Mengapa Orang Masih Mencuri Foto di Internet? Dari Screenshot Produk hingga Engagement Farming
| Foto produk kerajinan milik saya dahulu. |
Beberapa bulan terakhir saya berkali-kali menemukan akun X (dulunya Twitter) yang mengunggah foto makanan menggiurkan dan mengakuinya sebagai memasakan sendiri. Setelah ditelusuri, foto tersebut ternyata berasal dari akun Jepang atau Cina yang sama sekali tidak berhubungan dengan pemilik akun tersebut.
Sebenarnya, pencurian foto, bahkan video, sudah lama sekali terjadi. Namun sekarang orang makin berani melakukannya karena potensi ekonominya makin besar. Mereka juga menambahkan kata-kata yang makin meyakinkan sehingga tidak segera ketahuan.
Artikel ini pertama kali saya tulis pada tahun 2012 ketika marak penggunaan foto produk tanpa izin di toko online. Pada tahun 2026, saya memperbaruinya karena praktik serupa ternyata masih terjadi di media sosial dengan pola yang berbeda.
Apa yang Berubah?
Sebelum zaman media sosial, banyak yang mencomot foto begitu saja dari internet dan jarang ketahuan. Jika ada yang ketahuan, mereka dengan mudah mengatakan bahwa tidak memahami etika copas foto orang lain.
Sekarang, alasan tersebut tidak bisa digunakan karena netizen dianggap sudah memahami semua etika tersebut. Banyak karya digital, termasuk foto produk, memiliki perlindungan hak cipta sehingga penggunaannya tidak bisa dilakukan sembarangan. Maraknya media sosial juga mempermudah orang untuk memergoki penggunaan foto yang tidak sah.
Namun, media sosial pula yang memicu para pelaku mencari cara lain. Media sosial dapat mendatangkan uang dan popularitas sehingga kebutuhan konten melonjak. Makin banyak orang yang tergoda untuk mendapatkan cuan tanpa capek membuat konten.
Salah satu caranya adalah dengan memperluas wilayah pencarian foto. Mereka tak segan mengambil foto dari akun Jepang, Cina, Korea dan sebagainya yang masih atmosfirnya masih mirip Indonesia. Mereka memilih foto berkualitas tinggi untuk menarik perhatian. Jika dulu foto yang berkualitas sering dicurigai sebagai foto yang dicomot dari fotografer profesional maka sekarang tidak lagi. Ini karena adanya banyak ponsel dengan resolusi yang memadai untuk membuat foto bermutu.
Mengapa Praktik Ini Meningkat?
Alasan dilakukannya pencurian foto, antara lain untuk mendapatkan pengakuan, untuk monetisasi, atau memang sengaja untuk menipu.
Mencuri Foto untuk Mendapatkan Pengakuan
Tak semua orang menggunakan foto secara ilegal untuk mendapatkan uang. Ada pula yang melakukannya karena ingin flexing agar mendapat pengakuan bahwa dirinya adalah orang hebat. Padahal, dibandingkan dengan alasan lainnya, praktik seperti ini akan mendapatkan sanksi sosial yang sangat berat dari netizen.
Saya pernah melihat akun yang rutin mengunggah foto apartemen, mobil, atau pemandangan dari jendela gedung tinggi untuk membangun citra sebagai orang yang sangat sukses. Ketika sumber foto terungkap, reputasi akun tersebut langsung jatuh karena dianggap membohongi pengikutnya.
Mencuri Foto untuk Monetisasi
Praktik penggunaan foto milik orang lain secara tidak sah juga banyak dipengaruhi oleh makin banyak platform yang membayar pemilik akun berdasarkan engagement, misalnya X centang biru dan Facebook Pro. Selain itu, ada pula fee yang menggiurkan dari afiliasi.
