Wednesday, May 31, 2017

Yang Harus Diketahui Buah Hati Sebelum Mulai Kuliah

Picture from pixabay.com

Beberapa hari ini kita terpesona oleh Afi Nihaya. Remaja lulusan SMA yang punya pemikiran sedemikan berani. Mungkin bagi yang sudah punya gelar bertumpuk dan terbiasa beropini, apa yang disampaikan Afi banyak kurangnya. Tapi kan lawan itu harus sejajar ya? Dibandingkan dengan anak-anak lulusan SMA seusianya, Afi memang lain. Ketika anak-anak lain seusianya sedang hura-hura mengadakan prom untuk merayakan kelulusan, whatever prom means, Afi sudah menyodorkan pemikiran-pemikiran yang berani.

Sebenarnya, lentikan-lentikan pemikiran seperti itu ada di semua anak seusianya. Tapi kelanjutannya ada yang bebas membara, ada yang disiram oleh larangan keluarga, ada yang hanya dipagari dan sebagainya. Saya pun pernah mengeluarkan pemikiran yang lumayan menantang di awal kuliah. Maklumlah baru lolos dari masa SMA yang clueless, seolah tahu semua jawaban di dunia ini. Hanya saja masa itu belum ada media sosial, jadi hanya membuat heboh keluarga saja, yang lalu segera "dijinakkan". Jika terjadi di jaman sekarang, mungkin beda dengan cara Afi merespon, saya akan shock berat ditentang banyak orang seperti itu meski dibela banyak orang juga. 

Lalu bagaimana seharusnya kita sebagai orangtua melalui masa-masa pemantapan jati diri remaja itu? Sejujurnya, saya sungguh tidak tahu. Saya hanya bisa mencatat beberapa poin yang entahlah apa bisa berjalan dengan lancar. Proses pemantapan jati diri remaja didalam keluarga seharusnya berlangsung terbuka antar anggota keluarga tapi tertutup dari campur tangan luar dan terus berkesinambungan. Itu adalah sebuah proses yang panjang dan tidak boleh terburu-buru. Tapi anak milenial bisa begitu saja curhat atau menentang apapun yang tidak disukainya di media sosial. Sebesar apapun yang ingin kita kontrol, tetap ada celah yang tak bisa kita awasi. 

Selama malang melintang di dunia digital, saya sudah menemui banyak sekali komunitas parenting untuk anak-anak bayi dan balita, sementara untuk ortu dengan anak remaja belum ada. Bahkan komunitas parenting balita itu membahas hampir semuanya sampai ada gerakan cara menggendong segala. Padahal masalah remaja tidak kalah kompleks. 

Seminar-seminar yang saya datangi tentang remaja, hanya berputar-putar ke persoalan narkoba dan pornografi. Entah mengapa para pakar berpikir masalah remaja cuma itu saja. Padahal sekarang sedang marak ketakutan akan pengaruh gerakan radikal kampus yang awam bagi para orangtua yang tidak berasal dari perguruan tinggi yang sama. Belum ada pula seminar tentang bagaimana mendampingi remaja pemberani seperti Afi. Kalau saya jadi ortu Afi, saya pasti stress berat karena saya memang cemen. 

Setelah lulus SMA, sebelum mulai kuliah, yang paling bisa orangtua lakukan adalah berdoa yang makin kenceng dan memberikan pengertian tentang beberapa hal berikut:

1. Lingkungan Yang Makin Heterogen
Ketika SMA, teman-teman mereka kebanyakan adalah penduduk setempat, kecuali beberapa sekolah favorit yang sudah memiliki siswa luar kota yang kos. Meski beda suku dan agama, tapi karena sama-sama merupakan warga lokal, mereka bisa berinteraksi dengan bahasa dan tata aturan pergaulan yang sama. Jika ada perbedaan pendapat, mereka bisa menyelesaikan dengan cara lokal yang mereka ketahui bersama.
Ketika kuliah, mereka akan bertemu dengan teman-teman dari berbagai belahan Indonesia. Bahkan kadang ada juga mahasiswa asingnya. Meski punya pendapat yang sama terhadap suatu masalah, tapi perbedaan cara penyampaian bisa saja menimbulkan salah paham. Apalagi jika menghadapi perbedaan pendapat dengan cara merespon yang berbeda pula. Bisa tambah rumit. 
Anak-anak harus paham keadaan tersebut sebelum bertemu dengan teman-teman barunya agar tidak mendapati culture shock. Ada hal-hal yang terlalu kecil untuk dipermasalahkan. Ada hal-hal yang meski kecil tapi tak boleh dibiarkan. Ada hal-hal besar yang harus ikhlas dikorbankan. Tapi ada pula hal-hal prinsip yang tak boleh diabaikan.
Mahasiswa itu berarti sudah tidak kecil lagi tapi juga belum sepenuhnya dewasa meski sudah punya KTP. Orangtua harus tetap terbuka untuk dimintai saran, tapi mereka harus tahu juga bahwa mereka akan mulai menanggung akibat dari hal-hal yang mereka lakukan. Orangtua tidak bisa lagi jump into the problem begitu saja, termasuk jika ada masalah dengan teman-teman kuliahnya.

