Inacraft 2012 (6): Kunjungan Kilat Di Hari Jumat

Rencana mengunjungi Inacraft sudah saya susun jauh-jauh hari termasuk stan mana saja yang harus dikunjungi. Namun dengan pertimbangan tertentu, saya putuskan untuk mempersingkat rencana dan memajukan jadwal tiket pesawat saya dan hanya memiliki 9 jam di Jakarta, termasuk kemungkinan terjebak di lalu lintas Jakarta.

inacraft jakarta

Pagi itu dimulai dengan awal yang baik karena pesawat yang saya tumpangi tepat waktu. Tumben! Perjalanan hanya macet sebentar, selebihnya lancar, meskipun tidak bisa ngebut. Sebelumnya sempat deg-degan juga karena bersamaan dengan konser Suju. Heheheee…. Berlebihan ya?

Sampai di JCC, disambut dengan suasana pameran yang menyenangkan. Pengunjung belum terlalu banyak. Sayapun langsung berkeliling mencari tas. Saya menemukan tas lukis yang cantik, memindahkan isi tas lama saya ke tas baru tersebut, lalu membuang tas lama saya ke tempat sampah. Dari situ, baru saya mencari partner Ladaka Handicraft. Rupanya stan tersebut masih ditata, sehingga saya putuskan untuk melihat-lihat stan lain.

Ternyata suasana Jumat pagi di pameran Inacraft itu sangat menyenangkan. Mayoritas pengunjung adalah perempuan karena yang laki-laki mungkin ada pertimbangan sebentar lagi harus sholat Jumat. Produk yang dipamerkan di Inacraft adalah kerajinan khas Indonesia yang kebanyakan penggemarnya adalah kalangan menengah keatas. Kalangan menengah kebawah mungkin lebih mementingkan peralatan primer yang lebih praktis, awet dan murah, tidak terlalu mementingkan estetika atau ramah lingkungan. Oleh karenanya, pengunjungnyapun tersaring secara alamiah. Jadi pagi itu banyak sekali perempuan-perempuan cantik dengan dandanan sempurna dan wangi.

Tak berapa lama kemudian, pengunjung mulai berdatangan. Lagi-lagi kebanyakan perempuan, hanya saja kali banyak sekali wajah Jepang dan Eropa. Ya, Inacraft juga memamerkan produk kerajinan berkualitas ekspor yang menjadi buruan penggemar kerajinan asing. Suasana saat itu lebih tepat digambarkan sebagai pameran kerajinan perempuan internasional.

Melewati tengah hari, saya-pun lapar dan sialnya menuju ke café yang salah. Di JCC, saya melihat ada 3 café, tapi yang pertama kali saya lihat adalah café di hall B. Standar pelayanan dan harga di café ini adalah standar café hotel berbintang. Sayangnya makanan & minumannya biasa saja.

Agak lama juga saya istirahat di café itu lantaran paginya juga belum sarapan. Tak terasa waktu sholat Jumat sudah selesai. Pengunjung mulai berbondong-bondong datang baik perempuan maupun laki-laki. Saya agak panik karena daftar stan yang belum saya kunjungi masih panjang, sementara suasana mulai sesak, belum lagi beberapa teman menghubungi saya untuk bertemu langsung dan membicarakan beberapa prospek usaha. Saya mulai pesimis apakah bisa mengunjungi semua stan dari lebih 1800 pengusaha kerajinan itu.

Semakin siang, suasana semakin ramai meski tidak sampai berdesak-desakkan seperti pameran umum lainnya. Akhirnya saya tersandera oleh teman-teman dan saudara yang ingin bertemu. Uniknya, beberapa orang Jakarta yang baru pertama kali itu datang ke Inacraft untuk menemui saya, merasa sangat terkesan dengan produk-produk yang dipamerkan dan memutuskan untuk datang lagi keesokan harinya. Dalam hati saya: situ enak bisa datang lagi besok, sementara saya? Akhirnya saya tidak bisa melaksanakan tips berkunjung ke Inacraft yang saya tulis sendiri sebelumnya.

Waktunya saya harus ke bandara mengejar jadwal penerbangan telah tiba. Dengan berat hati karena terlalu sedikit yang saya lihat, beli dan dokumentasikan walaupun sudah datang jauh-jauh dari seberang pulau, akhirnya saya harus menyeret langkah saya untuk beranjak pergi.

Ketika melewati pintu masuk kompleks Senayan dari arah luar, saya lihat mobil sudah sulit bergerak, bahkan seolah diam. Meski kendaraan di pintu keluar masih bisa bergerak, saya bayangkan jika saya nekad memepet waktu ke bandara, saya pasti sudah panik di jalan.

Di bandara, saya sempat istirahat dan makan. Meski harus pindah terminal tapi penerbangan hanya terlambat 15 menit. Tumben! Perjalanan pergi dan pulang yang nyaman. Allah memberi langit cerah. Setelah saya mendarat di kota saya, tiba-tiba hujan sangat deras. Tapi tak apa, sudah aman. Hanya dihati ada yang kurang karena tak banyak yang bisa saya ceritakan di bagian 7 nanti tentang stan-stan yang ada. Ini pulalah sebabnya saya harus menulis bagian 6 yang kurang penting ini, berisi perjalanan saya hari itu, agar teman-teman baru saya dari twitter yang berharap bisa berkenalan langsung, bisa memaklumi jika saya tidak bisa berlama-lama di JCC.

Post a Comment

0 Comments