Tuesday, April 01, 2014

Berburu Calon Pemimpin Bervisi Lingkungan

Masa kampanye adalah saat yang tepat untuk berburu calon presiden bervisi lingkungan. Calon presiden, setidaknya tim suksesnya, menggunakan semua kanal media untuk berusaha menjangkau calon pemilih seluas-luasnya. Sebagai calon pemilih cerdas, kita tidak boleh hanya membiarkan diri menjadi obyek kampanye karena apapun yang terjadi dalam suatu kepemimpinan, toh bangsa ini masih selalu menyalahkan masyarakat. Kalau golput, rakyat dianggap tidak peduli dengan perubahan. Tapi jika pemimpin tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, rakyat pula yang disalahkan mengapa memilihnya. Oleh karenanya, kita harus aktif mencari informasi track of record dan visi - misi calon presiden tersebut. Media sosial yang mereka kerahkan untuk kampanye, bisa kita coba gunakan dengan arah sebaliknya.


Pemimpin masa depan yang saya idamkan adalah yang memiliki visi lingkungan jauh ke depan, yaitu yang tidak hanya secara intens memperhatikan kondisi lingkungan di masa kepemimpinannya, melainkan juga memberi peninggalan berupa semangat, warisan dan program lingkungan yang bisa diteruskan siapapun juga. Tidak seperti sekarang, jika ada kerusakan lingkungan, si pemimpin menyalahkan pemimpin sebelumnya, sedangkan pemimpin yang terdahulu juga tidak mau disalahkan, akhirnya semua cuci tangan dan rakyat harus menghuni tenda-tenda pengungsian.


Bagi kami, masyarakat Riau yang tiap tahun dilanda kabut asap yang tiap tahun tambah parah, mengungsi adalah pilihan sulit. Pertama karena tidak mungkin mengungsikan penduduk satu propinsi. Kedua karena transportasi terganggu, bahkan bulan Maret 2014 ini Riau seperti terputus dari dunia luar akibat tidak adanya penerbangan. Saya sempat terdampar di Padang sekembalinya dari Denpasar menuju Pekanbaru akibat kabut asap ini.


presiden


Karenanya, tanpa basa basi saya memanfaatkan saluran media yang digunakan para calon presiden itu untuk berkampanye ke arah sebaliknya, yaitu bertanya tentang visi mereka terhadap lingkungan Riau melalui twitter. Mengapa hanya tentang Riau? Karena saya merasakan sendiri akibatnya dan momennya tepat ketika Riau terisolasi dari dunia luar akibat tertutupnya bandara selama seminggu. Juga karena masalah kabut asap ini sudah menganggu kesehatan penduduk satu propinsi dan berdampak ke propinsi lain, bahkan negara tetangga. Kabut asap ini telah menyebabkan perekonomian Riau rugi trilyunan rupiah dan rusaknya jutaan lahan gambut secara permanen. Kabut asap ini juga telah membuat presiden SBY turun tangan, datang ke Riau.




Tidak hanya Dahlan Iskan yang saya tanyai, tapi juga akun Joko Widodo, Prabowo, Wiranto, Hatta Rajasa, Mahfud MD, Gita Wirjawan, Anies Baswedan dan banyak lagi, baik yang terang-terangan mencalonkan diri menjadi presiden, maupun yang malu-malu tapi mau. Sayang, tidak satupun menjawab, entah karena akun tersebut palsu, dioperasikan admin yang tidak kompeten atau memang mereka tidak punya program lingkungan. Jika ada tim sukses calon presiden yang membaca artikel ini, saya beri kesempatan berkampanye di kolom komentar tapi khusus tentang visi lingkungan jagoannya.



Beberapa waktu lalu TVOne juga mengadakan debat caleg DPR RI tentang kebakaran hutan Riau. Hasilnya sungguh mengecewakan. Tak ada satupun caleg yang bisa menjawab pertanyaan pembawa acara secara memuaskan. Tampak sekali para caleg tersebut tidak menguasai isu lingkungan, minimal membaca berita-berita tentangnya. Bahkan sempat kaget karena ada yang menyalahkan peladang tradisional begitu saja. Yang mereka kemukakan hanya menyalahkan pihak lain diluar partainya. Padahal partai sebagian panelis juga sedang memerintah di Riau dan pemerintah pusat. Kalau toh belum bisa menawarkan solusi, paling tidak seharusnya mereka mengerti anatomi masalah lingkungan Riau yang setiap hari sudah diberitakan di media cetak dan elektronik. Kalau cuma "asal bukan partai gue" artinya kita tidak sedang memilih seorang pemimpin, melainkan hanya sedang debat kusir.


