7.6.17

Hati-hati Ya Bu, Celoteh Di Media Sosial Bisa Menentukan Nasib Kita

Picture by pexels.com

Apakah ibu ikutan mengeluh soal tagihan listrik yang membengkak? Nah, hati-hati karena malah bisa menjadi bumerang.

Belakangan saya takjub melihat perubahan gaya percakapan di media sosial. Sekarang, posting yang ringan saja bisa membuat orang lain tidak suka lalu nyinyir. Posting kritik, langsung dibalas dengan postingan counter. Apalagi kalau postingan tersebut menyinggung suatu kelompok, apapun itu, langsung dicari identitasnya, digruduk atau dilaporkan ke atasannya. Karena itu, akhir-akhir ini saya berhati-hati sekali posting di media sosial. Kalau ada isu yang menggoda untuk saya samber, buru-buru saya logout, takut tidak bisa menahan diri. 

Contohnya keluhan-keluhan tentang tagihan listrik tersebut. Saya pribadi sih memahami, meski untuk golongan 900VA keluarga mampu, tidak masuk golongan 900VA keluarga tidak mampu, tapi pengeluaran rutin yang naik signifikan akan mempengaruhi anggaran belanja keluarga, terutama bagi keluarga muda. Sayangnya, bagi orang lain belum tentu demikian. Mengeluh di media sosial tak selalu mendatangkan simpati, bisa saja malah mendatangkan cemoohan. "Wah, suami istri kerja kok masih pengin dianggap keluarga tidak mampu?"

Kalau ibu-ibu menyimak ulasan mas Nukman di TV beberapa waktu lalu, mungkin sebagian besar dari kita akan mengangguk-angguk ketika beliau mengatakan bahwa seringkali pengguna medsos lupa bahwa kita berada di ruang publik. Ketika kita posting dari dalam kamar misalnya, kita merasa seorang diri juga di dunia maya dan sedang berkomunikasi dengan teman kita di ujung yang lain.

Pertama-tama, pikiran kita masih dipengaruhi oleh dialog langsung seperti ketemuan, telpon, sms atau chatting. Pikiran tersebut harus benar-benar dibuang jauh karena selain orang yang merespon postingan kita, ada banyak penonton yang memperhatikan. Bayangkanlah kita berdialog dengan seorang teman disebuah panggung berlampu sorot terang. Di depan kita, didalam gelap, banyak sekali penonton yang memperhatikan. Kita tidak tahu jumlahnya berapa, bahkan tak tahu siapa mereka karena kita tidak bisa melihat wajah mereka. 

Belakangan, panggung seperti itu mendadak berubah menjadi seperti pertunjukan di pasar malam. Tak hanya tepukan yang didapat, tapi juga bisik-bisik, sanggahan, balasan, olok-olok, bahkan caci maki jika penonton tidak menyukai pertunjukan yang sedang kita sajikan. Kalau sedang sial, penonton bisa juga melempari kita dan menyuruh turun dari panggung, lalu meminta ganti rugi. Mungkin begitu analogi untuk pembully-an dan persekusi. Sedih melihat media sosial yang sama sekali tidak menurun tensinya dibulan Ramadhan ini.

Sayangnya, meski makin tidak nyaman bermedia sosial, netizen seperti saya dan sebagian besar teman-teman saya sulit untuk mengabaikan kekuatan media sosial dalam membantu pekerjaan-pekerjaan kami. Dengan kata lain, jalan terus tapi makin memperbanyak pagar agar tidak mudah terpeleset.

