Monday, June 03, 2013

Tips Anti Salting Di Undangan Pernikahan

Tanda-tanda penuaan itu bisa dilihat dari jumlah undangan pernikahan yang ada. Kok bisa? Dulu biasanya hanya mendapat undangan dari teman. Undangan saudara saja jadi satu dengan orangtua, bukan atas nama kita sendiri. Setelah berkeluarga, bahkan setelah tua, undangan itu selain datang dari teman, juga dari saudara, tetangga, atasan, bawahan, tetua kampung, orangtua teman anak, guru anak, partner kerja dan lain-lain. Seringkali akhir pekan diisi dengan memboyong keluarga ke acara resepsi pernikahan.


Di tiap kota, resepsi pernikahan memiliki ciri khas masing-masing. Pengalaman pertama seringkali membuat kita salah tingkah. Selanjutkan, ya harus lebih hati-hati. Saya punya teman yang bilang begini, "Gue kan diundang. Terserah gue dong mau gimana? Mau datang aja sudah bagus, ngapain mesti ribet? Harusnya tuan rumah yang menghormati tamu."

Setiap orang boleh memiliki persepsi sendiri-sendiri terhadap sebuah undangan. Bagi saya, undangan itu sendiri sudah merupakan penghomatan pada kita, karena pengantin menganggap doa restu kita penting bagi mereka. Soal kenyamanan, percayalah, sebagus-bagusnya sebuah resepsi pernikahan pasti ada kurangnya. Tapi tak perlulah kita mempersoalkan penyelenggaraannya. Doa restu ikhlas itu termasuk juga mengikhlaskan kehadiran kita disana berikut segala kekurangannya. Jadi, sepulang dari resepsi tak usah bergunjing tentang kekurangannya, ya.

Saya punya beberapa catatan yang mungkin bisa mengurangi ketidaknyamanan kita di sebuah resepsi pernikahan:



  • Saya tidak membahas sumbangan ya. Itu semampunya dan seikhlasnya saja.

  • Pastikan lokasinya benar. Undangan sekarang mayoritas sudah mencantumkan peta, tapi tetap cek nama di undangan dan karangan bunga yang ada di lokasi. Salah pengantin, salah tanggal dan salah gedung itu pernah terjadi pada beberapa teman hahahaaa....

  • Ibu-ibu sering membuat mbak-mbak penunggu meja tamu cemberut. Sudah dikasih satu souvenir, masih minta dua lagi supaya semua anaknya kebagian. Wahai ibu, biasanya souvenir disediakan sejumlah undangan, bukan sejumlah anggota keluarga undangan. Si mbak mau bilang habis, nyatanya souvenir masih seonggok. Mau bilang enggak boleh, takut tuan rumah dibilang pelit. Mau dikasih, undangan lain tidak kebagian. Jangan membuat mereka bingung ya, Bu. Ibu yang harus tahu diri.

  • Berbusanalah yang sopan. Jika anda kenal dekat dengan pengantin dan ikut dalam perencanaan resepsi, silakan berbusana sesuka anda. Tapi jika tidak, lebih baik jangan ambil resiko kelihatan aneh sendiri. Dengan berbusana yang sopan, anda siap dengan resepsi model apapun.

  • Perhatikanlah alamatnya. Dari alamat kita akan tahu apakah indoor atau outdoor atau bahkan di kampung. Ini untuk persiapan, seberapa gemebyar penampilan kita agar tidak berlebihan. Demikian pula dengan kemungkinan make-up akan meleleh karena kepanasan.

  • Jangan kaget kalau laki-laki dan perempuan dipisah. Saya sudah tiga kali mendapatkan undangan seperti ini. Kita hormati saja keyakinan pengundang. Sebenarnya saya malah senang yang dipisah begini karena makannya jadi lebih santai dan biasanya bagian perempuan lebih dimanjakan karena mayoritas anak-anak ikut ibunya.

  • Jangan enggak makan dulu. Kita sering ngejagain ya, datang ketika lapar, berharap bisa menyicip semua hidangan. Tapi jalannya resepsi itu sepenuhnya ada di tangan tuan rumah. Jangan pingsan kalau makanan tidak bisa segera kita nikmati. Saya pernah datang ke resepsi di pinggiran kota kecil di Jawa (tidak usah disebutkan) yang tidak saya ketahui adatnya, saya kira biasa saja seperti jaman sekarang yang serba praktis. Resepsinya ala tempo dulu yang dihidang di piring-piring. Prosesi urut dari salam pembukaan, pidato, tari-tarian dan sebagainya. Sejam berlangsung, barulah pengantin datang, lalu keluarlah segelas teh dan selepek kue. Prosesi terus berlanjut dan sejam kemudian nasi tetap belum keluar. Kami rombongan dua mobil yang telah menempuh dua jam perjalanan menuju lokasi akhirnya kelaparan, berpamitan lalu menuju rumah makan. :)

  • Kenal, enggak kenal, tersenyumlah. Seringkali kita datang hanya sebagai pendamping. Kita tidak kenal pengundangnya, apalagi si pengantin. Bisa jadi kita malah tidak kenal siapapun di lokasi tersebut. Padahal disitu mungkin ada orang yang paling dihormati di kantor pasangan atau sesepuh di masyarakat. Tersenyum itu merupakan cara aman untuk tidak salah tingkah. Lagipula sudah dandan kok muka jutek? Enggak bisa cantik dong.

