Tuesday, January 07, 2014

Harga Naik Tapi Tak Bisa Diirit

Sudah baca kiat-kiat menghadapi kenaikan harga di Survey Ngirit dong? Nah, bagaimana dengan hal-hal yang tidak bisa diirit? Masa ada yang tidak bisa diirit atau diakalin gitu?

Meski kenaikan gas tidak sampai 68%, melainkan "hanya" Rp 1.000/kg, tapi semua biaya hidup sudah terlanjur meroket karena akumulasi sejak kenaikan BBM, TDL, UMR dan gas lalu. Khusus untuk gas, meski dianulir, tapi konsumen yang sudah trauma tentu akan melakukan tindakan berjaga-jaga, antara lain menaikkan tarif jasa usahanya. Paling tidak, ada 2 hal yang tidak bisa diirit, atau setidaknya sangat sulit, yaitu kesehatan dan pendidikan.

Kesehatan

Teman saya, Oline, yang sedang mempersiapkan kelahiran bayinya mengeluh karena rumah sakit yang direncanakan menjadi tempatnya melahirkan tiba-tiba menaikkan biaya sebanyak 50%. Kenaikan yang sangat tinggi.

Bagaimana mengirit biaya melahirkan seperti itu? Menurut saya, tak bisa, kecuali benar-benar terpaksa tak ada duit lagi di kantong. Karena melahirkan itu bukan soal mewah dan sederhana tapi juga melibatkan kondisi psikologis yang berat. Jika seorang calon ibu sudah meletakkan kepercayaan pada sebuah rumah sakit, akan sulit baginya untuk mempertimbangkan yang lain. Apalagi jika kelahirannya beresiko atau mendapatkan pengalaman yang kurang nyaman sebelumnya.

I mean, c'mon. Mau melahirkan manusia, loh. Ibu yang akan melahirkan itu bukan makhluk manja, hamil saja perlu keberanian yang sangat besar, apalagi melahirkan. Melahirkan itu ibarat turun mesin, seluruh energi keluar berikut resikonya. Jangan heran jika setelah melahirkan malah diberi obat tetes mata, karena seluruh syarat terganggu. Mata termasuk yang paling mudah mengalami penurunan kualitas. Namun, seperti halnya semua upaya medis, faktor penentu yang tak kalah penting adalah kondisi psikologis pasien. Jika pasien sudah yakin sebuah rumah sakit akan merawatnya dengan baik, tak bisa begitu saja dicarikan alternatif.

Biaya kesehatan memang tinggi, makanya sakit itu lebih menakutnya daripada penyakit itu sendiri. Pastikan kantor tempat kita bekerja sudah meng-cover biaya kesehatan kita. Jika belum, pertimbangkan untuk ikut asuransi. Mintalah nasehat dari orang terpercaya supaya terhindar dari produk-produk asuransi yang kurang bermanfaat dengan iming-iming investasi.

Pendidikan

Teman saya yang lain lagi, Carra, mengeluh biaya sekolah anaknya tiba-tiba naik 25%. Meski saya sendiri tak percaya pendidikan bermutu terselenggara karena ada biaya tapi saya juga sadar bahwa untuk mendapat lebih harus keluar biaya. Sama halnya dengan kesehatan, jika orangtua dan anaknya sudah percaya, apalah arti biaya. Pendidikan adalah investasi abadi, karenanya tak serta merta kita bisa pindah ke sekolah lain yang lebih murah jika tidak sangat terpaksa.

Tapi karena itu pula, banyak penyelenggara jasa pendidikan yang memanfaatkannya. Dengan pikiran orangtua pasti mau membayar berapapun juga, ada saja biaya yang keluar, antara lain untuk buku dan seragam dengan harga mark-up luar biasa. Bahkan biaya guru pembimbing study tour pun harus ditanggung siswa secara tanggung renteng.

Sekolah gratis? Dari pengalaman saya, gratis itu hanya untuk iuran bulanan dan buku wajib. Seragam yang seharusnya lebih murah karena dipesan dalam jumlah besar oleh seluruh siswa ternyata malah lebih mahal dari logika.

