Tuesday, December 17, 2013

Bersama-sama Menghadapi Lingkungan Baru

Banyak keluarga yang harus berpindah-pindah rumah karena tuntutan pekerjaan para orangtuanya. Lingkungan yang selalu berubah mempengaruhi gaya hidup keluarga-keluarga tersebut. Tak hanya antar kota, beberapa teman saya bahkan berpindah-pindah antar negara dan benua. Saya sendiri sudah menjalaninya sejak kecil bersama orangtua saya, dan sekarang bersama anak-anak saya, meski masih antar pulau di Indonesia.

Perubahan lingkungan yang terus-menerus sangat memperngaruhi pertumbuhan anak-anak. Saya pernah merasakan kesepian lantaran tidak sempat akrab dengan teman-teman, sedangkan saya hanya punya satu saudara dan laki-laki. Keluarga sekarang kurang lebih mengalami hal yang sama. Meski anak-anak sekarang memiliki gadget untuk menghabiskan waktu, tapi pertemanan penting untuk menumbuhkan empati dan simpati. Pengembangan karakter yang baik, misalnya dalam bertoleransi, hanya bisa ditanamkan dengan banyak bergaul atau menyentuh kehidupan orang lain.

Takut Lebih Dulu

Rencana memasuki lingkungan baru selalu menimbulkan perasaan takut, tidak hanya bagi anak-anak, tapi sebenarnya bagi orangtuanya juga lo. Jadi, tak ada salahnya orangtua mengajak anak-anak untuk menghadapi rasa takut itu bersama-mana. Orangtua tak perlu meyakinkan anak-anak bahwa di tempat baru akan sama enaknya dengan tempat yang sebelumnya. Jika kenyataan tidak sesuai dengan janji orangtua, anak-anak  tidak akan siap. Lebih baik bersama-sama mencari fakta atau berita tentang tempat baru tersebut melalui buku, internet, bahkan televisi. Jika menemukan fakta yang kurang diharapkan, orangtua dan anak-anak bisa berdiskusi bagaimana menghadapinya kelak.

Misalnya, bersama-sama mencari foto-foto di internet tentang suasana kota, sekolah-sekolah dan tempat bermain ditempat yang baru. Terangkan pula dengan bahasa yang sederhana, dimana tempat baru itu, berapa lama jarak yang harus ditempuh untuk pergi ke rumah nenek. Biasanya anak-anak mengukur jauh dekat jarak suatu tempat dengan berpatokan pada tempat-tempat yang paling familiar dengannya.

Sering kita berpendapat bahwa diskusi itu harus dilakukan oleh minimal dua orang dewasa, padahal dengan anak-anak usia taman kanak-kanak pun sebenarnya kita bisa berdiskusi. Manfaatnya tidak hanya untuk meningkatkan keyakinan anak-anak akan tempat baru tersebut, tapi juga mengurangi rasa kekhawatiran orangtua akan kesiapan seluruh anggota keluarga.

Tentang Kepercayaan

Yang paling menakutkan dari tempat baru adalah jika anak-anak tidak tahu apa yang harus dilakukannya tapi tidak bisa menghubungi orangtua untuk minta bantuan. Ketakutan itu bisa dikurangi, karena biasanya tak bisa dihilangkan, jika mereka yakin orangtua akan selalu ada tiap mereka membutuhkan. Meskipun orangtua tidak bisa hadir saat itu juga, tapi mereka tahu orangtua pasti datang dalam waktu tertentu, atau setidaknya mencarikan solusi buat mereka.

Kepercayaan itu tidak bisa diperoleh secara instan, tapi melalui proses panjang sejak mereka lahir. Misalnya dengan selalu berpamitan pada anak dan menjelaskan berapa lama akan pergi, meskipun hanya pergi ke minimarket didepan kompleks. Jika tiba-tiba anak-anak memerlukan bantuan orangtua, misalnya ada masalah di sekolah, katakan berapa lama akan sampai di sekolah. Dengan mengetahui kapan orangtua akan datang, anak-anak tidak akan terlalu khawatir jika ditinggal di sekolah atau dirumah yang baru bersama pengasuhnya.


