Friday, June 28, 2013

Sry Anggana: The Brave World Traveler Mom

Pertama kali saya mengenal mbak Sry Anggana adalah di sebuah komunitas menulis. Saya sendiri tidak aktif di komunitas tersebut dan hanya menyimak beberapa anggota yang saya anggap menarik, termasuk mbak Sry ini. Kemudian kami bertemu lagi di KEB, tapi gantian beliau yang kurang aktif karena sibuk dengan kegiatannya di banyak tempat. Yang menonjol dalam dirinya adalah keberaniannya. Saya sering terpana dengan tweetnya yang blak-blakan, dan lebih terperangah lagi membaca blognya www.bidadariazzam.blogspot.com yang tak mengenal takut, sesuai dengan nalurinya sebagai seorang jurnalis. Ibu dua putra yang sekarang bersama-sama keluarga berkeliling dunia ini, tak surut pula menyuarakan dakwah dimanapun berada. Yuk, kita mengenal perempuan pemberani dan inspiratif ini lebih dekat lagi.

Lusi: Assalamu’alaikum. Semoga dalam keadaan sehat dan bahagia ya, mbak. Aamiin. Mbak tinggal berpindah-pindah di luar negeri. Diluar keharusan untuk pindah, di kota mana mbak paling betah tinggal?

Sry: Wa'alaykumussalaamwarohmatullohi wabarokatuh...
Maaf yah dear, baru dibalas, semingguan ini tepar-flu berat. Alhamdulillah skrg baikan, kata-katanya saya singkat yah dlm menuliskan jawaban, semoga bisa dipahami, :-).
Saya sepaket dengan suami dan anak-anak. Kota yg paling asyik dan paling betah adalah Lausanne (Swiss) dan Kuala Lumpur.
Bahagia di 'home-country', namun sebatas bahagia ketemu kangen dan mesra dgn keluarga& teman-teman. Ada suasana hati yang kurang betah jika berdiam diri di tanah kelahiran sendiri.

Lusi: Pernahkah mbak merasa insecure diluar negeri, karena mbak disana kan untuk menetap bukan untuk jalan-jalan?
Sry: Selama ini, (di tempat-tempat yg memang suami bertugas disana) merasa betah saja, percaya diri karena status tinggal disana adalah sah alias legal. Sebelum pindah ke suatu negara, suami rajin baca-baca peraturan2 negara tsb, UU pajaknya, dll. Jadi apabila ada info 'warning' datang kesana, yah kami tolak. Contohnya kami pernah ditanya kesiapan untuk projek di Jamaica dan Afrika (lagi, setelah suami 3 stgh bulan di South Africa). Di tempat tersebut, banyak rampok, dan penculikan anak-anak, serta ada peringatan ketat buat pendatang asing, jadi kami putuskan untuk tidak menerima tawaran tsb.

Lusi: Kalau membaca tulisan dan tweet mbak, kesannya mbak itu orangnya sangat tough. Jadi penasaran dengan pembentukan karakter mbak.

Sry: Maksudnya...? Coba tanyakan pada orang tua saya, hehehe... orang tua, kakak-kakak, bapak-ibu guru dan teman-teman sekolah merupakan orang-orang yang 'tau banget' tentang saya. Dulu zamannya friendster, testimoni2 kakak kelas sy menyebutkan kalau saya, “sgt pemberani...” gara2 sy 'blak-blakan' kalau menyatakan saran dan kritik, meskipun trhdap senior atau pun guru.

Lusi: Mbak juga sangat intens dengan dakwah dalam berbagai kesempatan. Bukankah tidak mudah menyampaikan akidah di socmed, terutama karena orang bisa dengan mudah mendebat keyakinan kita tanpa peduli jawabannya?
Sry: Yang berdebat, tidak saya ladeni. Yang bertanya, saya jawab, saya sampaikan apa yg sy pahami. Dulu ada dua forum internasional (zaman saya ikutan 'main debat2an, 8 atau 10 thn yg lalu, satunya forum di negeri jiran, satu lagi Yahoo answer Indonesia) saya jd top ten, termasuk di kategori 'Agama' dengan nama samaran. Sepanjang perdebatan sengit yg bertambah parah, (meskipun saya tidak ladeni) namun karena teman2 cs-an di forum-forum tsb 'ketahuan' kaum yg mendebat, biasanya seluruh CS-an kena getahnya. Akun kita yg bagian top ten kena serang, dilaporkan spam-lah, dsb... Sampai2 pernah ada peringatan dari pengelola puluhan kali gara2 pihak anti islam yg membenci bagian “cs-an saya” tadi. Kemudian perlahan tambah yakin bahwa “buang-buang waktu banget meladeni perdebatan”, trus sy lapor diri ke pengelola forum (karena puncaknya bermunculan kloningan akun –yg pakai nama dn foto sy, trus berkata2 kotor...). Saya laporkan resmi beserta bukti data diri supaya kloningan2 itu dihapus, bersih. Jadi penyamaran pun terbuka di hadapan admin :-)
Teman yg pernah frontal mengajak ke agamanya, pernah ada beberapa. Satu kalimat saja, kita bisa beralih ke obrolan lain, “Saya tetap muslim seumur hidup.

Lusi: Pernahkah mendapatkan kesempatan berdakwah di mesjid-mesjid di luar negeri? Menurut saya, mbak bisa menjadi ustadzah yang inspiratif.
Sry: Di masjid Krakow khususnya, iya. Kami menjadwalkan diri bertemu, sharing, dan sesekali saya mengisi ceramah buat sisters. Dulu awal pertama pas pindah ke Bangkok, awal 2007 ketika ikut meramaikan geliat dakwah bersama MMIT (Masy Muslim indonesia-Thailand)~kalau pas kajian ibu-ibu, ustadzahku sedang absen, saya menggantikan tausiyahnya.
“aaamiiin” semoga do'a Mak Lusi diijabahNya, aamiin. Sy berusaha memperdalam dan terus menggali ilmuNya supaya 'gak malu2in' kalau dipanggil Ustadzah...hehehe. Suamiku di Poland dipanggil brothers dan sisters dgn sebutan “Sheikh”, once more, itu jd cambuk motivasi untuk menjd pribadi yg lebih baik lagi.... aamiin.



Mbak Sry juga bercerita: 

aq dan suami sudah ketularan sobat2 senior WNI-ekspatr yg sejak awal di bangkok, berpandangan "akhirat-oriented", investasi amal jariyah yg utama, Insya Allah.

Sebenarnya awal2 nikah, sy crta ke suami, sy ingin mendirikan sekolah, rumah yatim, atau kolaborasi keduanya. Karena tidak mampu merawat anak2 yatim di rumah sndiri, suami mengajak agar kami komitmen untuk berdonasi khusus untuk menyekolahkan bbrpa yatim dr bbrpa lembaga zakat pula.
Masa2 tua (kalau umur panjang), kami punya keinginan tinggal di desa (yah yg kayak suasana dekat danau Lausanne), hehehe. Ingin menikmati 'pensiun' tanpa punya hasrat berbisnis-laba besar scra nominal... maunya 'cukup saja', tetap bisa hidup hemat cermat dan bersahaja, tenang, mendengar kicau burung, memanaskan susu sapi murni yg segar, melihat kolam ikan bersama anak2 dan cucu2, hehehe....

Lusi: Followers mbak sangat banyak, ribuan, padahal mbak bukan tipe seleb twit atau buzzer yang sering mengadakan kuis. Bukankah itu pertanda bahwa meski tidak sering ngetwit, apa yang mbak sampaikan ditunggu orang?
Sry: Nanti kuisnya, hehehe. Dari kemarin2 mau kuis, belum sempat2, saya khawatir teknis bagi-in hadiahnya yg tersendat karena “bukan sy yg hold sendiri”, hehehe. Awalnya, twitter dibuatkan oleh tim publikasi catatan CintaNya di Krakow (CCK), brother Ilham. Para pmbaca website ybs yg memfollow. Setelah bbrpa ratus, kemudian sy infokan ke milist2 tmn2. Sekitar akhir thn lalu, sept atau november, sy pegang sndiri. Twitter itu dua kali di-hack. Pas sudah dipegang pun, kadang2 followers nmbh atau berkurang, prnh drastis berkurang gara2 suatu gerakan organisasi Islam (yg mengira sy sbg anggotanya). Ketika lumayan stabil, sy publish akun twitter di tmpt/komunitas sy aktif, yah contohnya KEB, warung blogger, IIDN, postcrossing internasional, LinkedIn, dan group2 Fb kepenulisan, sisters in islam, dsb. Ada beberapa sisters Krakow malah “membuat akun twiter” gara2 khusus buat komunikasi dgnku (yg udah pindah ini).
Kemudian, setiap ada atikel baru, saya tampilkan deh akun twiter, heheh...

