Saturday, March 15, 2014

#PrayForRiau

Sebenarnya tak patut kami berteriak-teriak minta tolong seperti korban bencana Manado atau Sinabung, karena yang terjadi di Riau ini beda! Ini ulah manusia! Tapi apa daya, kami sudah tidak kuat. Kabut asap sudah menyelimuti kami sejak tahun 2014 dimulai. Awalnya hanya tipis, datang dan pergi, tidak setiap hari. Lama-lama semakin pekat dan tak mau pergi, hingga akhirnya menetap selama sebulan lebih. Jika dikota lain orang mengeluhkan asap kendaraan bermotor yang lewat atau asap kebakaran sampah tetangga yang cuma beberapa saat, maka kami di Riau harus menghisapnya selama 24 jam dalam sehari selama berhari-hari. Rumah yang rapat dan ber AC hanya mengurangi kepekatan tapi tak bisa menghindari sepenuhnya karena asap dengan mudah menyelusup melalui bawah pintu atau lubang angin.
Papan ISPU depan kantor walikota Pekanbaru, 12 Maret 2014
Papan ISPU depan kantor walikota Pekanbaru, 12 Maret 2014
Jadi, sejak kemarin bersama-sama teman-teman pengguna twitter, baik yang bermukim di Riau maupun yang bersimpati melakukan tweet blast tentang keadaan Riau. Awalnya saya agak frustasi karena tidak ada satu hashtag yang menyatukan kami semua sehingga seolah berjuang sendiri-sendiri. Efeknya tidak lekas terlihat. Saya sempat berganti-ganti hashtag mengikuti mana yang paling banyak terlihat untuk menambah kekuatan, sampai akhirnya tersaring #PrayForRiau dan #SaveRiau yang umum dipakai di twitter jika ada bencana dan #MelawanAsap yang kemudian berkembang menjadi suatu gerakan.

Mengerucutnya hashtag ini membuat perjuangan teman-teman menyuarakan dibersihkannya udara Riau semakin tajam. Dukungan mengalir. Segala cara kami gunakan untuk menarik perhatian, mulai dari mention para pemimpin, mention seleb, mention institusi, meretweet gambar dan foto, dan masih banyak lagi. Kami membanjiri twitter dengan berita tentang kabut asap di Riau.

Hasilnya mulai tampak kemarin malam ketika presiden mengeluarkan pernyataan yang sifatnya memberi ultimatum kepada pemprov Riau. Riau barusaja saja mengangkat gubernur baru, setelah gubernur lama divonis 14 tahun penjara karena korupsi ijin pengusahaan hutan. Ya, hutan kami begini karena ulah pemimpin kami sendiri. Sayangnya, gubernur baru kami yang merupakan gubernur tertua di Indonesia, tidak dapat berbuat banyak dan malah menyerah. Sempat pula kami emosi karena PLN mengumumkan akan ada pemadaman listrik selama 10 jam besok di Pekanbaru. Entah pula dimana pikiran mereka. Syukurlah mereka paham akan menghadapai kemarahan banyak orang besok, sehingga pemadaman itupun dibatalkan.

Twitter berubah menjadi pressure group sehingga presiden yang berada di Semarang mengadakan telekonferensi dengan pemprov Riau. Gubernur yang raib entah kemana ini  (kabarnya pulang kampung) membuat presiden menyudahi ultimatum dan memutuskan datang ke Riau besok. Untuk sementara tweet tentang kabut asap Riau berkurang banyak malam ini. Lagipula perhatian sudah beralih ke berita tentang Jokowi. Rebutan kekuasaan memang lebih menarik daripada berita tragedi lingkungan yang kurang dramatis begini karena tidak ada pengungsi dan korban jiwa. Naudzubillahi min dzalik.

Perjuangan belum selesai, tapi pada tahap ini sudah ada kemajuan pesat karena mulai besok dijanjikan akan ada operasi besar-besaran selama tiga minggu untuk membuat langit Riau biru kembali. Sementara itu, mari kita tawarkan beberapa solusi untuk mengatasi kabut asap Riau. Teman-teman bisa melakukannya di twitter, facebook atau blog.


STOP MEMBAKAR!

Membakar itu sudah kebiasaan masyarakat Riau. Tetangga saya di depan dan belakang rumah selalu membakar sampah. Kalau dari jauh kadang bingung memperkirakan itu bakaran sampah atau rumah terbakar karena frekuensi kebakaran bangunan di Pekanbaru juga cukup tinggi. Tukang sampah bukannya tidak ada, tapi mereka tidak mau mengangkut rumput, daun dan sejenisnya. Sementara itu, tidak ada edukasi atau gerakan memanfaatkan sampah tersebut menjadi pupuk, kompos atau bahkan biogas. Jika daerah seperti Malang boleh berbangga dengan bank sampahnya, kantor gubernur kami yang merupakan gedung tertinggi di Riau saat ini (9 tingkat) saja masih membangun tungku raksasa di halaman belakang untuk membakar sampah. Tata kelola sampah harus direvolusi sehingga timbul kesadaran bahwa membakar rumputpun seharusnya tidak dilakukan.

