Tuesday, January 28, 2014

Personal Safety Kit Gempa

[caption id="" align="aligncenter" width="440"] Picture source : http://www.bjcraftsupplies.com/windChimes/[/caption]
Beberapa hari ini gempa mengguncang Jawa Tengah. Moga-moga itu lumrah saja terjadi setelah gempa besar. Tapi tak urung itu mengingatkan pada trauma lama yang sudah bolak-balik saya ceritakan tentang bagaimana kami terjebak didalam rumah sewaktu gempa Jogja dahsyat tahun 2006. Yang mendengar cerita saya pun mungkin sudah bosen. Karenanya saya akan mencurahkan (jiah) trauma tersebut dalam bentuk yang lebih konstruktif, yaitu berbagi informasi tentang personal safety kit yang harus dipunyai jika tinggal di daerah gempa.

Informasi ini saya baca dari selebaran yang diberikan secara gratis waktu itu, tapi saya lupa instansi mana yang menyebarkannya. Sebenarnya bukan semacam tips sih, tapi cerita tentang bagaimana orang Jepang yang tingkat kegempaannya tinggi berdamai dalam kehidupan sehari-hari. Benar atau tidaknya, moga-moga teman-teman blogger yang tinggal di Jepang bisa mengecek. Meski demikian, dari Jepang atau bukan, ini cukup masuk akal.

Jadi, katanya orang Jepang yang tinggal didaerah gempa selalu menyiapkan tiga hal dekat tempat tidurnya, yaitu tas, senter (flash light) dan helm.

Tas ini maksudnya bukan berisi baju ya. Itu sih persiapan mau melahirkan. Tasnya yang biasa kita bawa bepergian saja. Didalamnya harus ada dompet, kunci mobil, kunci rumah dan handphone yang berisi pulsa dan baterai penuh. Jadi, bila terjadi gempa, kita dengan cepat menyambar tas tersebut, membuka pintu dan mungkin melarikan diri dari tsunami jika mobil masih utuh. Untuk kunci rumah, dulu sempat saya biarkan menancap saja di pintu karena saking gemetarannya pas kejadian, susah memasukkan kunci. Tapi itu sebenarnya tidak aman dari orang jahat. Jika kita terkurung, handphone bisa kita gunakan untuk minta bantuan kalau ada sinyal. Waktu masih di Jogja, saya mengikuti saran tersebut. Namun, gara-gara perampok pernah masuk rumah saya yang sekarang, ide ini saya modifikasi supaya satu tas tidak disambar pencuri semuanya. Pencuri sekarang kadang tidak perlu masuk rumah, cukup memancing tas dari jendela. Modifikasinya seperti apa? Itu rahasia demi keamanan saya. :)

Senter (flash light) ini berguna jika kejadiannya malam hari. Biasanya untuk gempa besar, begitu kejadian lampu langsung padam. Padahal pada waktu yang bersamaan kita harus segera keluar dari rumah atau bangunan untuk menghindari reruntuhan. Di Jogja dulu saya sempat membawa senter kecil di tas saya kemananpun pergi. Sekarang enggak lagi, sudah tidak waspada, mungkin harus mulai membawa senter lagi.

Helm. Yang paling berbahaya ketika terjadi gempa tentu saja reruntuhan. Waktu gempa Jogja dulu malah tidak hanya runtuh, tapi genteng beterbangan. Karenanya penting sekali menjaga keamanan kepala. Lagi-lagi karena sudah tidak di Jogja, saya pun kurang waspada. Sekarang tidak punya helm.

Selain itu ada tambahan yang disarankan oleh seorang pakar, tapi namanya saya juga lupa, untuk meletakkan kerincingan (wind chimes) di langit-langit dalam rumah. Kerincingan ini banyak dijual di toko-toko kerajinan di Jogja, baik yang dari bambu maupun logam. Saya memilih logam yang bunyinya nyaring dan bentuknya lucu, ada burungnya kecil-kecil.

Kerincingan itu sebagai alert ketika terjadi gempa tanpa kita sadari karena mengira sedang pusing atau kita sedang tidur. Paling bahaya adalah ketika kita sedang tidur. Tapi saran pakar ini malah tidak berguna sama sekali karena tipe gempa Jogja itu gelombangnya keatas-kebawah, bukan berayun seperti angin. Jadi meski terjadi gempa yang lumayan besar, sekitar 4SR, kerincingan itu tidak berbunyi sama sekali. Akhirnya kerincingan itu saya taruh diluar untuk menangkap angin dan didalam dipasang alarm yang sensitif terhadap getaran. Galon air bisa juga untuk alarm, tapi ia tidak bisa membangunkan kita yang terlelap.

Nah, selebihnya tak perlu paranoid, berdoa saja pada Allah SWT. Mudah ya menasehati? Sendirinya masih takut.

6 comments:

  1. betul juga ya mbak hiasan gantung seperti itu bisa jadi tanda awal adanya gempa. Aku biasanya langsung lihat ke lampu gantung

    ReplyDelete
  2. Baru tahu deeh manfaatnya windchil itu ... dulu semasa kecil punya tapi gak mudheng kegunaannya :) Untungnya juga belum pernah ngerasain gempa...hiiii ngeri mak :(

    ReplyDelete
  3. Dulu Bandar Lampung pernah digoyang gempa agak sering, jenis swarming earthquakes, gempa lokal, nggak terlalu besar (tapi ya kerasa), agak sering tapi pas gempa cuma beberapa detik. Berhubung di berita sudah disebutkan kalau pusat gempanya itu jauh dari kecamatan rumahku, jadi berasa yakin aman-aman aja, mestinya ga terlalu kepedean ya hiks

    ReplyDelete
  4. aku seminggu ini gemeteran karena isu gempa yang gak udah-udah.. lewat bbm lah, sms berantai lah.. sampe keluargaku yang di cilacap (deket pantai) udah pada beresin baju :(

    Huhu infonya bermanfaat sekali ini.... siap pasang kerincingan di rumah.. makasyiiiih :D

    ReplyDelete
  5. Info menarik kak, kayak nya perlu dipersiapkan nich tapi kebanyakan kalo dah gempa malah ngak kepikir buat apa2 yg ada langsung larikabur :-)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.