Melihat Sisi Positif

Membandingkan lingkungan baru dengan yang lama itu wajar saja. Anak-anak sering menganggap lingkungan baru tidak asyik karena masih nyaman dengan lingkungan lama. Jangan memaksa anak-anak untuk menerima saja keadaan baru tersebut, tapi bantulah untuk melihat sisi positif dari setiap perbedaan yang ada. Proses ini tidak ada tenggat waktu karena dimanapun kita, perbedaan selalu ada. Jadi biarlah mengalir bersama kehidupan kita sehari-hari. Yang penting, jangan pernah lelah mengarahkan anak-anak untuk melihat sisi positifnya tiap kali mereka menyebut suatu perbedaan.

Misalnya, masyarakat daerah tertentu punya kebiasaan bicara dengan suara keras, yang bisa saja menakutkan anak-anak yang sebelumnya terbiasa berkomunikasi dengan nada rendah. Orangtua bisa mengajak anak-anak melihat sisi positifnya, misalnya karena rumah di daerah tersebut rata-rata luas, dan jarak antar rumah juga jauh. Jika bicaranya pelan, tidak akan terdengar.

Have Fun

Suasana gembira akan membantu anak-anak mengurangi kekhawatiran dalam menyesuaikan diri di lingkungan baru. Meski orangtua juga tegang, berusahalah untuk menyalurkannya dengan banyak bercanda. Tanpa sadar, ketegangan sering menimbulkan emosi yang tidak perlu. Misalnya, ketika pertama kali diundang ke pesta pernikahan di Pekanbaru, saya mengira itu adalah pesta penuh hura-hura. Ternyata semua acara pernikahan disini, baik di kota maupun di kampung, disebut pesta. Jam kunjungannya juga fleksible dari jam makan siang sampai malam. Sudahlah salah kostum, saya terburu-buru pula karena mengira waktunya hanya dua jam seperti di kota-kota besar di Jawa. Daripada tegang, lebih baik mentertawakan kehebohan kami sendiri ditengah ruangan yang masih kosong melompong karena belum ada tamu yang datang.

Mobilitas keluarga semakin hari akan semakin tinggi. Dengan menghadapinya bersama-sama, semuanya menjadi lebih menyenangkan, seperti sebuah petualangan seru. :D

9 comments:

  1. Saya juga sudah mengalami beberapa kali pindah rumah, karena dulu masih ngontrak ditambah juga suami pindah tugas diluar kota, hingga akhirnya sekarang menetap dirumah milik sendiri. Suasana tidak nyaman memang sering dialami, belum lagi ditambah faktor lelah dan barang-barang banyak jadi lecet disana sini. Belum lagi anak pertama baru TK saja sudah 3 kali pindah sekolah sehingga perlu menyiapkan dana ekstra untuk jaga-jaga. hmmm .. satu lagi masalah asisten rumah tangga juga yang ga mungkin bisa dibawa kesana kemari sehingga harus merelakan mereka dan siap beradaptasi untuk mencari yang baru. thanks artikelnya mbak .. jadi mengingatkan pada moment saat harus pindah kesana kemari :)

    ReplyDelete
  2. Ahaaaa...tips yang bagus, tapi aku pribadi (belum dengan anak & suami) dulu suka pindah2 kerja hingga ke laur daerah karena ingin tantangan dan melihat lingkungan baru yang pasti menarik, makanya sampe pernah terdampar (nggembelisasi) di pelabuhan Tanjung Priok hahahaha....

    Tapi akan berbeda memang kalau untuk usia anak-anak, cemangatttt mak untuk angkut2 setiap pindahannya :v :v :*

    ReplyDelete
  3. Mak Lusi aku tumbuh dari keluarga yang sering berpindah-pindah ketika kecil hingga SMA, luamayan harus pintar orang tuanya untuk menjelaskan bahwa kepindahan bukan menjadi suatu beban. Pun anakku sekarang sudah mengalami dua kali pindah rumah, Alhamdulillah...pertama adalah tipsnya memperkenalkan dia dengan tetangga baru.

    MAkasih artikelnya ya Mak

    ReplyDelete
  4. aha...jadi ingat jaman aku kecil dulu, setiap sudah tiga tahun di suatu kota, kami pasti sudah mulai berbincang, pindah kemana lagi ya pap? Kabar kota yang akan dituju seringkali mepet dengan waktu keberangkatan, mulailah kehebohan ngepack barang menjelang berangkat. Aku gak kebayang repotnya ortu waktu itu, sampai di kota yang baru sibuk daftarin sekolah, beli seragam dan buku baru, bongkar peti/kardus. Heboooh. Aku pribadi baru ngerasain pindah dua kali sejak nikah. Meski sama2 di seputar Jakarta, aku kapok pindahan....cape dan ribet. Sampai saat ini masih merasa ini rumah terbaik kami dan belum terpikir mau pindah lagi meski ke rumah yang lebih besar sekalipun. Lingkungan yang nyaman tetap menjadi prioritas bila bisa memilih.

