Sunday, September 08, 2013

Indonesia dan Vietnam di Industri Handicraft ASEAN

Sepuluh tahun lalu, ketika saya masih bergabung dengan perusahaan saudara saya, saya bertugas menemui seorang merchandiser dan quality assurance manager area sebuah supermarket furniture yang tersebar diseluruh dunia. Bule-bule ini sudah berkeliling ke negara-negara berkembang untuk mencari, memesan dan mengontrol kualitas produk interior pelengkap produk furniture-nya. Mengapa mencarinya ke negara-negara berkembang? Karena harga produk furniture-nya terkenal murah, maka dicarilah produsen yang mampu menghasilkan produk murah juga. Negara-negara berkembang umumnya memiliki sumber daya alam dan manusia berlimpah, sehingga biaya produksi bisa ditekan. Soal kualitas, mereka menerapkan sistem yang sangat ketat semacam MSDS (Material Safety Data Sheets). Yang kita lakukan adalah mengikuti sedekat mungkin standar yang telah mereka tetapkan karena mereka tidak segan menolak hasil pekerjaan kita jika defect terlalu banyak. Jadi, murah bukan segalanya, melainkan murah dan berkualitas.

Waktu itu, kami hendak memberangkatkan 10 kontainer ke Eropa, jadi mereka ingin memastikan kami sudah mengikuti standar mereka. Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti masalah teknis, tapi berhubung hanya saya yang bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, jadilah saya yang mengantar mereka kemana-mana. Ketika kami sampai di bagian produksi yang menata kepangan serat banana (yup, pisang), bule itu berhenti dan mengajak saya ngobrol. Dia menunjukkan seorang karyawan yang sedang melilitkan kepangan serat banana membentuk sebuah bantalan. Supaya bentuknya standar, dibuatlah alas dari triplek sebagai patronnya.

“Coba kamu lihat, betapa susahnya orang ini menata kepangan banana agar berbentuk seperti patronnya. Di Vietnam kami juga memesan cushion yang hampir sama. Yang mereka lakukan adalah menancapkan beberapa paku di patron, lalu kepangan banana itu tinggal mengikuti pola paku.”

Itulah pertama kali saya mendengar nama Vietnam dalam industri kerajinan. Selama ini saya hanya mendengar Cina dan India. Inti dari percakapan tadi adalah bahwa kita kalah inisiatif. Buyer hanya menetapkan standar kualitas. Soal kecepatan berproduksi itu tergantung kreativitas kita. Semakin cepat, semakin untung, karena dengan adanya kompetitor, buyer bisa menetapkan harga yang sangat rendah. Keuntungan besar hanya bisa diperoleh dari efisiensi. Dalam hal ini kita, tepatnya tim saya, kalah kreatif dan kalah efisien dengan kompetitor di Vietnam.

Setelah bergabung dengan Asean Blogger, lalu ikut #10daysforASEAN , saya teringat soal Vietnam lagi. Apa kabarnya ya? Alangkah terkejutnya menemukan brosur SIPPO di Ambiente (pameran kerajinan tahunan terbesar didunia), bahwa Indonesia sharing booth dengan Vietnam. Indonesia diwakili satu perusahaan, sementara Vietneam diwakili tiga perusahaan. Wah, semakin eksis saja. Soal SIPPO dan Ambiente, kapan-kapan saya cerita ya. Saya lalu meneruskan googling kondisi ekspor kerajinan Indonesia dan Vietnam.

Setelah googling, lemeslah saya karena untuk target ekspor  kerajinan saja Indonesia hanya menetapkan diatas USD 700 juta, sementara Vietnam, negara kecil yang belum lama membuka diri itu berani menetapkan angka USD 2,5 milyar! Berapa sih total ekpor kerajinan kita tahun lalu? Menurut data yang saya peroleh dari googling singkat (maaf jika tidak valid), USD 770 juta, sementara Vietnam USD 1,6 milyar! Khusus untuk wood product, menurut data AFIC, ASEAN Furniture Industries Council, lembaga yang dibentuk negara-negara ASEAN untuk mempromosikan industri furnitur jelang Komunitas ASEAN 2015 (AEC), Vietnam juga memimpin angka total ekspor di tahun 2012. Apakah kita harus berkecil hati? Tunggu dulu. Coba kita lihat lebih jauh lagi.

Apa hebatnya industri kerajinan Vietnam? Vietnam memiliki 1500 desa handicraft kuno yang secara tradisional mencintai kerajinan. Desa-desa ini merupakan daerah miskin, yang berkat usaha pemerintah Vietnam mempromosikan potensinya, bisa menjadi wilayah penghasil kerajinan massal. Secara design, Vietnam memang mengandalkan yang disodorkan oleh buyer. Mereka berpartner dengan importer besar dari negara tujuan dengan order terkecil antara USD 2-3 juta. Biasanya importer akan mengepaskan ordernya minimal satu kontainer 20 feet per produsen atau konsolidasi antara beberapa produser yang lokasinya berdekatan. Dengan ketergantungan design dan harga dari para partner asing tersebut, margin yang diterima menjadi sangat tipis. Apalagi mereka tidak melakukan investasi teknologi.

Sementara itu, beberapa eksporter kerajinan Indonesia mulai tidak tertarik dengan order massal sebagai supplier brand asing, karena masalah presisi yang menghasilkan banyak defect disebabkan sebagian besar adalah produk handmade. Meski total order besar, namun margin tipis, dikurangi defect dan menanggung beban SDM yang sangat banyak. Saya melihat sendiri bagaimana mudahnya buyer mengalihkan order tanpa memikirkan ratusan buruh yang telah direkrut eksporter atau ribuan orang dalam supply chain. Sebagian eksporter Indonesia mulai menguatkan produk mereka dari sisi brand. Meski kemungkinan order tidak sebesar memproduksi sebagai supplier brand asing, tapi mereka memiliki kendali lebih baik atas manajemen perusahaan. Usaha ini harus didukung semua pihak terkait, yaitu pengusaha, pemerintah dan karyawan, atau yang menamakan dirinya buruh. Permintaan kenaikan UMP yang luar biasa belakangan ini sangat berpengaruh pada semua industri, termasuk industri kerajinan. Kenaikan UMP harus disertai dengan perbaikan keahlian, meningkatnya kreativitas dan ketatnya efisiensi. Tanpa itu, industri kerajinan kita akan mendapat tekanan yang cukup kuat di Komunitas ASEAN karena item produk kerajinan kita hampir sama dengan Vietnam.

Mr Hiroshi Sakamoto, ahli interior dekoratif furnitur ASEAN dari  Japan Trade, Investment and Tourism Promotion Centre mengatakan bahwa untuk mendapatkan order besar memang harus menunggu permintaan buyer, yang berarti mengikuti selera dan design buyer. Tapi, usaha keras para pengusaha handicraft untuk mem-branding produknya harus bersama-sama kita dukung karena mengangkat harkat bangsa, agar tidak hanya sebagai bangsa buruh, melainkan juga sebagai bangsa kreator. Dengan brand yang mendunia, margin bisa cukup besar untuk memberi kesejahteraan pada para pengrajin.

Sumber:

Kemenperin.go.id

Jurnas.com

Vietnambreakingnews.com

Vccinews.com

Aficfurn.com

1 comment:

  1. Handicraft sekarang semakin memberikan dampak positif loh mbak, namun hanya beberapa saja orang kreatif yang mampu bertahan dengan bisnisnya. Mbak, bukunya ada yang tentang handcraft flannel? atau punya tutorialnya? hehe.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.