Saya beberapa kali menemukan akun X yang mengunggah foto makanan dengan kualitas sangat tinggi lalu menulis cerita seolah-olah baru saja memasaknya sendiri. Setelah ditelusuri oleh pengguna lain, foto tersebut ternyata berasal dari akun luar negeri. Menariknya, klarifikasi biasanya muncul setelah thread sudah panjang dan mendapatkan ribuan interaksi.
Mencuri Foto untuk Menipu
Ini sedikit berbeda dengan monetisasi di atas karena digunakan untuk mendapatkan uang secara tak langsung. Kasus yang pernah saya simak di medsos adalah menggunakan foto destinasi-destinasi wisata yang bukan miliknya untuk membuat promo agen perjalanan wisata atau open trip. Dalam pelaksanaannya ada banyak masalah, antara lain penyelenggara belum pernah pergi ke sana, peserta ditelantarkan di tempat tujuan, bahkan ada yang gagal berangkat tapi uang tidak kembali.
Apakah Mengunggah Ulang Sama dengan Mencuri?
Mengunggah ulang foto orang lain sudah kerap dilakukan, bahkan oleh akun-akun besar. Dengan gampangnya mereka memotong watermark dan tidak mention pemilik foto. Jika ketahuan, mereka tinggal take down foto tersebut, bahkan tak jarang tanpa permintaan maaf kepada pemilik foto.
Sebenarnya, dari sisi etika, ini tidak dibenarkan. Karena itu, netizen yang memergoki praktik ini selalu meminta pelaku untuk menyebutkan pemilik asli dan meminta izin. Jika untuk keperluan komersial, kadang akan ada somasi atau tuntutan hukum lainnya.
Dampaknya bagi Kreator Asli
Tak jarang, unggahan pencuri foto justru lebih banyak mendapatkan engagement dari unggahan pemilik asli, bahkan hingga viral. Ini jelas membuat para pemilik foto frustasi.
Berikut ini adalah beberapa dampak yang akan dialami kreator asli ketika fotonya diunggah orang lain tanpa izin:
• Kehilangan kredit atas foto yang digunakan tanpa izin.
• Kehilangan peluang pendapatan dari pemanfaatan foto tersebut.
• Potensi penyebaran informasi yang menyesatkan dari foto tersebut.
Screenshot Tidak Mengubah Kepemilikan
Biasanya screenshoot dilakukan karena foto yang diunggah di internet diproteksi sehingga tidak bisa diunduh. Kualitasnya mungkin menurun sehingga lebih banyak digunakan untuk platform yang tidak membutuhkan resolusi tinggi.
Yang jelas, tindakan tersebut tidak mengubah kepemilikan karena hanya merupakan foto orang lain yang di-copy paste.
H2 - Bagaimana Cara Menghindari Menjadi Korban Pencurian Foto?
Ada beberapa cara yang bisa dicoba agar tidak menjadi korban pencurian foto. Meski pelaku akan selalu mencari jalan untuk mencuri foto daripada menggunakan kreativitasnya untuk membuat foto sendiri, tapi tindakan pencegahan patut dilakukan.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk melindungi foto kita di dunia maya:
• Tambahkan watermark di atas foto.
• Simpan file asli sebagai bukti jika ada sengketa.
• Simpan metadata sebagai bukti autentik.
• Gunakan reverse image search.
• Laporkan akun yang mencuri di platform tempat foto itu diunggah.
H2 - Refleksi Pribadi
Saat pertama kali menulis artikel ini, saya mengira masalahnya hanya terjadi di toko online. Kini pola yang sama muncul di media sosial dengan skala yang lebih besar. Jika ketahuan, biasanya pelaku hanya diminta untuk take down dan minta maaf. Padahal itu sama halnya dengan mencuri. Kerugiannya memang tidak selalu terlihat seperti kehilangan barang fisik, tetapi kreator bisa kehilangan kredit, peluang kerja, bahkan potensi pendapatan.
