Monday, November 11, 2013

DIY, Do It Yourself

230px-Home_improvment_logo


Hampir setiap hari di TV ada berita demo buruh menuntut upah. Profesi lain seperti asisten rumah tangga juga mulai mendetilkan hak-haknya. Hubungan kerja nantinya diharapkan dilandasi kontrak yang jelas untuk melindungi hak buruh, tidak bisa lagi secara kekeluargaan. Konsekuensinya, upah jadi tinggi dan bagi sebagian orang tidak terjangkau. Perlu diketahui, tidak semua orang yang mempekerjakan asisten rumah tangga atau tukang adalah orang kaya, tapi banyak sekali yang karena terpaksa meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah. Apa jadinya jika mereka atau mungkin juga saya, tak mampu menggaji mereka? Alamat rumah bakalan seperti kapal pecah.


Pekerja dengan upah tinggi sebenarnya sudah lazim di negara-negara maju. Namun mereka berhasil mengatasinya dengan pengetatan anggaran rumah tangga di segala sisi. Sebelum memanggil tukang misalnya, mereka akan cerewet sekali menanyakan berapa biaya service yang akan dikenakan. Rincian biaya yang ditawarkan biasanya sangat detil, seperti biaya service ke salon saja yang memerinci biaya gunting, keramas, catok, creambath, dan sebagainya. Jika tidak ditanyakan di awal, bisa-bisa jantungan ketika mendapatkan bill. Selain itu, mereka akrab dengan istilah DIY atau Do It Yourself alias kerjakan sendiri.


Di Indonesia, DIY masih dikenal sebatas membuat mainan, kerajinan atau baju sendiri, belum sampai ke pekerjaan berat seperti home improvement. Meski demikian, beberapa ibu sudah merambah urusan bangunan rumah. Kata oma sebelah, "Daripada nganggur." Oma sudah berhasil membuat kolam ikan dan menghaluskan carport. Saya sendiri punya pengalaman mengecat rumah tipe 60 berikut pagar kelilingnya dan menambah ekstensi colokan listrik. Meski itu jaman dulu, sudah lama sekali. Saya juga berpengalaman melakukan pengecekan rutin sepeda motor serta mobil jenis sedan dan van. Untuk sepeda motor, saya bisa mengganti oli sendiri. Mengganti ban mobil yang belum pernah karena ogah keringetan. Heheheee....


Di Indonesia, pekerjaan rumah masih dibagi-bagi dengan yang pantas dikerjakan perempuan dan tidak. Padahal, jika waktu sangat luang seperti oma sebelah atau ketika masih kuat seperti jaman saya dulu, apa salahnya perempuan mengerjakannya. Selain itu ada yang mengatakan bahwa beberapa pekerjaan seharusnya tidak dikerjakan perempuan karena perlu fisik kuat. Tapi mengecat misalnya, sama sekali tidak berat, cuma butuh peralatan yang benar, cat yang bagus dan kesabaran. Berarti biayanya jadi mahal dong kalau perempuan yang mengerjakan karena harus membeli peralatan yang bagus. Mungkin sekarang iya, tapi di tahun-tahun mendatang mungkin jauh lebih murah dibandingkan dengan membayar tukang. Ada pula yang mengatakan, kalau perempuan yang mengerjakan, bukan tambah bagus, malah tambah rusak. Misalnya ketika melakukan pengecekan kendaraan bermotor. Yakin laki-laki tidak ada yang begitu?


Selain pekerjaan yang biasanya dikerjakan laki-laki, perempuan juga bisa mengerjakan hal-hal lain yang memerlukan ketrampilan khusus misalnya mendekorasi rumah, memanfaatkan peralatan yang bisa didaur ulang, membuat korden sendiri dan sebagainya.


Ayo bu, pernak pernik rumah kita kerjakan sendiri. Selain ngirit, kreativitas terpancing, juga sehat karena badan bergerak terus.


Untitled


9 comments:

  1. Mak, aku sering juga loh benerin genteng..( tapi dulu pas lajang, suka banget nek di suruh betulin genteng hihihihi )

    Kalo sekarang paling benerin kabel listrik setrikaan, blender, pangganga nroti dll...udah emak2 rada kaleman dikit hahaha

    ReplyDelete
  2. ngecat rak buku dan lemari sendiri pernah...terus bikin ayunan untuk anak2 di halaman..itu yg manjat saya sendiri...:)

    ReplyDelete
  3. setuju saya, mak Lusi. mungkin sekarang kita bisa bebas sewa jasa karena tarif masih terjangkau. tapi melihat kondisi harga di pasaran yang nggak turun-turun, memang kudu bisa antisipasi buat ngerjakan sendiri dulu deh :)

    ReplyDelete
  4. Emak saya tuh yang melakukan banyak hal sendiri, sepeninggal abah saya. Emak bisa ngecat, menggergaji, memalu, kadang benerin lantai kami (rumah saya dari kayu), dll deh.
    Kalau saya malah gak bisa apa-apa, Mbak. Nyuci motor aja dicuciin sepupu yang cowok, karena biasanya kalo saya yang nyuci, kurang bersih :(

    ReplyDelete
  5. Aku suka pekerjaan tukang wkwkwk haduh salah jurusan kayaknya nih.

    Jangankan nanti, Mak. Gara2 sering ditinggal suami, aku jd sering melakukan pekerjaan yg tidak umum dilakukan perempuan hihihi.

    Pernah pas hamil 8 bulan anak ketiga, aku manjat tangga nambalin plafon yg bocor. Sehari sebelum ngelahirin anak ke-4, nukang sendirian bikin kandang kelinci wkwkwkwk. Pernah kuposting di blog yg dulu cerita yg ini :D

    ReplyDelete
  6. DIY.. kayaknya aku yang paling kewalahan, terutama pekerjaan perempuan.. :D

    ReplyDelete
  7. akuuu.. pernah benerin genteng yg bocor, benerin antena tivi yg bolak balik ketiup angin.. sampe sekarang masih gak sabaran ngerjain pekerjaan laki2 di rumah, kalo suami belum sempet ngerjain.. sudah didikan sejak kecil dari abah, cewe-cowo, semua anak kudu bisa!

    ReplyDelete
  8. Duh, motivasi baru buat saya nih mak. Harus mulai disiplin membagi waktu juga.
    Biar ga pake alasan "Ah, sibuk. Daripada kerjaan saya nggak beres, mending bayar orang." Hehehe
    Kalo nanti upah buruh jadi per jam kayak di luar, bisa kalang kabut. xixi

    ReplyDelete
  9. kami tidak pernah menentukan ini pekerjaan laki-laki atau perempuan semua sama kalau bisa dikerjakan secara bersama dirumah. Kadang suamiku cuci piring, kadang aku juga ganti kran air mbak

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.