara masih menguntungkan karena tiap perubahan memerlukan proses dan waktu.
Mana yang lebih baik, website brand atau marketplace?
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Website brand dapat menjamin keaslian produk, sedangkan marketplace memberikan kemudahan bertransaksi.

Post a Comment for "Website Brand vs Marketplace: Mana Yang Lebih Menguntungkan Konsumen?"
Post a Comment
Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.