Tuesday, September 24, 2013

Yang Pertama

Saya takjub melihat foto penerima penghargaan design kerajinan dari sebuah majalah wanita terkemuka. Majalah ini tiap tahun memberikan penghargaan serupa, bertepatan dengan pameran kerajinan tahunan terbesar. Saya takjub karena produk tersebut mirip dengan produk Ladaka Handicraft. Tidak semua produk Ladaka adalah design sendiri, bahkan sebagian besar sudah ada di pasaran sejak lama. Yang menang tersebut adalah design yang sudah ada di pasaran sejak lama, entah siapa penciptanya. Bedanya, hanya pada cover yang diganti dengan kain batik. Itu saja!


Mungkin panitia kurang observasi terhadap jenis produk tersebut, sehingga tidak tahu bahwa design seperti itu sudah ada sejak lama. Tapi kemudian saya berpikir, masa sih majalah yang memiliki reputasi tanpa cela bisa melewatkan produk seperti itu? Kemudian saya berkesimpulan bahwa kita bisa dihargai meski menggunakan sesuatu yang lama diberi polesan baru. Apa sih yang benar-benar baru diatas bumi ini? Sepertinya nyaris tidak ada, hampir semua adalah hasil improvisasi, transformasi  dan modifikasi dari sesuatu yang telah ada. Tapi masa sih menempelkan batik saja langsung jadi yang paling keren? Mengapa tidak? Belum pernah ada yang melakukannya, bukan?


Menjadi yang pertama dalam segala hal (yang baik-baik tentu saja) adalah separuh kemenangan. Aset manusia yang paling menjual adalah ide. Kita bisa tidak punya uang atau kesempatan, selama masih bisa memutar otak untuk mencari ide, kemungkinan besar kita masih bisa bangkit. Tapi jika kita tidak punya ide, habislah kita. Punya ide pun jika tidak kita laksanakan, tidak akan menjadi apa-apa. Sementara jika kita terlambat mengeksekusi ide, kita hanya menjadi pengekor dengan penghargaan tidak sebaik yang pertama, bahkan tak jarang tak diakui.


Dalam kehidupan sosial sering kita hanya menjadi penggembira saja. Tapi sekali-kali ambillah inisiatif sebagai penghargaan pada diri kita sendiri. Kita bisa kok menjadi orang pertama dari sesuatu yang belum pernah dilakukan orang lain. Dari pengalaman diatas memberi saya pelajaran bahwa menjadi yang pertama tidak harus dari sesuatu yang benar-benar baru atau yang dahsyat. Cuma menempelkan batik ke sesuatu yang telah ada, bisa memberi dampak yang lain dari yang lain pada produk tersebut.  Ide sederhana yang memberi efek luar biasa.


Familiar dengan istilah “mainstream” di media sosial kan? Jika kita terlalu asyik mengerjakan apa yang telah dikerjakan orang lain, kita akan lupa bahwa kita juga perlu jati diri. Konsentrasi dan ketekunan kadang membuat kita harus mundur sedikit dari keramaian. Keramaian membuat ide yang sudah berdengung hilang begitu saja tanpa eksekusi. Dan tak lama kemudian timbul penyesalan karena kita tidak mendapat apa-apa dari keramaian kecuali telinga yang pekak, sementara orang lain sudah mendahului mengeksekusi ide yang hampir sama dengan ide kita. Mundur dari keramaian bukan berarti sama sekali menghilang, melainkan memberikan tambahan waktu untuk mengeksekusi ide-ide kita.


Setelah ide tereksekusi, kita perlu mengabarkannya. Itulah sebabnya, meski ketika sedang mengolah ide kita butuh waktu khusus, bukan berarti kita tidak balik lagi ke keramaian. Kita tetap butuh networking. Keramaian adalah pengesah kita menjadi yang pertama. Lalu kita menguji diri dalam event-event atau kompetisi. Jika semua sukses, nama kita akan terus disebut-sebut sebagai sang inovator. Jika gagal, yah cari ide lain.


Tapi jika teman-teman sudah terima sebagai partisipan saja, ya tidak apa-apa. Partisipan itu adalah pencari ketenangan. Masa saya melarang? Saya sendiri saja masih bergulat dengan ide-ide untuk menjadi yang pertama di salah satu produk. Meski  telah banyak design baru yang saya munculkan, tapi tanpa “recognition” secara luas, orang tidak pernah mengenal saya sebagai inovatornya.


Vinyl - Tempat Perhiasan Oval Abu-abu TP53Special dalam

1 comment:

  1. Setuju Mak, agar dapat mengeksekusi ide itu perlu waktu untuk sekedar menyepi, karena sepanjang ide itu masih mengendap di kepala kita, ya tidak akan jadi kreasi, gimana orang mau menilai kreatifitas kita ?
    Malahan kadang idepun terlupakan karena kelamaan mengendap di kepala. #malahcurcol

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.