Thursday, September 05, 2013

Jakarta, The Diplomatic Capital of ASEAN #10daysforASEAN

Di hari terakhir lomba blog #10daysforASEAN , aseanblogger.com memberikan tema tentang Jakarta yang terpilih menjadi tuan rumah Komunitas ASEAN di tahun 2015. Sebelumnya, Jakarta telah menjadi lokasi Sekretariat ASEAN sejak tahun 1976, persisnya di Jl Sisingamangaraja 70A Jakarta Selatan. Selain Jakarta, ibukota negara-negara ASEAN lainnya juga ingin menjadi tuan rumah bagi Komunitas ASEAN 2015 karena banyak keuntungan yang akan diperoleh. Salah satunya, secara ekonomi akan menguat seperti yang diperoleh Brussel, Belgia, yang menjadi markas Uni Eropa.


Jakarta The Diplomatic City

Jika dibandingkan dengan Singapura, Jakarta jelas kalah tertib dan modern. Tapi mengapa akhirnya Jakarta yang terpilih sebagai markas Komunitas ASEAN 2015? Ternyata alasannya tidak hanya karena sudah sejak tahun 1976 menjadi lokasi Sekretariat ASEAN saja, melainkan ditambah beberapa alasan lain, yaitu:

Populasi penduduk Indonesia hampir setengah dari populasi penduduk ASEAN.

Indonesia adalah satu-satunya negara di ASEAN yang tergabung dalam G20. G20 (The Group of Twenty) adalah kelompok elit dari 19 negara ditambah Uni Eropa yang memiliki perekonomian terbesar didunia.

Dengan latar belakang tersebut, Indonesia dinilai paling mampu menjadi markas bagi 270 staf Komunitas ASEAN yang melayani 10 negara dengan jumlah penduduk mencapai 585 juta jiwa.

Dampak Positif dan Negatif

Sebagai markas Komunitas ASEAN, Jakarta akan semakin sibuk dan menjadi perhatian negara-negara anggota ASEAN maupun negara-negara lain yang akan bermitra dengan ASEAN. Kedatangan staf Komunitas ASEAN dan keluarganya, para pebisnis yang akan bermitra dengan ASEAN dan para wisatawan akan menaikkan pemasukan pemerintah dari belanja para pendatang saja, belum lagi jika terjadi penanaman modal.

Dampak negatif hanya akan terjadi jika persiapan tidak dilakukan dengan baik. Markas Komunitas ASEAN memang hanya merupakan sebuah bangunan saja. Tapi aktivitas bangunan ini akan menarik banyak sekali perhatian dan kesempatan dari seluruh dunia baik secara ekonomi maupun politik. Jika persiapan tidak matang, maka daya dukung Jakarta tidak akan mampu memfasilitasi perkembangan tersebut, dan yang terjadi justru sebaliknya, serbuan peluang itu berubah menjadi bumerang dengan melambatnya aktivitas ekonomi.

ASEAN Diplomatic Zone

Kemacetan lalu lintas dan kurangnya infrastruktur yang memadai menjadi sorotan utama negara-negara ASEAN dalam menetapkan Jakarta sebagai markas Komunitas ASEAN kelak. Kota yang semrawut dikhawatirkan mengganggu kinerja para staf ASEAN,  para diplomat, para pelaku usaha dan staf lembaga internasional lainnya. Joko Widodo sebagai gubernur DKI memimpin persiapan Jakarta, antara lain:

Berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa untuk membangun gedung baru sebagai markas Komunitas ASEAN di bekas kantor walikota Jakarta Selatan di Jl Trunojoyo. Gedung ini direncanakan bernuansa budaya seluruh negara ASEAN.

Kawasan Kebayoran Baru tempat gedung Komunitas ASEAN itu akan dibangun, akan dijadikan ASEAN Diplomatic Zone, dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk klinik bertaraf internasional, sekolah internasional dan sebagainya.

Meminta Sekretaris Jenderal ASEAN, Le Luong Minh, meluangkan waktu untuk menghadiri berbagai event di Jakarta untuk menarik keragaman budaya ASEAN ke Jakarta.

Segera melaksanakan pembangunan fasilitas Mass Rapid Transport (MRT).

Menata pusat-pusat pertokoan di Jakarta dan membuat Jakarta lebih “hijau”.

Kesadaran Warga Jakarta

Sebagai kota metropolitan, warga Jakarta terkesan egois dalam menggunakan fasilitas umum. Selain karena kurangnya kesadaran warga, juga karena kurangnya daya dukung kota. Ketegasan gubernur Joko Widodo yang antara lain berani menata pasar Tanah Abang dan memasang target untuk memulai pembangunan infrastruktur MRT setidaknya merupakan pertanda bahwa pemerintah serius melakukan persiapan.

Kesadaran warga Jakarta bahwa kotanya akan menjadi tumpuan perhatian ASEAN dan dunia, harus terus dipupuk dengan sosialisasi tentang Komunitas ASEAN, pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat dan adab sebagai penghuni kota internasional. Warga Jakarta harus diberi pengertian bahwa diplomatic zone bukan dimasudkan sebagai kawasan eksklusif biasa, melainkan dibangun untuk memberikan suasana nyaman bagi staf ASEAN, diplomat, pebisnis dan staf lembaga internasional lain, demi kepentingan 585 juta penduduk ASEAN. Jika Jakarta bisa menjadi tuan rumah yang baik, dampak positifnya tidak hanya dapat dirasakan oleh warga Jakarta tapi juga seluruh rakyat Indonesia.

Mari menjadi tuan rumah yang baik dan kita sambut sahabat-sahabat ASEAN kita.



Sumber:

Bangkokpost.com

Thejakartapost.com

1 comment:

  1. Wah, referensinya lengkap juga mbak.
    Salut mbak.. sudah berhasil menaklukkan tantangan #10daysforASEAN

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.