Saturday, September 22, 2012

Digital Printing Sang Juara

Tujuh tahun lalu ketika saya membuat papan nama badan usaha pertama saya, perlu sekitar seminggu untuk menyelesaikannya. Saya harus datang ke tempat membuat sablon, menerangkan huruf yang saya inginkan, memilih warna cat dan menunjuk tiang untuk memasangnya. Harganya cukup mahal, seingat saya sekitar Rp 150.000 di jaman itu.

Teknologi mengubah urusan seperti yang saya alami itu menjadi mudah dan murah. Yang perlu dilakukan hanya mendesign sendiri atau didesignkan di computer dan dengan Rp 25.000/meter kita sudah bisa mendapatkan tulisan dan gambar usaha kita full color. Dengan bahan yang tahan air, kita bisa memasangnya dimana saja. Dengan sedikit tambahan, kita juga bisa mendapatkan semacam tripod untuk membentangkan tulisan tersebut dimana saja kita bergerak.

Pada mulanya digital printing menggila dimasa-masa kampanye untuk mempromosikan nama dan wajah caleg agar terpatri di ingatan pemilihnya. Kemudian menjadi permanen untuk menunjukkan eksistensi pejabat setempat dengan ukuran raksasa. Dari mulanya wajah pemimpin daerah lalu berkembang dan tersebarlah wajah-wajah masing-masing kepala kantor, berikut istri. Wajah-wajah dalam ukuran bertebaran dipenjuru kota.

Pada PON XVIII Riau yang barusaja usai, digital printing menampakkan dominasinya untuk menyemarakkan suasana sekaligus membantu menuntaskan beberapa persoalan tuan rumah. Atlit-atlit yang berlaga di Dumai sempat mengeluhkan ketidakseriusan panitia setempat dibandingkan yang ada di Bengkalis karena ketiadaan spanduk dan umbul-umbul. Ya, digital printing yang dipasang sebagai spaduk dan umbul-umbul berperan besar mengubah suasana menjadi semarak sehingga meningkatkan semangat para atlit.

Untuk memompa semangat para atlit, tuan rumah menyambut kedatangan mereka dengan mewajibkan pemasangan spanduk ditiap kantor pemerintah, kantor swsta dan tempat-tempat usaha. Meski ada sedikit perbedaan karena untuk kantor-kantor disertai foto diri kepala kantornya. Entah karena instruksinya demikian atau wabah narsis sedang melanda. Selain itui juga terpampang spanduk pesanan gubernur mereka sendiri. Terlihat spanduk gubernur Jawa Timur dimana-mana karena mereka sangat berambisi mempertahankan gelar juara umum. Disusul spanduk dari Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta dan masih banyak lagi.

Digital printing juga membantu panitia PON XVIII Riau menyebarkan informasi lomba dan menyelesaikan berbagai masalah kecil, antara lain untuk menutupi lahan-lahan kosong atau bangunan terbengkalai sepanjang jalan menuju venue agar tampak kemas, rapi dan bersih.

Dari yang tampak sepanjang jalan sudah bisa dibayangkan betapa kebutuhan akan digital printing seolah meledak. Bahkan beberapa sponsor baru memasang spanduknya dua hari menjelang penutupan PON. Itu menandakan para penyedia layanan digital printing kewalahan menerima pesanan sehingga banyak yang tidak bisa diselesaikan tepat waktu.

Bagaimana setelah PON? Tentu order menurun tapi kebutuhan akan digital printing akan terus tinggi mengingat mudahnya diaplikasikan ke berbagai media untuk gift atau promosi. Menarik ya bisnis ini? Saya kira sudah ada beberapa franchise digital printing yang bisa anda search di internet jika tertarik. Seperti bisnis lain, jika anda berminat, anda harus menunjukkan kreatifitas, entah dalam hal design atau pemasaran. Misalnya design by order atau print by order yang lebih fleksible jumlah, media, waktu, dan harga.

Bagaimana? Tertarik? Jika iya, belajarlah pada yang tahu. Saya tidak tahu. Heheee….

2 comments:

  1. Kalo bicarain digital printing, jadi ngebayangin kota Pekanbaru bagai Facebook penuh dengan kenarsisan pejabat hihihi...

    Yang pasti, PON ini memang memberi berkah utk usaha-usaha kecil ya mbak...

    ReplyDelete
  2. boleh juga tuh ide usahanya mbak

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.