Kesadaran tersebut diharapkan berkembang ke sikap tidak membakar lahan. Di sekitar saya masih banyak lahan menganggur yang ditutupi semak tinggi. Lahan tersebut secara berkala dibersihkan pemiliknya dengan dua cara, yaitu menyemprotnya dengan cairan kimia mematikan atau membakarnya. Membakar sering menjadi pilihan karena lebih murah dan tidak perlu capek-capek, cukup diawasi dari jauh sambil merokok. Tak jarang proses membakar ini tidak ditunggui sehingga beberapa tahun lalu pernah nyaris merembet ke kantor TVRI Pekanbaru.

Teman saya yang pernah tertipu bisnis sawit bercerita bahwa cara membersihkan lahan untuk disiapkan sebagai kebun kelapa sawit memang dengan membakar. Caranya, mereka membuat parit mengelilingi lahan milik mereka. Lalu mereka membakar semua yang ada didalam lahan yang dikelilingi parit tersebut. Hasilnya, semua semak dan hewan didalamnya mati sehingga siap untuk digunakan. Bisa saja api atau sekam tertiup angin dan terbang melewati parit, lalu membakar lahan di sebelahnya. Tapi tanpa itupun kalau semua lahan disiapkan dengan cara itu, seperti inilah akibatnya.

Penegakan hukum adalah yang paling memprihatikan. Melihat puluhan ribu hektar lahan yang terbakar, kamipun bertanya, mengapa hanya pembakar kebun dan para buruh yang ditangkap? Seberapa besar sih kemampuan mereka membakar seluruh lahan itu? Dihukumnya gubernur lama hanya pintu yang terkuak, harus dikeluarkan pula isinya, sehingga para pengusaha yang lahannya terbakar atau dibakar harus bertanggug jawab. Lihat data perusahaan dengan lahan konsesi yang terbakar diatas.

Malam ini kami masih akan tidur dengan oksigen tinggal 1 persen, sisanya CO2 dan residu hasil pembakaran lainnya. Jika didalam ruangan berAC saja masih bisa tercemar hingga 300 dpi, seperti apa kiranya saudara-saudara kita yang bertahan tanpa AC.

Mari kita tunggu realisasi janji presiden, serta berdoa semoga operasi pemadaman kebakaran hutan besok berjalan lancar dan matahari kembali bersinar di bumi lancang kuning.

9 comments:

  1. Miris Mak. Separuh hati saya masih ada di Riau. Sedikit bagian tubuh saya masih ada di sana, karena ari2 saat melahirkan si sulung ditanam di Gardenia 322, Rumbai.

    Mudah2an segera teratasi
    #PrayforRiau

    ReplyDelete
  2. mak....mudah-mudahan solusi nyata segera tiba...twitnya sukses yaah..akhirnya SBY akan datang..tapi itu saja tidak cukup..yang penting program nyatanya untuk mengatasi asap ini dan mencegahnya agar tidak berulang! bon courage mak...

    ReplyDelete
  3. Ya Allah...semoga masalahnya cepat teratasi. Masyarakat tidak hanya di Riau semakin sadar akan sampah dan tidak membakar sebagai solusinya.

    Salam Mak

    ReplyDelete
  4. Mbak Lusi semoga semuanya segera teratasi. Semoga segera ada tindak lanjut dari pihak terkait. Membaca status dan twit teman2 dan berita di TV setiap hari saja rasanya dada ini ikut ampeg. Sungguh menyesal mengapa mereka harus menunggu berita booming dulu baru melakukan aksi..

    ReplyDelete
  5. waktu dulu tinggal di Palembang pernah merasakan dampak asap ini mak..
    menjelang sore asap mulai pekat, nafas sesaknya minta ampun...., tapi menjelang magrib asapnya lenyap
    tak terbayangakan penduduk Riau merasakan ini berbulan2..

    ReplyDelete
  6. Semoga ini yang terakhir. bukan hanya di riau, namun juga di tempat lain.

    ReplyDelete
  7. beneran nggak ngerti deh dimana otak para pembakar itu, mak. padahal yang membakar ya kena imbasnya, tapi hayo weh nggak kapok

    ReplyDelete
  8. Sedih banget mak..tiap kali liat berita ditv ttg asap ini...bs dibayangkan spt mak lusi yg tgl disana pasti sgt tdk nyamaan dana terganggu...smua kr ulah org2 yg tdk bertanggung jwb...pemerintah hrs lbh tegas lg memberi hukuman terhdp org2 yg merusak lingkungan agr pelaku menjadi jera...kr slama ini sptnya uu ttg ini blm begitu jelasa ya mak...seadainya jelaspun klo merusaknya bekerjasma dg pejabat stmpt ya kdg spt menegakkan benang didalm air ya mak...semoga cpt pulih kondisi udara disna ya mak...

    ReplyDelete
  9. Kok bisa yq Mbak membakar sampah/lahan jd budaya? Padahal mereka tau dampak negatif kan? Semoga ga cuma para buruh yg kena sanksi tp aktor utamanya..
    Semoga asapnya segera teratasi ya Mbak :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.