Monday, September 02, 2013

Friendly Settlement Sengketa Perairan Singapura –Malaysia #10daysforASEAN

Di hari ketujuh #10daysforASEAN , tema lomba dari aseanblogger.com semakin kental ke arah politik. Sengketa-sengketa yang belum menemukan solusi memang berpotensi mengganggu dilaksanakannya Komunitas ASEAN 2015. Singapura dan Malaysia yang berbatasan langsung memiliki sengketa atas pulau Pedra Branca (Batu Puteh), Batuan Tengah dan Karang Selatan. Pulau-pulau di sebelah timur Singapura ini merupakan pintu masuk Singapura dari Laut Cina Selatan. Ketidakstabilan di wilayah ini membahayakan pelayaran internasional karena kurang fokusnya pengawasan, terutama pada kapal-kapal pembuang minyak dan sampah, sepak terjang bajak laut dari Indonesia dan ketegangan antara kapal-kapal patroli kedua negara. Bagaimana seharusnya sengketa ini diselesaikan berkaitan dengan Komunitas ASEAN 2015?
File:Pedra Branca Map.svg

Status Sengketa

Pedra Branca (Batu Puteh). Mahkamah Internasional yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, tanggal 23 Mei 2008 memutuskan Singapura berhak atas pulau ini. Dari 16 hakim, 14 diantaranya memenangkan Singapura. Kedua negara kemudian membentuk tim untuk memutuskan batas perairan sekitar Pedra Branca.

Batuan Tengah. Di mahkamah yang sama, Batuan Tengah yang merupakan dua gugusan terumbu karang diberikan kepada Malaysia. Mahkamah Internasional terkesan berusaha memberikan win-win solution pada kedua negara.

Karang Selatan. Belum ada keputusan tentang pulau ini karena pulau ini hanya kelihatan jika air surut. Mahkamah Internasional belum memiliki landasan hukum yang tepat untuk menentukannya.

Kepentingan Masing-masing

Singapura. Pedra Branca memang hanya seluas sebuah sekolahan, tapi pulau yang terletak di selat Singapura ini adalah pintu masuk ke Singapura dari Laut Cina Selatan. Setiap hari perairan ini dilewati oleh kapal-kapal cargo dan tanker. Bahkan, 80% impor minyak mentah Jepang melalui selat ini. Selat Singapura adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk didunia. Karenanya, di Pedra Branca didirikan pula mercusuar Horsburgh untuk memandu kapal-kapal tersebut.

Malaysia. Gugusan pulau-pulau itu hanya berjarak 14.3 km dari Malaysia, sedangkan dari Singapura berjarak 44 km. Karena itu Malaysia merasa lebih berhak atas pulau-pulau tersebut.

Friendly Settlement

Meski sebagian besar sengketa sudah menemukan solusinya, namun perlu kerjasama dan sosialisasi lebih lanjut. Meski pemerintah Malaysia tampak kurang puas dengan keputusan tersebut, namun para nelayan Malaysia justru tidak keberatan. Ini dikarenakan kawasan tersebut tidak terlalu menghasilkan banyak ikan. Nelayan Malaysia jarang menangkap ikan disana. Mereka juga menyatakan tidak bermasalah dengan petugas mercusuar, malah mereka saling kenal dengan baik. Keadaan menjadi runyam jika tentara Malaysia berhadapan dengan kapal patroli Singapura.

Hubungan antara nelayan Malaysia dan petugas kapal patroli Singapura juga unik. Para nelayan Malaysia justru senang jika kapal patroli Singapura mengitari daerah tersebut karena mengurangi jumlah kapal-kapal niaga yang membuang minyak atau sampah sembarangan. Limbah tersebut terbawa ombak dan sering mengotori pantai nelayan Malaysia. Bajak laut Indonesia yang sering mengganggu nelayan Malaysia ketika menunggu mangsa kapal-kapal cargo besar pun turut menghilang.

Perundingan pasca keputusan Mahkamah Internasional sudah terlaksana. Kedua belah pihak setuju untuk memperbolehkan kegiatan nelayan yg berjarak 0,9km dari gugusan pulau tersebut sementara batas laut belum bisa ditentukan.

Dasar Mahkamah Internasional dalam menetapkan kepemilikan pulau-pulau tersebut, yaitu efektifitas, tampak sesuai dengan kenyataan sehari-hari. Singapura bisa meminta negara-negara ASEAN, terutama Indonesia, untuk melakukan pendekatan pada Malaysia agar menerima keputusan tersebut sepenuhnya. Apalagi terumbu karang penyangga Batuan Tengah sesungguhnya adalah pantai utara Bintan, wilayah Indonesia. Dengan pendekatan kesadaran akan stabilitas wilayah, Malaysia akan bisa menerima keputusan tersebut untuk memperlancar pelaksanaan Komunitas ASEAN 2013.

Sumber:

en.wikipedia.org

ajw.asahi.com

No comments:

Post a Comment

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.