Wednesday, July 03, 2013

Online Shop Itu Tidak Bebas Biaya

Sepertinya dulu saya pernah janji mau menulis ini sebagai kelanjutan dari rangkaian artikel tentang plus minus punya kios offline atau online shop (olshop). Waktu itu salah satu pembimbing seminar mengatakan bahwa dalam olshop itu tidak ada biaya, sehingga harga barang bisa ditekan. Hal itu juga diyakini oleh pembeli bahwa membeli di olshop itu seharusnya dengan harga pabrik karena tidak ada biaya operasional showroom atau outlet.

Pendapat itu harus dilihat dari dua sisi, apakah olshop tersebut sekedar hobi atau usaha yang serius. Jika sekedar hobi, komponen biaya tidak tampak karena mendompleng pengeluaran rumah tangga, misalnya modem yang dipakai orang serumah. Sedangkan jika diperlakukan serius, dengan pemisahan antara neraca usaha dan rumah tangga, barulah biaya-biaya itu terlihat. Jadi apa yang disebut sebagai keuntungan di olshop yang mencampur neraca usaha dan rumah tangga itu sebenarnya semu, bebannya dialihkan ke pengeluaran rumah tangga.

Bagusnya bagaimana? Ya terserah tujuannya saja sih, terserah kenyamanan yang menjalani. Saya cuma bisa mengingatkan jangan sampai ada kerugian yang tidak ketahuan. Misalnya penggunaan pulsa yang melebihi penjualan. Bukannya mendapat penghasilan sampingan, malah membebani keuangan rumah tangga. Ribut jadinya, kan?

Berikut adalah biaya-biaya yang timbul dari sebuah olshop:

  1. Modem. Jika olshop dianggap sebagai usaha terpisah, modem akan masuk ke dalam modal.

  2. Pulsa. Susah memang memisahkan, karena biasanya kita update olshop sekalian posting blog heheheee.... Tapi bayar saja sebagian pulsa dari uang penjualan. Kalau sudah sukses mestinya malah bisa menutup seluruh pulsa dari penjualan.

  3. Biaya hosting. Blog gratisan memang tidak ada salahnya. Tapi saya sendiri aja pernah tertipu oleh pemilik olshop yang bernama Rendy Susanto, jadi saya kurang percaya dengan olshop yang demikian, kecuali pemiliknya benar-benar saya kenal secara pribadi atau tergabung dengan platform jual beli. Karena itu, berarti orang lain pun akan memandang kita seperti itu pula. Jika ingin mandiri, tidak ingin bergabung dengan paltform jual beli, atau males gaul di komunitas, lebih baik menggunakan self-hosting seperti Ladaka Handicraft.

  4. Upah IT person. Nah, yang gaptek otomatis keluar biaya ini. Saya sih memang enggak mengupah secara resmi, karena kenal  dengan designernya, tapi nraktir tetep. Heheheee....

  5. Listrik. Tarif listrik naik kan, bareng dengan BBM? Nah, gadget perlu dicharge dan yang suka kerja malam perlu penerangan. Itu pengeluaran meskipun tampaknya tidak ada biaya karena mendompleng listrik rumah.

  6. Produk. Bagi yang mengikuti sistem reseller dan diperbolehkan menggunakan foto-foto pemilik produk, tentu tak ada biaya untuk ini. Tapi pastikan minta ijin pada pemilik produk dulu, jangan main copas saja, itu sama saja dengan pembajakan produk. Terutama ibu-ibu, tante-tante, sis-sis, malu ya, keren-keren membajak produk orang. Ada juga pemilik produk yang mewajibkan pembelian minimal sebelum diperbolehkan memajang produk-produknya. Ada pula yang langsung memilih dan membeli produk dari produsen atau pasar (merchandising), lalu memotret sendiri supaya memiliki gaya atau ciri khas tersendiri. Jika produk dibuat sendiri, berarti ada biaya bahan, development, tenaga kerja dan sebagainya.

  7. Kamera. Di olshop, paling ampuh adalah bahasa gambar/foto, dibandingkan harus berpanjang-panjang kata. Tidak sama dengan review, soal review kapan-kapan kita ngobrol lagi. Semua kamera, termasuk kamera handphone, asal pandai menggunakannya, katanya sih hasilnya sama bagus. Tapi saya sudah mencoba berbagai kamera, kecuali DSLR, paling bagus pakai mirrorless. Ada harga ada rupa kali ya, atau pengetahuan saya yang amat kurang dalam memanfaatkan kamera handphone. Karena harganya yang mahal dan pastinya jika dimasukkan pengeluaran akan sangat membebani, buatlah semacam skema kredit, yang dalam jangka waktu tertentu sebagian yang disisihkan dari penjualan setara dengan harga kamera.

