Saturday, March 29, 2014

Menyusuri Jejak Gajah Di Taman Nasional Tesso Nilo

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Target kunjungan bearing witness ketiga atau terakhir setelah Dosan dan Kerumutan adalah Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). TNTN sangat terkenal di Riau meskipun belum banyak yang mengunjunginya. Mungkin karena prosedur kunjungannya tidak semudah kebun binatang atau taman kota lainnya. Prosedur ketat diberlakukan karena tujuan utama TNTN memang bukan wisata tapi melindungi kawasan konservasi. Kunjungan masyarakat diijinkan agar setelah melihat sendiri, masyarakat memahami pentingnya konservasi alam.

Siang itu kami memburu jam mandi para gajah TNTN, yaitu maksimal jam 16.00. Kami melalui jalan pasir yang sama ketika menuju Teluk Meranti. Setelah Sorek, mobil ngebut di jalan mulus, lalu di Ukui belok kekanan. Kira-kira 15 menit kemudian, kami memasuki jalan tanah. Jalan tanah seperti itu akan berubah menjadi jalan lumpur lincin berbahaya ketika hujan.

Berbeda dengan Taman Safari yang mendapat sentuhan entertainment sehingga suasananya mencekam buat anak-anak seperti Jurassic Park, TNTN ini dari depan terkesan biasa saja. Ada yang membuat saya dan Ines senang bukan main, yaitu bertemu dengan kasur tebal dan empuk. Heheheee.... TNTN dilengkapi dengan 3 bungalow sumbangan dari Dinas Pariwisata. Setiap bungalow bisa diisi 6 tempat tidur. Selain bungalow, Dinas Pariwisata juga membantu pembangunan gardu pandang. Bungalow tersebut terawat sangat baik, hanya karena letaknya ditengah hutan maka tetap menjadi serbuan berbagai serangga. Bahkan saya sempat mandi berdua dengan seekor katak. Air disini juga jernih, tidak keruh seperti tempat sebelumnya. Listrik hanya menyala di malam hari karena menggunakan genset, demikian pula dengan air.

Fasilitas Taman Nasional Tesso Nilo
Pak Junjung dari TNTN segera menyiapkan Rahman, Tessa dan Nela untuk dimandikan. Kamipun berhamburan seperti anak kecil mengikuti gajah ke sungai. Iman dan Afif naik Rahman, sedangkan Ines naik Tessa. Saya? Heuheuheu... ngintil saja dari belakang. Letak sungai agak jauh dan selama perjalanan, gajah-gajah ini sering mampir jajan, eh memakan tanaman di pinggir jalan. Rahman, gajah yang paling besar suka sekali menyelam. Sementara Tessa dan Nela sering tampak empet-empetan seperti anak-anak sedang bermain. Tessa dan Nela dirawat oleh dua pawang perempuan yang disebut mahot. Afif yang selama ini tampak kurang fit, langsung sehat bersemangat bermain dengan Rahman.

Kata pak Junjung, di TNTN ini ada 8 gajah dibawah WWF (World Wildlife Fund) yang dilatih untuk menggiring gajah liar yang memasuki perkampungan warga. Tessa dan Nela adalah gajah yang dulu mengalungi Harrison Ford dengan karangan bunga. Sayang, kami tidak bisa ke lokasi shootingnya karena sempitnya waktu. Tempat pelatihan gajah yang utama di Riau sebenarnya bukan disini tapi di Minas, dekat rumah saya.

Malam itu tidak ada kegiatan apapun. Kami perlu istirahat yang cukup untuk trekking keesokan harinya. TNTN juga menyediakan paket makan malam dengan porsi berlimpah. Yang agak nyesek adalah justru ketika tidak ada kegiatan, disini tidak ada sinyal. Ya sudahlah, memang kami harus istirahat.

Pagi-pagi pak Junjung sudah siap memandu kami trekking. Karena tidak ada instruksi apapun di kerangka acuan, saya perkirakan ini hanya trekking ringan. Awalnya sih begitu....
Rahman, Tessa, Nela dan Imbo. Rahman hobi menyelam :D
Berjalan di tengah TNTN itu enak, sudah ada jalurnya dan rindang. Dengan mengenakan sepatu yang biasa saya gunakan jogging, trekking terasa menyenangkan. Kami sempat bertemu dengan Imbo (maaf kalau salah nama), gajah berumur 3 tahun yang manja dan pengin mengikuti rombongan, tapi tidak diperbolehkan pak Junjung. Usia gajah itu seperti manusia.

