Thursday, March 10, 2011

Dear Papa #2: Susahnya Bilang Kangen


Beruntunglah anak-anak kecil. Mereka sangat polos mengungkapkan perasaannya. Sedih ya nangis, senang ya tertawa, suka ya minta. Sudah begitu, mereka samasekali tidak mau tahu. Apapun keadaannya, yang mereka rasakan harus segera terpenuhi saat itu juga. Bagaimana kalau anak-anak sedang kangen? Wah, bisa heboh! Ada yang nangis seharian minta ketemu, ada pula yang sampai sakit panas. Nah, kalau sudah dewasa begini, kangen, apalagi kangen sama bapak / ayah / papa /papi / abah, bagaimana mengekspresikannya, ya?

Ingat nggak, saking sayangnya dengan
bapak, kita sampai nangis-nangis tidak mau ditinggal bapak kerja? Sudah dikantor-pun ditelpon terus untuk menanyakan jam berapa bapak pulang. Sesampainya bapak dirumah, langsung minta gendong untuk mengobati rasa kangen. Nah, bagaimana sekarang setelah dewasa dan jauh dari bapak? Banyak dari kita berlagak tabah. Meskipun sering telepon, kita menahan diri untuk bilang kangen. Takut nanti orangtua kita yang sudah renta malah sedih dan sakit. Ketika bertemu, juga menahan diri untuk mengekspresikan rasa kangen. Dengan ibu mungkin lebih nyaman, tinggal kita peluk berlama-lama. Tapi dengan bapak? Paling-paling cium tangan, cium pipi dan ngobrol. Padahal ada kalanya kita ingin bermanja seperti waktu kita kecil dulu. Saya percaya, selalu ada sisi anak kecil dalam diri orang dewasa.

Dan bagaimana mengungkapkan rasa kangen pada sosok bapak yang telah tiada?  Bagaimana pula kita mengungkapkan rasa kangen melihat sosok bapak, yang bahkan belum pernah bertemu? Bagaimana kita mengungkapkan rasa kangen dibelai-belai oleh  sosok bapak,  yang bahkan mengingkari keberadaan kita?

Surat untuk seorang bapak dari anak-anaknya, adalah jawaban semua rasa kangen itu. Surat itu mungkin akan sampai kehati bapak yang dituju. Surat itu mungkin bisa menyentuh jiwa-jiwa yang memilih dianggap tak ada. Surat itu mungkin memang tidak mengharap berbalas. Tapi surat-surat itu sangat berarti bagi kami, Bapak, anak-anakmu. Itulah tanya kami. Itulah permintaan kami. Itulah ungkapan kami. Itulah persembahan kami. Dear Papa….

Surat-surat kepada bapak / ayah / papa / papi / abah itu kami kumpulkan dalam buku berjudul Dear Papa. Saking pentingnya ungkapan ini bagi kami, anak-anak Bapak, sampai terkumpul menjadi enam (6) buku. Banyak sekali, ya. Ungkapan saya sendiri ada dibuku kedua (2) dengan judul Bapak, Aku Kangen. Keuntungan dari buku ini, kami persembahkan pula untuk para bapak, yang tidak bisa merasakan kasih sayang keluarga mereka, dimasa tua mereka di panti-panti jompo.

Mari kita berderma dengan membeli buku ini langsung di www.nulisbuku.com  dengan harga Rp 45.000,- belum termasuk biaya kirim. Terima kasih.

No comments:

Post a Comment

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.