Monday, April 08, 2013

Personal Touch

Ketika menulis Let's Move On with Our Career Choice saya teringat teman yang lama tidak saya sapa. Namanya mbak Eni. Dia adalah ibu rumah tangga dengan lima anak yang saya ceritakan di artikel tersebut. Sulit melupakan ibu yang satu itu, karena ada sesuatu didirinya yang tidak ada di orang lain, yaitu personal touch. Dia selalu menyematkan sentuhan pribadi pada setiap hal yang dilakukannya, seolah meletakkan hatinya disana. Saya selalu membatin, "Kok ya sempat sih?"


Seperti kebanyakan orang, saya selalu memandang yang penting-penting saja, yang pokok, yang utama. Tapi mbak Eni tidak! Dia selalu memberi tambahan, aksesoris, apapun itu yang meletakkan dirinya disamping hal utama itu, yang membuat kita tak mungkin melupakannya. Misalnya, mengirim takjil ke tetangga. Kalau saya, mengirim semangkok kolak saja sudah cukup. Inti takjil kan makanan pembatal puasa. Tapi mbak Eni tidak demikian. Di samping mangkok itu akan diletakkannya gulungan kertas yang diikat pita. Begitu dibuka isinya bisa puisi, kisah atau hikmah yang menyejukkan hati. Ketika sesendok kolak masuk ke mulut, rasanya bukan hanya perut kita yang senang tapi hati kita juga tentram. Mungkin mbak Eni begitu pada semua orang karena pada dasarnya orangnya memang baik dan sederhana, tapi rasanya kita pun merasa sangat diistimewakan.


Pernah enggak, dalam kehidupan sosial kita merasa hambar saja, melakukan yang wajib-wajib saja dan sudah? Padahal kita merasa, kita bukanlah orang yang seperti itu. Kita merasa, kita adalah orang yang care, suka pernak pernik, suka hal-hal kecil dan sejenisnya. Namun kita juga merasa, "Ah tidak usah berlebihan deh. Sudah menghabiskan waktu, bisa dibilang lebay, dan belum tentu orang tersebut menghargai. Enggak ada untungnya."


Personal touch sebenarnya adalah usaha memuaskan diri karena kita berusaha mengeluarkan karakter kita. Jika orang lain senang, itu adalah bonus yang sangat besar. Apalagi jika sampai tak bisa melupakan kita. Itu adalah sumber pahala, tabungan surga karena orang tersebut akan tersenyum tiap mengingat kita. Tak banyak yang mau membuat orang lain merasa istimewa tanpa embel-embel apapun, misalnya sambil menawarkan dagangan. Karena itu, meski sederhana, sesuatu yang personal akan membuat orang yang bersangkutan merasa sangat istimewa.


Ketika saya sudah merasa memenuhi kewajiban saya secara sosial, ketika saya merasa "untuk apa saya berlebihan sedangkan orang lain biasa-biasa saja", ketika saya berpikir hanya mengistimewakan orang-orang yang mengistimewakan saya, mungkin saya harus mengingat kembali personal touch yang selalu dilakukan mbak Eni, sesibuk apapun dia. Lima anak tanpa pembantu, bow! Jika tak bersambut, tak apa, toh saya mendapatkan keasyikan dalam diri saya. :D



2 comments:

  1. Salut banget sama mbak Eni, pasti orangnya detail banget yah mbak? Dan gak kebayang gimana mengasuh 5 anak tanpa asisten :)

    ReplyDelete
  2. Wah, andai banyak orang yang sempat memikirkan personal touch spt ini ya, Mba, tentu kehidupan akan terasa jauh lebih indah, dan damai. Yuk, mulai dari diri sendiri. :)
    Trims for share, Mba. Titip salam donk untuk Mba Eni-nya.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.