Vegetasi di TNTN cukup rapat dan beragam. Namun kami tidak menemui hewan lain, mungkin saking luasnya wilayah ini, lebih dari 80.000 hektar. Berdasarkan pantauan CCTV, pernah melintas pula harimau dan beruang. Sayang tidak ada penangkaran harimau disini, sehingga Afif yang skripsinya tentang kandang harimau yang sesuai untuk Kebun Binatang Surabaya tidak bisa memperlajarinya. TNTN ini dikelilingi oleh kawat yang dialiri listrik tegangan tinggi seperti Jurassic Park jika malam. Jika siang, aliran listrik dimatikan... kalau tidak lupa :D .

Jejak kaki gajah kami temui beberapa kali, semakin masuk kedalam, semakin banyak. Sampai akhirnya pak Junjung menginstruksikan kami untuk copot sepatu! Lhah!!! Awalnya kami melewati dua aliran air kecil. Okey, tidak masalah. Kemudian kami melewati rawa-rawa. Okey itu masalah karena rawa penuh dengan rumput kasar yang bisa melukai kami dan entah hewan apasaja yang ada disana. Kemudian kami melewati rawa-rawa lagi, dan lagi :( . Itu masalah besar!

Karena merupakan lahan gambut, kami tidak boleh sembarangan mencari jalan sendiri, melainkan harus mengikuti tepat dibelakang pak Junjung. Meski begitu, tetap saja sesekali kaki kami terperosok. Saya sempat pula jatuh terduduk. Sepertinya kamera Gorga juga terjatuh. Pak Junjung yang mengenakan sepatu bot tersenyum-senyum. Ah, bapak ini. Saat itu saya sadari banyak jejak kaki dan kotoran gajah. Jadi, sebenarnya kami mengikuti jalur gajah. Gajah memiliki jalur mencari makanan yang tetap. Kalau ada perumahan yang didatangi gajah, bisa saja itu karena dulunya jalur gajah.

Meski kelelahan, kami memaksakan diri mampir gardu pandang dulu. Tanggung. Tapi saya yang sudah ngos-ngosan cuma sampai tingkat dua, lumayanlah bisa dapat sinyal. Didekat gardu pandang ada bibit pohon berjajar rapi dengan plang penanamnya, yaitu dari WWF, Departemen Kehutanan, Perusahaan Swasta dan sebagainya, sebagai tanda simbolis komitmen untuk bersama-sama menjaga TNTN. Setelah itu kami kembali ke markas.

Dalam perjalanan balik, kami juga melihat pohon akasia diantara pepohonan lain, padahal setahu kami akasia sengaja ditanam untuk industri. Pak Junjung membenarkan bahwa akasia itu sengaja ditanam tapi bukan untuk industri, melainkan menggantikan tanaman yang sudah dirambah atau untuk menghijaukan kebun sawit yang tidak lagi produktif. Menurut pak Junjung, meski maksudnya baik tapi tindakan tersebut tidak tepat, karena akasia tumbuh sangat cepat sehingga pohon alam kalah dan akhirnya lahan tersebut didominasi akasia, tidak ada keragaman vegetasi.

Sampai di kantor TNTN, kami melihat beberapa gajah dan bayi gajah diajak jalan-jalan. Pasukan kembali bubar kegirangan. Saya sendiri belok ke gazebo untuk sarapan dengan kondisi baju basah dan kotor. Disitu baru terlihat kaki kami yang tergores macam-macam ranting, bahkan kaki Melanie terus berdarah karena pacet. Saya enggak terasa sakit sih. Setelah bersih-bersih, barulah luka-luka itu terasa pedes!
Trekking di Tesso Nilo. Jangan lupa sepatu bot.

Sambil sarapan, kami ngobrol dengan pak Suharna dari BKSDA. Dari obrolan dengan pak Suharna, kami jadi tahu bahwa TNTN juga menghadapi tantangan berat dengan adanya perambah hutan hingga memasuki wilayah TNTN. Perambah ini sangat nekad, sering demo dan melawan petugas yang hanya segelintir. Untuk patroli yang lebih intensif, BKSA dan TNTN sebenarnya bisa bekerjasama dengan kepolisian. Namun, kondisi alam TNTN sering membuat polisi yang tidak terbiasa, kesulitan. Idealnya, harus ada penambahan polisi hutan dalam jumlah banyak.

