Friday, July 26, 2013

Menjelaskan Diri Di Socmed

Perlu enggak sih menjelaskan diri di socmed? Kalau pertanyaan ini saya tujukan ke makpon KEB, pasti jawabnya: Wajib! Tapi tunggu dulu, wajib tersebut yang berhubungan dengan kemakminan di KEB saja, supaya pembaca tahu siapa yang bisa mereka hubungi jika ada yang akan ditanyakan tentang KEB. Nah, sebagai personal, perlu juga enggak?

Untuk apa sih kita perlu memberitahu pembaca/friend/follower banyak tentang diri kita? Umumnya para pakar socmed menganjurkan agar kita berhati-hati membuka data diri karena alasan keamanan. Data kita bisa digunakan oleh para pelaku penipuan dan kekerasan. Tapi kadangkala kita sudah sedemikian nyaman di socmed sehingga nyaris tidak ada yang kita simpan. Misalnya di twitter kita sudah nyaman dengan obrolan ngalor ngidul dengan gerombolan kita disana, sehingga kita beritahukan semua yang kita lakukan. Padahal, katakanlah dari 100 followers, berapa sih yang benar-benar kita kenal? Bahkan tanpa login, kita bisa juga kan membaca tweet orang lain yang tidak digembok?

Kadang kita juga keceplosan membuka semua data diri karena emosi, panas atau tidak mau kalah. Kita seolah sedang berorasi untuk menjelaskan siapa diri kita, tak peduli apakah ada yang memperhatikan atau sebaliknya ada yang mengincar. "Kita sih berlima masing-masing punya smartphone dan tablet. Yang besar-besar malah punya laptop semua."

Tujuan dari sebuah penjelasan itu kan agar orang lain mengerti atau paham. Tapi orang lain yang mana? Range teman di socmed itu sangat luas dan beragam. Tidak semua butuh tahu secara detil siapa kita, jadi buat apa kita beritahu? Jika pun mereka add friend atau follow kita, tidak berarti mereka tertarik dengan kepribadian kita, bisa saja sebaliknya, kita yang akan dijadikan obyeknya, entah sebagai pasar dagangannya, penganut ideologinya, atau yang lain. Singkatnya, jangan membeberkan diri secara random, berikan data diri pada yang membutuhkan saja.

Kaitannya dengan personal branding mungkin harus lebih teliti. Personal branding lebih mudah dibangun dalam suasana akrab pertemanan, dibandingkan dengan yang benar-benar asing. Tapi tak jarang karena rasa percaya diri yang tinggi, semua diceritakan. Padahal banyak kok orang-orang sukses yang tidak pernah membuka informasi personal kecuali dalam wawancara eksklusif. Kebanyakan mereka hanya memberi penjelasan panjang lebar pada bidang yang sedang ditekuninya. Begitu pula dengan para artis yang hanya terbuka dalam show khusus saja, kecuali artis-artis yang gila popularitas. Jadi, semua informasi diri yang keluar memang seharusnya disaring berdasarkan tujuan dan manfaatnya. Selebihnya, disimpan saja.

Saking asyiknya, suasana yang seperti kelompok arisan virtual, padahal disaksikan orang-orang yang tidak kenal juga, membuat kita mengungkapkan apa adanya. Kalau sedang senang, semua diceritakan. Kalau sedang marah, semua juga dikeluarkan. Soal respon tidak dipikirkan, yang penting sudah plong. Meskipun tidak mengharapkan respon, tapi setidaknya pikirkanlah tentang keamanan dan image.

Data diri kita ibarat sebuah rumah, sampai dimana kita ijinkan orang-orang masuk. Jika motivator mempersilahkan tamunya sampai di ruang keluarga, dan public figure sampai diruang tamunya, mungkin kita cukup meminta tamu menunggu di teras saja, sampai tersaring mana yang akan kita ijinkan masuk lebih dalam ke ruang tamu, atau mana yang malah kita minta pulang. Sekali kita memperlihatkan isi rumah kita, saat itulah kita menyerahkan hidup kita. Di tangan orang-orang terpercaya atau teman-teman, akan menjadi ajang hangout yang menyenangkan. Tapi jika ada penyelundup masuk, wah....

1 comment:

  1. huwaaaaaa... #jleb tulisannya semacam menyindir daku..hahaha.. suka nyinyir gajebo.. nulis2 puisi gitu, sampe dibilang tukang menggalau.. tpi itu dulu maak.. skrg jarang ngetuit :D

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.