Saat Anak Masuk Kuliah, Orang Tua Juga Menjadi Mahasiswa Baru

Suasana Fakultas Teknik UGM tempat mahasiswa baru memulai perjalanan perkuliahan.
Memasuki dunia kampus ternyata bukan hanya pengalaman baru bagi mahasiswa, tetapi juga bagi orang tua yang mendampinginya.

Ketika anak pertama kami diterima di perguruan tinggi, ada perasaan bangga sekaligus gugup. Dunia perkuliahan yang akan ia masuki terasa sangat berbeda dengan yang kami kenal dulu. Bukan hanya karena biayanya yang jauh lebih besar, tetapi juga karena kami harus belajar memahami batas antara mendampingi dan memberi ruang bagi anak untuk tumbuh mandiri. 

Saat itulah kami menyadari bahwa tidak hanya anak kami yang menjadi maba (mahasiswa baru), tetapi kami sebagai orang tuanya juga sedang memasuki dunia baru yang penuh pelajaran. Kami pun ikut belajar agar tidak terus-menerus mengernyitkan dahi setiap kali membaca pesan dari kampus atau mendengar cerita darinya. 

Belajar Mengenal Istilah-Istilah Perkuliahan yang Asing di Telinga

Awalnya saya mengira bekal pengalaman kuliah puluhan tahun lalu sudah cukup. Ternyata saya salah. Ketika anak mulai berbicara tentang UKT, KRS, SKS, dan dosen pembimbing akademik, saya merasa seperti sedang belajar bahasa baru.

Berikut ini beberapa istilah-istilah perkuliahan yang harus diketahui.

UKT (Uang Kuliah Tunggal) adalah biaya kuliah yang dibayarkan setiap semester. Besarnya bisa berbeda-beda untuk setiap mahasiswa, tergantung kebijakan kampus dan kelompok UKT yang ditetapkan.

KRS (Kartu Rencana Studi) adalah daftar mata kuliah yang akan diambil mahasiswa pada semester tertentu. Ibaratnya, ini adalah "jadwal pelajaran" yang harus disusun dan disetujui sebelum perkuliahan dimulai.

SKS (Satuan Kredit Semester) menunjukkan bobot suatu mata kuliah. Semakin banyak SKS yang diambil, semakin banyak pula beban studi mahasiswa pada semester tersebut.

KHS (Kartu Hasil Studi) adalah laporan hasil belajar mahasiswa selama satu semester. Dari sinilah mahasiswa bisa melihat nilai yang diperoleh untuk setiap mata kuliah. Di beberapa kampus, orang tua akan mendapat salinan KHS anaknya melalui email.

IP (Indeks Prestasi) merupakan nilai rata-rata hasil belajar mahasiswa dalam satu semester.

IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) adalah rata-rata nilai dari seluruh semester yang sudah ditempuh. Jika IP adalah rapor satu semester, maka IPK adalah rapor selama masa kuliah.

Pembimbing Akademik (PA) atau dosen wali adalah dosen yang bertugas mendampingi mahasiswa selama masa studi. Biasanya mahasiswa dapat berkonsultasi mengenai pengambilan mata kuliah maupun perkembangan akademiknya.

Magang atau PKL (Praktik Kerja Lapangan) adalah kegiatan belajar di dunia kerja yang bertujuan memberikan pengalaman praktis sesuai bidang studi mahasiswa.

Skripsi atau Tugas Akhir (TA) merupakan karya ilmiah yang harus disusun mahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan.

Sempro (Seminar Proposal) adalah tahap ketika mahasiswa mempresentasikan rencana penelitian atau tugas akhirnya sebelum penelitian dilakukan.

Sidang Skripsi adalah ujian akhir untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian yang telah dilakukan di hadapan dosen penguji.

Yudisium adalah proses penetapan kelulusan mahasiswa setelah seluruh persyaratan akademik terpenuhi. Setelah yudisium, barulah mahasiswa dapat mengikuti wisuda sesuai jadwal kampus.

Belajar Mengelola Kekhawatiran Soal Biaya

Tiap keluarga memiliki cara untuk menjamin keberlangsungan kuliah anak-anak mereka. Ada yang menabung, membeli polis asuransi pendidikan dan sebagainya. Namun kadang ada masalah tak terduga yang harus dihadapi. Skema berikut ini adalah pengalaman kami yang mungkin bisa menjadi alternatif untuk mengantisipasi biaya kuliah.

Kami sudah membeli polis asuransi pendidikan sejak anak kami lahir. Namun masa pencairan asuransi berakhir tepat ketika anak kami lulus SMA. Hasil pencairan tersebut hanya bisa digunakan untuk semester 1 sehingga kami harus mengusahakan UKT untuk 7 semester lagi. Kami sempat khawatir memikirkan biaya kuliah selanjutnya.

Rencananya kami akan membuka deposito sejumlah UKT per semester dari tabungan kami. Jika ada sisa uang dari pengeluaran sehari-hari, kami langsung menguncinya dalam deposito yang lain lagi. Begitu seterusnya hingga terdapat 7 deposito sehingga secara keseluruhan cukup untuk 8 semester (4 tahun). Dengan begitu, secara tidak langsung kami menegaskan pada anak kami bahwa dia harus lulus tepat waktu.