Anak-anak itu ibarat spon, yang menyerap apapun. Pelajaran di sekolah tak akan cukup memenuhi rasa ingin tahunya. Buku-buku pendukung tetap harus dibeli dalam jumlah yang kadang lebih banyak dari buku sekolah. Tapi semua itu dengan senang hati dipenuhi orangtua.

Hukum ekonomi itu memang kejam. Dia menyamaratakan semua kebutuhan dengan angka-angka keseimbangan supply dan demand. Pemerintah yang baik seharusnya tidak hanya berpatokan dengan hukum ekonomi global tapi harus diarahkan menurut kebutuhan prioritas rakyatnya sendiri. Setiap keputusan yang melibatkan uang harus dipikirkan dampaknya secara luas, bukan hanya per sektor. Pemerintah yang menganulir kebijakannya sendiri pertanda pemerintah yang mudah terintimidasi sebagai akibat kecerobohannya sendiri dalam mengambil keputusan.

12 comments:

  1. Yap, betoel Mak, kesehatan dan pendidikan adalah dua hal vital banget di kehidupan kita. Soal kesehatan, itu juga termasuk biaya 'makan sehat'. Makan jangan diirit, kalo kata emak saya, hahaha...

    Link-nya ke Carra kok sama ke Oline ya?

    ReplyDelete
  2. Beneeeer, yang untuk kesehatan itu ikut deg-deg an, kudu nyiapin lebih. Apalagi untuk kehamilan berisiko seperti saya, rumkit juga yang memiliki fasilitas lengkap, nggak ada di tanggung kantor (wirausaha), nggak asuransi juga. Serahkan semua sama Allah deh, moga diberi rezeki lebih dan kemudahan :)

    ReplyDelete
  3. Gas naiknya ya ampuuun. Kasian ibu2 yang masak pakai Gas. :)

    Tentang melahirkan itu memang babarblas gak iso ngirit ya, Mba. Lebih penting dr Pendidikan, mungkin. Meski gak punya uang di kantong, pasti yang mau ngelairin terus berusaha untuk mencari dana. Entah pinjam atau cari cara lain.

    ReplyDelete
  4. Aku ga pro jg ga kontra mb... Karena kl persepsiku, kita dari jaman orde baru kita sudah terlena ama yg namanya subsidi, yg sebenernya membebani kita.... Dan banyak potensi-potensi alam kita, minyak, gas dan sumber daya alam lainnya sebagian besar di kuasai negara lain, gimana Indonesia bisa maju?? Susahnya karena orang-orang sekarang, jadi semakin menuntut ketika segala sesuatunya ingin di kembalikan ke "jalur sebenarnya"... Susah mb...

    ReplyDelete
  5. Hah...penink mikir biaya hidup, mao tidur ajah dolo (=|

    ReplyDelete
  6. waduh.. pusiang nih mikirin itu, tapi walau pusing, saya InsyaAllah sdh mempersiapkannya.. bismillah.. :)

    ReplyDelete
  7. Gak bisa ngirit, mak? apa yang mau diirit wong sekarang jg gak berlebihan. ngirit lagi, kasian anak-anakku. cari diut aja lebih banyak :D

    ReplyDelete
  8. wah, banyak yang gagap menaikkan harga ya mak. yg kebangetan itu sekolah dan rumah sakit. apa hubungannya coba?

    ReplyDelete
  9. Membayangkan harga Pendidikan yang selangit.
    Jadi ingin selalu menyingsingkan lengan baju untuk dua putri kecilku
    ^_^

    ReplyDelete
  10. betul mbak biaya pendidikan mahal sekali ya saat ini, begitu pula dengan kesehatan. Harus jaga kesehatan

    ReplyDelete
  11. Yang jelas awal tahun 2014 kita sudah harus bekerja keras, sekeras mungkin.

    ReplyDelete
  12. Saya paling ngeri dengan biaya pendidikan...mesti nabung jauh-jauh hari dan nabung nya juga mesti smart!

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.