Lusi: Bagaimana mbak mengatasi gegar budaya terhadap diri dan keluarga mbak, terutama anak-anak?
Sry: Anak-anak percaya penuh kpd orang tuanya. Jd sy dan suami berusaha memberikan teladan. “Starting point” kami sudah unggul, bhw kami menikah tanpa diawali dgn hal-hal yg mendekati zina. Setau anakku, cara pernikahan kami adalah islami, cara-cara 'teman setan yg menyesatkan' bukanlah cara islami. Jadi, di Eropa dia terbiasa melihat kaum remaja atau ortu, nenek kakek yg bermesraan bebas, khusus remaja 'yg belum nikah' namun bersikap bagai suami istri dan sejenisnya, anakku tutup mata, menghindari tatapan ke area itu, dia sudah tau bhw mata harus dijaga.
Kalau nanya ttg segala hal yg baru, kami selalu ajarkan dia untuk menyimak sesuai hukum-hukum syari'at. Kami berusaha mengajak anak untuk bersama meneladani rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. “Ummi dan abi bisa salah, keliru... namun rasulullah SAW berakhlak sempurna, jd kita sama2 belajar mengikuti sunnah beliau SAW...”
Misalnya secara praktek kan kalau lagi marah, kesal, bisa saja terbawa emosi kepada si kecil. (Apalagi dulu2 awal menikah... hehehe)
gegar budaya... Sy dan suami berusaha kompak dlm mendidik anak2. Kami 'gak maksa2' harus begini-begitu. Kami berusaha 'membantu mengarahkan' saja. Kami berdua pun bisa saling sabar menerima saran dan kritikan antara kami. Terutama setelah tinggal di Poland.
Menjaga kejujuran dan sikap saling percaya adalah prinsip yg kami pegang sedari masa awal berkenalan dulu.

Lusi: Apakah mbak sedang mengerjakan suatu project atau kegiatan khusus yang boleh kami ketahui?
Sry: (Lusi: mbak Sry menceritakan seabrek proyek kemanusiaan yang dijalaninya tapi keberatan jika dibuka untuk publik). Kegiatan khusus lainnya : mau merampungkan buku-buku. Ada bbrpa tema yg sudah saya buat draft2nya. Tetapi manajemen waktu masih belum bagus. Saya kecapek-an kalau begadang, pernah demam waktu 'begadang' karena bantuin ngedit karya teman. Do'ain yah supaya segera kelar, bisa makin menebar manfaat buat ummat.

Lusi: Saya pernah menyimak tweet mbak tentang kekerasan dalam rumah tangga di suatu negara Timur Tengah. Bagaimana mbak mengatasi perang batin antara ingin menolong dan keterbatasan sebagai warga negara asing?
Sry: “Agak2 kebal” setelah beberapa kali ikut menolong TKW di malaysia. Tetanggaku di malays, pernah kejadian, TKW/ maid ini disuruh masak babi oleh majikannya. Untuk hal seperti ini, kita bisa nolong di belakang layar, misalnya meminta tolong tmn malays untuk melaporkan ke jawatan urusan agama islam (yg berwenang).
Cara mengatasi 'sikon' itu : kupilih untuk optimal 'bagian mana yg bisa kita tolong', selanjutnya fokus ke urusan yg plg maslahat. Kalau menolong sembarang-sikon, kita bisa celaka---mudhorat lebih banyak, misalnya 'menampung TKW-ilegal', naudzubillah, kami tidak mau melakukannya. Misalnya bersama tmn2 'ngumpulin dana on the spot' buat byr dana pasport dan visa TKW yg tersandung masalah plus problems sakit parah, dan sejenisnya, itu prnh terjadi.
Waktu menolong teman TKW yg terkena efek mal-praktek di klinik bersalin, kita gak bisa lebih jauh melaporkan kasusnya, dia gak ada cukup bukti---dan status visanya expire pula. Jadi kita tmn2nya berusaha melunasi bea2 RS, hingga bayinya dimakamkan, dan membantu surat jalan buatnya agar segera balik ke tnh air dan punya status jelas, alhamdulillah.
Tp btw, jgn buru2 percaya pada sebuah cerita, harus dianalisa, diteliti dahulu supaya tidak ada korban fitnah. Dulu pernah ngobrol2 ramadhan-an di shelter KBRI KL, ibu koordinatornya bilang bhw ia prnh menangis dan skt hati karena 100% dibohongi oleh bbrp TKW, maklumlah namanya tempat penampungan, ada eks-TKW yg sudah stress, bersikap aneh dsb.
Di Poland juga ada TKW, hmmm... bagus dan sopan sikapnya, pernah kita bantu, kemudian setelah mengenal lebih dekat, ternyata 'doyan menjajakan diri'. Sy tetap berteman saja, menjadi pendengar kalau dia bercerita, tetapi sy juga cari tahu sendiri ttgnya. Sy jadi tau 'selingkuhan2nya' hehehe, tp itu bukan urusan sy, sy cukup kenal berteman saja.
Bnyk peristiwa yg mendewasakan diri saya, mbak... :-*