2. Soal Idealisme
Saya ingat ketika menjadi mahasiswa baru dulu, dalam penutupan masa opspek, kami diajak berteriak-teriak di boulevard pura-pura sedang demonstrasi. Panitia seolah memberi kesempatan pada para rookies ini untuk merasakan seperti apa demo itu. Demo mahasiswa memang membuat anak-anak SMA penasaran.
Orangtua sebaiknya bersiap bahwa kemungkinan menjadi aktivis kampus itu ada dalam setiap anak. Contohnya seperti beberapa waktu lalu ketika keluarga besar heboh dengan salah satu keponakan kami yang ikut demo meminta penurunan UKT. Kehebohan itu bukan didasarkan pada perannya dalam demo tersebut melainkan fakta bahwa keponakan kami tersebut benar-benar anak manja yang kami sangka tak akan mau ikut memperjuangkan apapun dalam bentuk pressure group.
Masa kuliah adalah masa ketika hampir semua masalah dilihat dalam bentuk paling idealnya. Banyak yang kemudian menghayatinya secara berlebihan sehingga disebut sebagai mahasiswa idealis. Ketika dia sudah percaya pada suatu hal, maka akan sangat sulit untuk dibelokkan meski yang dipercayainya itu tak selalu benar.
Pada masa kuliah tersebut, remaja akan mengenal praktek-praktek politik praktis dalam skala kecil. Di beberapa kampus, pemilihan BEM bisa sangat politis, artinya ada kriteria-kriteria yang mirip dengan pilkada, lengkap dengan gerilya tim sukses. Ini merupakan pembelajaran politik praktis bagi remaja. Orangtua harus siap diajak berdiskusi tentang masalah yang sebelumnya ogah mengikuti karena menganggap politik praktis itu kotor. Koridor politik di kampus masih ada batasnya, jadi tak apa untuk pendewasaan agar ketika anak-anak berada di dalam masyarakat, tidak bereaksi berlebihan terhadap pihak yang berseberangan.
Masa penuh idealisme memang berbahaya jika mendapat pengaruh kelompok radikal. Namun, tidak adil rasanya jika prasangkaradikalisme timbul karena judgement seperti tuduhan terhadap salah satu mesjid kampus beberapa waktu lalu. Kebanyakan orangtua memang sama sekali tidak mau ikut campur dengan kehidupan kampus, beda dengan masa SMA, yang paling tidak masih beberapa kali antar jemput atau bertemu dengan guru-gurunya. Tapi saya sendiri sudah membuktikan, setidaknya di kampus anak saya, bahwa kajian-kajian disana baik-baik saja. Saya bahkan sudah mengantarnya ikut kajian sejak masih SMA, yang dimentori mantan kakak kelas yang sudah lebih dulu kuliah disana.
Tak ada salahnya jika sesekali orangtua ikut ke kampus ananda. Jika kampus satu kota, sesekali iseng saja mengatakan ingin mengantar mereka karena satu jurusan bepergian. Bisa juga dengan alasan hujan dan melarang mereka berangkat naik motor. Jika kampus beda kota, gunakan alasan sekalian piknik untuk mengetahui kegiatannya di kampus.