Kami juga memberinya motivasi, yaitu jika dia mendapat hadiah lomba, mendapat beasiswa atau lulus lebih cepat maka deposito tersebut tetap akan menjadi miliknya. Namun rencana itu tidak berjalan mulus.

Pada pertengahan masa kuliah, pandemi COVID melanda sehingga nafkah kami terhambat. Salah satu yang kami usahakan adalah mengajukan banding UKT ke bagian akademik kampus. Untuk memperkuat banding, kami harus membuat surat keterangan terdampak pandemi dari kantor kelurahan yang membawahi tempat tinggal kami. Alhamdulillah anak kami mendapat pengurangan nomimal UKT.

Belajar Mempercayai Anak Mengambil Keputusan

Salah satu pengalaman tak terlupakan adalah ketika mengantar anak kami mengambil perlengkapan maba di kampus barunya. Kami bertemu orang tua lainnya dan mengobrol sangat seru tentang pencarian kos, transportasi ke kampus hingga merek mesin cuci portable. Kami sepakat bahwa tidak mudah melepas anak untuk mengurus hidup mereka sendiri. Tapi itu harus dilakukan karena sudah saatnya.

Kehidupan mahasiswa akan jauh lebih kompleks daripada pelajar SMA sehingga orang tua tak mungkin bisa mengikuti semua gerak-gerik mereka. Orang tua mungkin hanya bisa memberi nasihat secara umum. Namun, banyak keputusan yang akan mereka ambil tanpa kehadiran orang tua, antara lain pengisian KHS, pemilihan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), bergabung dengan organisasi, bahkan dalam pemilihan teman dekat baru. 

Orang tua hanya bisa memberikan pondasi mental dan spiritual pada anak untuk menapaki kemandirian tapi tak bisa terus mendampingi anak hingga dewasa. Masa kuliah merupakan tangga penting menuju kedewasaan sehingga anak harus mulai diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan sendiri dan  mempertanggungjawabkannya agar tidak gagap menghadapi dunia seorang diri.

Belajar Melepaskan Sedikit Demi Sedikit

Anak merantau atau kuliah di kampus dekat rumah tetap perlu transisi yang lancar karena secara psikologis anak mulai lebih mandiri. Tiap keluarga pasti memiliki cara tersendiri agar anak-anak meninggalkan rumah dengan perasaan tetap hangat dalam ikatan keluarga.

Kami sendiri melepas anak secara bertahap. Pada minggu pertama, saya masih bertanya hampir semua hal. Sudah makan? Kuliah bagaimana? Berteman dengan siapa? Lama-kelamaan saya sadar bahwa pertanyaan saya lebih banyak didorong rasa khawatir daripada kebutuhan untuk mengetahui kabar anak.

Minggu berikutnya, kami mengurangi pertanyaan tentang kegiatan kuliah dan sosial anak. Kami lebih menitikberatkan pada perasaan anak, bukan detail kegiatannya. Kami tidak ingin anak tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan yang seperti interogasi.

Belajar Bahwa Tidak Semua Hal Harus Sempurna

Sejatinya orang tua dan anak-anak sama-sama belajar di setiap jenjang kehidupan, termasuk ketika memasuki jenjang perkuliahan. Kita semua tahu bahwa tidak ada yang sempurna dalam hidup ini. Ketidaksempurnaan itu makin terlihat nyata di masa anak mulai kuliah.

Orang tua dan anak akan sama-sama menghadapi kenyataan bahwa biaya UKT, kos, buku, kuota internet, laptop, ponsel, makan dan sebagainya itu mahal. Belum lagi kalau harus mengerjakan tugas bareng teman-teman di kafe. 

Selain masalah UKT yang sempat terhambat karena pandemi, anak kami juga pernah gagal di seleksi pertukaran mahasiswa. Dia menangis dan bersedih hingga berhari-hari. Kami tidak meresponnya dengan mengatakan, “Jangan bersedih.” Perasaan sedih itu valid sehingga kami memberinya waktu untuk menerimanya.

Orang tua dan anak akan belajar menghadapi kesulitan dan mencari jalan keluar bersama-sama. Jika kesulitan tidak bisa diatasi dengan berbagai cara maka keluarga ini harus belajar menerima. Setelah menerima, maka keluarga ini akan memahami bahwa kegagalan bukan akhir segala, melainkan titik awal untuk melakukan sesuatu yang lain.

Dari ketidaksempurnaan itu, anak akan ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat sehingga kelak lulus sebagai pribadi yang mandiri dan tangguh.

Ternyata Orang Tua Juga Mahasiswa Baru

Pada akhirnya, kami menyadari bahwa masa kuliah bukan hanya perjalanan anak menuju kedewasaan. Ini juga perjalanan orang tua untuk belajar melepaskan, mempercayai, dan menerima bahwa anak tidak lagi membutuhkan kita dengan cara yang sama seperti dulu. Barangkali itulah sebabnya, ketika anak menjadi mahasiswa baru, orang tuanya pun ikut menjadi mahasiswa baru.

Post a Comment for "Saat Anak Masuk Kuliah, Orang Tua Juga Menjadi Mahasiswa Baru"