Kebetulan pula seminggu lalu saya bertandang ke Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk memahami sedikit banyak tentang usaha melindungi sumber daya alam di TNTN. Sebelumnya TNTN mendapat publikasi kurang baik karena Harrison Ford si Indiana Jones, marah sampai menggebrak meja melihat perambahan dikawasan TNTN. Saya memutuskan tidak hanya berwisata di TNTN, tetapi juga berbincang dengan orang-orang lapangan, yang setiap hari paham benar tantangannya, tidak hanya terima beres saja.


Narasumber saya waktu itu adalah pak Junjung dari TNTN yang juga menemani kami trekking dan pak Suharna dari BKSDA. Pak Junjung menunjukkan lingkungan yang hijau diluar TNTN. Kelihatannya memang bagus, hijau, lambang lingkungan yang kita idamkan. Tapi ternyata itu adalah hijau yang salah karena berupa pohon sawit. Pohon sawit seharusnya tidak sedekat itu dengan TNTN. Bahkan menurut pak Suharna, di bagian lain pohon sawit sudah masuk ke wilayah TNTN. Penanaman pohon sawit merusak lahan gambut karena dibuat kanal-kanal untuk mengeringkan lahan agar bisa ditanami. Lahan gambut yang kering tidak akan mampu menjalankan tugaskan menyimpan karbon dan air dan mudah terbakar. Lahan gambut yang sisa kebakaran atau yang sudah tidak produktif sebagai kebun kelapa sawit akan rusak permanen. Saya juga melihat akasia. Akasia ditanam untuk memenuhi kebutuhan bahan pabrik bubur kertas. Namun, ada pula yang ditanam untuk menutup lahan gundul atau tak sengaja tumbuh di suatu tempat karena bijinya terbawa angin. Pohon akasia ini tumbuh sangat cepat mendahului pohon-pohon alam lainnya sehingga keragaman vegetasi tetap tak bisa dikembalikan.


Pak Suharna secara blak-blakan bercerita tentang perambahan hutan di TNTN yang selalu berkoloni sehingga menyulitkan petugas yang jumlahnya hanya 2 (dua) orang setiap patroli. Para perambah tersebut selalu melawan jika dikejar dan melakukan demonstrasi jika diminta pergi secara paksa. BKSDA bukannya tidak bisa meminta bantuan pada Kepolisian. Masalahnya polisi tidak terbiasa dengan medan alam dan waktunya pun tertentu. Menurut pak Suharna, seharusnya ada penambahan polisi hutan dalam jumlah besar. Polisi hutan tempatnya ya di hutan, melakukan patroli secara rutin dengan peralatan yang memadai dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat di sempadan TNTN.


Meski kurang tenaga, bukan berarti tidak ada yang tertangkap. Pelaku pencurian gading gajah atau peracunan harimau kadang tertangkap. Tapi yang membuat pak Suharna dan kawan-kawan kecewa adalah bahwa kasus tersebut tidak dikawal sampai ke vonis pengadilan yang setimpal, sehingga apa yang dilakukan bapak-bapak tersebut terkesan sia-sia. Pemimpin yang baik seharusnya tidak hanya menyalahkan lapisan masyarakat pengguna lahan karena tidak semuanya perambah atau memarahi aparat pelaksana penjaga lingkungan, tapi mempelajari dengan teliti apa yang sebenarnya terjadi, lalu membuat program atau kebijakan yang mem-backup mereka yang masih berdedikasi melindungi lingkungan. Masih banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya melindungi lingkungan, tapi entah sampai kapan mereka bisa bertahan tanpa back up.




