Tuesday, January 21, 2014

Mengenal Social Entrepreneurship Bersama Mardi Wu, CEO Nutrifood

Sudah lama menyimak kegiatan Akademi Berbagi (Akber) dan facebook, menjadi follower founder-nya @pasarsapi di twitter dan menjadi teman mbak Ainun Chomsun di facebook. Tapi berhubung saya cuma memantau dari pinggir, tentu mbak Ainun tidak mengenal saya heheheee.... Rasa syukur tak terhingga ada teman-teman di Pekanbaru yang mendaftar menjadi relawan Akber. Mengapa saya tidak? Sebenarnya kesibukan di usaha dan admin komunitas lain bukan masalah ya jika ada niat, tapi terutama karena merasa sudah terlalu tua untuk gabung di Akber. :(

Akber adalah kelas untuk berbagi berbagai pengetahuan, keahlian dan pengalaman yang diselenggarakan secara swadaya. Ruangan yang digunakan merupakan donasi berbagai pihak, sedangkan pemateri atau disebut sebagai guru adalah relawan dari kalangan profesional. Karenanya, kelas ini gratis dan boleh diikuti siapapun juga. Kalau toh ada pendaftaran, itu semata-mata agar ruangan cukup nyaman bagi semua yang hadir.

Akber Pekanbaru #7

Tanggal 18 Januari 2014 lalu, Akber Pekanbaru menggelar kelas ke 7 bertempat di L Cheese Factory. Tema yang diangkat adalah Social Entrepreneurship dengan guru Bapak Mardi Wu, CEO Nutrifood. Tentusaja ini tidak saya lewatkan. Meskipun jadi murid paling tua, saya cuek saja malam mingguan bersama anak-anak muda lain di L Cheese Factory.

Tema tersebut menarik bagi saya karena saya cukup aktif di media sosial sebagai admin Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan sering menyimak akun-akun yang berhubungan dengan social entrepreneurship. Meski masih secara pasif berpartisipasi jika akun-akun tersebut mengadakan event, saya yakin akan banyak pengetahuan yang bisa saya gunakan untuk diri saya sendiri maupun KEB.

Mardi Wu adalah putra Riau, tepatnya dari Bagansiapisiapi. Saya belum pernah kesana tapi ketika sekolah dulu, kata pak guru, Bagansiapiapi adalah pelabuhan penghasil ikan terbesar nusantara. Sekarang sudah tidak lagi karena sedimentasi dari sungai Rokan (Wikipedia). Namun begitu, sering terpana melihat foto-foto upacara bakar tongkar yang terkenal itu dari kamera teman saya. Terus terang agak heran juga seorang CEO bisa muncul dari daerah yang jauh dari perkotaan. Tapi akhirnya itu bisa dimengerti mendengar cerita kegigihan pak Mardi Wu dan orangtuanya yang sangat mengutamakan pendidikan, meskipun sang ayah lulusan SD. Kirain penampilan akan gimana gitu dengar gelar CEO-nya, ternyata nyantai dan ngepop seperti KPOP-er. :D

Social Entrepreneurship

Menurut pak Mardi, social entrepreneurship adalah kemampuan untuk melihat peluang dari setiap kekacauan. Namun, peluang tersebut haruslah bernilai ekonomis. Bagi yang memiliki jiwa entrepreneur, setiap perubahan yang terjadi berarti terciptanya peluang-peluang baru. Saat ini, perubahan-perubahan banyak yang bisa dipantau sekaligus dilakukan melalui media sosial.

Banyak gerakan sosial yang digaungkan melalui media sosial. Seperti halnya KEB yang mengajak perempuan untuk melek internet dan berbagi pengetahuan kepada sesama perempuan melalui media tersebut sehingga mampu mencapai perempuan dimana saja. KEB dianggotai oleh perempuan yang berdomisili tersebar diseluruh dunia dari berbagai latar belakang, dari diplomat, pengusaha, profesional, penulis, ibu rumah tangga, hingga tenaga kerja wanita.

Social entrepreneurship disini adalah menggabungkan keduanya, yaitu gerakan sosial yang memiliki tujuan pasti dan mampu membiayai dirinya sendiri atau mandiri. Pak Mardi mencontohkan Bank Grameen yang didirikan Muhammad Yunus dan membuatnya mendapat Hadiah Nobel. Beliau memprakarsi kredit mikro tanpa agunan bagi kaum miskin.

Salah satu yang digarisbawahi oleh pak Mardi adalah dalam social entrepreneurship harus mampu memberdayaan pihak yang membutuhkan, lepas dari ketergantungan terhadap donatur, karenanya kegiatannya harus bernilai ekonomis. Sehingga intinya adalah usaha yang mampu memberi solusi terhadap masalah sosial.