3. Kesuksesan Study Sepenuhnya Di Tangan Mereka
Teman saya, seorang dosen, bercerita tentang mahasiswanya yang selalu mendapat nilai buruk, bahkan sering bolos. Setelah didekati, dia mengaku kesulitan beradaptasi dengan teman-teman barunya. Teman saya itupun memanggil orangtua si mahasiswa untuk mencari solusi. Sayangnya, tak semua kampus perhatian terhadap mahasiswanya. Kampus terkenal sekalipun. Banyak dosen yang terlalu sibuk, yang jangankan peduli terhadap mahasiswanya, bisa masuk di jadwal mengajarnya saja sudah syukur.
Anak-anak harus dipesankan bahwa kesuksesan study mereka benar-benar di tangan mereka sendiri. Kampus tak akan mengejar-ngejar mereka untuk segera lulus. Kalau mereka malas, yang mereka dapat adalah surat peringatan, bukan nasehat guru BP seperti di SMA. Orangtua mereka tentu akan peduli, tapi kepedulian mereka hanya sebatas bertanya, "IPKmu berapa? Kapan lulus?'
Mereka harus bersiap dengan kenyataan bahwa orangtua tak akan menyimak jadwal pelajaran, jadwal ujian, apalagi memastikan semua buku sudah dibeli seperti di masa SMA. Apalagi jika mereka kos, maka mereka akan benar-benar menanggung nasib study mereka sendiri. Mereka harus paham bahwa tak akan ada yang ngomel-ngomel jika mereka tidak segera bangun tidur untuk berangkat kuliah atau pulang malam tiap hari demi ikut kegiatan kampus diluar kuliah.

4. Travelling, Yes or No?
Kemerdekaan masa kuliah sering dirayakan dengan kegemaran baru berupa travelling. Saya dulu juga begitu, mulai ngeluyur konvoi naik motor bareng teman-teman hingga naik bus sendiri untuk main ke kampus teman di luar kota. Jaman sekarang, hobi travelling makin mendapat tempat karena banyaknya komunitas yang siap menampung dan media sosial yang siap mengibarkan foto-foto keren perjalanan mereka.
Secara kasar sih penginnya bilang, "Mau gagah jadi penjelajah dunia kok minta duit orangtua?"
Tapi tentu orangtua tak bisa berkata seperti itu kepada anaknya. Mendidik anak itu harus tarik ulur. Kalau terlalu kencang, mereka akan lepas. Meski sudah dewasa tapi mereka belum sepenuhnya matang. Hal-hal fundamental yang seharusnya mereka sadari itu malah bisa berbalik membuat mereka tersinggung lalu berontak.
Jiwa bebas itu adalah milik anak muda, tak perlu direnggut. Tapi berilah pengertian pada mereka bahwa tak mudah bagi orangtua untuk menanggung biaya kuliah mereka. Biaya kuliah dan biaya hidup di kota pelajar sekalipun sama sekali tidak murah. Jika mereka memang hobi berat, mereka harus belajar menyisihkan tabungan jalan-jalan dari jatah bulanan mereka atau mungkin mereka bisa mencari tambahan sebagai asisten dosen atau part time job lainnya.
Jika hobi ini sudah terdeteksi sejak SMA, mungkin bisa disarankan untuk mengambil jurusan yang banyak travellingnya, misalnya geologi. Teman kos saya yang anak geologi dulu, nyaris selalu ada di lapangan untuk praktikum. Untuk jurusan yang intens di kampus, anak-anak harus diingatkan untuk tidak terlalu sering bepergian jauh. Semakin mereka sering bolos, semakin lama mereka lulus, semakin berat biaya yang harus ditanggung orangtua.

5. Hangout? Are You Kidding Me?
Sejak dulu mahasiswa memang suka hangout untuk melepas rasa penat belajar dan sepi karena jauh dari keluarga. Selain itu, jiwa gaul manusia memang sedang berada dipuncaknya di masa itu. Yang membedakan dulu dan sekarang hanyalah tempatnya. Jika dulu mahasiswa nongkrong di tempat seadanya, sekarang sudah banyak tempat-tempat yang nyaman. Konsekuensinya, biaya yang dikeluarkan pun membengkak. Harga minuman di cafe bisa 3x jatah makan nasi di warung sebelah kos.
Sangat miris membaca tulisan sebuah media online tentang mahalnya harga-harga di Jogja bagi anak kuliah. Setelah saya baca, ternyata si sumber adalah anak yang doyan dugem dengan sekali dugem bisa menghabiskan Rp 450.000,-. Padahal dalam sebulan dia bisa beberapa kali dugem. Ya iyalah, kalau itu bukan mahal lagi, melainkan muahal. Gaya hiduplah yang membuatnya mahal, bukan sekedar akibat kenaikan harga-harga di kota tersebut.
Melepas anak kuliah yang tak siap mental ya seperti itu. Tak merasa bersalah ketika terus menerus meminta uang kepada orangtuanya demi dugem. Orangtua yang clueless bisanya cuma maklum karena mengira si anak banyak beli buku. Orangtua yang kurang mampu hanya bisa meratap dalam hati dan terus berusaha keras tiap anaknya minta uang tambahan. Sebaliknya, orangtua yang berkelimpahan begitu saja mengabulkan. Toh uangnya ada.
Yang seharusnya kita pahami adalah bahwa kita melepas anak kuliah bukan hanya untuk mengejar gelar, melainkan juga agar dia belajar menjadi manusia yang bertanggung jawab di universitas kehidupan. Banyak yang berhasil tapi ada juga yang gagal.
Sebelum mereka kuliah, sering-seringlah mengajak mereka untuk merasakan kehidupan yang membumi, menyaksikan orang-orang yang bekerja keras hanya untuk bertahan hidup. Buatlah ananda paham bahwa bisa kuliah saja sudah amat sangat beruntung. Bisa diterima di perguruan tinggi saja sudah hebat. Mereka tak perlu mencari pengakuan lain lagi yang sebenarnya justru akan merugikan diri sendiri dan orangtuanya.
Hangout memang sudah umum di kalangan anak muda. Banyak cafe yang enak buat belajar atau sekedar ngumpul dengan teman-temannya. Tapi anak-anak yang tahu diri pasti tahu sampai dimana batas antara fun dan adiksi terhadap eksistensi.