1. Kita Tidak Hidup Sendiri
Pernah lihat bio yang menyatakan bahwa semua pendapat si pemilik akun merupakan opini pribadi? Beberapa orang yang sudah dikenal bekerja di suatu perusahaan atau berada dalam suatu organisasi merasa perlu menyatakan demikian agar bisa bebas berekspresi. Sekarang hal itu tidak ada pengaruhnya ketika si pemilik menyinggung orang lain. Si pemilik akun akan tetap dicari dan tetap dihubungkan dengan instansinya. Inilah yang membuat pemerintah memberikan perhatian pada persoalan persekusi agar tidak terjadi main hakim sendiri.
Namun, sebagai seorang ibu, hendaknya kita tidak terpancing suasana panas dengan ikut berkomentar. Seringkali tiap ada seseorang yang posting berita panas, kita ikut berkomentar dan malah lebih berapi-api dari pemilik status. Tak puas dengan berkomentar, kita ikut share berita tersebut atau membuat posting sendiri. 
Sebelum posting atau merespon, ingatlah bahwa kita tidak hidup sendiri. Kita punya keluarga yang harus dilindungi dan punya pekerjaan yang butuh dijaga. Selama tidak merugikan kita, apalagi tidak ada hubungannya dengan kita, skip saja, tutup mata dan telinga.
Seringkali karakter dunia nyata dan maya itu berbeda. Di dunia nyata, ibu-ibu menjaga wibawa suami dan nama baik anak-anak dengan bersikap sopan dan bertutur kata bijaksana. Giliran sedang pegang gadget tiba-tiba berubah seperti singa kelaparan. Ngomel-ngomel membuat postingan yang sedang trending hingga berseri. Bahkan tak takut melabrak siapapun yang tak setuju.
Sekali lagi, pikirkan orang-orang sekitar kita ya, bu. Sekarang ini, apa yang terjadi di dunia maya bisa berimbas ke dunia nyata.

2. Berpendapat Sebagai Apa?
Yang membuat saya pusing tiap membuka facebook akhir-akhir ini adalah postingan ibu-ibu yang berapi-api tentang politik dan akun gosip. Duuuh, jangan coba-coba mancing deh, ibu-ibu tersebut bisa mencak-mencak bikin status facebook bererot tak selesai-selesai untuk menjelaskan sikapnya agar dunia mengerti. 
Jika mas Nukman diatas mengatakan kita sering lupa bahwa kita berada diruang publik, justru ibu-ibu sadar akan hal itu. Sayangnya, itu membuat mereka merasa berhak bicara apa aja. Ibu-ibu tak harus ngomongin cucian. Apapun bisa dikomentari karena medsos adalah ruang publik. 
Tapi bu.... melihat tendensi akhir-akhir ini, sebaiknya pertimbangkan lagi. Sebagai warga, kita memang berhak bicara politik tapi batasi hanya yang tentang hak dan kewajiban warga saja. Tak perlu ceplas-ceplos soal pro dan kontranya. Jika ingin tetap terlibat aktif dalam isu politik yang sedang hot, pastikan bahwa ibu adalah kader partai, pegawai pemerintah sesuai bidangnya, dosen, peneliti, jurnalis dan sebagainya. Pastikan pendapat-pendapat ibu punya back-up hukum dari instansi karena sesuai dengan pekerjaan atau misinya.
Jangan sampai ya bu, kita share berita yang mendukung pendapat kita padahal itu hoax yang disediakan oleh lawan politik. Jika ada pihak yang tidak terima dan merasa difitnah, karena sekarang ini sulit membedakan mana yang salah dan benar di dunia digital, ibu bisa dipidanakan. Anak-anak ibu bagaimana?