Dengan demikian, dampak yang diharapkan dari berkembangnya social entrepreneurship adalah terbukanya lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi dan kontribusi terhadap solusi masalah sosial.

Peluang Social Entrepreneurship

Perusahaan yang semakin besar akan melakukan berbagai efiensi dan aturan yang semakin ketat untuk mengendalikan sinergi yang semakin kompleks. Kreativitas akhirnya mengalami berbagai stagnasi karena terbatasnya kebebasan berekspresi. Karena itu, banyak perusahaan yang dipecah atau melakukan kolaborasi.

Fakta tersebut merupakan peluang yang bisa ditangkap oleh usaha-usaha kecil yang berorientasi social entrepreneurship.  Yang diperlukan adalah kejelian, kreativitas dan kegigihan. Kegigihan adalah modal utama kesuksesan. Sekali dua kali gagal dalam usaha tidak boleh membuat kita menyerah. Tapi, pak Mardi menekankan harus ada manajemen resiko juga supaya tidak gagal terus-terusan atau kalaupun gagal tidak menghabiskan seluruh modal kita.

Pertanyaan Saya

Saya bertanya pada pak Mardi, bagaimana memelihara energi dalam sebuah komunitas agar bertahan di media sosial, terutama jika sedang naik daun. Sebenarnya ini pertanyaan yang membuat saya tak habis mengerti terhadap social entreprenuer tertentu, yaitu ketika teringat dengan ibu Titik Winarti dari Tiara Handycraft yang mempekerjakan para penyandang disabilitas, bahkan menampung karyawannya itu tinggal bersama-sama dirinya. Bukankah itu tanggung jawab yang menghabiskan energi luar biasa? Bagaimana seseorang mampu melakukan hal itu sedangkan saya sendiri sering merasa kelelahan meski tidak mengurus pihak yang membutuhkan secara langsung?

Menurut pak Mardi, yang utama adalah menentukan tujuan pasti terlebih dulu, apa yang benar-benar ingin dicapai diujung sana. Jangan mengumpulkan ini itu, baru berpikir akan dijadikan apa. Jika kita sudah mantap dengan tujuan tersebut, apapun yang kita lakukan akan terasa ringan dan ikhlas.

Silaturahim dan Tambah Teman

Acara seperti ini sering pula digunakan untuk networking, tapi bagi saya yang utama adalah berteman. Dari berteman bisa jadi apa saja. Jadilah di acara ini ketemu teman-teman dari Blogger Bertuah dan UKM, yang biasanya setelah acara berpencar lagi dengan kegiatan masing-masing. Menyambungkan silaturahim yang lama tidak saling berkabar antara kak Indah Juli dan kak Sondha Siregar. Selain itu, bisa berkenalan dengan pemilik L Cheese Factory yang sekarang sedang ngehits di Pekanbaru, ibu Lientje Siregar. Terima kasih tempat dan cheese cake-nya, ya Opung.

Untuk Akber Pekanbaru, terutama teman saya Liada Marta dan kepsek mbak Hesty Wulandari, semoga sukses dengan kelas-kelas berikutnya. Teman-teman yang ingin bergabung silakan follow akun twitter @AkberPekanbaru. Pak Mardi bilang, calon karyawan yang paling disukai beliau adalah yang suka belajar dan bisa mengajar. Berbagi bikin happy. Semangat!

5 comments:

  1. Ah, suka sama reviewnya. Keren, Mak! :)
    Terima kasih yaa udah hadir di kelas ke-7 Akber Pekanbaru. Next class ikutan lagi ya, Mak. ;)
    Dan mohon izin postingan ini untuk dipublish juga di blognya Akber ya, Mak, di akberpekanbaru.wordpress.com. Bolehkah? :)

    ReplyDelete
  2. Semakin berkembangnya teknologi akan semakin banyak sebuah peluang yang dapat dipergunakan, dan salah satunya adalah social media. Di mana kita dapat belajar dan berbagi sambil sharing. Namun hal yang sulit adalah memlihar satu tujuan komunitas sosial media ya Mba. Semoga semua yang telah berjalan akan selalu mebawa berkah dan dapat emnciptakan enterpreseurship yang berjiwa sosial dalam hal mebangun networking yang baik.

    Salam

    ReplyDelete
  3. berbagi itu memang bikin happy ya mbak, dan ketagihan

    ReplyDelete
  4. Hai mbak lusi ,

    wah ada tulisan menarik tentang kelas kita kok ga colek2 di twitter. Tadi coba mau dipost ke weblog kita, tapi fitur copy, klik dll dimatikan (salut sama securitynya).
    kalo berkenan boleh kami diberi file untuk dapat kami masukkan ke weblog akberpekanbaru menambah #ceritaakber dari pekanbaru.

    Salam berbagi bikin happy
    Rendra o.b.o Akkberpekanbaru

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.