6. Obrolan Tentang Jodoh Dan Pergaulan Bebas
Ini obrolan penting yang sama sekali tidak boleh dihindari orangtua hanya karena jengah. Jangan remehkan cinta remaja dalam badan dewasa. Pada masa awal saya kuliah, ada beberapa teman yang terpaksa menikah. Ada yang tetap kuliah meski berbadan dua, ada yang akhirnya berhenti kuliah.
Masa kuliah ada masa dimana remaja lebih bebas mengekspresikan cinta karena kemana-mana mereka bisa pergi sendiri dan orangtua tidak memegang jadwal sekolah dan les yang sudah pasti seperti di SMA. Di kota pelajar ini saja beberapa kali terlihat sepasang muda mudi berciuman didalam mobil ketika lampu lalu lintas merah. Meski tidak pernah survey, tapi dari pengalaman dulu, kebanyakan yang rontok pertahanannya itu adalah di awal-awal masa kuliah. Gejolak yang mereka rasakan begitu menguasai mereka yang barusaja bebas dari pengawalan orangtua. Dengan mudah mereka menganggap siapapun yang mereka sukai sebagai jodoh. Sedihnya, teman-teman saya itu justru anak-anak yang tidak banyak tingkah. Mungkin karena masih polos, justru mudah terhanyut.
Memang banyak orangtua yang berbeda pandangan soal menjaga hubungan anak-anak dengan pasangannya. Ada yang langsung menikahkan anaknya jika sudah gandengan kesana kemari meski belum lulus kuliah untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Resikonya, orangtua yang akan menafkahi mereka. Ada yang menikahkan anak perempuannya, jika ada pemuda yang sudah bekerja menginginkannya daripada khawatir dengan pergaulannya meski si anak belum sarjana. Ada yang menetapkan sarjana sebagai harga mati, yang berarti tidak ada pernikahan sebelum sarjana semua.
Apapun kebijakan keluarganya, anak-anak harus dibuka wawasannya bahwa mereka tidak perlu khawatir soal jodoh. Tak perlu buru-buru jika si laki-laki belum siap sebagai kepala keluarga. Tak perlu merasa bersalah jika menolak permintaan pembuktian cinta dari si laki-laki. Selama belum ada ikatan pernikahan, tak ada kewajiban apapun dari kedua belah pihak. Yang ada hanyalah saling pengertian.