3. Sebuah Curicullum Vitae Baru
Bagi blogger, menjaga status di facebook atau tweet itu sudah menjadi beban sejak dulu. Blogger sering mempromosikan sebuah produk, maka dia juga harus menjaga image diri agar tidak merusak image produk yang dibawakannya. Mengapa beban? Karena si blogger menjadi tidak bebas berekspresi, misalnya nyinyir. Nyinyir itu enak lo, kalau sudah sekali nyinyir biasanya susah berhenti. Tapi itu tidak disukai agensi dan agensi seringkali juga berteman dengan blogger. Jadi merasa terawasi terus, deh.
Akun media sosial dijadikan pertimbangan seseorang diterima di sebuah lowongan pekerjaan itu sudah terjadi agak lama. Mirip dengan blogger yang cari muka pada agensi. Perkembangannya sekarang, karyawan aktif juga harus menjaga kata-kata. Karyawan yang akun media sosialnya penuh kebencian akan mempengaruhi penilaian atasan. Bahkan orang lain yang tak kenal sekalipun bisa mengadukan si karyawan ini kepada atasannya gara-gara status atau tweetnya. Timeline kita di media sosial sudah diperlakukan sama seperti poin-poin lainnya di CV kita.
Intinya, jika ingin menyatakan pendapat yang berbeda tentang suatu masalah yang sedang trending, pastikan ibu punya kompetensi untuk berpendapat demikian. Jika tidak, kita malah hanya seperti memamerkan kebodohan kita saja. Salah-salah kita bisa dituduh menghina.

Bagi yang sudah lama di medsos mungkin tak pernah membayangkan akan berkembang serumit ini. Tapi masih bisa kok diambil yang baik-baiknya saja bagi yang tidak punya pilihan lain kecuali bertahan. Unfollow saja akun-akun yang sering membuat emosi kita terbakar. Kalau saya sih tidak menunggu hingga terbakar, begitu saya merasa tidak nyaman, langsung saya unfollow. Karena saya tidak tahu sejauh apa bisa menahan diri untuk tidak mengetik sesuatu yang buruk.
Lagipula untuk apa posting yang buruk-buruk. Jika ada yang harus diperjuangkan, pastikan di jalan yang benar dan punya otoritas untuk melakukannya. Jika tidak, hanya akan menjadi bumerang, menjadi mimpi buruk panjang tak hanya bagi kita, tapi juga bagi keluarga.


44 comments:

  1. met pagi mbak lusi, bener banget nih kalo kita ingin update status sekarang harus hati-hati banget, karena kalau ternyata menyinggung seseorang balesannya bisa panjang dan jadi bully di medsos. Padahal mungkin kita tak bermaksud seperti itu.

    Terima kasih sudah mengingatkan mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat malam mbak, iya, bahasa tanpa tatap muka kadang bisa diartikan lain.

      Delete
  2. bener bgt mba, jempolmu harimau mu

    ReplyDelete
  3. bawel di medsos itu nggak elegan banget deh menurutku....
    kl aku lebih pilih lihat2 aja dan alhamdulillah sejauh ini masih mampu bertahan tak ikut2an komentar..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, malah kelihatan gimana gitu kalau rewel melulu di medsos.

      Delete
  4. Pas banget maklus, tadi liat trans 7 bahas ini. Celoteh di socmed yg berujung penjara. Wah kudu jaga emosi ni biar gak baperan trus apa2 di socmed in. Makasih ya maklus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita bisa menahan diri ya :))

      Delete
  5. Ya mbak..dan sangat panas saat pilkada kmrn hihiii

    ReplyDelete
  6. Aku kemarin dijapri beberapa teman, Mba Lus. Katanya kok jarang nongol di facebook. Cari aman sih, mainnya lebih banyak di Instagram sekarang :D

    Aku kadang nggak habis pikir dengan keriuhan ibu2 di sosmed, terutama facebook. Ya Allah, kok yo segitunya. Sama seperti Mba Lus bilang, bikin hate speech kok sampe berseri *___*
    Dan tentang unfollow, entah sudah berapa akun yang aku unfol. Hhhh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daripada kitanya salah omong ya mbak, mendingan off dulu.

      Delete
  7. Harus waras liat medsos skrg dan memaklumi bahwa paradigma orang berbeda2 biar ga pada ribut hehehe

    ReplyDelete
  8. Setuju banget! Terlalu sering komentar di media sosial terkait isu terkini kadang bisa jadi pisau bermata dua. Niatnya biar kekinian eh, malah bisa menjerumuskan diri sendiri. Nyinyir dan berasa sok pintar memang bahaya banget ya, mba Lusi ;). Aku juga berusaha nahan diri buat ngga sering2 beropini di media sosial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, bersosmed nggak sebebas dulu, banyak yg mudah tersinggung dan menyinggung.