    ReplyDelete
  5. Kalau saya terakhir pindah pindah itu tahun 2008, selanjutnya menetap di Tangerang. Selama hidup berpindah pindah kami sekeluarga tidak ada permasalahan dengan lingkungan baru, istri saya mudah bergaul dg tetangga dan anak anak juga demikian. Saat ini saya memilih menetap walaupun saya masih bekerja di luar pulau karena biaya pindah kan mahal maklum pegawai swasta.

    ReplyDelete
  6. Aku sempet pindah2 krn suamiku suka belajar di luar. Tapi aku suka krn jadi berasa jalan2 terus. Mungkin krn anak2 masih kecil2 ya waktu itu. Aku seempat 3 tahun di sydney, balik ke indonesia 1 tahun eh balik lagi ke sydney 2 tahun. Terus ke malaysia 1 tahun. Yg di malaysia anak2 malah home schooling krn kukira cuma sebentar ini tanggung kalo pindah sekolah. Eh anak2 malah ngerasa lebih asyik home schooling drpd sekolah formal. Tapi pas balik ke indonesia lagi tetep harus sekolah formal mereka. Seterusnya aku bolak balik aja pas anak2 dah gede sekarang. Krn mereka gak mau pindah sekolah lagi. Pindah2 itu enak kalo anak2 masih kecil tapi pas dah gede mereka umumnya keberatan.

    ReplyDelete
  7. Haduh, Maaak...jadi kangen dengan tumpukan kardus :(
    Dulu setiap pindah ampe 30 koli lebih, hihi. Etapi kardus punya Mak Lusi pada mulus2 deh. Beli baru terus tiap mau pindahan ya? Kalo saya mah kardus yg masih bagus, dikoleksi untuk pindahan berikutnya *hemad*
    Kami sudah pindah rumah 9 kali di 7 kota di Indonesia. Semua anak tempat lahirnya beda2, hehe. Syukurlah selama pindah2 tempat tinggal, 3 boyz hepi2 aja. Mungkin krna mereka masih kecil atau ketularan semangat yang selalu saya pancarkan (apaseh) setiap akan menempati lingkungan baru :)
    Dulu mah kami belum melek internet. Pindah tempat baru ga pernah brrowsing alias tebak2 buah manggis dan tanya sana-sini pada rekan suami yang pernah tinggal di kota itu.
    Yang sdh mengerti n ngalamin pindah sekolah plus ganti2 teman dan budayanya, ya si sulung Aa Dilshad. Untungnya Aa mudah beradaptasi dg teman2 barunya. Bahkan dalam waktu singkat bisa menguasai logat daerah setempat (ortunya kalah nih).
    Fun fun fun...itu saja yang melekat di benak kami sekeluarga saat hidup berpindah2 tempat tinggal dulu. Sekarang kami sudah 'insap' dan tinggal menetap. Suka kangen juga nih, ga tahan pengen pindah2 lagi, hehe

    ReplyDelete
  8. Ngacung Mak!
    Waktu masih kecil dari SD sampai SMA saya pindah-pindah kota juga Mak, jadi punya banyak sekolah. Kelas 3 SMP saya sekolah di Pekanbaru satu tahun aja.
    Waktu masih kecil sih pindah-pindah itu seneng, karena bakalan menemukan sesuatu yang baru.
    Tapi pas udah jadi Emak-emak beginih, urusan pindah jadi ribet dan bikin stress, terutama ngurus sekolahnya anak-anak dan penyesuaian anak-anak dengan lingkungan.
    Setelah melewati masa adaptasi 1,5 tahun-an baru deh bisa enjoy.
    Baru bisa enjoy dengan lingkungan baru eh gak lama lagi bakalan deg2an karena harus siap-siap pindahan lagi.... :D

    ReplyDelete
  9. peranan orang tua sangat penting dalam menghadapi lingkungan baru untuk anak-anak ya mbak. Aku harus belajar dari mba lusy nih siapa tau aja suatu saat pindah ke lingungan baru

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.