Thursday, June 06, 2013

Mangkunegaran Performing Art 2013: Klasik Tapi Kok Gratis?

Karena masa kecil saya dipenuhi dengan kegiatan menari tarian Jawa, maka Mangkunegaran Performing Art (MPA) seperti hadiah dari panitia ASEAN Blogger 2013 Solo yang tak terkira berharganya bagi saya. Saya dulu rajin berlatih seminggu sekali di sanggar-sanggar tari di Madiun dan Pekalongan. Saya juga pentas di beberapa tempat, baik atas nama sekolah maupun sanggar. Saya bahkan pernah tampil didepan Gubernur Jawa Tengah saat itu, Ismail. Sayang, semua harus terhenti karena sanggar tutup, sementara saya tidak dapat menemukan sanggar pengganti.  Ketika saya menyaksikan MPA, saya langsung paham, itu adalah buah kerja keras selama bertahun-tahun, tidak bisa instan. Apa yang saya lakukan dulu, tidak ada apa-apanya dibandingkan ini. Ini perlu dedikasi yang hanya dimengerti oleh para pecinta tari.

Mangkunegaran Performing Art dipersembahkan oleh Sanggar Tari Soeryo Soemirat yang didirikan tahun 1982 oleh Pengageng Reksa Budaya Mangkunegaran, almarhum GPH Herwasto Kusumo. Meski mulanya untuk dewasa, tapi pada tahun 1992, sanggar ini mulai menerima murid anak-anak.

Proses penguasaan tari Jawa itu berlangsung sangat lama, harus diulang-ulang, diperhalus hingga mencapai gerakan yang benar. Seorang penari cilik untuk menguasi satu gerakan saja, misalnya mengibaskan selendang (seblak) sampai benar, harus mengulangnya hingga beratus-ratus kali. Belum lagi latihan kuda-kuda (mendak), menahan nafas untuk mempertahankan posisi badan dan sebagainya. Setelah gerakan benar, belum tentu dianggap menguasai karena harus dilanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu penghayatan. Penari Jawa klasik memang selalu berwajah datar, tapi dihadapan penari yang baik, emosi kita bisa terbawa oleh setiap tarikan gerakannya yang penuh penghayatan.

MPA 2013 yang hanya digelar setahun sekali selama dua hari, sudah terintegrasi dengan calender of event tahunan milik pemerintah Surakarta. Ini wajib menjadi contoh bagi pemerintah daerah lain karena semua event yang ada bukan sekedar foto artistik yang menakjubkan didalam katalog, tapi benar-benar diselenggarakan dengan persiapan matang. Promosi juga gencar dilakukan oleh berbagai situs jasa perjalanan seperti PegiPegi.com. Untuk penyelenggaraan tahun ini diadakan tanggal 10-11 Mei 2013 bersamaan dengan ASEAN Blogger 2013. Sebuah pengaturan yang profesional, membuktikan bahwa seluruh komponen dan pemerintah Surakarta bisa bekerjasama, membuahkan event yang tidak alakadarnya.

Meski oleh panitia sudah diwanti-wanti agar tidak telat sampai di Pendopo Pura Mangkunegaran, tapi bus penjemput peserta yang menginap di Hotel Sahid Jaya tidak juga muncul. Karena saya sudah tak sabar, akhirnya saya mengajak seorang teman untuk naik becak saja. Melihat pendopo yang dihiasi lampu-lampu kristal indah dan alunan gending, saya bergegas mencari tempat yang enak untuk menonton. Sayang semua kursi telah terisi, jadilah saya berdiri, tapi lumayan masih bisa melihat pendopo dengan jelas.

Mangkunegaran Performing Art segera dibuka. Kerabat Pura Mangkunegran, KRMH Jatmika Hamijaya Purnomo terlebih dulu mengajak pengunjung mendoakan almarhum GPH Herwasto Kusumo sebelum membuka event. Hadir pula wakil walikota Achmad Purnomo dan kerabat Markunegaran lainnya sebagai wakil para penari, yang juga kita kenal sebagai artis, Paundra. Saya kagum dengan kerjasama dan keseriusan pemerintah Surakarta serta Pura Mangkunegaran.


Jika di acara lain saya pernah bilang, dibayar pun saya ogah nontonnya, maka di MPA ini saya mengatakan, disuruh bayar pun saya akan antri nonton. Benar, MPA ini gratis, tis. Paling hanya harus membayar parkir bagi yang membawa kendaraan. Siapapun boleh masuk dan bebas mau nonton dari sebelah mana. Mau sambil berdiri dan selonjoran juga tak masalah. Asal jangan tiba-tiba nyelonong ke depan memotret dan menghalangi penonton dibelakangnya, bisa kena damprat orang banyak seperti teman saya.

