Saturday, June 02, 2012

Cara Sewa Stan di Mal

Dalam sebuah seminar UKM, seorang pengisi acara menjadikan saya sebagai contoh yang harus mengeluarkan uang banyak karena menyewa stan di mal, bukannya berjualan online yang menurut beliau bisa gratis. Heheheee…. Sebenarnya beliau salah mengerti saya. Karena pada kenyataan saya melakukan dua-duanya yaitu berjualan online dan offline dengan omset yang sama besar. Keduanya saling mendukung karena offline untuk mendekatkan diri pada konsumen (branding) dan membuat calon pembeli online yakin kita tidak main-main, sedangkan online untuk menjangkau konsumen yang lebih luas dan mendisplay produk tanpa batas. Di artikel lain kita akan obrolkan bahwa berjualan online itu samasekali tidak gratis.

Keputusan memiliki stan atau outlet di mal lebih berdasarkan pada karakter produk kita. Ada produk yang sangat laris tapi tidak bisa dijual di mal, melainkan di toko diluar mal. Meski menyewa toko diluar mal bisa mendapat space yang jauh lebih luas dengan harga sama, tapi ada pula produk yang jika dipajang di toko di pinggir jalan tidak ada yang berhenti untuk sekedar melihat-lihat, apalagi membeli. Saya mengambil stan di mal karena produk saya lebih cocok dijual disana dan biayanya paling minimal dari semua pilihan outlet dan toko di mal. Stan disini maksud saya adalah stan terbuka tanpa rolling door.

Begitu disebutkan ‘sewa stan di mal’ yang terbayang langsung wah-nya harga sewa dan ketakutan tidak mampu menutup biaya operasional. Karena itu sebelum menyewa, sebaiknya latihan dulu di pameran-pameran yang diselenggarakan manajemen mal ataupun event organizer. Selain untuk mengukur kemampuan produk kita, juga untuk mengenali karakter pengunjung masing-masing mal. Tidak semua mal yang ramai pengunjungnya membeli produk kita. Jika produk kita premium, di mal sepi dengan pengunjung tersaring secara alamiah, yaitu dari kalangan atas, lebih menguntungkan daripada di mal yang selalu berjubel tapi dari kalangan menengah kebawah.

Setelah yakin, tidak usah bingung dan cari-cari informasi, datangi langsung kantor pemasaran mal, katakan pada satpam bahwa ingin bertemu dengan staf marketing. Selama ini saya selalu bertemu dengan staf marketing yang ramah, karena pada dasarnya mereka punya kepentingan untuk menjual space. Jadi saling membutuhkan. Ingat, jangan merasa sungkan jika tidak langsung deal saat itu atau bahkan tidak jadi. Sama seperti calon pembeli ketika melihat-lihat produk kita: tanya-tanya dulu, ada yang langsung beli, ada yang pikir-pikir dulu, ada yang tidak jadi membeli.

Tanyalah dengan detil dari ukuran space yang anda inginkan, fasilitas yang didapat dan cara pembayaran. Komponen biaya sewa tiap mal berbeda-beda dan kadang lupa mereka sebutkan secara rinci. Khusus untuk cara pembayaran ini, kalau perlu bawalah catatan dari rumah apasaja yang ingin anda tanyakan karena penting untuk mengukur kemampuan dan perencanaan. Untuk pembayaran (Ini kan yang paling bikin ngeri?) yang selalu saya tanyakan adalah:

  1. Ukuran, harga dan kontrak. Ada yang menggunakan sistim kontrak 3 bulan, 6 bulan, setahun, bahkan 2 tahun.

  2. Cara pembayaran. Meskipun kontraknya 3 bulanan, kadang pembayaran bisa dilakukan sebulan sekali, tidak harus sekaligus 3 bulan. Tanyalah setelah itu apakah kontrak bisa diperpanjang dan bagaimana jika memutuskan berhenti jika kontrak belum habis. Sebagai pelaku usaha harus selalu siap dengan berbagai kemungkinan, bukan berarti negative thinking.

  3. Uang jaminan. Entah mengapa, mereka selalu lupa menyebutkan uang jaminan, padahal ini cukup besar, sekitar sebulan sewa. Mungkin dipikirnya itu sudah lazim dimana-mana, padahal masih banyak yang awam. Uang jaminan ini akan dikembalikan jika kita tidak melanjutkan kontrak.

  4. Maintenance and free pass. Untuk stan kebanyakan tidak menarik biaya maintenance, tapi sebaiknya ditanyakan saja. Ada mal yang memberikan free pass kendaraan bagi tenant dan karyawannya, tapi ada yang tidak. Sebaiknya ini ditanyakan karena biaya free pass lumayan, sekitar Rp 150.000 per mobil per bulan.

  5. Listrik. Adakah aliran listrik individual, dikenakan biaya atau gratis, serta berapa ampere yang diijinkan dan bagaimana jika ingin menambah. Meski penerangan mal cukup bagus, tapi tambahan lampu sorot akan membuat produk kita ‘bersinar’.

  6. Display yang diperbolehkan. Tiap mal memiliki aturan sendiri-sendiri. Tapi kebanyakan mereka tidak menyukai display yang terlalu tinggi karena akan menutup pandangan sekitarnya. Biasanya tinggi yang diijinkan sekitar 1,5 meter.

Nah, dari sini sudah bisa kita buat perencanaan. Lain kali kita ngobrol serba-serbi pertama kali masuk untuk jualan di mal. Sementara ini dulu ya. Jangan lupa, contact person yang anda hubungi di mal itu jangan ganti-ganti supaya komunikasi tidak terputus dan harus menerangkan lagi maksud kita dari awal.

3 comments:

  1. harga sewa stan di mall itu kisarannya berapa ya mbak?

    ReplyDelete
  2. info yang berguna, makasih yaa....

    ReplyDelete
  3. terima kasih atas infonya mbak. sudah saya coba :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.