Lusi: Mbak berani sekali menulis pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan di blog, misalnya ketika mengurus medical check up sebelum ke Kuwait. Biasanya blogger masih berusaha menyamarkan. Mbak seperti jurnalis investigasi (kenyataannya beliau memang jurnalis).  :)
Sry: Yah kan liat kronologisnya. Saya tidak “menuduh” atau mencak2 yg gak jelas. Saya juga bukan 'mencari2 info' dgn sengaja buat menguntungkan pihak2 trtentu. Jadi, apa yg benar2 saya alami, itu yg tertera, fakta yg sy ceritakan.
Sebenarnya sy berani karena ditularkan oleh bnyk teman yg lebih berani, lho... :-)
Ada sobat blogger dari Belarusia (yg merupakan sister Krakow), dia blak-blakan lebih berani mengkritik lembaga di 'agama lama-nya' setelah ia masuk islam, ia berani mengkritik pimpinan2 tinggi negerinya yg meremehkan status muslimah.
Menurutku, keberanian berbanding lurus dengan percaya diri, pede ini berbanding lurus dgn iman, keteguhan iman terpancar dari tulisan, insya Allah...

Lusi: Miris sekali membaca kisah-kisah uang haram dan ketidakpedulian terhadap hak para perempuan yang justru dilakukan oleh sesama Muslim seperti yang mbak tulis di blog. Bahkan untuk masalah kecil saja seperti rontgen, perempuan harus berjuang untuk mendapatkan haknya. Saya bersyukur mbak mau menulisnya. Apakah mbak masih punya optimisme dimasa mendatang bahwa TKW, muslimah dan perempuan pada umumnya bisa lebih dihargai?
Sry: :-( iya miris sekali, dear... Tapi bisa, saya optimis bhw wanita bisa lebih dihargai jika seluruh pihak taat pada aturan yg ada. Saya sayang sama saudari lainnya, makanya harus saya 'share' supaya mengurangi 'jumlah korban' (semoga saja...). Terkait uang haram, banyak sekali orang yang “jualan ayat---justru menjual akhirat dgn nominal rupiah”. :-( “Amar makruf” terkadang berubah jadi riya' dan ujub gara2 cara-cara heboh. Dan “pertolongan” beda tipis dgn “jebakan”, itulah yg terjadi dgn urusan wanita (trmasuk TKW muslimah) tsb.
Menurut pihak2 agen, sponsor, calo2-an urusan krintilannya, mereka sudah menolong TKW untuk membuka jalan mencari nafkah. :-D Padahal secara fakta, banyak kasusnya mereka termasuk sebagai pihak2 yg bertanggung-jawab atas banyaknya perempuan Indonesia yg terjerumus dan terjerat segala permasalahan.
:-( yg terjerumus ke lembah hitam, buanyaaaaak, ribuaaaaan anak-anak dilahirkan tanpa bapak! Yg jadi stress, gila level tinggi, bahkan dipancung atau dibunuh atau hilang smpai skrg juga banyak. Jangankan di Arab, wktu sy di KL aja ada teman yg tnya, “Mau cari2 info, bibinya teman ada yg ke malays, udah15 thn nih gak ada berita....” nah lho?!
Apalagi di Arab, masya Allah. Paman sy sndiri ada yg orang Arab-tinggal di Makkah. Dia bilang, “Teman2nya panggil2 WNI 'yah rahmah...siti rahmah' dengan gaya godain, jd kalau dipanggil2 isengan begitu, jangan noleh...” hehehe.
Banyak sekali TKW yg justru bangga 'punya anak' tanpa akta kelahiran, naudzubillahiminzaliik... Tapi tak sedikit pula yg mempertahankan kemuliaan diri, bahkan berani melawan jika dilecehkan.
Ada bnyk TKW yg gembira jika (maaf) pantatnya diremas lalu disodorkan duit sekian riyal, namun banyak juga yg mawas diri dan kian hati-hati, sampai2 selalu berhijab di hadapan majikan dan ogah menerima tips dari majikan pria, misalnya.
Artinya kita sebagai wanita harus “tahu diri”, bisa “mengukur potensi”, mengintrospeksi diri terlebih dahulu, kalau kita punya iman & ilmu, maka hadir rasa 'percaya diri'. Percaya diri yang dibalut dgn prinsip tangguh dapat menjadi batu karang di tengah arus lautan fitnah dunia.
Pada prakteknya, kalau kita sudah tau bahwa suara kita dapat menerbitkan syahwat, yah jgn mendesah2 dan mendayu2 pas ngomong sm lawan jenis. Kalau tau 'harga diri' wajib dijaga, jgn diumbar aurat. :-)

