Catatan Kurban, Nggak Usah Muluk-muluk

Sudah beberapa hari blog beyourselfwoman tidak update, hanya update sedikit di akun-akun media sosial @beyourselfwoman karena bertepatan dengan libur panjang Idul Adha.


Sebenarnya jika mengaku total sebagai blogger tetap harus punya tabungan artikel sebelum liburan untuk dijadwalkan terbit di hari-hari tidak bisa membuka laptop, ya? Nyatanya, jika libur, ngeblog juga libur. Heheheee....

Sambil menunggu materi DIY yang belum siap, saya ingin ngobrol tentang catatan kurban oleh ustadz Agung di acara keluarga besar saya, yang sayang jika tidak digunakan sebagai pengingat diri di hari-hari selanjutnya. Karena itu, memposting catatan tersebut disini akan membuatnya tak terlupakan. 

Salah satu kakak kami punya tradisi mengumpulkan seluruh keluarga tiap ada peringatan hari besar Islam. Berhubung rumahnya yang paling besar, seluruh keluarga bisa tertampung, tak perlu pergi ke restoran. Acaranya jadi lebih santai, tak sekedar makan bersama. Di acara tersebut selalu didatangkan ustadz untuk memberikan penyegaran rohani. 

Sudah setahun ini ustadz Agung yang mengisinya karena cerita beliau banyak, lucu dan berjiwa muda. Beliau adalah seorang dokter dan dosen yang sudah keliling ke beberapa negara tapi tetap saja njawani sehingga membuat cerita pengalamannya selalu bikin ngakak. Namun demikian, sesuai dengan latar belakang akademisnya, kata-kata yang dipilih ketika sedang serius juga mampu membuat kami tertarik untuk berpikir karena rata-rata sudah kuliah keatas. Ya, dalam keluarga besar kami sudah tidak ada anak kecil, adapun masih bayi yang belum paham. Jadi yang kami butuhkan adalah asupan ilmu keagamaan yang menyegarkan rohani sekaligus pikiran. 

Tentang kurban kali ini beliau berpesan agar tak perlu muluk-muluk mengharapkan pahala sebesar yang didapatkan Ibrahim. Coba kita cek saja di group WA (whatsapp) atau medsos (media sosial), apakah kita termasuk orang yang mampu ikhlas dalam hal yang paling kecil, yaitu ikhlas bahwa pendapat kita tak selalu bisa diterima? Jangankan ikhlas bahwa pendapat kita tak selalu bisa diterima orang lain, kita bahkan sering ngotot merasa benar sendiri. Begitu saja sulit, apalagi berkurban kambing atau sapi, apalagi berkurban anak?

Punya uang untuk beli kambing atau sapi? Rela berkurban 1,9 juta atau 3 juta untuk dibagikan ke orang-orang yang tak kita kenal? Berkurban itu tak seperti rambu-rambu lalulintas yang dipatuhi karena diawasi oleh polisi. Tidak! Kita berkurban bukan karena sebel diomongin tetangga, "Masa punya mobil, punya motor tapi nggak bisa kurban? Tuh nenek diujung jalan yang jualan sapu ijuk saja bisa."

Kurban bukan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita mampu, bahwa kita kaya semata-mata. Kurban adalah bukti perjuangan dan keikhlasan kita memberikan yang terbaik untuk Allah SWT, pemilik seluruh yang ada di dunia. Kurban yang tak didasari dengan keikhlasan akan membuat kita rewel terhadap hal-hal yang tidak prinsip, misalnya daging sebelah mana yang diinginkan, minta bagian shohibul diantar kerumah dan sebagainya.

Bahkan jika panitia lalai dan membuat shohibul qurban justru tidak kebagian seharusnya ya ikhlas saja. Ini pernah terjadi pada saya karena saya orang baru, panitia belum berpengalaman dan saya sendiri tidak pro aktif bertanya. Padahal dirumah saya sudah menyiapkan sepanci santan untuk membuat gulai. Kalau kita masih ribut dengan persoalan seperti itu berarti kita belum 100% ikhlas berkurban, melainkan kita masih berat dengan urusan perut alias duniawi.

Demikian pula jika seandainya kita sudah kebagian, tapi fakir miskin didekat kita tidak dapat karena kelalaian panitia, berikan saja bagian kita itu kepada yang lebih membutuhkan. Kita beli lagi saja sekilo dua kilo daging di pasar jika masih mampu untuk memasak dirumah. Jika uang sudah habis untuk membeli kambing kurban dan tidak mampu membeli sekilo lagi untuk orang rumah, saatnya menguji pelajaran ikhlas yang sudah kita tanamkan ke anak-anak. Terangkan pada mereka bahwa tetangga tersebut lebih membutuhkan karena baik sekarang ataupun nanti, mereka tak mampu membeli daging. Sedangkan kita masih mampu membeli daging nanti setelah gajian bulan depan.

