Saturday, March 01, 2014

Selfie

Forget about glasnost dan segala jargon keterbukaan, kita sekarang sudah berada di era blak-blakan. Dengan lancarnya internet dan gadget murah, apapun yang kita lakukan bisa kita sebarkan sendiri keseluruh dunia. Kita tak perlu mengharap liputan media untuk membuat orang dari antah berantah tahu tentang kita. 

Adalah sore tadi yang membuat takjub. Weekend memang saatnya brand berlomba-lomba membuat kuis. You know what, hampir semua kuis tentang selfie. Promo brand itu sedikit banyak adalah gambaran perilaku pasar. Ketika pasar sedang menggemari selfie, itulah yang akan dikejar sebagai sarana promo. Jika hampir semua brand mengadakan kuis selfie, bisa dibayangkan kegilaan membuat selfie diluar sana.
Jika ada yang lahir ditahun sebelum gadget begitu mudah didapat, mungkin masih ingat bahwa foto diri dan keluarga adalah sesuatu yang sangat privat dan sentimentil, yang tidak kita bagi pada semua orang. Kita hanya mengijinkan orang-orang yang kita kenal, yang datang kerumah, untuk melihat album foto kita. Lalu, kita ceritakan apa yang terjadi dibalik foto itu. Orang tersebut mendengarkan dan foto tersebut mendapatkan penghargaan.
Sekarang kita tak perlu mengetuk pintu orang lain untuk melihat foto-fotonya. Kita sendiri dengan senang hati menyebarkannya. Orang lain bisa melihat sambil tidur, jalan-jalan, makan dan sebagainya. Orang-orang juga bebas berkomentar tentang foto tersebut berdasarkan interpretasi mereka sendiri tanpa peduli kisah sebenarnya. Bahkan, orang lain bisa mengganti bagian foto tersebut untuk keperluan guyonan atau kejahatan. Sering pula kita copas foto teman tanpa seijinnya.
Kenyataan ini agak berbeda dengan yang ada dibelahan bumi lainnya, yang kita sangka jauh lebih modern dari kita. Minggu lalu saya membaca sebuah artikel tentang kecenderungan sebagian orang Amerika menghapus jejak digitalnya. Ini tidak semata-mata ingin menghilangkan jejak karena tindak kejahatan, melainkan untuk menjaga privacy dan menaikkan "value" dari sebuah foto.
Pernahkah terpikir apa jadinya dengan foto-foto kita? Apakah kita punya kontrol terhadap foto apa saja yang telah tersebar dan dimana? Kecenderungannya, jika kita sudah bosan terhadap platform tertentu, kita tidak lantas berkemas dan meninggalkannya, melainkan membiarkannya telantar berikut foto-fotonya. Sampah di internet mungkin soal lain, tapi tumpukan sejarah kita pun ada disana dan hanya Tuhan yang tahu akan jadi apa dokumentasi pribadi kita itu.
Be wise!

7 comments:

  1. Benar Mba, karena masih banyak orang yang selalu menjadikan hal seperti ini menjadi sepele. Padahal banyak orang yang di luaran sana beeburu untuk kepentingan yang lain. Sedangkan diantara kita ada yang terlena dengan momen sekejap namun bisa berdampak hal yang tidak diinginkan.

    Salam

    ReplyDelete
  2. nice posting! :) saya dapat pengetahuan baru

    ReplyDelete
  3. Selfie memang sepertinya sedang naik daun ya mak...
    Apapaun apalagi foto yg berhubungan dgn internet, memang harus berhati2 ya...

    ReplyDelete
  4. Iya mbak, bener banget. Jujur saja aku juga agak risih pas lihat sosial media banyak 'anak alay' yang suka upload-upload foto disembarang tempat, gak tahu malu -_-
    Mungkin mereka belum tahu akibatnya apa yaa hihi :))

    Btw, nice post. Ditunggu kunjungan baliknya :D

    ReplyDelete
  5. Kunjungi Young Thought: Merekonstruksi Jati Diri Bangsa Indonesia http://t.co/chwRviwOmW —Jangan lupa komen ya

    ReplyDelete
  6. Beruntung aku termasuk orang yang nggak pede untuk foto selfie

    ReplyDelete
  7. Iya bener mb, makanya aku ga suka nampilin foto selfie. Ada sih beberapa di blog. Tapi dulu dan itu juga jarang.

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.