Lusi: Seperti apa pandangan mbak tentang perempuan dan jati dirinya?
Sry: Kaum wanita adalah jati diri bangsa, kalau bagus akhlaknya, bagus pula bangsanya, ketika buruk akhlaknya, buruk pula bangsa tsb.
Jati diri wanita adalah pendidik, sedari awal bermukimnya 'sosok janin' di rahim wanita, kegiatan mendidik pun dimulai. Dalam didikan itu hadir kasih sayang, perhatian, rasa damai, lengkap dengan kemajuan dan pengembangan kualitas diri setiap saat.
Saya pernah nulis ttg pesan bapak dan guru-guru saya. “Wanita cantik : karena wajah dan penampilan (nafsu yg berkata), karena kecerdasan berpikir (akal yg berucap), karena kepribadian/ akhlak yg terpuji (hati yg bicara). Dan percayalah pd penilaian hati & akal. Itu pesan buat para lelaki penuja wanita :-D”
Sedangkan bapakku pernah memberi nasehat (semoga bermanfaat dan terjauh dari rasa sombong, aamiin), “Anak bapak kan cantik... kalau wanita cantik~tapi bodoh, maka dia cantiknya cuma sebentaaar banget, hidupnya penuh kerugian dan sengsara. Banyak pihak yg memanfaatkan kecantikan wanita tsb. Jadi, kalau jd wanita cantik, harus bnyk membaca, belajar yg rajin, supaya pintar. Wanita yg cerdas/pintar akan menjadi cantik selamanya....Bisa membawa diri kemana pun berada...” kira2 bgitu redaksinya.
Wanita yg paham akan jati dirinya sebagai pendidik generasi, tentu ia akan terus memotivasi diri dan lingkungannya untuk senantiasa bersemangat menggali ilmu, mencari ide solusi atas problem yg ada, menjaga kemuliaan diri agar kian optimis dalam berkarya, terutama tampak pada kemuliaan akhlak/kepribadiannya. Insya Allah.

Lusi: Terima kasih atas kesempatan yang mbak berikan. Alhamdulillah, senang sekali bisa mengenal mbak lebih dalam, karena selama ini hanya saling menyapa saja di socmed. Salam untuk keluarga. Wassalamu’alaikum.
Sry : sama2, kembali kasih, :-D syukron jazzakillah khoir atas bincang2nya, Mbak. Maaf banget sudah menanti jawabannya agak lama, ( tp btw, internetku di Kuwait memang lemot), download file nya aja, baru skrg say...afwaaaan :-*.) wa'alaykumussalamwrwb...

3 comments:

  1. iyaaa pengen ketemu emaknya jauuuu

    ReplyDelete
  2. salut sama perempuan2 penulis. Tanpa disadari aku seringnya beli novel itu karya perempuan mbak

    ReplyDelete
  3. Subhanallah.... ini emak super :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.