Friday, April 04, 2014

Berbagi Pengalaman Bearing Witness di Green Radio

Teman-teman pendengar radio? Saya juga. Saya biasa mendengarnya di radio mobil kalau dalam perjalanan dalam kota. Diluar kota frekuensinya timbul tenggelam. Saya tidak pernah menyiapkan playlist. Radio lebih asik dan berwarna. Banyak informasi pula yang bisa didapatkan, terutama seputar tempat tinggal kita. Waktu masih sekolah dulu, saya sama dengan kebanyakan gadis-gadis sekarang, ngefans seorang penyiar hanya dari suara lalu membayangkan seperti apa kira-kira wajahnya. Dulu saya sering banget menang kuis radio lewat telepon karena belum ada handphone. (Hidih, tahun berapa itu ya?) Hadiah belum sebesar sekarang, paling besar uang dan jam tangan, lainnya kaos. Saking seringnya menang, biasanya kalau sudah terkumpul 3 kaos baru saya ambil. Heheheee.... Tapi saya tidak pernah nyelonong dekat ruang siaran, jadi tidak sempat patah hati jika suara dan wajah beda. Hahahaaa....


Kemarin saya di posisi yang berbeda, yaitu diwawancara Green Radio Pekanbaru. Huwah, I'm so excited. Tema obrolannya adalah seputar lomba blog Protect Paradise yang diadakan Greenpeace Indonesia dan pengalaman Bearing Witness. Zamzami, Media Campaigner Greenpeace Indonesia yang ternyata juga mantan penyiar Smart Fm, memfasilitasi para bloggers untuk menceritakan perjalanan tersebut. Bersama saya, ada Afif Zakaria yang disambungkan melalui telepon karena berada di Jawa Timur. Sedangkan blogger pemenang lain, yaitu Iman Rabinata sedang berada di gunung Sindoro.


Informasi siaran yang dilakukan tanggal 2 April 2014 jam 09.00-10.00 secara langsung itu adalah:




  • Acara: Mahoni (Masyarakat, Hutan dan Nasib Negeri)

  • Pemandu acara: Amel Marzain

  • Studio: Green Radio, Jl. Putri Nilam 51, Sukajadi, Pekanbaru

  • Frekuensi: 96,7 FM

  • Live streaming: bisa tapi tidak tanya :(

  • Tagline: Eco Lifestyle


[caption id="attachment_10264" align="aligncenter" width="500"]Green Radio 2 Pak Sutopo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB dan wakil dari perguruan tinggi.[/caption]

Sebelum dimulai, saya sempat menunggu Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Pak Sutopo, yang sedang diwawancara didalam studio. Saya nggak ngeh kalau beliau pak Sutopo yang terkenal di TV dan media sosial, dan bahwa mbak mas yang diluar bersama saya adalah para jurnalis yang sedang memburu berita dari beliau. Terlewat kesempatan untuk berkenalan atau foto-foto, meskipun akhirnya saya cuma punya 2 foto yang diambil oleh Zamzami sehingga Zamzami tidak ada didalamnya. Rasanya mau mengambil banyak foto itu segan.


Dalam wawancara tersebut, pak Sutopo menegaskan bahwa BNPB tidak bisa menjadi penyelamat Riau. Pemimpin dan masyarakat Riau lah yang harus bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap kenyamanan hidup dan kelestarian lingkungan Riau. Namun demikian, BNPB telah menyiapkan agenda kerja untuk beberapa bulan kedepan mengingat Riau akan memasuki puncak musim kemarau yaitu bulan Mei sampai Agustus. Hmmm bakal seperti apa ya jika kekeringan yang membuat kebakaran hutan sulit dipadamkan kemarin masih dianggap belum puncaknya? Nah, teman-teman mari bersiap dan hidup lebih ramah lingkungan.


Tiba giliran Greenpeace, Amel tidak memberi banyak arahan. Lagipula Zamzami juga sudah berpengalaman. I'm in the safe hands. :)  Obrolan berlangsung lancar, baik yang langsung dengan saya dan Zamzami, maupun yang via telpon dengan Afif. Amel tahu aja kemana harus menggiring para tamu supaya dialog lancar, tidak blank. Studio radio sekarang lebih simple, bisa dikerjakan satu orang. Komunikasi dengan penyusun acara atau tim dan perencanaan dilakukan melalui laptop. Begitu pula dengan informasi tentang narasumber, bisa langsung dicari via internet.


Kendala bagi saya hampir tidak ada karena saya bukan seleb atau politikus yang harus menjawab pertanyaan sulit. Tentu saja pasukan sudah saya siagakan untuk mendengarkan saya. Saya mengharapkan ada diskusi setelahnya. Sayang, yang dibahas malah logat JawaTimuran saya yang masih kental. Arrgggg.... Entahlah mengapa logat tersebut enggak hilang juga, padahal sudah puluhan tahun meninggalkan Jawa Timur untuk berkeliling Indonesia. Yang tersulit bagi saya adalah mengendalikan diri, bersabar menunggu giliran bicara.




Pada akhirnya saya melihat sendiri bahwa menyebarkan kepedulian terhadap lingkungan itu perlu kerja keras dan kerja tim. Semua pihak harus bahu membahu menggunakan semua kanal komunikasi yang ada untuk menyebarkannya. Gaya bahasa atau metode penyampaian mungkin berbeda, tapi semua yang mengarah ke kepedulian terhadap lingkungan harus kita dukung.



Dan kemungkinan saya akan kembali ke Green Radio untuk  ngobrol tentang komunitas dan KEB. Terima kasih Zamzami, Amel dan Sari Indriati (Station Manager Green Radio Pekanbaru).


OLYMPUS DIGITAL CAMERA

6 comments:

  1. Aktivitas saya kalau malam minggu dengerin radio di kamar sambil ngeDrat, Kakak. :lol:
    Senang ya bisa sharing via radio. Coba deh, video logat njawa kek apah? :mrgreen:

    ReplyDelete
  2. aku sudah lama gak pernah dengar radio mbak hiks

    ReplyDelete
  3. wah seru ya.. Kemarin saya juga siaran di radio sby bersama pakde belum di publish

    ReplyDelete
  4. Kereeeeeen, aku bangga mengenal dirimu, Lusi *pelukpeluk*
    Tapi sayang aku nggak bisa dengar kemarin :(

    ReplyDelete
  5. kepedulian thd lingkungan harus dilakukan bersama2, ya. Susah banget kalau sendiria. Setuju, deh Mak :)

    ReplyDelete
  6. Mak Lusi.... bangga mengenal dirimu, senang dg informasi yg selalu engkau bagi.... dan pasti empuk deh suaramu di radio... hihi... kereeen. Sayang ga bs dgr euy... sukses ya, Mak... smg makin banyak masyarakat yg sadar dan peduli lingkungan ya, Mak... :)

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval.