19.7.17

Mengenal Cat Kayu Water-Based Yang Mudah Dikerjakan Perempuan

Pengin nggak sih mendekor ulang rumah biar terlihat mengikuti tren sekarang yang serba cerah dan clean?



Saya pengin banget, lantaran rumah saya sekarang menggunakan cat standar kegemaran orang Indonesia, yaitu krem dan coklat. Awalnya cat seperti itu kelihatan adem dan tenang. Tapi lama-lama kelihatan gelap dan suram karena cat rumah memang butuh diulang tiap kurun waktu tertentu supaya tidak kusam. Mengecat lagi dengan warna yang sama itu lebih irit tapi membosankan. Jadi saya pengin menyegarkan suasana tapi sesuai dengan kesepakatan penghuni rumah, tidak boleh jauh berbeda dengan yang sekarang. Yo weslah, saya ubah-ubah dikit saja warna perabotan.

Memilih perabotan mana yang akan saya cat ulang itu mudah saja karena perabotannya saya cuma seuprit. Itupun yang berbahan jati lama tidak boleh diutik-utik, takut jadi tak bernilai. Akhirnya terpilihlah meja makan. Meja makan set ini saya beli murah banget 10 tahun lalu karena bahannya memang murahan. Saking murahnya, kaki beberapa kursinya dimakan rayap waktu disimpan di gudang karena kami pindah kota dan keberatan ongkos untuk membawanya.

Kondisi meja makan set ini bikin shock waktu pertama keluar dari gudang. Soalnya ketika masuk dulu masih terbilang baru, paling setahun setelah saya beli. Meja kursi tersebut saya cat lagi warna coklat seperti aslinya menggunakan cat semprot. Prosesnya cepat sekali karena saya tidak mengamplas ulang. Saya benci mengamplas. Entah nanti jika bisa beli mesin pengamplas. Halah. Cat semprot itu gampang banget rata dan kering. Masalahnya, perlu tempat terbuka tapi diberi barikade agak catnya tidak tertiup angin dan mengenai barang-barang lain. Waktu itu sih enak saja, karena banyak orang yang bisa saya mintai tolong untuk angkat-angkat meja.


Setelah pindah ke rumah baru, apa-apa saya kerjakan sendiri. Waktu mau ngecat kursi yang dulu sih gampang saja, tinggal angkat bawa keluar. Sayangnya, saya nggak mungkin menggunakan cat semprot lagi karena rumah yang sekarang di kampung padat. Catnya bisa terbawa angin ke tetangga jika barikade tidak tinggi. 

Berhubung males bikin barikade, akhirnya saya coba menggunakan kuas. Cat yang saya gunakan adalah cat minyak yang umum digunakan untuk kayu. Proses ini nyebelin bukan main. Kalau kesentuh dikit, nempel di kulit dan susah dihapus. Sedangkan menghapus menggunakan tinner membuat kulit nggak enak. Kalau kena sesuatu, misal rambut jatuh disana, susah buat nyungkil karena lengket. Sudah gitu keringnya lama dan baunya nggak segera hilang memenuhi ruangan meski sudah lama kering. Membersihkan peralatan cat setelah selesai merupakan tantangan juga. Biasanya saya tidak membersihkan peralatan tersebut melainkan langsung buang saja kuas bekas dan lain-lain sehingga hanya sisa cat dan tinner yang saya simpan.


Melihat meja makan coklat kusam tersebut membuat saya gatal ingin mengecatnya menjadi putih sejak lama. Mengapa putih? Karena bisa sekalian untuk membuat vlog tutorial atau DIY (Do It Yourself). Heheheee....

Masalahnya, saya tidak mungkin angkat sendiri keluar. Sedangkan jika dicat didalam rumah, serumah akan bau cat berhari-hari. Lalu saya teringat pameran perumahan beberapa waktu lalu dimana ada salah satu produsen cat yang mengenalkan produk water-based. Display-nya menarik karena dicontohkan pengaplikasiannya yang mudah di meja dan kursi anak taman kanak-kanak. Saya pun hunting merk tersebut baik online maupun offline. Sayang, produk tersebut susah ditemukan.

Jadi, berdasarkan pengencernya, ada 2 macam cat, yaitu oil-based yang menggunakan tinner dan water-based yang menggunakan air. Di Indonesia, cat water-based umumnya cat yang digunakan untuk tembok dengan tekstur halus dan ringan. Sedangkan oil-based lebih pekat dan banyak digunakan untuk kayu. Dengan  alasan dampak lingkungan, cat oil-based sudah ditinggalkan di negara-negara maju sehingga muncul cat kayu water-based.

Sebenarnya, pertama kali saya tahu tentang cat water-based adalah ketika membantu saudara saya yang mengekspor kerajinan ke Eropa bertahun-tahun yang lalu, antara lain ke IKEA dan H&M. Klien dari negara maju pada saat itu sudah mensyaratkan cat yang anti-toxic dan ramah lingkungan. Kami harus menyiapkan berlembar-lembar dokumen kandungan cat tersebut. Jadi, cat water-based sudah lama digunakan di Indonesia, tapi untuk keperluan industri dan harus pesan di agen tertentu, belum untuk keperluan rumah tangga. Meski sekarang sudah ada di pasaran untuk konsumsi individu, tapi perkembangannya termasuk sangat lambat.

Di toko bangunan langganan saya ada, tapi sayang, mbaknya tidak bisa memberikan informasi yang memadai tentang produk tersebut. Kemudian saya pergi ke toko khusus cat dan mbaknya sangat informatif. Mbaknya menginformasikan bahwa selain untuk kayu, cat tersebut bisa pula untuk tembok. 

Untuk teman-teman ketahui, cat kayu yang diaplikasikan ke tembok bisa digunakan untuk menghambat jamur karena itu cocok untuk tembok kamar mandi. Untuk tembok ruang dalam rumah kurang cocok karena tampilannya yang glossy sehingga terkesan panas. Jika cat ini masih sulit di pasaran, mungkin karena demand-nya masih kurang. Cat ini memang lebih mahal dari cat kayu biasa. Sekitar 70-75 ribu rupiah per 1kg untuk merk biasa dan diatas 100 ribu untuk merk premium di supermarket bangunan besar. Yang saya lihat di pameran itu harganya 43 ribu seberat 1/2kg. Enaknya lagi, jika menginginkan warna tertentu yang tidak ada di color swatch produsennya, kita bisa minta toko cat tersebut untuk mengoplos dengan menambahkan pewarna.

Tapi coba pikir, yang bikin mahal lainnya adalah tenaga kerja. Orang Indonesia cenderung membayar tukang buat ngecat karena dianggap pekerjaan kasar atau sulit dilakukan. Padahal dengan membeli cat yang bagus, mengaplikasikannya lebih mudah dari cat murah. Dan dengan mengerjakan sendiri karena mudah itulah maka total pengeluaran menjadi lebih sedikit.

Cara mengaplikasikan cat ini sangat mudah:
1. Bersihkan meja. Bagi yang hobi mengamplas ya silakan. Saya tetap pada pendirian ogah ngamplas. Hahahaaa.... Untuk bahan kayu yang bagus, sebaiknya mengikuti persiapan yang tertulis di kemasan cat agar hasil maksimal dan tidak malah merusak perabotan yang bagus.
2. Tuang sebagian cat ke suatu wadah. Saya menggunakan botol air mineral yang dipotong bagian kerucutnya.
3. Tambahkan sedikit air hanya untuk memudahkan memulas. Jika mengental lagi tinggal tambahkan air. Ingat ya, dikiiit aja. Lalu aduk sampai benar-benar rata.
4. Mulai mengecat. Rasakan gerakan kuas yang ringan, beda dengan jika menggunakan cat minyak karena lebih pekat. Untuk hasil sempurna, perlu mengulang beberapa kali sampai puas. Nggak capek kok karena catnya ringan itu.

Keuntungan cat water-based:
1. Tidak berbau, jadi meja sebesar itu tak perlu diangkut keluar. Tapi jangan nyalakan AC dan tetap buka pintu agar sirkulasi udara lancar.
2. Cepat sekali kering.
3. Bebas toxic buat meja main anak-anak.

Untuk hasil akhir, sebenarnya kerapatan cat oil-based itu lebih baik. Kalau ngecatnya sabar, bisa mendekati tampilan cat duco. Hanya saja, warnanya, terutama putih, cepat menjadi kusam dan kekuningan. 

Kebetulan tadi saya juga membeli cat water-based dalam kaleng-kaleng mini untuk mengecat topi caping. Jadi, cat ini asik juga buat kreasi kerajinan. Nggak seribet cat minyak yang kalau nempel di tangan harus digosok dengan tinner yang menyengat. Cat ini kalau kena tangan tinggal dicuci dengan air sabun. Jika masih ada sisa cat yang membandel, tak sampai 24 jam sudah hilang kok.

Nah, jika ibu-ibu ngiler melihat hiasan-hiasan dinding yang shabby atau vintage, bisa tuh raknya, frame foto atau kaleng-kaleng gula dan tepung dicat ulang sendiri dengan warna-warna sesuai keinginan. Selamat berkreasi! :))



10 comments:

  1. wuah mbak lusi mandiri banget ngecat sendiri, mirip mamaku, tp kl mama suka ngecat tembok rumah, kr kt mama, bayar tukang mahal, padahal cuma ngecat doang. aq blm nemuin enaknya ngecat krn mikirnya cat bau-nya gak enak. tp pgn coba ngecat yang kecil-kecil, frame foto, botol atau kaleng biar cantikk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini baru nyoba sekali cat yang nggak ada baunya :))

      Delete
  2. ah...dirimu kok mumpuni mbak..ngecat dan pernik-pernik cat pun tahu :-) klo perabot, blm pernah utak atik aku mba...paling poles vernish aja..itu aja kakak yang lakuin. klo ngecet tembok, udah pernah aku...sama ngamplas pager yang karatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terpaksa mbak. Kalau ngamplas aku memang nggak mau. Gimana gitu merasakan gosokannya wkwkwkk

      Delete
  3. Selalu kece deh Mbak Lusi ini! Kreatifnya itu lho ~ Aku kalo ngecat2, suka yg spray sih mbak, soalnya menurutku lebih rata dan nggak ada bekas saputannya. Tapi ya itu, batuk2 hahahha

    ReplyDelete
  4. bukan hanya make up ya yang waterbased, wahhh pengetahuan baru

    ReplyDelete
  5. Aku juga di rumah ngecat sendiri mbak, ada meja suamiku yg warnanya coklat penuh stiker tato tak cat putih langsung kayak meja shabby chic. Tapi gak pernah merhatiin cat yan tak pakai water based apa gak, pokoknya enak banget gak usah amplas-amplas udah mulus dan rata.

    Jadi kepikiran ngecat kamar mandi pake cat kayu juga nih, tembok kamar mandiku ngelontok karena lembab T.T

    ReplyDelete
  6. Kalo istriku biasanya nyuruh saya je, kalo ga minta tolong cariin tukang buat ngecat. hehehe

    ReplyDelete
  7. duh jadi makin keceh nih prabotannya :-)

    ReplyDelete
  8. Wuah mba Lusi keren nih, bisa ngecat sendiri. Kapan hari aku mau cat tembok sendiri gara-gara tukang nggak dateng-dateng Tapi takut belang bonteng nanti hasilnya hahaha.

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.