Friday, August 30, 2013

Reformasi Keimigrasian Myanmar dan Pariwisata ASEAN #10daysforASEAN

Di hari keempat lomba blog #10daysforASEAN , aseanblogger.com memberikan tema tentang penting tidaknya visa bagi perjalanan wisata. Lebih spesifik lagi dicontohkan tentang Myanmar yang menerapkan kebijakan yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Paspor dan Visa

Sudah pernah ke luar negeri? Jika kita akan keluar negeri, kita wajib memiliki paspor karena paspor adalah identitas kita, dokumen yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk menyatakan asal-usul negara dan data pribadi kita. Kantor Pelayanan Imigrasi Indonesia sudah menggunakan sistim terpadu sehingga hanya ada satu data saja tentang kita. Misalkan paspor hilang bertahun-tahun lamanya, sudah kedaluarsa dan sudah pindah KTP pula, seperti yang pernah terjadi pada paspor saya, tidak serta-merta kita bisa membuat paspor baru dengan KTP baru tersebut. Data kita akan terus muncul, jadi kita hanya perlu mengupdate data tersebut.

Sedangkan visa adalah rekomendasi yang dikeluarkan oleh negara yang akan kita kunjungi. Tidak semua negara mewajibkan kita memiliki visa, seperti beberapa negara ASEAN. Kebijakan visa adalah hak penuh negara tujuan kita, disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan negara tersebut. Karena itu, visa sering terlihat diskriminatif. Negara-negara maju umumnya menerapkan kebijakan visa yang sangat ketat, bahkan teman saya yang akan mengikuti kursus keahlian di suatu negara maju harus mampu menunjukkan rekening tabungan ratusan juta rupiah atas namanya. Sebaliknya negara miskin yang mengharapkan devisa dari pariwisata sering melonggarkan kebijakannya, bahkan juga membebaskan visa atau paling-paling mewajibkan visa on arrival.

Visa harus dipersiapkan jauh sebelum keberangkatan dengan mendatangi kedutaan besar negara yang bersangkutan di negara kita. Prinsipnya, kita harus bisa meyakinkan tujuan kita mendatangi negara yang bersangkutan dan bahwa kita dijamin tidak akan terlantar di negara yang bersangkutan. Karena merupakan hak prerogatif negara tujuan, maka bisa saja permohonan visa kita ditolak atau bisa saja visa kita yang ditolak ketika akan memasuki negara tersebut.

Sedangkan visa on arrival adalah rekomendasi untuk memasuki suatu negara yang bisa kita urus secara cepat di bandara negara tersebut atau di pintu perbatasan negara tersebut dengan membayar sejumlah uang. Visa on arrival diberikan pada negara-negara dimana tidak ada kantor perwakilan negara tujuan atau untuk tujuan mendatangkan wisatawan tanpa membebaskan visa tapi juga tidak mempersulit ijin berkunjung.


Ada Apa Dengan Myanmar?

Myanmar, atau yang lebih dikenal sebagai Burma oleh masyarakat internasional, adalah salah satu negara ASEAN yang sarat konflik dalam negeri. Junta militer yang menguasai Myanmar antara tahun 1962-2010 telah membuat bangsa ini mengisolasi diri dan akhirnya terisolasi dari pergaulan internasional. Kehidupan berbangsa yang tidak demokratis dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia, antara lain penyekapan terhadap Aung San Suu Kyi, menyebabkan Myanmar mendapat berbagai sanksi antara lain, sanksi ekonomi dan pelarangan perjalanan ke luar negeri. Sebaliknya, Myanmar yang tidak suka masalah dalam negerinya dicampuri, melarang atau membatasi kedatangan orang asing.

Akibat dari ketertutupan tersebut, perekonomian Myanmar diwarnai dengan minimnya infrastruktur akibat tidak adanya investasi asing maupun devisa, yang mengakibatkan kemiskinan.

Secercah sinar itu muncul ketika Thein Sein dilantik menjadi presiden tahun 2011. Meski Thein Sein seorang jenderal dari junta militer, Sein menjanjikan akan ada banyak perubahan di Myanmar. Yang pertama kali dilakukannya adalah menata sistim keimigrasian di perbatasan dengan Thailand. Migrasi buruh ke Thailand telah berlangsung sejak lama untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sayangnya, penataan keimigrasian ini juga menelan korban, yaitu terusirnya kaum Rohingnya. Meski dunia mengecam, Sein menegaskan bahwa kaum Rohingya yang boleh tetap tinggal adalah mereka yang berhasil membuktikan bahwa nenek moyang mereka telah tinggal disana selama tiga generasi.
Hubungan ASEAN dan Myanmar

Di masa sebelum presiden Sein, sebagian besar negara ASEAN dengan tegas menyatakan tidak akan membela Myanmar di forum internasional. Masalah Rohingnya belakangan telah membuat marah masyarakat di negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim seperti Indonesia dan Malaysia.

Namun, sebagai sesama anggota ASEAN, Myanmar tetap diberi tempat dalam perundingan atau pertemuan bangsa-bangsa ASEAN. Bahkan, sebagai hasil dari mulai terbukanya Myanmar, negara itu akan menjadi Chair of ASEAN 2014. Dengan demikian, Myanmar akan memiliki peran penting menjelang dilaksanakannya Komunitas ASEAN 2015.

Hubungan baik dengan ASEAN ditunjukkan dengan memberikan visa on arrival pertama kali pada negara-negara ASEAN sejak bulan Juni 2012. Sekarang telah ada 48 negara yang mendapatkan fasilitas tersebut. Jadi kita tidak harus mengajukan permohonan visa terlebih dulu ke kedutaan besar Myanmar di Jakarta. Kita bisa memanfaatkan visa on arrival di Mandalay International Airports dengan membayar $20 untuk 24 jam transit dan $40 untuk tinggal selama 28 hari untuk tujuan wisata. Namun sekali lagi, visa on arrival adalah hak negara tujuan, kita bisa saja ditolak masuk negara tersebut.



Pariwisata ASEAN

Pariwisata adalah salah satu sektor yang paling mudah mendatangkan devisa dan investor. Pariwisata juga merupakan cara termudah untuk bersosialisasi, mendekatkan masyarakat dari negara yang berbeda. Negara-negara yang dulunya tertutup merupakan daya tarik luar biasa bagi wisatawan yang penasaran terhadap kondisi terakhir negara tersebut. Tak heran, Angkor Wat di Kamboja misalnya, yang lama tertutup karena terlibat perang dengan Vietnam, mampu menyedot kunjungan wisatawan berlipat kali lebih banyak daripada Borobudur.

Bebas visa di ASEAN akan membuat kawasan ini sibuk dengan wara-wiri para pelancong. Dengan demikian, ikatan ASEAN terjalin dan ekonomipun bergerak lebih cepat. Namun tak semua negara ASEAN siap menerapkan bebas visa. Masalah dalam negeri yang belum menemukan solusinya, akan bertambah kritis jika orang asing bebas keluar masuk. Simpatisan maupun oposan akan memperkeruh keadaan. Kebijakan Myanmar dengan visa on arrival setidaknya pertanda bahwa Myanmar sedang bersiap untuk membuka diri menyongsong Komunitas ASEAN 2015.

Sumber:

migrationinformation.org

asean.org

irrawaddy.org

1 comment:

  1. aku gak punya cap visa di passport maak, belom punyaa! pukpuk aku mak, pukpuk akooh... #gantian :)))

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.