  • Menurutlah pada penerima tamu. Sering kita terlalu percaya diri, melakukan yang kita anggap paling pantas, dan tidak menurut pada penerima tamu. Padahal fungsi mereka selain untuk mempersilakan tamu juga mengarahkan tamu agar suasana tertib. Selain itu kebiasaan setempat juga mempengaruhi apa yang harus kita lakukan. Saya pernah kecele karena resepsi dengan hidangan prasmanan di Jawa, biasanya salaman dulu dengan pengantin, makan, lalu pulang. Tapi di Pekanbaru tidak begitu. Datang, makan dulu, baru salaman dengan pengantin, lalu pulang. Saya sempat terlalu percaya dengan tetap mau salaman dulu. Tapi oleh salah satu panitia yang kebetulan paham bahwa saya tidak mengerti kebiasaan setempat, saya digandeng dan dipersilakan makan dulu. Sambil makan, saya amati semua tamu seperti itu. Saya jadi malu sendiri. Tapi karena itu pula, saya selalu mengenakan lipstik agak tebal dan makan hati-hati supaya tidak belepotan dan keringatan setelah makan. Apalagi jika sang pengantin minta foto bersama, harus tetap prima. Heheheee....

  • Jika hidangan prasmanan, jangan ambil makanan seperti seperti habis macul dari sawah ya. Kalau belum kenyang, malah lebih baik bolak balik ke meja prasmanan daripada piring munjung. Selain tidak enak dilihat, juga kemungkinan tumpah ke baju. Jika disediakan meja untuk piring kosong, jangan letakkan piring bekas di kursi sebelah.

  • Ketika hendak salaman di singgasana, perhatikan keadaan. Kalau masih ada sessi foto-foto keluarga, duduk saja dulu atau berdiri agak jauh sambil menunggu kesempatan naik ke singgasana.

Nah, begitu tipsnya. Kalau ada yang punya tips tambahan, silakan ditulis di kolom komentar. Terima kasih sebelumnya. :)

10 comments:

  1. Aaaaaaaaaargh~! Saya baru baca post-nya setelah muter video U2 yang ada di atas pojokan sana. :( Videonya mendistraksi saya.... T___T Enak banget, lagunyaaaaaa.... *plak* <-- malah ngerusuhin hal laen.

    Saya selalu aja gagal makan enak dan banyak di resepsi karena kalo udah ketemu temen-temen bawaanya malah asyik ngobrol sana-sini. :(

    Kadang saya juga gak makan nasi dan elbih milih makan dessert-nya banyak-banyak.... Hahahahaaaa. :D

    ReplyDelete
  2. Itu, yg nikahan adat Jawa, sama kyk nikahannya adik ipar saya. Saya sih ga datang, tp ortu saya datang diundang besan. Ktnya begitu prosesnya, ga ada meja prasmanan. Jd makanan diantar satu2 ke tamu2 yg datang. Ribet jg ya?
    Trus yg di Pekanbaru, saya jg ngalamin itu di Palembang dan Medan. Di sana emg gitu jg, datang langsung makan. Udah kenyang, baru salaman.

    Kalo saya pribadi, sejauh ini kalo datang undangan selalu makanin dessert atau appetizernya aja. Klo kira2 udh puas, baru deh njajal menu utamanya. Hihihi...

    ReplyDelete
  3. dengan menggunakan pakaian yang sopan dan sesuai juga bukti kita menghormati orang yang mengundang ya mbak. Aku sering menjumpai tuh masalah sovenir, seorang ibu minta lebih dari satu sovenirnya. Peringatan untukku juga mbak semoga tidak seperti itu. Sejauh ini karena anakku laki-laki semua tidak ada yang berminat dengan sovenir :)

    ReplyDelete
  4. wah, yg ttg souvenir itu emang sering bikin galau yg punya hajat

    ReplyDelete
  5. Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. High heels yang aku pakai ujung runcingnya njeblos ke halaman berumput saat menghadiri pesta pernikahan yang diadakan di rumah pengantinnya. Malunya, maak. Udah dandan cantik2, terus kesangkut sepatu sendiri, diliatin orang banyak *_*

    ReplyDelete
  6. Aku sebenernya rada rada kurang begitu cocok ma resepsi yg cewek cowok dipisah. Apalagi jika kedatanganku ke sana cuma sebagai pendamping. Bingung euy gak ada yang kenal sama sekali. Jadi berasa datangbke kawinan antah berantah buat numpang makan doang xixixi

    ReplyDelete
  7. Selama ini sih belum banyak yang undang saya..hahaha..belum umur kali ya. Suka salting kalau udah salah kostum. Bener deh. Cuma biasanya kalau teman kantor atau satu perusahaan undang, saya datangnya pas makan siang pakai baju seragam. Irit. hihihi....

    ReplyDelete
  8. Jadi ingat juga pas kondangan di sodara temen kos di Solo, depan rumahnya diratain pake pasir, alhasil sepatu sandal high heels saya njeblos-njeblos deh, hahaha..
    Oiya Mak, ada ya kondangan yang laki perempuan dipisah? saya malah belum pernah 'menangi', baru tahu...

    ReplyDelete
  9. hihi mak ngomongin salting aku pernah ke kondangan kakak kelas hiburannya pake nasyid. Kebetulan yang nasyid kakak kelasku yang aduhh begitu lah :") gara2 gak konsen ke hal laen hampirrr aja lupa ngasih amplop xD

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.