Jika belum bisa berkurban bagaimana? Nasib manusia itu siapa yang tahu kan, ya? Kadang selama setahun rejeki moncer, dapat job review berderet sampai kayak debt collector invoice saja saking banyaknya. Tapi pas waktunya berkurban justru tidak punya uang sama sekali karena ada beberapa keperluan mendadak, misalnya ada yang sakit atau keperluan tak terduga lainnya. 

Jika itu terjadi, ya harus ikhlas menerima takdir. Bersabarlah, insya Allah tahun depan bisa berkurban. Setelah itu instropeksi, mungkin kita tidak punya perencanaan keuangan yang baik sehingga tidak punya tabungan yang cukup ketika waktunya berkurban. Di tempat tinggal saya yang dulu ada sistem tabungan yang diambil sekelompok ibu-ibu dari rumah ke rumah tiap bulan. Ini sangat membantu orang-orang yang ingin berkurban tapi tidak mampu berhemat untuk menabung sendiri. Dengan sistem tersebut, daging kurban selalu berlimpah karena banyak sekali yang berkurban. Selain itu, berdoa agar tabungan tersebut tidak terusik oleh kebutuhan mendesak dan tiba-tiba.

Jadi, jangan sampai ya sudah tidak berkurban tapi marah-marah pada panita kurban gara-gara tidak kebagian daging. Kasihan kan panitia yang sudah mengeluarkan waktu dan tenaga untuk melayani orang banyak. Mungkin mereka lalai, namanya juga manusia dan mengurusi manusia lain yang cukup banyak. Tak apa-apa tak makan daging, tak perlu dibuat drama, belajarlah menerima takdir. Atau coba instropeksi agar lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sehingga lain kali tak terlewatkan.

Yang lebih penting lagi, tanamkan tekad dalam diri agar dimasa depan tidak menjadi orang yang menerima daging melainkan menjadi orang yang mengikhlaskan kambing atau sapi untuk orang lain. Jika tidak mendapat daging yang dibelikan orang lain saja kita masih mencak-mencak, apakah kita akan bisa sepenuhnya ikhlas berkurban memberikan daging untuk orang lain? Pengin kan naik level dihadapan Allah SWT? 

Kurban bukan semata-mata bagi-bagi daging kambing, domba atau sapi dan pesta makan, melainkan pembuktian keikhlasan kita sebagai umat.



9 comments:

  1. berkurban itu belajar ikhlas yah mbak lusi,,, seru sekali itu kumpul keluarga trs ngundang ustad,, tambah berkahnya

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah...pas hari qurban, dikasih kolestrol tinggi. Jadi nggak minat makan daging. Terpaksa sih, padahal mah doyan aja...hehe...

    ReplyDelete
  3. wih tabungan artikel, boro-boro bund wkwkwk

    klo qurban biasanya langsung nitip Bund, biasanya se gitu

    ReplyDelete
  4. Iya, keikhlasan kita benar benar diuji saat berkurban ya Mba, semoga tahun depan bisa ikutan juga aamiin..

    ReplyDelete
  5. momen idul adha selalu ada aja peristiwa yg menuntut keikhlasan yang harus kuhadapi. jadi, mbrebes milinya itu luwih-luwihi idul fitri huhuuhuuu

    ReplyDelete
  6. Sip mbak Lus..

    Btw..trus gimana itu santannya..? He..he, blm pernah sih punya pngalaman ga mengenakkan saat qurban.


    ReplyDelete
  7. betul mba, yg dinilai itu keikhlasannya. Nggak kebagian daging sekarang gpp, semoga rezekinya semakin berlimpah lebih dari sekantong daging. :)

    ReplyDelete
  8. Aku belajar nabung nyisihin 150rb selama setahun buat berkurban :D jadi nggak terasa. Tapi memang kok kurban dibanding-bandingin sama yang udah punya motor atau mobil sama si sapu ijuk itu malah bikin sakit hati. Bener kata mba, yang penting ikhlas

    ReplyDelete
  9. yang penting niat mba..selalu ada jalan kalau memang kita niat untuk kurban dan sedekah hanya karena Allah SWT..

    ReplyDelete

Maaf jika kenyamanan teman2 terganggu, sementara komentar dimoderasi karena makin banyak spam. Kalau sudah reda, akan dilepas lagi. Terima kasih.

Like us