Tuesday, October 08, 2013

Komunitas Sebagai Partner dan Pasar

[caption id="attachment_8814" align="aligncenter" width="400"]GIZ - JRF (Java Reconstruction Fund) GIZ - JRF (Java Reconstruction Fund)[/caption]
Siang tadi di Wide Shot Metro TV, ibu Madya yang cantik dan pengusaha kerajinan goni menceritakan bahwa salah satu cara marketingnya adalah melalui pameran-pameran di komunitas-komunitas perempuan, misalnya yang berada di lingkungan kedutaan asing. Strategi yang bagus karena kerajinan dari bahan-bahan yang dianggap "aneh" didalam negeri tersebut, justru dianggap unik dan diminati konsumen asing.
Kebalikan dengan itu, teman saya, Carra, pernah ngetwit tentang komunitas yang isinya penjual semua, "Kalau semua jualan, yang beli siapa?"
Komunitas saat ini sedang naik daun. Didalamnya terdapat individu-individu yang ingin mewujudkan keinginan yang sama. Tapi bagi pemilik usaha, tak semua komunitas harus diikuti, harus pandai memilih yang bermanfaat agar waktu yang dimiliki bisa digunakan secara efisien. Kebanyakan pemilik usaha adalah orang-orang yang sibuk mencari peluang dan berinovasi. Apalagi jika ia seorang ibu yang harus mengurus keluarga juga.
Belajar dari pengalaman teman saya yang seorang pemilik usaha di Jogja, komunitas yang sejenis usahanya tidak perlu dihindari asal jelas manfaatnya. Komunitas yang diikutinya selalu dekat dengan asosiasi-asosiasi yang sering bekerjasama dengan pemerintah maupun NGO, yang memberikan bantuan teknis maupun mengajak pameran roadshow. Karenanya, meski usahanya tergolong kecil, teman saya itu bisa ikut pameran hingga ke Jakarta, Bandung, Pekanbaru, bahkan Malaysia.
Komunitas-komunitas yang sifatnya online, sering lebih banyak berisi curhatan, bagi-bagi tips dan bagi-bagi info. Meski jarang bisa memfasilitasi pemilik usaha untuk memasarkan produknya, baik melalui penjualan online maupun pameran, tak ada salahnya diikuti jika ada waktu. Tapi seperti kata Carra tadi, jangan mengharapkan penjualan langsung dari sana.
Akan halnya bu Madya tadi, komunitas tidak dalam posisi diikuti melainkan didatangi. Beliau menempatkan komunitas-komunitas yang ada sebagai pasar atau konsumen. Kejelian memilih komunitas sebagai pasar harus diasah, agar sesuai dengan produk yang kita punyai dan bisa kita jangkau atau bisa kita akses.

No comments:

Post a Comment

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.