Saya sendiri pernah kehilangan kredit atas foto gudeg yang unggah di blog saya. Meski tidak berdampak ekonomi tapi benar-benar membuat kesal karena teman-teman saya tidak ada yang percaya bahwa foto itu adalah milik saya, bahkan ketika saya tunjukkan artikel blog yang menggunakan foto tersebut. Malah mereka mengira saya yang mencomot dari internet.
Padahal jika membutuhkan foto yang tidak dimiliki, kita bisa mengambil foto gratis di website CC0 (Common Creative Zero), seperti www.pexels.com, www.unsplash.com dan sebagainya. Banyak foto berkualitas tinggi di sana karena juga digunakan pada fotografer profesional untuk memperomosikan hasil karyanya. Selain itu masih ada elemen ilustrasi foto di Canva dan aplikasi edit lainnya. Namun kita tetap saja tidak boleh mengakuinya sebagai hasil jepretan kita sendiri.
Tidak punya foto yang tepat bukan halangan untuk membuat konten. Konten kreator harus berpegang teguh pada batas etika dan kepemilikan yang sah agar kelak tidak mendapatkan masalah.
FAQ Seputar Pencurian Foto di Internet
Apakah screenshot foto orang lain termasuk pelanggaran hak cipta?
Screenshot tidak mengubah kepemilikan sebuah foto. Jika foto tersebut merupakan karya orang lain, mengambil screenshot lalu mengunggahnya kembali tanpa izin tetap dapat menimbulkan masalah etika maupun hak cipta.
Apakah boleh mengunggah ulang foto orang lain jika mencantumkan sumber?
Mencantumkan sumber memang lebih baik daripada mengaku sebagai pemilik foto. Namun, dalam banyak kasus, pemilik foto tetap berhak menentukan apakah karyanya boleh digunakan atau tidak. Karena itu, meminta izin tetap merupakan langkah yang paling aman.
Apa perbedaan repost dan mengaku sebagai pemilik foto?
Repost biasanya dilakukan dengan menyebutkan sumber asli atau menggunakan fitur bawaan platform. Sementara itu, mengaku sebagai pemilik foto berarti membuat orang lain percaya bahwa foto tersebut adalah hasil karya sendiri, padahal sebenarnya berasal dari orang lain.
Mengapa banyak akun mencuri foto untuk media sosial?
Motivasinya beragam. Ada yang ingin mendapatkan pengakuan, ada yang ingin meningkatkan engagement demi monetisasi, dan ada pula yang menggunakannya untuk mendukung promosi atau penjualan yang menyesatkan.
Bagaimana cara mengetahui apakah foto saya digunakan tanpa izin?
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan fitur pencarian gambar terbalik (reverse image search). Dengan fitur ini, kita dapat menemukan situs atau akun lain yang menggunakan foto yang sama.
Apakah watermark bisa mencegah pencurian foto?
Watermark tidak dapat menghentikan semua bentuk pencurian foto. Namun, watermark dapat membantu menunjukkan kepemilikan karya dan menyulitkan pihak lain yang ingin mengaku sebagai pemilik asli.
Bagaimana jika saya tidak memiliki foto sendiri untuk membuat konten?
Saat ini tersedia banyak sumber foto legal yang dapat digunakan sesuai ketentuan lisensinya, misalnya dari Pexels, Unsplash, atau layanan penyedia gambar lainnya. Yang terpenting, jangan mengaku bahwa foto tersebut merupakan hasil karya sendiri jika memang bukan.
Apakah foto yang sudah beredar di internet bebas digunakan siapa saja?
Tidak. Fakta bahwa sebuah foto mudah ditemukan di internet tidak otomatis membuat foto tersebut bebas digunakan. Setiap foto tetap memiliki pemilik dan ketentuan penggunaan yang perlu dihormati.
Post a Comment for "Mengapa Orang Masih Mencuri Foto di Internet? Dari Screenshot Produk hingga Engagement Farming"
Post a Comment
Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.