Sunday, September 16, 2012

Terlalu Tua Untuk Ngeblog

Dasar dari artikel ini sangat emosional, perasaan tidak terima, jadi maaf sebelumnya jika tidak serunut artikel lainnya. Ada dua event lomba blog berturut-turut yang membuat beberapa orang di komunitas kami  Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) kecewa lantaran ada batasan umur, padahal anggota KEB banyak yang sudah nenek-nenek meski dijamin sangat kreatif.

Blog adalah media yang paling pas buat saya, karena curhatannya maksimal,
pertemanannya hangat tapi tidak usil dengan kehidupan pribadi, dan banyak peluang untuk berkreasi. Yang lebih menarik lagi karena kreasi di blog juga berpeluang menghasilkan sesuatu, baik penghasilan maupun hadiah lomba. Karena sifatnya yang bebas itu, ngeblog bisa dilakukan siapa saja, tanpa memandang suku, agama, latar belakang pendidikan dan semestinya juga usia. Bahkan kita bisa saja terus menulis tanpa ada keinginan untuk dikenal identitas kita. Ketika ada kabar pemerintah akan mewajibkan identitas jelas terhadap kepemilikan sebuah website, para blogger adalah yang paling lantang menolak.

Blogger baik yang soliter, terlebih yang tegabung dalam komunitas, telah menjadi kekuatan promosi baru. Review mereka terhadap suatu produk akan mampu mengangkat pamor produk tersebut dalam mesin pencari, terlebih jika dilakukan bersamaan oleh puluhan bahkan ratusan blog dalam waktu bersamaan dengan mengadakan lomba blog. Tapi ternyata itu tidak cukup.

Penyelenggara atau pemilik produk belakangan ingin lebih dengan memastikan bahwa peserta lomba blog yang mereka adakan juga memenuhi kriteria pangsa pasar mereka. Lantaran internet banyak digunakan di usia muda hingga menengah, maka hanya blogger di usia itulah yang diperbolehkan ikut. Selain membuat pamor produk mereka naik, juga untuk memastikan bahwa pemenang nantinya ada di pangsa pasar mereka, sehingga selain menaikkan pamor juga menjadi media iklan gratis setelahnya dan jika perlu juga menjadi konsumennya sendiri.

Kriteria adalah hak pemberi hadiah. Terserah mereka mau memberikan pada siapa yang mereka pandang akan kembali menguntungkan mereka. Blogger tidak bisa menampik segmentasi seperti itu. Dunia semakin tergulung kapitalisme, terlebih internet sebagai media sebaran informasi utama masa depan. Ngeblog bukan lagi soal hobi, curhat atau wadah idealisme, tapi semakin mengerucut ke soal pasar dan uang. Ibu-ibu yang dulunya sangat senang mendapatkan wadah berkreasi tanpa mengingat umur di blog seperti halnya bekerja di kantor, kembali harus menerima diskriminasi dalam berkarya.

Ibu-ibu termasuk golongan yang terakhir mengenal blog dan ini tidak ada hubungannya dengan tingkat pendidikan. Ibu-ibu yang saya kenal baru mengerti tentang ngeblog setelah berusia matang karena di masa muda sibuk bekerja atau mengurus keluarga baru mereka. Setelah anak-anak besar atau posisi di pekerjaan mantap, baru mereka punya waktu untuk ngeblog. Ketika mereka sudah mulai menguasai blog, ternyata sudah terlambat untuk mengikuti beberapa lomba.

Jadi jika sekarang ada yang bilang ngeblog adalah kemerdekaan, itu tidak sepenuhnya benar. Blogger juga korban produk, korban komersialisasi, tidak diakui sebagai profesi, tapi banyak yang mencari eksistensi dan nafkah disini, serta tentu saja tidak lepas dari para opportunist.

6 comments:

  1. iya di KEB ada eyang2 juga loh masa gak boleh ikutan lomba ya :) seperti bunda yati tuh padahal kan semangat ngeblognya besar ya mbak

    ReplyDelete
  2. I'm not alone ^_^...rupanya ga sedikit yang kecewa dengan urusan batasan usia ini yg diterapkan di beberapa even lomba blog. Namun hal ini ga bisa dihindari karena sekarang apalagi jika lomba diselenggarakan oleh pengusaha yang sudah mulai sadar betapa mumpuninya efek dari socmed termasuk blog sebagai alat promosi.

    ReplyDelete
  3. semangat mak.. jangan kalah sama diskriminasi..

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.