[caption id="attachment_10249" align="aligncenter" width="500"]Pemandangan TNTN dari gardu pandang, bagian dalam TNTN, sarapan bersama pak Suharna dari BKSDA dan pak Junjung sedang mengarahkan Rahman. Pemandangan TNTN dari gardu pandang, bagian dalam TNTN, sarapan bersama pak Suharna dari BKSDA dan pak Junjung sedang mengarahkan Rahman. Dokumentasi pribadi.[/caption]

Saya berharap, meski masyarakat dan para pengamat menganggap orang-orang yang berhadapan langsung dengan masalah TNTN ini tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik, mereka tidak putus asa. Inilah saatnya kita membantu pak Junjung, pak Suharna, masyarakat Riau, pengabdi lingkungan diseluruh Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan udara bersih, lahan gambut yang mampu menyimpan karbon dan air, hutan dengan keragaman hayati dan iklim yang bersahabat. Caranya, mari berburu calon pemimpin yang memiliki visi lingkungan.


Banyak lahan perburuan calon pemimpin yang bisa kita pantau, baik melalui media cetak maupun elektronik. Calon pemimpin bervisi akan punya poin-poin penting yang menjadi landasannya bertugas kelak, bukan hanya menyediakan goyangan dangdut. Selain pernyataan di media, cara mereka memperlakukan lingkungan juga bisa kita pantau, misalnya tidak pernah menggunakan pohon untuk memajang spanduk wajahnya atau bendera partai, tidak membabat pohon untuk tempat mendarat helikopternya ketika kampanye ke daerah, memperhatikan lingkungan yang ada ketika terjadi pengerahan massa agar tidak ada yang membuang kemasan air minum dan bungkus nasi sembarangan dan sebagainya.




Be detail! Jangan terpengaruh figur! Cari yang benar-benar peduli lingkungan demi kita semua, demi penerus bangsa, demi bumi. Jangan menyerah! Mari berburu!


9 comments:

  1. Semoga Indonesia memiliki pemimpin yang peduli akan lingkungan ya Mba. Sukses untuk lombanya.

    Salam

    ReplyDelete
  2. Sangat penting memilih pemimpin yg berwawasan lingkungan, karena menyangkut masa depan generasi kita yg akan datang.

    "Menanam sebatang pohon adalah infestasi penting, yg bisa kita nikmati hasilnya tidak hanya di dunia, tapi sampai di akhirat"

    ReplyDelete
  3. kebanyakan calon pemimpin skrg jualannya berantas korupsi. Bukannya saya gak peduli sama korupsi, tapi saya juga pengen lihat calon pemimpin yang peduli lingkungan, dan lain-lain

    ReplyDelete
  4. Maaak....aku mension hampir semua capres, masalah lingkungan. Kaga ada yg nanggepin maaak.

    ReplyDelete
  5. agar bisa terpilih pemimpin yang bertanggung jawab jangan lupa melaksanakan hak pilih kita ya mbak :)

    ReplyDelete
  6. Ibu, tulisannya bagus banget. Semoga, mereka, para capres membaca tulisan ini.

    Pengalaman berwisatanya udah ditulis di sini blm?. Saya belum bacaaa. Hihihi

    Semoga ada capres yg punya visi misi peduli lingkungan.

    ReplyDelete
  7. Wah bener banget Mak. Pemimpin yang bervisi lingkungan memang sangat jarang. Semoga pileg dan pilpres kali ini bisa menelurkan pemimpin seperti itu. Aamiin. Sukse, Maaak. ^^

    ReplyDelete
  8. mungkin harus jd gubernur dlu mak, baru mentionnya dibls, kite2 rakyat kecil nan imut nih nggak ada artinya lah buat mereka :D saya pernah kepoin timelinenya bbrp org yg disebut sm mak lusi, kok nggak ada twit yg reply akun org lain, jgn2 mereka cm taunya bikin twit doang tanpa mau-tau apa respon rakyat twitter, sm halnya cuma bisa bikin kebijakan2 tanpa mau-tau apa dampak baik dan buruknya buat bangsa.. hehe tp teteup op-ti-mis deh :)

    ReplyDelete
  9. Orang calegnya juga kadang tidak berperilingkungan ya mbak. Seenaknya nempel di pohon2. Coba setelah kampanye apa ia peduli dengan atribut yang dipasang? Jadi sampaaaah

    ReplyDelete

Dear friends, thank you for your comments. They will be appeared soon after approval. Should you need further information, please email to beyoumails@gmail.com.