      Delete
  9. Bener bnget mba. Sekarang karna ada medsos membuat orang lebih mudah menyakiti satu sama lainnya. Sedih

    ReplyDelete
  10. Udah banyak contohnya, gegara status di medsos berujung penjara, semoga kita makin cerdas dan hati2 berpendapat ya mba, ijin share..

    ReplyDelete
  11. Jangan sampai yang kita tuliskan menjadi bumerang dan mimpi buruk buat kita. Notes maklus, aku masih suka baperan kalo maen medsos. Kendali sesungguhnya ada pada diri kita sendiri. Matur tengkyu sudah mengingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 saling mengingatkan aja, saya pun sering lupa.

      Delete
  12. Susah emang jaga emosi di medsos. Berasa diary aja. Kadang lagi marah atau sedih terus nyetatus, tujuannya buat satu orang, yang ngerasa 20 orang... yang 20 orang cerita lai ke temennya, eh temennya yang ngerasa total ada 80 orang. Akhirnya malah jadi repot disebelin sama 100 orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beneeeer. Medsos bikin orang nggak mau berkomunikasi langsung.

      Delete
  13. celotehan di sosmed emang bisa merangkul namun bisa juga memukul, iya kan mak? Jadi harus pinter - pinter sih main sosmed

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yak itu istilah yg paling tepat. :)

      Delete
  14. iya nih belakangan wall penuh kebenciah, cemooh, ajakan dalam perseteruan, menghina terang-terangan dan selalu merasa paling benar sendiri. Padalah kalo diliat dan di scrool profilenya, duuhhh...bukan sesiapa juga, karya se butiran debu juga enggak pernah. Saya juga langsung unfoll model2 yang beginian.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Capek di pikiran & emosi ya mbak :(

      Delete
  15. Pas banget maklus ini buat bahan kuliah utk materi etika sosmed. Heuheu

    ReplyDelete
  16. Sepakat mba, menggunakan medsos kudu bijak ya. Kita sebagai netizen gak perlu ikut2an bikin status maupun share informasi yang belum tentu benar.

    ReplyDelete
  17. Setuju banget Mak. Sesedih atau sekesal apapun jangan ditumpahin di medsos. Kalau menurutku ngomong di medsos kayak teriak di alam terbuka, bakal mantul lagi ke kita apa yang diucapkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu ungkapan yg paling pas penggambarannya :)

      Delete
  18. skrang sosmed mnjadi ajang tmpat menyeloteh ...:)

    ReplyDelete
  19. Sekali lagi diingatkan biar ga baperin cowok orang hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bwahahaaa kalimat yg mana ini ya?

      Delete
  20. Nggak cuma di sosmed, nulis di blog juga mesti hati2 deh, salah-salah dibilang menebarkan berita bohong misalnya, duh ngeri ah. Mesti bijak memanfaatkan sosmed.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, segala yg di internet sekarang itu kok ngeri. Post yg umum2 sajalah.

      Delete
  21. itulah 'trap-nya' media sosial ya mba...saya masih konsisten menggunakannya untuk menyebar pesan baik dan having fun! Apalagi pekerjaanku udah super serious dan berat hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duuuh pekerjaanmu itu sangat dibutuhkan Indonesia mbak. Medsos buat have fun saja.

      Delete
  22. Sekarang tiap kali mo nyetatus bener-bener dipikir dulu. Kira-kira menyakiti orang lain nggak ya, ada manfaatnya nggak ya, dll. Soalnya jujur aku pun gak nyaman kok baca status nyinyiran di timeline, jadi ya aku gak boleh bersikap begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seharusnya semua orang sebijaksana itu :)

      Delete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.