Thursday, July 25, 2013

Tips Mudik Jalan Darat Jawa-Sumatra

Sejak kuliah sampai sekarang, sudah berkali-kali saya mudik. Angka persisnya rahasia ya, biar enggak ketahuan generasi tahun berapanya. Heheheee.... Segala macam cara dan gaya mudik telah saya lalui, antara lain naik mobil pribadi, mobil sewaan, travel, bus, kereta api, pesawat, kapal cepat hingga speed boat. Semuanya seru karena suasana mudik. Kalau ditilik ulang, saya tidak bisa mengatakan mana yang paling enak karena masing-masing punya cerita tak terlupakan. Bagi saya, perjalanan yang menyenangkan bukanlah yang mulus-mulus saja tidak terjadi apa-apa, tapi justru yang memberikan kejutan-kejutan yang tidak kita antisipasi sebelumnya. Biasanya karena kejutan-kejutan itu, kisah mudiknya jadi gak habis-habis untuk diceritakan, tetap seru setelah berlalu beberapa waktu.

Diantara berbagai cara mudik yang pernah saya lalui, mudik jalan darat adalah yang paling saya sukai. Waktu saya kecil, saya sering membujuk bapak saya "mencari macet", padahal waktu itu kami selalu menggunakan mobil sewaan karena tidak punya mobil. Sekarang meskipun tinggal sangat jauh dari orangtua (orang tua di Jawa Tengah, saya di Riau), saya selalu mengusahakan paling tidak separuh perjalanan, terutama ketika di Jawa, menggunakan jalan darat. Kadang saya meminta disediakan mobil jemputan di Jakarta, setelah saya menyeberang dari Sumatra menggunakan pesawat atau kapal, kadang sebaliknya minta diantar dari Jawa ke Jakarta.

Diantara pengalaman, yang paling mengesankan adalah ketika mudik menggunakan mobil dari Jogja ke Pekanbaru di tahun 2011. Ini hanya baliknya saja, karena berangkatnya saya naik pesawat, sedangkan mobil dibawakan teman. Total ada 10 propinsi yang kami lalui dan memakan waktu hampir seminggu karena mengambil rute memutar demi piknik ke Bandung dan Taman Safari. Dari perjalanan gendeng tersebut, berikut beberapa tipsnya jika teman-teman berminat :D :

1. Siapkan fisik dan mental 2 sopir. 2 sopir itu mutlak untuk gantian jika capek , bosan atau mengantuk, atau bisa dijadwal gantian 4 jam sekali. Tidak masalah sopir laki-laki atau perempuan, yang penting harus berani bermanuver di jalan luar kota, yang didominasi bus besar dan truk gandeng. Saya sendiri kebagian nyetir Bakauheni - Bandar Lampung dan Palembang - Jambi nonstop. Heheheee.... Setelah itu badan kaku semua karena gerakan menyetir yang statis selama 6 jam.

2. Mobil harus prima. Mobil prima tidak harus baru. Pemeriksaan mobil di bengkel resmi wajib hukumnya, meskipun tidak merasakan keanehan di mobil tersebut. Pemeriksaan meliputi kondisi mobil dan peralatan pendukung seperti ban cadangan dan tool kit (termasuk segitiga pengaman).

3. Siapkan peralatan darurat. Peralatan darurat ini penting jika ada kerusakan mobil tapi tidak disediakan di tool kit seperti payung, flash light dan tambang. Jalan antar propinsi di Sumatra yang membelah hutan panjang, tidak aman bagi kendaraan yang mogok terlalu lama, apalagi yang berisi keluarga dengan anak kecil. Dengan tambang, mobil kita bisa ditarik ke kota berikutnya oleh mobil lewat lain yang mau kita mintai tolong.

4. Browse dos and donts sepanjang rute. Orang-orang tua selalu menganjurkan agar kita "kulonuwun" jika memasuki daerah baru karena tiap daerah memiliki aturan, kebiasaan atau pantangan sendiri-sendiri. Teman-teman boleh tidak percaya, tapi saya selalu percaya tiap daerah memiliki harmonisasi alam yang berbeda. Intinya, jangan sok tahu, ucapkan bismillah tiap memasuki daerah baru. Dari browsing tersebut terdeteksi beberapa titik yang harus ekstra waspada untuk perjalanan keluarga. Jika isinya laki-laki semua mungkin lebih aman. Daerah tersebut antara lain sepanjang kebun tebu Lampung yang panjang dan sepi. Antara Jambi dan Pekanbaru jalan rusak parah, sehingga dalam pandangan malam, mobil bisa terperosok atau shockbreaker patah. Karena mobil berjalan sangat lambat, tidak aman pula jika ada orang jahat. Ini juga termasuk menandai didaerah mana saja kita bisa istirahat, beli bensin dan makan. Antara Palembang dan Jambi misalnya, setelah beberapa jam baru nemu pom bensin.

5. Peralatan komunikasi dan navigasi yang lengkap. Pada saat itu tablet belum sepopuler sekarang, tapi saya sudah melengkapi BlackBerry saya dengan google maps. Karena dipakai terus menerus, mobile charger wajib ada. Peta printed juga wajib karena tidak semua daerah, terutama jika melewati hutan, yang tercover sinyal untuk melihat google maps. Simpan nomor telepon teman-teman, bengkel resmi dan kantor polisi sepanjang rute, untuk jaga-jaga jika perlu. Selalu update posisi terakhir kepada keluarga.