Selain itu, disediakan pula layar lebar yang bisa dilihat dari dua sisi bagi masyarakat yang enggan berdesakan. Di salah satu sesi ASEAN Blogger 2013, ada yang bertanya darimana pembiayaan MPA termasuk masa latihannya jika tidak memungut tiket? Waktu itu dijawab sebagai hasil kerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta. Bahkan banyak penari yang pegawai negeri. Tapi kemudian saya ketahui pula bahwa sanggar Soeryo Soemirat juga sering diminta untuk pentas di berbagai acara di dalam dan luar negeri, yang tentunya mendapat berbagai kompensasi.

Mangkunegaran Performing Art 2013 dimulai! Saya deg-degan.

Tari Golek Sukoreno

Tari Golek Sukoreno ditarikan oleh sembilan putri cantik yang menggambarkan gadis-gadis yang sedang berdandan. Tari yang oleh naratornya digambarkan sebagai suasana ceria para putri menikmati masa mudanya, menonjolkan sisi feminin dari para putri. Meski ceria, para putri tetap menunduk, tidak memandang langsung ke penonton, karena pada penciptaannya, tari golek memang ditujukan untuk persembahan dihadapan raja dan dulunya hanya boleh ditarikan oleh keluarga keraton. Di hadapan raja, para putri tidak boleh memandang langsung.

Tari Kupu-kupu



Tari kupu-kupu seperti judulnya, menampilkan kisah kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari. Jumlah penarinya sekitar 11-12 anak-anak dan remaja. Saya susah menghitungnya karena formasi mereka terus menerus berubah. Tarian ini memang sangat dinamis, lucu dan menyenangkan dengan kostum warna-warna ceria. Sayang, anak-anak saya tidak bisa ikut menyaksikan. Mereka pasti senang bukan main. Sepanjang tarian ini saya ikut bernyanyi, mengikuti tembang Kupu-kupu yang nyaris saya lupakan. Saking asyiknya saya menyaksikan MPA ini, saya pun ditinggal teman-teman saya. :)

Tari Sobrak

Tari Sobrak langsung menggebrak sejak dimulai. Ditarikan oleh sepuluh anak laki-laki, tarian dinamis ini langsung mengundang tepuk tangan meriah dan antusiame penonton. Tari Sobrak adalah karya terakhir almarhum GPH Herwasto Kusumo, yang merupakan perpaduan tari Soreng, Bareng dan Ndolalak. Tari Ndolalak berasal dari Pekalongan, sehingga ini merupakan perpaduan antara dinamika Jawa pedalaman dan pesisir.
Opera Timun Emas


Opera Timun Emas ini kemungkinan untuk menjembatani antara seni tari klasik dan pertunjukan modern. Opera ini berkisah tentang usaha melarikan diri seorang anak yang hendak disantap oleh raksasa jahat, sesuai dengan perjanjian ibu Timun Emas dengan raksasa ketika menginginkan anak dulu. Berbagai cara dilakukan Timun Emas untuk melarikan diri sambil berusaha melawan raksasa. Adegan-adegan tariannya sangat seru melibatkan penari dalam jumlah banyak. Seperti layaknya sebuah opera, mereka tidak hanya menari, tapi juga nembang. Suara mereka bagus-bagus, kecuali suara si raksasa.

Puas sekali menonton MPA 2013. Saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Beruntung sekali saya bisa menyaksikan pagelaran yang hanya diadakan setahun sekali selama dua hari ini. Penonton beranjak pulang. Saya menoleh kekanan dan kekiri. Tak seorang pun teman saya yang kelihatan. Tak apa. Saya sangat senang. Saya lalu memanggil tukang becak dan memintanya mengantar saya ke nasi liwet Bu Wongso Lemu. Disepanjang jalan yang gelap dan sepi, saya masih menggumamkan tembang itu.

Kupu kuwi, tak encupe

Mung mabure ngewuhake

Ngalor ngidul, ngetan bali ngulon

Mrana-mrene, mung sak paran-paran

Mbokya mencok tak encupe

Mentas menclok clegrok

Banjur mabur kleper

4 comments:

  1. Duh, jadi inget jaman sd dulu. saya juga suka menari, ada tari golek, tari bondan, tari merak. pernah mewakili sekolah untuk lomba tari dan dapat juara dua. kenangan manis masa sd.
    Memangbenar tari jawa klasik itu sulit mba. gerakankan harus berayun haluuuuuus gitu.

    ReplyDelete
  2. Mak aku kbagian nonton, mau motret aja ga bisa, penuh banget, datengnya telaat, cuma motret2 dikiit..
    dari pada desek2an ya udah kita pada narsis di lapangan :p

    ReplyDelete
  3. kadang yang suka bikin sy iri sama daerah2, tuh, cari sanggar tari daerah kayakya masih banyak. Sy dulu sampe muter-muter cari kursus tari daerah untuk anak saya. Sayang semuanya jauh bgt dr rumah. Pdhl sy pengen bgt anak sy bisa tari daerah. Sayang lokasinya terlalu jauh semua :(

    ReplyDelete
  4. teryata mbak Lusy pinter menari ya

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.