7. Meributkan Kemandiran
Uang adalah otoritas. Karena itu banyak mahasiswa yang ingin punya penghasilan agar memiliki otoritas untuk melakukan apapun yang mereka sukai tanpa perlu minta ijin. Anak saya saja sejak SMA sudah ribut mau cari kerjaan part time. Iming-iming kemerdekaan finansial juga didorong oleh berbagai kampanye atau motivasi untuk menjadi wirausahawan muda. Yang banyak disasar oleh motivator adalah mahasiswa.
Kesuksesan memang tidak ditentukan dari bangku kuliah saja, ada jalan lain. Bu Susi nggak kuliah saja jadi menteri yang super keren. Belum lagi orang kaya dunia semacam Mark Zuckerberg dan Bill Gates yang tidak menyelesaikan degree-nya. Semuanya bermodal keyakinan dan nekad. Kalau tidak nekad, tak akan sukses. Sayangnya, fakta-fakta yang menyilaukan itu tidak diimbangi dengan prosentase berapa yang gagal hingga sampai tua masih dalam pencarian diri terus.
Kalau kata Tukul Arwana, "Jadi orang kok merintis terus? Kapan kristalisasi keringatnya?"
So, ortu harus tetap berkepala dingin ketika ananda menggebu-gebu ingin menjadi wirausahawan sukses. Seperti layaknya sebuah tender, beri kesempatan mereka untuk pitching didepan ortu. Kalau masuk akal, mengapa tidak didukung modal sekalian? Sebagai pemilik modal, ortu bisa mengajukan syarat, misalnya kuliah harus lulus tahun sekian, kalau tidak aset disita. Heheee.... Dengan pitching pula, anak yang tidak siap konsep usaha, akan sadar dengan sendirinya.
Namun, jangan memupus harapan anak untuk mandiri. Sebagai orangtua, kita malah harus bersyukur punya anak yang mau berusaha untuk tidak menyusahkan ortu. Tapi jika dasar pemikirannya karena mau jumawa, ya harus diluruskan. Kalau dia sendiri tak yakin dengan konsepnya, ortu bisa membantu dengan menyodorkan alternatif kerja paruh waktu. Bantu si anak mengamati pengumuman lowongan kerja paruh waktu yang sesuai baginya atau mengkoneksinya ke teman-teman ortu yang membutuhkan karyawan tak tetap. Si anak akan merasa senang karena keinginannya diapresiasi meski belum juga mendapatkannya.

Fiuh sudah panjang begini, tapi masih banyak yang ingin diomongin. Insya Allah kita ngobrol lagi di lain waktu. Kalau ada tema yang ingin diobrolkan, feel free untuk menuliskan request di kolom komentar, ya. Yuk, saling support antar orangtua agar tidak merasa gamang sendiri melepas si buah hati kuliah.



14 comments:

  1. Aku save di laptop suatu hari pasti berguna untuk anakku. Jadi anak muda jaman skrng memang harus kuat iman ya mbak

    ReplyDelete
  2. Pembahasannya selalu gurih mb lusy, aku baca dari awal mpe akhir ga ada yang kelewat. Biasanya ku cuma silent reader aja di sini. Materinya berbobot ey..^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir. Nggak apa silent reader atau komen, mana yg memungkinkan & nyaman saja :))

      Delete
  3. Setelah kuliah/ngekost bisa mengenal ternyata banyak banget karakter orang. Bahkan karakter yang sebelumnya gak mungkin ada, ternyata ada ya orang begitu. Curcol ini hihihii.. Karena dulu teman kuliah saya dari sabang sampai merauke dengan berbagai karakter. Tapi bisa belajar banyak hal dari situ.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang bener kok mbak, byk yg ajaib. Semoga anak2 nggak kaget.

      Delete
  4. Semua pointnya sepakat mba, aku beruntung kuliah dg kondisi pas ga ada mikirin dugem, buat makan aja suka dikasih wkwkwk *inget jaman susahnya kuliah
    Dan aku kaget iya mba masalah pergaulan bebas bener bgt justru yg dikampus pendiam malah akhirnya jebol. Temanku yg dulu sering nginep dikost akhirnya out krn itu aku ga sangka banget.
    Pengalaman-pengalaman bahkan ditambah bacaan seperti ini yang akhirnya membuat aku sbg ortu untuk berjuang mendidik anak2ku kelak semoga sll dilindungi dr yg tidak baik aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kita sdh tau jadi bisa cerita sama mereka, tapi selebihnya mohon perlindungan dariNya :)

      Delete
  5. aku dan suami masih sering antar jemput anak yang kuliah mbak..
    kadang2 malah ditungguin,
    anak2 pun senang diperlakukan seperti itu, bahkan temannya pun akhirnya ada yang nebeng,
    insya Allah di perjalanan bisa saling cerita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibikin happy ya mbak, jadi kyk temenan heheee

      Delete
  6. Nah itu mba, selain ancaman radikalisme dan politik...anak2 musti ngerti soal pergaulan. Selama ini kan di rumah dijagain, jadi pas kos tuh ngerasa sangaaat bebas. Heuuu...banyak nemuin hal2 yg enggak banget ttg pergaulan bebas ini. Masukin kos yg khusus putri dan ada jam malam ga njamin. Katanya jogja itu kota paling bebas urusan mahasiswa, tapi kota lain juga sama sebenarnya.

    ReplyDelete
  7. Makasih buat ulasannya...berbobot. Anyway...thanks buat tutorial mengganti sofa kursi.. I did it..

    ReplyDelete
  8. Makasih buat ulasannya...berbobot. Anyway...thanks buat tutorial mengganti sofa kursi.. I did it..

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.