6. Jangan penuhi mobil. Kabin penumpang harus cukup longgar untuk tidur, selonjor dan menaruh bantal. Semua bekal dan baju diletakkan saja di bagasi belakang. Jika ingin memasang roof rack, berkonsultasilah pada bengkel aksesoris terpercaya untuk dicarikan bentuk yang sesuai dengan mobil kita karena akan mempengaruhi gerakan aerodinamisnya. Patuhi batas berat yang dianjurkan dan kemas barang-barang serapi mungkin dan ikat sekuat mungkin. Jangan menaruh apapun di atas mobil tanpa roof rack.

7. Perhatikan waktu dan berita. Meski dalam pikiran kita adalah jalan-jalan, supaya tidak tegang, waktu tetap harus diperhatikan. Hindari perjalanan di malam hari, usahakan jam 21.00 sudah mencapai kota berikutnya  dan mendapatkan hotel untuk beristirahat. Karenanya, kita harus tahu waktu tempuh dari satu kota ke kota lainnya. Dari pengalaman lalu, beberapa kali meleset karena macet dan perbaikan jalan, sehingga sampai Palembang misalnya sudah mendekati tengah malam. Orang Sumatra sendiri banyak yang cukup beristirahat di pom bensin untuk tiduran di tikar atau mandi. Tak apa, mereka sudah paham kondisi tempatan. Yang paling krusial adalah waktu penyeberangan di Merak. Waktu itu saya menginap di Merak, lalu menyeberang pagi-pagi sekali dan langsung bablas sampai Palembang setelahnya. Di tanggal-tanggal puncak arus mudik, teman-teman saya bisa tertahan sampai 20 jam mengantri di Merak. Jadi, penting sekali memantau info arus mudik melalui radio atau twitter.

8. Bawa bekal dan perangkat hiburan. Bekal makanan wajib bawa untuk jaga-jaga, terutama jika sudah masuk Sumatra, karena dibeberapa titik tidak ada rumah makan sampai berpuluh-puluh kilo jauhnya, tidak seperti di Jawa yang dimana-mana ada warung. Tapi juga jangan kebanyakan, agar tidak sayang jika dibuang, karena kadang anak-anak tidak bernafsu makan didalam mobil. Makanan kecil bisa disediakan dalam jumlah banyak, karena jika tak habis, masih bisa dibawa untuk perjalanan selanjutnya. Bawa juga air mineral di botol-botol sedang untuk minum, cuci tangan dan cuci muka. Tidak dianjurkan membawa air mineral dalam botol besar karena sulit menyelipkan di bagasi dan susah untuk diminum langsung. Lengkapi CD atau USB dengan lagu kesayangan untuk mengusir kebosanan karena sinyal radio dan TV akan terganggu terus. Membaca selama perjalanan tidak dianjurkan, bikin pusing kepala.

9. Bawa obat-obatan dan peralatan sanitasi yang memadai. Obat-obatan yang perlu dibawa adalah minyak kayu putih, obat pusing, obat batuk, band aid, salep untuk terbentur dan salep untuk terbakar. Saya tidak pernah membawa obat anti mabuk, karena membuat kita benar-benar tak berdaya. Peralatan sanitasi yang perlu dibawa adalah tissue kering, tissue basah, hand sanitizer, pembalut wanita (wajib pakai meskipun tidak sedang haid agar tidak lembab selama perjalanan panjang, dan wajib ganti jika ke kamar mandi), sabun cair dan gayung air (karena di toilet umum kadang tidak bersih). Untuk ke kamar mandi, tidak hanya bisa dilakukan di pom bensin tapi bisa juga di supermarket seperti Alfamart atau Indomaret.

10. Penyakit orang mudik membawa mobil adalah membeli semua yang ditemuinya setahun sekali dengan alasan mumpung bawa mobil. Lihat poin 6, ya. Jika pun tiba-tiba terinspirasi untuk membisniskan produk yang ditemui dikampung halaman, bawa seperlunya atau dipaketkan saja. Demikian pula jika menemui aneka kuliner sepanjang jalan, beli secukupnya untuk dihabiskan selama perjalanan saja.

Wah, panjang sekali ya tipsnya? Percayalah, asal niat mudik sudah kuat, persiapan itu tidak bikin ribet, malah bikin tambah bersemangat. Sudah enggak konsentrasi ya, pikiran sudah di mudik melulu dua minggu lagi? Heheheee.... Semoga mudik Lebaran kita tahun ini lancar semua. Aamiin.

6 comments:

  1. Artikel yang sarat dengan tips informatif. Senang sekali membacanya serasa bisa menyusuri perjalanan mudik bersama :)

    ReplyDelete
  2. aku udah pernah ngerasain perjalanan darat jakarta-palembang, palembang-jakarta, pp, sama kakakku laki-laki dan seorang temannya. mereka berdua ganti2 an nyupir. capek tapi seru :D

    ReplyDelete
  3. senengnya bisa mudik pas lebaran.. aku di surabaya ajah, gak ada kampung halaman..hehe..

    ReplyDelete
  4. Aih, saya ga kebayang jauhnya PP riau - jateng, Mak.

    Wong kemarin mudik PP Jakarta-Solo aja udeh pusing2, gimana sejauh itu. Ditambah lagi kemarin itu bawa bayi, jadina agak repot. hehe

    Makasih infonya, Mak Lusi :)

    ReplyDelete
  5. agung ArisdiyantoJuly 29, 2013 at 6:56 AM

    Untuk tahun 2013 kami sekeluarga mau mudik ke semarang melalui jalan darat pada tanggal 2 Agustus 2013 dari pekanbaru - ke Semarang adakah yang bisa konvoi bersama ? mohon info admin

    ReplyDelete
  6. agung ArisdiyantoJuly 29, 2013 at 9:57 AM

    terima kasih Admin atas infonya di coba tak pantengin di akun twiter @infoRIAU moga ada yang bisa konvoi bersama.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.