Friday, December 13, 2013

Perlu Keranjang Belanja Atau Tidak?

Jika dilihat, olshop-olshop raksasa yang dulunya hanya mengandalkan keranjang belanja atau shopping cart untuk bertransaksi, sekarang menyediakan banyak kontak bagi pelanggannya, termasuk dengan telepon langsung. Enggak kebayang berapa jumlah customer service-nya jika display produk benar-benar menggambarkan besarnya omset setiap hari. Beberapa hari lalu, website Ladaka tutup cukup lama untuk ganti template yang lebih interaktif dengan memasang keranjang belanja. Loh, kok malah mengambil tindakan yang sebaliknya meskipun hasil akhirnya sama, yaitu membuka akses sebanyak mungkin?

Proses ber-online shop usaha kecil seperti saya dan olshop-olshop besar memang berbeda, meski akhirnya ketemu ditengah, yaitu akses sebanyak-banyaknya.  Olshop besar mulanya mengusung ide total e-commerce dengan dukungan modal besar dan penguasaan IT. Namun, konsumen Indonesia tidak sepenuhnya siap meskipun tertarik. Gadget masih digunakan untuk keperluan pekerjaan dan gaul, belum banyak untuk belanja. Kalaupun untuk belanja, maka yang diminati adalah yang berjualan melalui facebook atau blackberry, dimana konsumen dan produsen bisa tanya jawab langsung dan tidak perlu mengisi formulir.

Sebaliknya, karena tak ada dukungan IT, usaha seperti yang saya miliki bergerak dari hubungan personal, lalu meningkat dengan tersebarnya informasi dari mulut ke mulut, memajang di akun pribadi, membuat blog gratisan, membeli hosting dan akhirnya berinteraksi dengan pelanggan layaknya olshop besar meski dengan omset yang lebih sedikit. Tapi akhirnya, keduanya sama-sama ingin akses yang luas.

Apakah Keranjang Belanja Benar-benar Perlu?

Fungsi keranjang belanja adalah agar konsumen bisa memesan dengan cepat tanpa berinteraksi langsung dengan customer service. Karenanya, olshop harus meminimalkan pertanyaan yang mungkin muncul dengan memberi rincian yang jelas pada tiap foto produk. Pembelian dengan keranjang belanja juga membantu merapikan kinerja olshop, karena didalam dashboard ada stock level yang otomatis berkurang jika ada penjualan. Selain itu, ada rincian  otomatis penjualan dan total omset dalam jangka waktu tertentu, berikut rincian best seller, non moving stock dan sebagainya.

Dari pengalaman belanja di olshop lain sih, saya lebih nyaman menggunakan keranjang belanja daripada harus bertanya-tanya pada pemilik olshop. Hanya dalam beberapa menit, transaksi bisa selesai. Kadang memang ada yang agak lama karena sistem keranjang belanjanya agak sulit dipahami. Tapi, setelah mengerti, semua lancar-lancar saja.

Kendala Keranjang Belanja

Masyarakat Indonesia, terutama perempuan, lebih senang jika bisa tanya jawab langsung dengan customer service. Selain bisa menawar (yup, di olshop pun banyak yang nawar), juga bisa memastikan mendapat ongkos kirim termurah. Jika pemilik olshop tidak hanya menjual tapi juga memproduksi, banyak konsumen yang akan melakukan pembelian dalam jumlah besar melampaui ketersediaan barang, sehingga perlu juga komunikasi langsung. Demikian pula dengan olshop yang tidak memiliki stock alias made to order, yang memerlukan penjelasan tersendiri kepada pelanggan, kapan pesanan siap.

Kendala lain adalah jika ada masalah teknis, terlebih jika pengelolanya gaptek seperti saya. Jangankan olshop yang full foto dan data penting, blog ini saja sudah dua kali down karena diserang virus entah darimana. Media sosial harus diaktifkan untuk mem-backup. Bersiap pula untuk kesalahan input sewaktu-waktu.

Fleksibilitas

Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah fleksibilitas. Olshop besar tak lagi susah dihubungi. Mereka mengaktifkan customer service baik secara online di internet, maupun yang bisa dihubungi melalui telepon. Olshop kecil seperti Ladaka juga sudah banyak yang menggunakan keranjang belanja untuk mendukung gaya hidup pelanggan yang serba praktis.

9 comments:

  1. saya belum pernah belanja Ol mak...

    ReplyDelete
  2. Yang agak gaptek mungkin keranjang belanja menyulitkan ya mbak. Biasanya kalau ada keranjnag belanja lebih baik lagi ada CS onlinenya juga ya mbak

    ReplyDelete
  3. karena saya termasuk yang gak bisa nawar dan suka males nanya (sebetulnya, sih, karena rata2 kalau ditanya2 suka slow respons, kecuali kalau kita langsung mau beli hehehe), jadi saya suka online store yang detil isinya, Mak. Gak cuma nampilin foto produk sama harga, tapi juga spesifikasi, dan lainnya. Pokoknya komplit.

    Jadi saya tinggal klak-klik, masukin data. Beres. Olshop model gt biasanya suka saya lirik duluan :)

    ReplyDelete
  4. Menurutku keranjang belanja itu penting gak penting. Maksudnya, penting dipasang di olshop kita. Tapi kalopun gak ada juga gapapa. Gak terlalu crutial. Terkadang ada yg lebih suka nanya dan interaksi langsung dgn si seller. Kalo olshopku sih ada keranjang belanja :)

    ReplyDelete
  5. Saya paling suka pake keranjang belanja. Tapi lihat-lihat dulu online shopnya. Kalau mencurigakan dan harganya mahal ya ogah. Kalo masih terhitung murah (resiko kehilangan) tetep pakai keranjang. Agak males kontak langsung karena suka slow respon dan kelamaan #NggaSabar

    Mungkin karena terbiasa belanja digital yang selalu keranjang belanja, sudah mulai terbiasa lihat keranjang belanja. Kadang suka males klo ngga ada keranjang belanja. Eh model kaya saya mah 1: 100 kayaknya

    ReplyDelete
  6. kalau mesinnya masih pake blogspot belum bisa maksimal kayanya..

    ReplyDelete
  7. pernah iseng2 cari tema blog yg ada keranjang belanjanya. tema tersebut berbasis blogspot, ada sih tapi pakai ivoce email gitu. cuma sebagai "pelengkap" aja sih, karena memang ol shopnya nggak se genjreng zalora :D
    yg penting promosi mulut ke mulut yg paling efektif sih :D

    ReplyDelete
  8. Pernah belanja di dua macam olshop, baik yang ada keranjang belanjanya, maupun yang model melayani via chat macam "Mau yang mana, Sist?"

    Asyik-asyik aja sih, kalo aku, disesuaikan dengan keperluan.

    Kalo kayak di Bilna (boleh kan sebut merek) seneng karena keranjang belanjanya mudah dipahami, pelayanan CSnya melalui email-pun cepat. Biasanya untuk barang-barang umum seperti makanan bayi atau diapers, yang memang nggak perlu nawar, dan ukurannya sudah pasti.

    Tapi seperti baju atau sepatu, kadang lebih suka kalau yang jualannya bisa diajak komunikasi. :D

    ReplyDelete
  9. aku pernah belanja online shop dgn dua cara tsb mak, keduanya gak ada masalah sih. Jadi pengen belanja di ladaka jg nih, dapet diskon gak mak ? hehee

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.