  8. Gadget. Waduh-waduh, mengapa pula dimasukkan sebagai pengeluaran? Kan sudah punya sendiri? Memang betul. Tapi jika rusak, baru terasa kita tidak punya alat kerja. Nah, baru ketahuan deh harus ada biaya modal usaha. Sama seperti jika membuat outlet usaha yang berarti termasuk mengisi segala macam rak, kursi, peralatan display dan lain-lain. Sama seperti kamera, buatlah skema kredit sendiri yang dalam waktu tertentu lunaslah si gadget.

  9. Packaging. Pengeluaran atas packaging ini sering tak tampak karena banyak juga yang menggunakan kardus bekas, misalnya. Ketika kurang sedikit dan beli satu, dianggap bukan biaya karena sedikit. Padahal untuk olshop yang sudah besar seperti Bhinneka, pesan packaging khusus yang berarti ada komponen biaya disana. Ada baiknya kita berlatih memasukkan komponen tersebut dalam pengeluaran, supaya terbiasa detil. Di perusahaan besar juga ada ketentuan, jika karyawan hendak meminta tape/isolasi ke gudang, mereka harus menukarnya dengan selongsong kosong. Ini untuk mengendalikan dan mencatat dengan cermat pengeluaran sampai sekecil-kecilnya sehingga angka untung dan rugi itu nyata, tidak bias.

  10. Bensin. Nah, karena harga BBM naik, ini bukan masalah kecil lagi. Kita sering berkilah, "Kan ngirimnya sambil ngantar anak sekolah." Tapi kadang sekolah anak ke utara, kurirnya di barat. Yang dianggap sekalian jalan itu sering tumpang tindih dengan sekalian keluar rumah, padahal belok jauh dari jalurnya. Pengeluaran tak kentara, kan?

  11. Gaji. Lho karyawannya mana? Memang olshop rumahan sering ditangani sendiri dari terima order sampai packing. Tapi itu tetap kerja. Memangnya mau kerja gak dibayar? Belum lagi jika harus melek sampai malam mengedit foto. Kita lapar kan? Kita perlu kopi juga kan? Siapa yang bayar? Meskipun kelihatannya aneh menggaji diri sendiri, tapi kalau tidak dimasukkan sebagai pengeluaran, akan seperti kerja bakti lo.
Waaah, berarti banyak banget komponennya, jadi mahal dong harga-harga kita? Itu tergantung marjin, gaji, skema kredit pura-pura dan sebaik apa peralatan yang kita maui. Yang perlu kita ingat adalah banyak pengeluaran tak kentara karena bercampur dengan fasilitas dan keuangan rumah tangga. Jadi hati-hati jika asal untung, karena bisa saja keuntungan itu semu, tidak sebanding dengan fasilitas atau jam kerja yang telah kita gunakan.
Yuk, kasih saya masukan dong, saya juga ingin belajar dari teman-teman, saya belum pandai. Kalau sudah pandai pasti sudah sebesar Zalora. Heheheeee....

4 comments:

  1. Wahhh...sampe njelimet aq mocone hihihi :)
    Tapi semua uraian diatas benar adanya, krn aq pernah kerja di China, makanya detail2 seperti ini sangat familyar

    ReplyDelete
  2. 3, 4 ga ngeluarin karena sebagian besar barang dipajang di FB. No 5 mendompleng listrik rumah. No 7 buatku paling penting! Foto yang bagus ngaruh banget ke penjualan. Bahkan, barang yang aku jual via BBM dgn harga lbh murah ga laku loh mak, tapi begitu difoto dengan DSLR dan diupload ke FB, abis dalam hitungan menit.

    No. 9 ini untuk barang pecah belah, harganya ngaruh banget. Beberapa jualanku ada yg harus diwrap khusus, dgn kardus yg beli satu biji 5000, jd kl harganya mepet, ada biaya packing khusus.

    ReplyDelete
  3. kesimpulannya usaha apapun juga butu biaya, ya :)

    ReplyDelete
  4. terkadang ada orang yang minta diskon dan free ongkir dengan memaksa, pernah mengalaminya gak mbak?

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.