Tuesday, July 31, 2012

Delivery Udara Vs Darat

Ketika kita memilih membayar lebih banyak, yang kita harapkan adalah service yang lebih baik. Ternyata tidak selalu begitu. Pengalaman usaha saya ini bisa menjadi pelajaran.

Ada dua macam keinginan pelanggan terkait dengan delivery, yaitu pelanggan yang mengutamakan rate semurah mungkin dan yang mengutamakan sampai di alamat secepat mungkin. Dalam logika kita, karena kita memilih service yang lebih baik, yaitu secepat mungkin sampai alamat, maka kita mengharapkan service prioritas dan sanggup menanggung biayanya. Entah karena ini mendekati Lebaran, dimana delivery atau kurir, kebanjiran barang, atau memang seperti itulah prakteknya, ternyata baik melalui udara ataupun darat menanggung resiko yang sama besar.

Selama ini kami banyak menggunakan delivery melalui jalan darat dan telah berlangganan kurir yang sebelumnya tidak pernah mengecewakan. Menjelang bazaar Lebaran, ketika saya memasok stok lebih banyak dari biasanya, kurir tersebut mendapat masalah. Truk mengalami patah asa di Jambi, propinsi tetangga Riau, tujuan dari pengiriman tersebut. Dengan jarak yang sudah dekat, pikiran awam kita mengatakan aka nada mobil lain yang menjemput barang-barang tersebut. Ternyata tidak demikian.

Keputusan atas masalah tersebut berada di pusat, Jakarta. Solusi baru keluar satu setengah minggu setelah kejadian, yang berarti jarak tempuh 5 hari menjadi 2 ½ minggu. Bagi wirausahawan, semakin lama waktu yang diperlukan, semakin lama pula modal berputar. Selain itu, laporan klaim atas barang tersebut juga rumit, karena harus diajukan ke cabang pengirim. Ini berarti harus keluar uang lagi untuk bolak-balik telpon interlokat untuk konfirmasi (terjemahan: marah-marah).

Belum lagi jika macet dijalan atau di pelabuhan penyeberangan seperti Merak, kita samasekali tidak bisa menyalahkan kurir, meski itu menjadi tanggung jawabnya untuk mengantarkan barang tepat waktu. Sebenarnya tidak ada istilah tepat waktu dalam dunia kurir darat. Pihak operator selalu mengatakan “2-4 hari atau 5 hari lebih”, tidak pernah menyebutkan dengan tepat waktu tempuh mereka.

Umumnya kita mengharapkan lebih dari delivery via udara. Naik pesawat gitu loh! Bayarnya lebih banyak, sampai lebih cepat. Tapi apa yang terjadi? Pesanan pelanggan saya di Kalimantan rusak berat. Pihak kurir menolak bertanggung jawab karena kerusakaan terjadi ketika berada di bandara yang bukan wilayah kewenangan mereka. Jadi tidak ada yang bisa disalahkan. Entah apa yang terjadi dengan asuransi.

Tidak seperti angkutan darat, yang begitu masuk truk, nongkrong saja disitu sampai tujuan, angkutan udara mengalami beberapa kali bongkar muat. Yang jelas dari kurir ke bandara, lalu load ke cargo pesawat, kemudian un-load di bandara tujuan dan load ke kurir jika door to door. Jika tidak ada pesawat langsung, kemungkinan dilakukan hal sama sekali lagi. Pihak kurir door to door mengklaim ketika load dan un-load di cargo pesawat itulah, paket-paket yang tidak dipalet dilempar-lempar begitu saja. Sayangnya, kita tidak bisa membuktikan itu dan tidak bisa mengklaim pada siapapun juga.

Jadi apapun pilihan delivery kita, ada resiko besarnya dan kami telah mengalami keduanya dalam waktu yang hampir bersamaan. Karena itu, perencanaan barang-barang mana saja yang lebih baik menggunakan angkutan udara dan mana yang lebih baik menggunakan angkutan darat, tidak bisa dikesampingkan. Hal itu terkait erat dengan waktu yang kita punyai dan bentuk packaging yang harus dipersiapkan.

Tugas wirausahawan tidak hanya memikirkan bagaimana menyelesaikan pesanan tepat waktu saja. Karena jika terjadi kerusakan, meski sudah diluar wilayah kerja kita, tetap menjadi tanggung jawab kita. Karena wirausahawan yang baik adalah yang bertanggung jawab sampai pesanan tiba di alamat tujuan.

No comments:

Post a Comment

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.