Hal lain yang diungkapkan pak Suharna adalah tidak pernah tuntasnya kasus perambahan hutan TNTN dan pembunuhan hewan yang dilindungi. Meskipun sudah ada beberapa orang yang ditangkap, tapi belum terdengar vonis hukuman yang sesuai. Waaah, capek dong pak, nangkep-nangkep terus tapi enggak pernah dihukum. Buang-buang energi. Perambahan hutan itulah yang membuat Harrison Ford ngamuk dan gebrak-gebrak meja. Disitu saya sempat pula ngobrol dengan salah satu mahasiswa (seluruhnya ada 7) yang membuat penelitian disana.

Setelah membuat video kesaksian untuk Greenpeace Indonesia, kami pun pamit pulang ke Pekanbaru. Dalam perjalanan, kami ditraktir udang lezat di rumah makan Rita dibawah jembatan sungai Kampar, Pelalawan.


Dari perjalanan bearing witness di tiga tempat itu saya menemukan bahwa kita punya semua elemen tingkat bawah (yang berhadapan langsung dengan obyek) yang berdedikasi. Ada tokoh masyarakat, ada pemimpin desa, LSM dan ada petugas dari pemerintah. Lalu apa yang salah sehingga semua stop sampai disana saja? Seolah mereka harus berjuang sendiri? Karena apa yang mereka perjuangkan belum menyentuh semua lapisan, baik masyarakat umum diluar daerah-daerah tersebut, legislator yang memiliki wewenang terhadap undang-undang maupun penyelenggara tingkat yang lebih atas hingga pusat yang memiliki kekuasaan untuk menindak. Saya berharap masyarakat di Dosan, Teluk Meranti dan pengelola TNTN tidak putus asa. Kita juga bisa membantu dengan hidup lebih menghargai lingkungan. Sesekali datanglah kesana untuk memberi semangat. Minimal kita sebarkan kepedulian terhadap lingkungan, misalnya dengan menulis blog.

8 comments:

  1. wah tulisannya keren mak..saya yg waktu skul hobi hiking jadi pengin ke sana..tp masih mungkin ga ya dgn kondisi udah punya buntut spt skrg ? tp terus terang sy terharu lho melihat kerja keras mereka2 yg bertugas di garda depan itu, spt petugas kehutanan, polisi hutan, pengelola taman nasional, tokoh masyarakar n LSM tersebut. Banyak yg belum tahu mmg bagaimana kerja mereka dan perjuangan mreka. semoga melalui tulisan ini menggugah kita semua untuk lebih peduli lingkungan, hutan dan makhluk di dalamnya...TOP BGT mak tulisannya #blogwalkingmalming

    ReplyDelete
  2. Wuih makin seru mak. Tp sdh tamat kah cerita Bearing Wittness-nya?

    ReplyDelete
  3. Bearing witnessnya keren mak.. saya nugguin kelanjutan Dosan...eh langsung melompat kemari..teluk merantinya ketinggallan di belakang...balik lagi dech ..hehe...

    tapi infonya bermanfaat...suka ^_^

    ReplyDelete
  4. Petualangan yg keren & tak terlupakan tentunya. Aku mau banget nyobain datang ke sana & mengalami penjelajahan seperti itu. Semoga lebih banyak lagi yang peduli dengan lingkungan.
    *Btw nama-nama gajahnya bagus2, manusiawi banget :D

    ReplyDelete
  5. Ngak terbayangkan di usia emak2 gini berpetualang hihihihi...inget gajah jadi inget way kambas di lampung.

    ReplyDelete
  6. Gajah umur 3 tahun tingginya hampir seperti orang dewas, wow :|

    apalagi kalau gajah yang dewasa...

    belum pernah nyentuh Gajaaaaah :D

    namanya lucu sih gajahnya

    ReplyDelete
  7. Terharu dengan kesimpulannya Mak. Hhh .. mudah2an mereka terus konsisten di sana.

    Ada yang kena pacet ? Hiiiiii ....

    ReplyDelete
  8. wah, ada lokasi seperti itu yak...
    keren sih, tapi kok ada pacet segala?

    suka juga sama kesimpulan mbak, bahwa kalau kita terus-terusan menyalahkan pemerintah, tetapi kita diam saja melihat peramabahan hutan ya sama saja mendukung yak. Setidaknya kita bisa menyebarluaskan informasi ini kepada masyarakat luas. :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.